Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Agustus 2023

Rencana tidur

 Aku terbangun sekitar pukul tiga dini hari. Masih teringat, terakhir kulihat layar ponsel angka yang tertera 01.00. Jadi aku terlelap hingga dua jam, meski yang kurasa hanya beberapa kejapan mata.

Tadinya aku berencana tidur selepas isya, atau mungkin dikisaran pukul delapan malam. Tapi, rencana hanyalah rencana, ajakan sepupu mencari makan malam, padahal aku bertekad untuk tidak makan berat di malam hari, tapi ya sudahlah. 

Lalu adik sepupuku ini (masih sepupuku juga), dia baru pulang main sambil membawa teman mainnya menginap, yang kamarnya bersebelahan dengan kamarku biasa tidur.

Dia dan teman-temannya sepertinya tak berencana untuk tidur malam itu, tapi bermain game, yang kuhafal sekali jenis game apa itu, dan aku tahu game itu mampu mempermainkan otakmu untuk terus bekerja hingga matahari tiba. 

Dengan semua kebisingan itu, alhamdulillah aku masih bisa tertidur. 

Apakah aku marah karena sepupu-sepupuku yang merusak rencana malamku? Tentu tidak, tapi sedikit kesal ada lah.

Namun jika dipir lagi, sudah diberi tempat untuk tidur juga, harusnya sudah syukur, ini rumah paman dan bibiku. 

Semua penghuni rumah menerimaku dengan segala kekurangannya.

Jadi akupun insaf dengan rasa kesal tadi. Terkadang rencana menggiring kita lupa akan apa yang nyata, hati hati. 

Kamis, 03 Agustus 2023

Kakek di puskesmas 2

 Selaim bertemu Kakek Kopasus, sebenarnya aku bertemu satu kakek-kakek lagi di puskesmas saat itu.

Kakek misterius. Mengapa? Karena dia datang tanpa identitas.

Perawakan yang tinggi kurus, dibalut baju kaos, celana pendek, sepatu jogging, khas orang yang baru lari pagi itu datang sendiri ke puskesmas.

Tanpa BPJS, tanpa KTP, samar-samar kudengar, saat menyebutkan alamat tinggalnya kepada resepsionis, ia agak kebingungan.

Salut aku kepada para petugas disini, yang begitu sabarnya menghadapi kakek misterius ini. 

Atau mungkin bukan misterius, tapi misery lebih cocok bagi kakek ini. 

Rabu, 12 Juli 2023

Biawak

 Siang itu aku berjalan diantara rumah-rumah yang berjajar dikiri dan kanan menghadap kearahku.

Diujung persimpangan aku melihat seekor hewan melata, saat itu jarak kami sekitar 60 meter.

Awalnya kukira itu buaya, dengan warna kulit putih kekuningan, tapi saat ia mulai berjalan, ternyata ia lebih mirip kadal dalam versi yang lebih besar. 

Taksiranku panjangnya sekitar satu meter. Dia berjalan dari arah rumah sebelah kiri menuju ke rumah di kananku, dengan santai. 

Ia berjalan perlahan, tak seperti kadal yang gerakannya cukup gesit. Tapi sepertinya kadal juga akan berjalan santai bila tak sadar ada yang menatapnya atau mendekatinya. 

Siang itu kondisi komplek depnaker tempat tinggal pamanku ini sepi. Sebagian sedang bekerja, sebagian memilih berdiam di dalam rumah, mungkin. 

Meski ragu campur takut, aku tetap berjalan mendekat ke arah biawak itu, karena warung yang kutuju ada di seberang sana. 

Aku berjalan, biawak itupun berjalan ke arah rumah, saat aku tiba di tempat awal melihatnya, dia sudah hilang. 

Apakah biawak itu masuk rumah atau ke selokan, aku tak tahu. Tapi jelas aku tahu bahwa disini tadi ada biawak. 

Tepat di tikungan, ternyata ada seorang bapak-bapak yang sedang membersihkan daun pohon menggunakan tangga yang tingginya sekitar dua sampai dua setengah meter.

Sambil duduk di tepi tangga, sibapak begitu asyik dengan aktivitasnya. Pertanyaanku, apakah dia sadar bahwa tadi ada biawak sepanjang satu meter melintas tak lebih dari tempatnya. 

Kalau dia melihatnya dan bersikap tak acuh, berarti hal ini sudah biasa di komplek ini. 

Tapi kalau dia tak melihatnya, berarti hanya aku saja manusia disana yang melihat biawak tersebut. Aku saja manusia yang tahu bahwa ada biawak yang kemungkinan masuk ke rumah atau ke selokan komplek.

Karena aku saja yang melihatnya, ini menjadi masalah, karena jika aku mengingatkan warga sekitar, mereka tak akan mudah percaya, karena aku tak memiliki bukti kuat, yang akhirnya hanya akan menimbulkan keriuhan dan kecemasan warga. 

Karena boleh jadi biawak itu telah kembali ke asalnya dan tak keluar lagi. 

Tapi bila aku tak memberi tahu, berarti hanya aku saja yang amtahu, dan akan khawatir bila melewati jalanan itu, karena aku tahu disana pernah ada biawak. 

Coba saja, bila aku telat berjalan beberapa menit, biawak itu masih akan lewat, tapi aku tak akan melihatnya, sehingga tidak khawatir, dan tak akan muncul ide tentang biawak dalam benakku. 

Namun di sisi lain, bila aku tidak tahu padahal disana benar-benar ada biawak dan aku tidak hati-hati dan menurunkan kewaspadaanku, itupun rasanya mengerikan juga. 

Lalu bagaimana aku harus bersikap, apakah lebih baik tahu atau tidak tahu, karena keduanya memiliki sisi positif dan negatif juga. 

Apapun jawabannya, ini membuktukan bahwa kita tidak berdaya dengan keadaan dan tidak tahu apa-apa. Semuanya serba bisa saja terjadi dan tidak terjadi. 

Oleh karenanya, bersandar kepada Dzat yang Maha Tahu, merupakan pilihan paling logis, tepat dan benar. 

Wallahu alam. 


Sabtu, 08 Juli 2023

Over thinking

 Suatu hari aku ingin memberi saran kepada orang lain yang lebih tua, meski aku tak tahu apakah saranku diterima atau tidak, tapi aku yakin pendapatku memiliki landasan yang kuat.


Namun sebelum isi pikiran terlontarkan, ada suatu bisikan, yang mengatakan:

"Ah, sepertinya kalau aku bilang begini nanti dia bakal terainggung"

"Bagaimana kalau saran ini ternyata telah ia pikirkan sebelumnya"

"Bagaimana kalau tindakanku ini membuat hubungan merenggang"

Bila teman-teman pernah merasa seperti ini, akupun sama, dan mungkin karena kita introvert, tapi yang jelas ini over thinking.

Akupun akhirnya bertanya begini:

"Tuan, sebenarnya aku memiliki saran mengenai masalah tuan, tapi aku takut kalau ucapanku ini menyinggung tuan."

Kalian tahu apa jawaban tuan tersebut? Begini katanya:

"Kamu jangan terus-terusan berada di dunia 'kalau', kamu terlalu cepat memvonis dirimu sendiri, kamu tak akan tahu respon seseorang sampai kamu mengutarakan niatmu, dan selama niatnya baik, tak perlu ragu mengatakannya" kata tuan menjelaskan

"Dan juga, kita ini cuma orang biasa yang tak dapa melihat apalagi membaca isi hati orang lain, tapi tetap gunakan bahasa yang baik dan sopan, bijak dalam memilih kata dan melihat situasi dan kondisi" tambahnya.

Jawabannya cukup melegakan sekaligus menyadarkanku akan sesuatu, bahwa aku terlalu cepat memvonis diri sendiri dengan sesuatu yang belum tentu terjadi. 

Kamis, 06 Juli 2023

Anatomi Manusia

Anatomi Manusia

Manusia terdiri tiga hal:

1. Jasmani /Fisik /Badan

Hak nya: Makan dan Minum, agar badan ada kekuatan untuk beraktivitas. 
Aktivitas atau amal terbagi dua:

a. Amal shaleh, amalan yang disandarkan kepada Rab, dan di pandang baik oleh Sang Khaliq bukan makhluk. Untuk mengetahuinya, Dia mengutus Rasul Muhammad SAW untuk menyampaikan  Kitab (Al-Qur'an) Nya. Yang mana didalamnya terdapat petunjuk mengenai semua hal, jawaban atas semua permasalahan, dan panduan hidup yang mengantarkan seorang muslim semakin dekat dengan Rabnya, jika dia jujur. 

b. Amal biasa, amalan atau aktivitas mau itu baik atau buruk di pandangan manusia, tetapi tidak di sandarkan kepadaNya. Bila amalnya baik, maka Allah SWT akan membalasnya didunia, sehingga tak ada lagi sisa amal kebaikan saat dia di akhirat. 

Kewajiban Jasmani: Digunakan atau digerakan untuk ibadah kepada Allah SWT. Mengapa demikian? karena pemilik sejati tubuh manusia adalah Sang Khaliq.

2. Akal pikiran /nalar

Hak nya : seperti badan atau jasmani, Akalpun harus senantiasa di beri "makan". Dengan melihat, membaca, mendengar, belajar, berfikir. Hal ini guna untuk meningkatkan daya nalar kita. Bila akal kita tumpul, kita akan mudah dibodohi dan termakan oleh ide-ide menyimpang, isme-isme busuk yang seolah berbau harum, pandangan-pandangan menyesatkan.
Karena jika akal atau nalar bekerja sebagaimana mestinya, itu akan membawa kita semakin dekat dengan yang menciptakan akal itu sendiri, Allah SWT, memang begitulah seharusnya.

Kewajiban akal : Dilatih atau digunakan dengan tujuan semakin memperkuat keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa.

3. Jiwa /Rohani

Hak nya: Diberi asupan atau siraman rohani agar jiwa kita senantiasa kembali suci, sebagaimana saat roh/ruh itu Allah SWT masukan ke dalam diri kita.
Saat Allah SWT meniupkan ruh dan masuk kedalam diri kita dan menetap di tempat bernama Nafs atau biasa kita sebut jiwa. 
Karena Allah itu Maha Baik, Maha Pengasih, Penyayang, Pemaaf, dengan kata lain Allah iti sumber dari seluruh kebaikan itu sendiri. 
Jadi saat iruh itu ditiupkan, ia (ruh) tentu saja disertai dengan nilai-nilai kebaikan, kesucian dari Allah.
Oleh karena itu di dalam jiwa/ruhani setiap manusia (mau nantinya menjadi muslim atau tidak) melekat sifat taqwa, yang membuat manusia selalu condong kepada berbuat kebaikan.
Meski telah ditiupkan ruh, karena pembentukan manusia itu sampai sembilan bulan, dan bayi butuh makanan, yang mana disuplai oleh ibunya dari makanan yang didapat dari hasil kerja ayahnya.
Karena manusia itu makhluk yang tak sempurna, ada saja dosa yang ia perbuat, makanan yang masuk pada tubuh bayipun tak bisa bersih sepenuhnya. 
Nah hal inilah yang mendorong masuknya sifat fujur kedalam jiwa manusia. 
Jadi di dalam jiwa /ruhani manusia iti ter dapat dua sifat, taqwa dan fujur, atau lebih mudah kita pahami dengan baik dan buruk.
Kedua hal ini terus beradu dan berlomba. Bila taqwa yang menang maka niat melakukan kebaikan itu akan direspon oleh akal dsn selanjutnya digerakkan oleh badsn untuk berbuat baik. Begitupun sebaliknya jika fujur yang menang.
Oleh karenanya, untuk menekan agar fujur tidak keluar, maka taqwanya harus kuat, dan cara menguatkannya dengan cara diberi "makan". Melakukan ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur'an jadi ssalah satu cara untuk membuat ruhani kita tetap kuat.
Oleh sebab itu Allah memerintahkan kita shalat wajib 5 kali sehari, karena kita memang butuh itu, seperti halnya kita butuh makan 2 atau 3 kali sehari.
Fujur merupakan kebalikan dari taqwa, sehingga turunan sifat buruknya pun ada kebalikannya. 
Sehingga bila melihat ada orang yang sombong (fujur) kita balas dengan kebalikannya yakni rendah hati (taqwa). Bila marah, kita senyum atau hibur. Bila dia kikir kita balas dengan dermawan, begitu seterusnya. 
Dan bila fujur dalam diri kita ingin keluar, dengan kata lain kita hendak berbuat buruk, ingatlah tiga hal ini:
a. Kehinaan, setiap hal buruk pasti akan berakhir dengan kehinaan, 
b. Dampak kepada orang tua, perbuatan buruk kita akan berimbas pada orang tua, sekurang-kurangnya menodai kehormatan mereka. 
c. Ingat mati, bayangan saat kita melakukan hal buruk, saat itu juga nyawa kita dicabut, dengan kata lain kita mati dalam keadaan su'ul khatimah, bukan khusnul khatimah. 

Begitulah 3 hal yang ada pada manusia yang harus kita penuhi agar dapat kembali fitrahnya. Wallahu a'lam.

(sumber : ceramah Ust. Adi Hidayat mengenai mengendalikan hawa nafsu lengkap dengan dalilnya) 

Rabu, 05 Juli 2023

Pengalaman menjadi satpam

Saat memasuki suatu bidang pekerjaan, apa menurutmu kita perlu tahu terlebih dahulu atau lebih baik tidak tahu?
Agaknya, bila pengetahuan kita membiat kita takut untuk melangkah, tidak tahu sama sekali jelas lebih baik. 
Meskipun nantinya dia akan tahu pahitnya kenyataan. 
Yah, sepuluh tahun yang lalu saat pengalaman kerjaku hanya jadi buruh pabrik, aku berniat menyelami dunia satpam. 
Karena gajinya dua kali lebih besar dari pemberian pabrik. 
Saat tawaran satpam itu muncul, pikiran kita langsung bekerja, mengumpulkan semua ingatan yang bisa diraih tentang satoam di kepalaku. 
Hingga akhirnya, aku menarik kesimpulan, "Ah kayaknya jadi satpam tidak akan lebih capek dari kerja di pabrik," begitu pikirku.
Kesimpulan ini datang karena selama ini yang kulihat, orang yang berprofesi satpam itu kerjanya hanya diam, duduk-duduk saja, paling jauh hanya pengecekan tubuh atau barang bawaan, itu pun hanya formalitas.
Singkat kata, pergilah aku ke kantor pusat tempat aku akan menaruh ijazah pesantren ku. 
Setibanya disana, aku diarahkan ke basecamp, tempat orang-orang sepertiku (melamar kerja kesini) berkumpul.
Besoknya, kami dikumpulkan dan dibariskan oleh seseorang yang menyebut dirinya instruktur.
Tapi bagiku dia lebih seperti kakak-kakak yang mengospek mahasiswa baru.
Bicaranya seperti dicampur marah, meski kami tak melakukan apa-apa.
Intinya dia bilang, bila menghadap "orang-orang kantor," awali ucapanmu dengan "Mohon ijin Dan (komandan)", meskipun hanya sebagian kecil saja yang dari kesatuan, sisanya hanya warga sipil biasa, lucu sekali.
Begitupun saat kita kebetulan di depan mereka, bukan kata "permisi" atau "punten", tapi sebelum lewat kita berhenti dulu, menghadap kepadanya, lalu memberi hormat, dan bilang, "Mohon ijin lewat Dan!", kalau dia sudah menjawab silahkan, barulah dia bisa lewat.
Aku bertanya-tanya siapa sih orang pertama yang membuat peraturan bodoh ini, selain tak efektif, tindakan ini juga terlalu memakan waktu, dan tentu saja membuat pelaku tindakannya terlihat rendah.
Setelah selesai bicara, dia mulai menjelaskan apa saja yang harus kita lakukan selama di kantor pusat ini. 
Dimulai dengan latihan fisik seperti berlari, ditambah latihan seperti push ap, sit up, dan sebagainya.
Selain ini, kami juga mengjabiskan waktu dengan latihan baris-berbaris, kegiatan yang memaksaku kembali ke masa sekolah dasar untuk mengingat kembali gerakan-gerakannya. 
Bila ada seseorang diantara kami yang terlihat bermain - main atau melakukan kesalahan saat menjalankan dua aktivitas ini, diberi teguran sudah merupakan berkah, karena tak jarang hadiahnya itu menepak nyamuk yang tidak ada diwajah kita.
Bila kesalahannya semakin fatal, dampaknya tidak lagi personal, tapi seluruh anggota terkena imbasnya, lalu kami akan melakukan gerakan yang disebut 'sikap taubat'.
Gerakannya itu kepala dan kaki menyentuh tanah, sedangkan badan dan kaki membentuk sudut siku-siku.
Bila dilihat dari samping, akan terlihat seperti angka selapan dalam bahasa arab. 
Dan ritual ini cukup menyakitkan dan menguras tenaga. 
Dan begitulah kuhabiskan hari-hariku disana, berlatih fisik, latihan baris-berbaris yang dibumbui dengan tamparan atau sikap taubat, dan jangan lupa bilang "Mohon ijin komandan". 

Ibu dan anak

Bila kau memiliki seorang anak tapi dia tidak mengakuimu sebagai ibunya, bagaimana perasaanmu?
Kau tetap pelihara dia, kau perhatikan tumbuh kembangnya, tapi anak itu tetap mau mengakuimu sebagai ibunya, malah dia mencari orang lain dan menyatakan "Ini ibu saya".
Meski begitu, kau tetap memberinya kasih sayang, memberinya makan, memberinya ilmu, tapi anakmu tetap tak mengakuimu ibu nya, tak mau mendengar suruhanmu, walaupun ia terima suapanmu, ia rasakan kasih sayangmu, ia bangga dengan ilmu yang kau banggakan,
Dengan semua tindakan anakmu, kau tetap memerikannya kamar, mengizinkannya untuk tidur di rumahmu, meski anakmu tak pernah menggubris laranganmu dan tanpa malu sedikitpun, tidur pulas di kamar yang kau siapkan. 

Minggu, 02 Juli 2023

Di suatu mimpi

Dalam suatu mimpi, dia memiliki badan yang kuat, mendapatkan senjata seperti pisau daging, dengan mata pisau bergerigi layaknya gergaji.

Ia mengira dengan tubuh dan senjata tersebut mampu menghadapi segala macam kejahatan di distrik yang ia datangi. 

Distrik itu dikenal telah menghilangkan orang-orang yang datang kesana.

Dengan percaya dirinya dia berjalan di sekitaran distrik tersebut. 

Tak dia temukan keanehan apapun, semuanya tampak normal, orang yang berlalu lalang terhanyut dalam kesibukannya, begitulah yang dia lihat.

Setelah masuk lebih dalam lagi, ia merasakan seperti ada yang mengawasinya. 

Sejurus ia menoleh mencoba mencari mata tersebut, satu lengan besar menghantam punggungnya hingga ia pun jatuh pingsan. 

Ketika tersadar, ia tengah berada dalam sebuah mobil, tangan dan kakinya terikat, wajah-wajah orang yang ia lalui dijalan tadi mengerumuninya.

Selain dia, ternyata ada seorang lagi dengan kondisi sepertinya. 

Setelah ditelisik, ternyata orang itu teman sekolahnya dulu. 

Setelah mobil berhenti, mereka berdua diseret keluar oleh orang-orang tadi.

Ketika dia melihat sekeliling, barulah dia sadar bahwa orang-orang ini sedang menggiring mereka berdua ke tempat ritual pemujaan.

Dengan banyak garis-garis hitam yang membentuk suatu gambar serta berserakannya bercak darah, semakin kr inti gambar itu, bercaknya semakin pekat.

'Ah, mungkin disana tempatnya' gumamnya.

Ia mencoba melepsakan ikatan yang membelenggu tubuhnya, namun sia-sia.

Dia baru sadar bahwa kekuatan fisik yang selalu dibanggakannya ternyata tak berguna. 

Lalu dia mencari-cari senjata yang tersimpan harapan dirinya itu, tapi pisau gerigi itu telah raib sejak dia terbangun di mobil tadi.

Dengan penuh kekesalan, dia baru paham, bahwa dia telah salah menggantungkan harapan. 

Dalam sepersekian detik itu, air matanya menetes, dengan penuh penyesalan dan perasaan bersalah dia baru mengerti, bahwa dirinya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.

Lalu dia mengalihkan pandangannga pada teman disampingnya dan berkata "Apa kau percaya kuasa Allah?".

Kemudian dalam pandangannya, timbul retakan seperti cermin. 

Retakannya semakin merambat dan terus merambat. Hingga tiap keping retakan itu kian kecil dan banyak.

Lalu seperti balon yang hendak meletus, retakan itu mengembang sebentar lalu membuncah, mengjamburkan setiap serpihan ke segala pandang dari pria tadi. 

Kemudian pria itu membuka mata, lalu terduduk di tempat tidurnya. 

Kamis, 29 Juni 2023

Belajar dari Keponakan

Satu waktu keponakan datang ke rumah. Usianya empat tahun. Anaknya suka bertanya, mungkin semua anak awalnya seperti ini. 

Bila aku tak menghiraukan pertanyaannya, mungkin semangatnya untuk mempertanyakan sesuatu akan berkurang, begitu pikirku.

Kujawab dengan bahasa paling sederhana, apakah dia mengerti penjelasanku? Entahlah.

Dari apa yang kupelajari sebelumnya, meskipun anak kecil masih belum begitu mengerti, membumbui kebohongan dan tahayul pada cerita kita merupakan langkah yang keliru. 

Jadi, kucoba untuk menjelaskan semua yang ingin dia tahu sebagaimana adanya saja. Kebetulan saat itu idul Qurban, jadi aku harus menjawab pertanyaannya seputar Sapi dan penyembelihannya. Apakah dia mengerti? Entahlah.

Satu hal yang tak kumengerti dari anak ini, bila aku hendak sholat ke masjid, ia selalu ingin ikut.

Awalnya aku senang-senang saja, mungkin ini langkah awal baginya untuk membiasakan sholat, pikirku.

Sebagai tindakan pencegahan, aku bilang padanya, "kalo mau main, di samping om aja, dan jangan berisik", meskipun dia menjawab 'iya', rasanya ucapanku itu masih terlalu kompleks untuk dia mengerti.

Saat ku sholat dia selalu berlarian di sekelilingku, pandangannya menyapu setiap sudut masjid, entah apa yang dicari. 

Berjalan di depan orang yang sholat, kupikir itu tidak masalah, namanya juga anak-anak, dia belum mengerti. Tapi tetap saja, sebagai orang yang membawanya, aku merasa bertanggung jawab dan perasaan bersalah setiap kali dia melewati orang yang sedang sholat.

Terkadang dia bergumam ucapan tak jelas, yang bahkan ucapannya itu tak pernah keluar saat aku mengajaknya bicara. 

Apakah dia ingin meniru ucapan imam yang sedang baca al-fatihah? Tapi karena lidahnya belum terbiasa, ucapan yang keluar jadi bahasa baru? Entahlah.

Sejauh ini, kupikir 'main' nya keponakanku masih bisa di tolelir oleh jamaah yang lain.

Hingga satu waktu, saat dia ikut sholat disebelahku, ada suara anak kecil,  keponakanku langsung berlari ke sumber suara, dan sepertinya dia menemukan teman yang senasib.

Jadilah mereka dua anak kecil di tengah lautan orang dewasa yang sedang beribadah. 

Keponakanku jadi lebih aktif, yang tadinya berjalan, kini setengah berlari saat lewat orang sholat, suaranya lebih lantang dan mencoba mengimbangi suara imam, begitu juga kawan barunya. 

Untunglah sumber suara itu berada di sebelah kananku, sehingga keponakan tidak perlu melewati jamah sebelah kiri yang selalu merentangkan tangannya saat bocah itu mencoba lewat di depannya. 

Mungkin keponakanku menganggu konsentrasinya, dan dia jelas mengganggu konsentrasiku. Karena jamaah ini sudah agak tua, sehingga ketika mengulurkan tangan menahan keponakan, ia mendorong kekuatan di permulaan gerakan, sehingga gerakannya lebih cepat tapi tak terkontrol. 

Hal yang buatku khawatir, bila saat tangannya itu bergerak bersamaan dengan keponakanku, sehingga yang niat awalnya ingin menahan langkah keponakan malah memukulnya, karena momentumnya bertemu. 

Sehingga akupun menarik anak ini agar terhindar dari tangan jamaah ini. Tapi namanya juga bocah, setelah ku tempatkan di samping, dia langsung berhambur ke temannya lagi. 

Selesai sholat, kusuruh dia menghampiriku lalu memeluknya dipangkuanku. Biasanya cara ini sukses untuk menahannya dari bergerak kesana kemari, tapi saat itu tidak.

Setelah kupeluk, dia berontak ingin lepas dan kembali main. Tapi karena kebodohan dan kurangnya wawasan, aku kebingungan untuk menahannya, sehingga kuputuakan untuk langsung mengajaknya pulang, hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya. 

Dalam perjalanan pulang, aku sempat terbesit rasa marah dan kesal pada keponakan ini, karena sikapnya lebih dari biasanya karena ada teman dan aku tak mampu menanganinya.

Dan entah mengapa rasanya, perasaan marahku yang hanya sebentar itu sampai pada bocah ini.

Padahal kalau dipikir lagi, kenapa pula aku harus marah, toh dia masih anak-anak, dan belum mengerti apa-apa.

Mungkin sepertinya aku bukan marah pada keponakan, tapi pada diri sendiri karena tidak sanggup menangani kejadian itu.

Akhirnya aku hanya mengira bahwa saat kita mengobrol dengan anak kecil, mungkin sebenarnya sedang bicara dengan diri sendiri. 

Saat ucapan kita didasari dengan kasih sayang, ia pun akan menyambutnya, namun saat dorongannya amarah si anakpun seolah enggan mendekat.

Mungkin kesananya, bila semakin lama aku bermain dengan keponakanku ini, aku akan lebih mengenal diriku sendiri. 

Selasa, 20 Juni 2023

Lomba lari part 2

Keesokan harinya, semua pelamar telah bersiap di lapangan lari untuk melakukan tes fisik, Atau setidaknya itulah yang diberitahukan kepada para pelamar oleh Freddy.

"Baik teman-teman sekalian, tes yang akan kalian jalani adalah lari 20 putaran, dan ingat siapapun yang berhenti berlari barang sedetik atau finish paling akhir, berarti dia harus pulang, apa kalian siap!". Kata Freddy denga suara yang cukup lantang.

"Siap Dannnn....." seru para pelamar.

"Hahaha, lihat Fred, si 30 itu, dengan tingginya yang hanya 165cm, berat tubuh 90 membuatnya terlihat semakin bulat saja." Celoteh Jonathan.

"Aku tak akan menyangkal itu, sepertinya hari ini kau beruntung Jon," jawab Freddy lemas.

"Tapi Jon, kenapa kau mengatakan peraturan yang merepotkan seperti itu, apakah kita sungguh akan mempulangkan yang gugur?" tanya Jonathan.

"Itu terserah padamu, aku hanya ingit mereka lebih termotivasi dan serius," kata Freddy menjelaskan.

"Mau dilihat dari manapun, si 30 benar-benar sial, pelamar yang lain, selain masih muda, badan mereka juga cukup ideal, sungguh kasihan." keluh Jonathan.

"Tahan sedihmu Jon, kau tak akan benar-benar tahu hasilnya sebelum dimulai"

"Ya ya, cepatlah mulai Fred," pinta Jonathan.

Freddy memberi tanda untuk seorang instruktur agar segera memulaj tesnya, sesaat kemudian dia pun berteriak dengan lantangnya, "TIGA, DUA, SATU, MULAI!!!!"

"Hahahaha, apa yang dilakukan si bodoh itu Fredd, di lomba lari long trip seperti ini, bukannya menjaga stamina agar tak cepat lelah, dia malah memulainya dengan lari sprint intensitas tinggi, benar-benar bunuh diri si 30 itu," kata Jonathan sambil tertawa kegirangan.

" Seperti katamu, lari seperti itu diawal bukanlah pilihan bijak, tapi lihat, pelari yang lain jadi ikut-ikutan lari sprint semua."

"Makannya kubilang dia itu bodoh, mencoba bertarung  di adu kecepatan lari, dengan tubuh seperti itu, jelas dia yang kalah" seru Jonathan.

"Kau benar-benar cerdas Jon, si 30 itu lambat laun mulai kelelahan dan sebentar lagi dia akan berada di posisi terakhir." jawab Freddy.

"Hahaha, sebaiknya kau mulai menyiapkan uangnya Freddy, sebentar lagi juga dia akan berhenti berlari dan gugur." kata Jonathan sambil senyum senang.

Freddy mengeluarkan smartphone nya, bersiap mentransfer sejumlah uang taruhan kepada Jonathan, sambil menunggu si 30 berhenrti berlari, tapi..

" Cepatlah Freddy, apa lagi yang kau tunggu"  pinta Jonathan.

"Iya Jon, akan aku bayar, tapi masalahnya, lihat, dia masih belum berhenti juga, meski larinya pelan sekali, tapi dia masih belum berhenti" jawab Freddy.

"Ah si bodoh itu, mau sampai kapan dia akan memaksakan diri, baiklah kita tunggu, sebentar lagi dia pasti tumbang, haha"

Beberapa saat kemudian.

"Ya ampun dia masih berlari, sulit dipercaya, apa dia masih merasa yakin bisa meyusul pelamar lain dengan perbedeaan selisih tiga putaran begini?" kata Freddy bertanya-tanya.

"Hah, dia keras kepala sekali, sekaligus tolol, yang lain sudah 13 putaran, sedang dia masih 10, berlari biasa saja susah, apalagi menyusul, sungguh buang-buang waktu Fredd," keluh Jonathan.

"Jon, lihat, apa yang terjadi, kenapa raut wajah pelari-pelari muda itu begitu pucat dan kelelahan, lari mereka pun jadi semakin pelan," seru Freddy sedikit terkejut.

"Kau benar Fredd, mereka  seperti sudah kehabisan tenaga atau staminanya, dan sekarang mereka sedang berjuang mati-matian agar larinya tidak berhenti, jika keadaan sudah begini, si bodoh itu juga pasti sama lelahnya."

"Oh Jon, sepertinya kali ini kau keliru, si 30 itu meski terlihat agak capek, tapi jelas dia rak seperti pelari yang lain, larinya pun sekarang seperti makin cepat!" kata Freed setengah tidak percaya.

"Bukan sepertinya, tapi dia benar-benar berlari tambah cepat, sedangkan pelari-pelari yang lain tinggal menunuggu waktu sampai mereka berguguran satu per saru." kata Jonathan sambil menatap tajam, senyumnya hilang.

"Bagaimana ini bisa terjadi? apa selama ini dia menyimpan tenaganya? menunggu untuk saat-saat seperti ini?" Kata Freddy sambil kebingungan.

"Mustahil, meski dia menyimpan tenaganya, tidak ada jaminan bahwa pelari lain akan kelelahan parah seperti ini."  jawab Jonathan.

"Pertaruhan yang besar sekali, benar-benar nekat, sepertinya dia cocok denganmu Jon" ejek Freddy.

"Hahaha, menarik sekali, tak kusangka, dia berani bertaruh bahwa lawan-lawannya akan kelelahan dan ia menyimpan tenaganya untuk saat itu," Kata Jonathan.

"Apa kita sudahi saja lombanya Jon,? semua pelari sudah berhenti kecuali si 30, sungguh tontonan menarik" tanya Freddy

"Ya Fredd, pemenanya sudah keluar, buat apa berlama-lama lagi, cepat panggil saja dia kemari, mari kita dengar alasannya bertaruh begitu, hahaha"

"Bagaimana dengan yang lainnya, apakah kita pulangkan mereka, tapi ini terlalu banyak, aku tak menduga akan seperti ini" kara Freddy sambil trrsenyum malu.

"Biarkan yang lainnya istirahat dulu, kita urus itu belakangan," jelas Jonathan

"Hei kamu kemarilah," seru Freddy kepada si 30.

Si 30 bergegas menghampiri Freddy dan Jonathan, sesaat setelah mereka telah berhadapan, Jon langsung bertanya.

"Siapa namamu?"

"Siap Dan, nama saya Ulil Albab" jawab si 30.

"Nama yang cukup unik, jadi, mengapa kau berani bertaruh seperti itu?" tanya Jonathan.

"Mohon ijin Dan, saya kurang mengeri maksud Komandan," jawab Ulil.

"Sudahlah, kami berdua tahu, kau bertaruh bahwa pelari lain akan berhenti atau tidak diakhir-akhir putaran kan?" kata Jonathan tak sabar.

"Mohon ijin Dan, apakah harus saya jawab sejujurnya?" tanya Ulil sedikit ragu.

"Katakan saja semuanya, kami benar-benar ingin tahu, dan tak usah panggil komandan, itu terlalu formal." jawab Jonathan.

"Baiklah, saya memang menunggu pelari lain untuk kecapean, tapi itu bukan pertaruhan, tapi kepastian. Kata Ulil.

"Hah, jangan bercanda, bagaimana kau yakin kalau mereka akan kelelahan? " bantah Jonathan.

"Bila Bapak-bapak sekalian masih mengingatnya, saat perlombaan dimulai, saya langsung mengambil inisiatif untuk lari sprint kan?"

"Yah benar, itu benar-benar bodoh dan sia-sia." kara Jonathan sekenanya.

"Saya merasa senang mendengar jawaban Bapak, karena bila bapak tidak menangkap arti tindakan saya, pelari yang lainpun tidak." jelas Ulil.

"Arti apanya, bukannya sprint itu dilakukan agar kamu dapat keunggulan di awal,  dengan mencoba berlari sejauh mungkin dari yang lainnya?" tanya Freddy yang sedari tadi ingin sekali bicara.

"Pemikiran itulah yang saya harapkan dari pelari lain saat melihat saya sprint, sehingga mereka tak membiarkan itu terjadi, dan berusaha mengejar saya secepet mungkin." jawab Ulil.

"Lantas apa sebenarnya tujuanmu melakukan sprint itu sebenarnya ?" tanya Jonathan sampil mengerutkan dahi.

"Mungkin Bapak-bapak juga sudah tahu, kalau usiaku jauh lebih tua dari yang lain, ditambah berat badan dan fisik ku, masih belum ideal. Jadi dari awal aku punya kehkawatiran bila tes masuk perusahaan ini ada eliminasi, mungkin aku yang paling pertama tersingkir," jelas Ulil.

" Ya yah, itu mungkin saja, lalu? " tanya Jonathan

" Tes lari barusan benar-benar mewujudkan kehkawatiranku, tes ini  merugikanku, karena disini yang diuji adalah stamina dan kecepatan, dimana aku kalah dari yang lain, jadi bila kami berlari dengan kondisi biasa dengan intensitas yang sama, sudah jelas aku yang akan kehabisan stamina terlebih dahulu." kata Ulil.

" Itu memang masuk akal, jadi? " kini Freddy yang bertanya.

"Jadi, mau tak mau aku harus menguras tenaga meteka sebanyak mungkin, sedangkan aku menyimpannya sebanyak mungkin. Bila aku tak lari sprint di awal, mereka tak akan lari seperti itu juga, karena sejatinya, dengan lari biasapun mereka tak akan kalah, terlebih lagi ada aku, dimana mereka mungkin menganggap bahwa aku pelari dengan stamina paling payah, sehingga mereka tinggal berlari santai dambil terus menjaga jarak dari ku agar tak menyusulnya. Jadi saat aku sprint, itu jelas mengganggu pemikiran mereka, dan mau tak mau merekapun mengejarku. " kata Ulil. 

" Hahaha, sungguh analisa yang menarik, tapi apakah itu cukup untuk membuat mereka kelelahan? Kurasa tidak. " jawab Jonathan sedikit cemberut. 

" Memang benar pak, mengejarku sambil lari sprint hanyalah langkah awal, saat mereka sudah berlari kencang dan melewatiku, mereka merasakan kesenangan semacam rasa kemenangan karena telah mrngalahkanku, rasa senang itu rasanya membuat mereka sedikit lupa dengan tes ini, dan ingin mengalahkan orang lagi, karena perasaan mengalahkan seseorang saat telah mengerahkan tenaga sungguh nikmat. Jadi saat mereka sudah melewatiku, mereka tidak menurunkan intensitas larinya, malah mempercepatnya karena telah mendapatkan lawan baru yang harus  dikalahkan. "jelas Ulil. 

" Menarik, menarik sekali, lanjutkan" seru Jonathan. 

"Setelah mereka saling mengejar satu sama lain denfan intensitas tinggi, aku dengan sengaja memperlambat lariku, semakin lama semakin pelan, hingga mereka menganggapku akan  gagal, dan melupakanku. Saat aku telah hilang dari pikiean smereka sebagai saingan, sisanya aku tinggal menjaga ritme lariku, sambil menunggu mereka mencapai batasnya. Dan akhirnya merekapun tumbang satu persatu. Mungkin caraku ini terkesan licik, tapi bila aku bertanding ranpa melakukan apa-apa, jelas aku yang akan dirugikan, mohon maafkan saya pak," kata Ulil sambil sedikit menunduk sebentar." 

"Hahahaha, sungguh pengambilan keputusan yang cepat, dengan analisa yang akurat, menakjubkan." puji Jonathan. 

"Baiklah Ulil, silahkan beristirah, selamat datang di perusahaan kami, semoga kita jadi rekan yang akrab" kata Jonatan lagi sambil menyodorkan tangannya. 

"Baik pak, terima kasih banyak," jawab Ulil sambil menyalaminya. Lalu ia pun pergi. 

"Benar-benar diluar perkiraanku Fredd, hahaha, sungguh tak sia-sia aku menghadiri tes seperti ini,  dimana sebaiknya aku tempatkan Ulil ini, potensinya terlalu berharga untuk disia-siakan" kata Jonathan. 

"Ulil bisa kita bahas belakang, sekarang mana cepat, aku yang menang," tukas Freddy sambil tersenyum. 

"Ah sial, kukira dengan kejadian barusan kau akan lupa,"keluh Jonathan. 


Senin, 19 Juni 2023

Lomba lari

"Dari sepuluh pelamar, kurasa yang satu ini tak perlu kita panggil," seru seorang manager. 

"Memangnya kenapa?" tanya asisten manager. 

"Kau lihat saja Fred, umurnya sudah 30 tahun, sedang pelamar yang lain masih 20an," jelas sang manager.

"Memang apa salahnya dengan usia?bukankah pekerjaan disini tak terlalu peduli hal itu?" kata Freddy.

"Kau tak mengerti, bila mereka di masukkan ke kelompok latihan yang sama, si 30 tahun ini pasti akan jadi beban pada yang lain, kekuatan dan staminanya tak akan sama dengan yang 20 an." tutur sang manager.

"Oh, tapi bukankah si 30 tahun memiliki lebih banyak pengalaman dan jam terbang di lapangan, di lamarannya juga tertera bahwa dia pernah bekerja di bidang security sebelumnya." bantah Freddy.

"Mungkin kau benar, baiklah begini saja, kita adakan lomba lari buat mereka, anggaplah sebagai tes fisik, bila si 30 berada di terakhir, kau berhutang padaku 10 juta, tentu saja bila dia berhasil finish di urutan selain terakhir aku yang berhutang padamu, bagaimana? " tawar sang manager.

" Ya ampun, kebiasaan burukmu keluar lagi Jonathan, tapi baiklah, aku juga penasaran dengan hasilnya. " jawab Freddy setuju.

" Bagus, suruh semuanya datang besok Fred, "

" Baik Jon. "

Lanjut part 2

Kamis, 08 Juni 2023

Wanita yang Kuat Agamanya

Seorang pria  duduk di bangku taman sambil bersandar dengan wajah menghadap ke langit.
Kiranya saat itu matahari sedang bersemangat menebarkan cahayanya. 
Namun bagi pria tersebut cahaya terik itu bukan apa-apa bila dibandingkan dengan awan gelap dikepalanya. 
Untuk beberapa saat dia mematung seperti itu sambil sesekali mengerutkan dahinya. 
Tak lama berselang, seorang kakek tua duduk di sampingnya. 
Si Kakek tua mengamati pria disampingnya itu, dari parasnya kakek tua menerka bahwa usia pria ini hampir mengijak kepala tiga, "masih cukup muda" gumamnya.
Perawakannya cukup proposional, tidak terlalu gemuk maupun kurus. 
Dari pakaiannya, dengan kemeja polos biru langit dan dasi hitam  yang menggantung di lehernya, ditambah celana bermerek, jelas bahwa pria ini adalah pekerja kantoran dengan gaji diatas UMP Jakarta, pikir si Kakek.
Wajah pria itu pun rasanya cukup rupawan, si Kakek tidak kaget bila ada beberapa teman kerjanya mencoba mendekatinya. 
Tapi kenapa? Si Kakek kebingunan, dengan semua hal yang melekat pada dirinya, mau berapa kalipun si Kakek mengamati, pria ini jelas sedang merasa terpuruk.
Paras tampannya tertutupi kesedihan sekaligus kemarahan. 
Badan yang menampung otot yang kuat itu terlihat lemas. 
Dan pakaiannya kusut sekali. 
Rasa penasaran si Kakek sudah ke ubun-ubun, dan akhirnya dia pun bertanya pada pria tersebut.
"Hey nak, kenapa mukamu begitu kusut, rasanya butuh beberapa balikan untuk merapikannya bila dengam setrikaan" canda si Kakek.
Pria itu membuka matanya lalu matanya mengarah ke sumber suara. Melihat sosok kakek tua dengan wajah yang begitu teduh, sedikit menggerakkan minat di hatinya. 
Meski penampilan si Kakek begitu sederhana, namun senyumannya begitu tulus, terasa sekali bahwa ia menikmati masa hidupnya dengan sangat baik. 

"Bagaimana caranya Kek?"
"Apa maksudmu nak?"
"Bagaimana kau bisa masih terlihat begitu bahagia, padahal kau sudah tua?" 
"Hahaha, kau lucu sekali nak, memang apa salahnya dengan bahagia, bukankah itu yang dicari semua orang di dunia ini?" 
"Iya aku tau itu, tapi bagaimana bisa? Aku saja yang baru umur segini sudah begitu muak dengan kehidupan ini, kebahagian menjadi sesuatu terlalu jauh untuk kugapai." 
"Oh begitu, memangnya apa yang sudah menimpamu sehingga memberi kesan demikian pada kehidupan?" tanya si Kakek. 
Pria itu menghela napas sejenak sambil memejamkan mata sebelum menjawab. 
"Percayalah Kek, kau hanya buang-buang waktu jika mendengar ceritaku." 
"Cobalah, semoga saja ajal belum menjemputku sampai ceritamu selesai." 
"Hey Kek, jangan bilang kau sedang sekarat, aku sudah repot dengan hidupku, jangan kau tambah-tambah." 
"Haha, hiraukan saja ucapanku barusan, cepat katakan saja cerita sedihmu itu." 
Pria itu msnghela napas seperti sebelumnya. 
"Baiklah jika kau begitu penasaran, dan ingat, jangan mati dulu saat aku masih disini." 
"Kau ini cerewet sekali" kata Si Kakek. 
"Sebentar Kek, dimana harus kumulai semua kisah tragis ini, ah baik, aku mulai dari sana saja" 

"Aku lahir dari keluarga berada, orang tuaku juga cukup tegas dalam hal yang berkaitan dengam agama.." kata si Pria memulai cerita. 
"Hei nak, meski aku setuju mendengar ceritamu, bukankah sedikit keterlaluan bila harus mendengar riwayat hidupmu dari bayi sampai sekarang" gerutu si Kakek. 
"Dasar Kakek tua, sabarlah, Aku tak seantusias itu, aku hanya menarik benang yang berkaitannya saja." 
"Haha untunglah, lanjutkan nak" 
"Jangan bicara sampai aku selesai cerita Kek, kalau tidak pergi saja sana" 
"Kau ini pemarah sekali, baik aku akan jadi pendengar yang baik." 
Pria itu melanjutkan ceritanya lagi. 
"Karena orang tuaku taat beragama sekaligus 'orang berada', sedari kecil aku tak pernah lepas dari pendidikan agama, hingga masuk pesantren modern pun tak kulewatkan. 
Meski dijejali dengan ilmu agama sedari dini, aku akui, aku bukan orang yang taat beribadah. 
Namun karena ajaran itu terus-menerus mengalir deras ke dalam pikiranku hingga masuk alam bawah sadarku, akupun jadi selamat dari banyak jurang kemaksiatan, menurutku.
Masa kuliah ku jalani dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya aku bisa mendapat pekerjaan seperti sekarang. Yah meski pekerjaan ini juga didapat masih dengan bantuan dari orang tuaku.
Setelah beberapa tahun bekerja ibuku mulai menanyakan perihal pernikahan. Dia bertanya apa aku sudah punya calon, aku hanya cengengesan saja.
Dia pun memintaku untuk mulai memikirkam hal ini, mengingat usiaku sudah lebih dari cukup (menurutnya).
Awalnya aku menanggapi ini sekenanya saja, tapi dia tanpa lelah mengingatkanku akan hal ini, ketimbang mengingatkan itu lebih seperti tuntutan atau hutang yang harus segera kubayar. 
Aku mengerti keinginannya, hanya saja aku belum menemukan calon tersebut. 
Memang benar, ada beberapa rekan kerja wanita yang mencoba mendekatiku.
"Tuh kan benar apa kataku," kata si Kakek dalam hatinya.
Meski aku tak begitu mendalami agama, tapi dalam hal jodoh aku ingin mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW, yaitu lihat agamanya. 
Dan teman kerjaku itu rasanya tak memenuhi kriteria tersebut. 
Kian hari, kelakuan ibuku semakin menjadi-jadi, bilang kalau dia sudah tak sabar ingin menggendong cucu, mencoba pura-pura sakit, dan banyak hal ganjil lainnya.
Entah ibuku sadar atau tidak kalau itu sangat membebani pikiranku, produktuvitasku di kantor menurun secara berangsur-angsur. Pulang kerja, dirumah membuatku semakin tak nyaman dengam "serangan" dari ibuku.
Tak lama setelah itu, aku coba bercerita dengan rekan kerjaku, ku bilang bagaimana caranya agar mendapatkan calon istri yang agamanya kuat. 
Temanku ini memang tak tahu caranya, tapi dia tahu seseorang yang mungkin bisa memecahkan masalahku katanya. 
Orang itu adalah Ajengan di daerah tempat tinggalnya. 
Katanya Ajengan ini suka membantu orang yang lagi kena masalah, baik itu masalah jodoh, pekerjaan, dll. 
Intinya Ajengan ini selalu punya solusi atas masalah orang yang datang meminta bantuannya. 
Setiap hari pasti ada saja orang yang datang ke  rumah Ajengan ini. Begitu kata temanku menggambarkan kemasyhuran Ajengan ini.
Dalam hati, kupikir Ajengan ini adalah paranormal. Tapi saat itu aku sedang kalut, sehingga seruan hati kuabaikan. 
Aku pergi ke tempat Ajengan itu dengan kawanku tentu saja. Sesampainya disana, kulihat dinding-dinding ruangannya dipenuhi kaligrafi dan lukisan tokoh islam kurasa, karena orang-orang dalam lukisan itu memakai sorban, mungkin potret wali atau habib aku tak tahu.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya aku bertemu Ajengan tersebut. Sebetulnya Ajengan itu hanya panggilan yang orang lain berikan, dia sendiri lebih senang dipanggil Ki Haji. 
Saat mulai berbincang-bincang, kupikir dia akan menebarkan omong kosong dan cerita-cerita penuh khayal, ternyata tidak. Pemahamannya tentang agama cukup dalam. Dia berbicara tentang rukun islam, rukun iman dan yang semisalnya. Meski aku lulusan pesantren modern, ku akui aku kesulitan mengikuti pemaparannya. Ilmunya terlalu jauh untuk kuimbangi. Aku terkagum-kagum, dan kurasa kalau Ki Haji ini bukanlah paranormal. Tapi memang orang yang diberi kelebihan oleh Allah SWT.
Setelah mengetahui masalahku, bahwa aku ingin mendapatkan jodoh yang kuat agamanya, Ki Haji hanya memberiku bacaan dzikir, yang katanya harus kubaca setelah sholat Subuh dan Isya. Aku ingat-ingat betul apa yang di sarankan itu.
Akhirnya setelah dua minggu aku mengamalkan bacaan dzikir yang diberikan Ki Haji tanpa bocor sekalipun, aku bertemu wanita yang kelihatannya cocok sesuai kriteriaku. 
Wanita itu bernama Sofia, matanya yang tidak terlalu sipit, hidungnya yang tak terlalu mancung, dan senyumannya yang menenangkan, sungguh melengkapi keindahan parasnya. Cara Sofia berpakaian begitu anggun, kelonggaran baju yang dipakainya tak menyisakan sedikitpun lekukan tubuhnya, terlihat sekali bahwa ia begitu menjaga auratnya.
Setelah kami mencoba untuk saling mengenal pribadi masing-masing, aku jadi tahu, selain baik, orangnya cukup ramah sekaligus enak diajak ngobrol, dan lagi dia sangat menjaga sholatnya, semakin membuatku yakin untuk meminangnya.
Karena merasa saling cocok, dan kedua keluarga kamipun saling setuju. Akhirnya kamipun menikah. 
Aku merasa tenang karena ibuku sudah berhenti 'menagih hutang', sekaligus senang karena mendapatkan wanita yang selain cantik juga kuat agamanya, seperti yang dianjurkan Nabi. Kupikir kehidupan rumah tangga kami akan damai tentram dan membahagiakan, karena istriku cukup agamis, tapi ternyata tidak.
Semakin lama aku tinggal dengannya, semakin terlihat jelas sikap aslinya. 
Meski dia rajin beribadah dan berpakain rapi, tapi sifatnya terkadang kekanak-kanakan, tidak menyambutku bila aku pulang kerja. 
Kami juga sering bertengkar bahkan dia berani menentangku sambil menaikkan suaranya , bukankah seorang istri itu harusnya taat sepenuhnya pada suami? Benar-benar tak habis pikir.
Aku seharusnya tahu dari awal, kalau Ki Haji itu benar-benar paranormal. Sial, bodoh sekali aku sampai mengerjakan jampi-jampinya itu selama dua minggu penuh.


Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi? padahal aku hanya ingin mendapat istri seperti yang dianjurkan nabi, yang kuat agamanya?kenapa malah dapat wanita seperti itu? " Pria itu mulai menggerutu, seperti gerutuan yang ia gumamkan saat wajahnya menghadap matahari tadi.

" Apakah ceritanya sudah selesai nak? " tanya si Kakek.
" Memangnya apa lagi yang ingin kaudengar?" rasa kesalnya belum hilang.
" Hahaha, kau ini lucu sekali nak, kupikir kau itu terkena musibah, ternyata hanya masalah sepele." balas si Kakek. 
"Hah, untuk orang sebahagia sepertimu, mana paham kau perasaanku." 
"Haha, ayolah nak, jangan habiskan tenagamu untuk menggerutu, apa kau mau dengar beberapa patah kata dari Kakek tua ini?" 
"Biacara saja sesukamu, lagipula aku bukan anakmu." jawab si Pria. 
"Begini nak, dari ceritamu itu, sepertinya sumber masalahmu itu hanyalah kesalahan pahaman saja." 
"Bagian mananya yang salah paham, apa kau sudah mulai pikun Kek?" bantah Pria itu.
"Aku tidak bercanda, kau hanya salah paham memaknai maksud anjuran Nabi kita, dan juga aku masih belum pikun."
"Salah paham bagian mananya, anjuran Nabi begitu jelas agar kita melihat agamanya." 
"Itu memang benar, tapi dari mana kita bisa menakar atau melihat kedalaman agama seseorang?" tanya si Kakek. 
"Tentu saja dari sikapnya, bisa juga dari cara dia berpakaian atau ibadahnya." jawab si Pria. 
"Itu kan hanya dugaanmu saja, niat seseorang itu tersembunyi di dalam hati, sedangkan perbuatan yang kita lihat hanyalah buah dari niat." 
"Ia itu memang benar, bila bukan dari perbuatan, lalu bagaimana caranya kita tahu bahwa seorang wanita itu kuat agamanya?" tanya si Pria. 
"Disinilah yang ku maksud bahwa kau itu telah salah paham, pikiranmu dipenuhi dengan 'aku harus menemukan pasangan dengan agama yang kuat', padahal kedalaman agama seseorang itu sangat sulit dilihat, apalagi bagi orang-orang biasa seperti kita." 
"Bila kita tak bisa melihat kedalaman agama seseorang, lalu bagaimana kita menemukan pasangan yang dikatakan Nabi?" 
"Nak, kau kan lulusan pesantren, tentu kau pernah mendengar ayat Al-Quran yang menjelaskan, bahwa hidup manusia itu berpasangan, muslim dengan muslim, yang sholeh dengan yang sholeh, yang kafir dengan yang kafir, dan seterusnya. Secara tersirat ayat ini memberi tahu kita,  bahwa jodoh yang akan kita dapatkan adalah cerminan diri kita. Oleh karenyanya, anjuran Nabi tentang 'pilih lah pasangan karena agamanya' itu bila dimaknai agar kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan atau agama kita sendiri." 
" Hmmm, ucapanmu terdengar masuk akal Kek, " celoteh si Pria. 
" Sebentar, jangan memotong ucapanku, Bila kita landaskan anjuran Nabi itu dengan meningkatkan keimanan diri sendiri, iman kita akan semakin kuat, sehingga mungkin saat kau bertemu dengan orang seperti Ki Haji itu, kau dapat dengan mantap menentukan sikap. Dan juga, bila mindsetmu itu senantiasa ingin meningkatkan keimanan dan pasangan itu cerminan diri kita, mungkin kau tak akan dengan mudahnya menganggap kekurangan pasangan itu sebagai sesuatu yang salah, tapi memandangnya lebih kepada bahwa ternyata akupun masih banyak kekurangannya, dan pasanganku mengingatkanku akan hal itu, bukankah dengan cara pikir demikian, kalian akan jadi pasangan yang saling memaafkan dan tumbuh bersama? "
" Kek, kau mulai terdengar seperti Ki Haji itu, haha. " goda pria itu yang pandangannya sudah menampakkan perubahan. 
" Nak, meski aku sudah tua, aku masih sanggup untuk memberikan satu atau dua pukulan padamu,"
" Aku bercanda Kek, " jawab Pria itu, sedikit tersenyum. 
" Lalu dimana sekarang istrimu? dari ceritamu itu, kurasa dia wanita baik, hanya saja karena ekspektasimu yang terlampau tinggi, kesalahan kecil yang ia buat kau lebih-lebihkan tanpa sadar. Dan lagi cara kau bertemu dengannya, kau terlalu mengaitkannya dengan Ki Haji, bila kau bertemu dengannya dengan cara lain, mungkin dampaknya tak akan seburuk ini pada dirimu, "kata si Kakek. 
" Kami sedang pisah ranjang, dan sepertinya dia akan meminta cerai, mengingat sikapku kepadanya. Meski kata-katamu seolah menyadarkanku akam 'kesalahpahaman' itu Kek, tapi sepertinya sekarang sudah terlambat. " kata si Pria dengam nada pesimis. 
"Bila kau benar-benar menikah karen mengharap ridho Allah SWT. jangan kau sia-siakan, berusahalah sejauh yang kau bisa, sisanya serahkan saja kepada Pemiliknya." 
"Baik kek, akan kulakukan nasehatmu ini, oh iya tapi tadi kau bilang bahwa masalahku ini sepele, memangnya masalah apa yang pernah menimpamu?". 
"Bila kukatakan pada bulan Juni dua tahun lalu anak pertamaku bersama istri dan cucuku meninggal dalam kecelakaan pesawat, lalu satu tahun berikutnya anak keduaku dan keluarganya mengalami kecelakaan mobil. Dan minggu kemarin istri tercintaku menghembuskan napas terakhirnya, apakah kau percaya?"
"Dengan raut wajah bahagiamu yang seperti ini?? tidak mungkin." 
"Haha, sudah kuduga" jawab si Kakek. 
Lalu si Kakek berdiri dan berjalan meninggalkan Pria itu. 
"Kakek tua yang aneh" gumam si Pria. 
Karena penasaran, si Pria membuka ponsel pintarnya dan mencoba berita kecelakaan yang terjadi pada bulan Juni dua tahun ke belakang, dan ternyata itu nyata. ***


Rabu, 07 Juni 2023

Arti Menjadi Dewasa

Faqih dan Fikri sedang berada di warteg langganan mereka, yang letaknya hanya sekitar tiga puluh langkah dari gerbang kampus.

Mereka makan dengan begitu lahap setelah selesai mempelajari mengenai tahapan perkembangan dan pertumbuhan manusia di kelas sebelumnya. 

Keduanya merupakan mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling di salah satu universitas di Bandung. 

Selepas makan, Fikri langsung menyambar rokok dan korek dan menyalakannya. Di hisapan pertama pikiran Fikri mulai meraba-raba kembali apa yang disampaikan dosennya tadi. 

Di hisapan kedua, akhirnya ia ingat materi yang baru saja ia terima. 

Di hisapan ketiga ia akhirnya bicara. 

"Qih, kalau mengamati apa yang dosen sampaikan, berarti kita ini sekarang sudah masuk tahapan manusia dewasa yah?" Kata Fikri masih ragu. 

Faqih yang baru saja menyelesaikan makanannya tidak langsung menjawab, kebiasaan makannya yang agak lambat menular ke daya berpikirnya. 

" Bisa jadi, tapi aku juga gak begitu mengerti," balas Faqih. 

"Belum mengerti apanya?" 

"Menjadi dewasa, kalau dilihat dari usia dari penjelasan tadi, memang usia kita sudah memasuki tahap dewasa, tapi apakah menjadi dewasa itu sesederhana ini?" Kata Faqih menjelaskan. 

" Bener juga sih, terus jadi dewasa itu kayak gimana dong?" jawab Fikri masih ragu. 

" Aku juga gak tahu, makannya ini lagi mikir,". 

Tanpa mereka sadari, ternyata obrolan mereka terdengar oleh Ibu Warteg tersebut, yang biasa dipanggil bu Anwar. 

"Hei nak, kalian mau tahu dewasa itu apa?" Kata bu Anwar. 

"Emang bu Anwar tahu, kita aja yang mahasiswa kebingunan" jawab Fikri. 

"Hah, dasar anak jaman sekarang, baru jadi mahasiswa aja udah ngerasa paling pinter" balas bu Anwar. 

Merasa hatinya sedikit terusik, Faqih menimpali. 

"Kalau emang Bu Anwar tahu coba jelasin deh" 

"Dengerin nih, Kalau kamu sholatnya masih disuruh-suruh sama orang tua, berarti belum dewasa." Tegas bu Anwar. 

"Sesimpel itu?" tanya Fikri kebingungan. 

"Sesimpel itu." bu Anwar meyakinkan. 

"Apaan ah, jawabannya gak nyambung, apa kaitannya jadi dewasa sama disuruh-suruh sholat?" keluh Faqih. 

"Siapa bilang gak ada kaitannya, kalau kamu masih disuruh buat sholat, berarti kamu masih belum sadar sama kewajiban kamu sendiri sebagai muslim" jelas bu Anwar. 

"Terus kaitannya sama dewasa apa?" jawab Fikri masih kebingunan. 

" Ya Ampun, masih belum mengeri juga, kalian ini kuliah ngapain aja, kerangka berpikirnya dipake dong, " jawab bu Anwar sambil tersenyum. 

" Ah bu Anwar ini malah ngegoda kita," balas Faqih. 

"Hahaha, iya maaf maaf, jadi gini, sejak manusia dilahirkan dia sudah memikul tanggung jawab, dan seiring bertambahnya usia, tanggung jawabnya tambah banyak"  bu Anwar menjelaskan. 

"Oh jadi itulah kenapa orang yang udah nikah suka dipanggil dewasa, karena udah punya tanggung jawab," Faqih menanggapi. 

"Itu masih setengah benar, jangan sampai kalian keliru mengartikan orang dewasa dengan orang yang memiliki tanggung jawab." 

"Terus apa dong kalo bukan tanggung jawab?" tanya Fikri. 

"Kesadaran akan tanggung jawab, setiap orang memiliki tanggung jawab, baik kepada dirinya sendiri, orang tua, pasangannya, dan terutama kepada yang memberikannya tubuh dan kehidupan.  Tapi kesadaran akan tanggung jawab itu sendiri datang di waktu yang tak sama pada setiap orang, ada yang cepat ada yang lambat. Bisa juga sadar akan tanggung jawab sebagai anak kepada orang tua, tapi lupa kepada Tuhannya, atau sebaliknya. Jadi intinya kedewasaan seseorang hanya dia sendiri yang tahu, sedangkan orang lain hanya bisa menerka-nerka dari perbuatannya. " Jelas bu Anwar. 

" Iya iya, saya mulai paham bu, cuma yang saya gak paham, kok ibu malah jualan warteg, ngeliat cara ibu ngejelasin, serta gaya bahasanya, jelas banget ibu wawasannya cukup luas," jawab Fikri

" Bener tuh bu, coba kalau jadi pendakwah, mungkin bisa lah jadi kayak mamah dedeh" Faqih menambahi. 

"Hahaha, kalian ini ada-ada saja, emangnya menurut kalian, kalau mau dakwah itu harus jadi pendakwah atau penceramah dulu gitu? " 

" Emang begitukan?" tanya Fikri

"Ya nggaklah, dakwah itu kewajiban setiap muslim, mau seperti apapun statusnya dalam masyarakat. Dan tak harus naik mimbar, karena ada segudang cara untuk berdakwah" 

"Jadi penjual warteg juga bisa gitu bu?" tanya Fikri lagi. 

"Tentu saja bisa, dan mungkin bisa lebih diterima dakwah atau nasihatnya" 

"Lah kok bisa yakin gitu sih? Sergah Faqih. 

" Haha, setidaknya orang yang ada disini pas dengerin ibu enggak lagi kelaperan atau mikirin makan. "Jawab bu Anwar setengah bercanda. 

" Hahaha, bener juga sih, masa orang laper malah dikasih dalil bukannya makanan." kata Fikri sambil tersenyum lebar, seolah dia baru mendapatkan pencerahan. 

Faqih baru tersenyum beberapa menit setelahnya. 



Senin, 21 Juni 2021

Cerpen Nonfiksi: Telor Pecah

Telor Pecah

Kurasa kita semua sepakat bahwa ucapan orang tua itu doa, apalagi ibu. Dari sekian banyak ingatan dalam hidup kita, terkadang yang benar-benar melekat adalah kenangan yang pahit. Aku pun heran, aku yang mudah lupa masih mengingat tentang peristiwa ini.

Aku tumbuh dan besar di sebuah kampung di kota Subang, kota yang rasanya tak sering dibicarakan di media sosial, ataupun di layer kaca. Aku lupa saat itu usia berapa, yang pasti masih duduk di sekolah dasar.

Sudah menjadi kebiasaan warga kampungku, saat minggu pagi tiba, kamu selalu berbondong-bondong membeli surabi. Setiap kali teringat suasana minggu pagi, rasanya begitu damai. Udara sejuk, cahaya matahari yang hangat, oh, ingin sekali rasanya kembali ke pagi itu.

Seperti warga lainnya, akupun tak ingin kehabisan surabi itu. Biasanya aku pergi Bersama ibu. Dari rumah kami sudah persiapan membawa telur, karena surabi tambah telur dan taburan oncom sungguh perpaduan yang dahsyat.

Namun pagi itu aku minta kepada ibu agar aku membawa telur itu sendiri, dengan tanganku sendiri. Tapi ibu tak menghendakinya. Ia bilang kalua aku yang bawa nanti telurnya pecah. Aku tahu, waktu itu aku masih kecil, namun dengan kesadaran penuhku, memegang telur agar tidak pecah tentu bukan hal yang sulit ataupun rumit, cukup digenggam saja.

Akhirnya ibuku mengalah, kami pun berangkat ke tempat kha situ. Sampai disana sudah banyak orang berkerumun, memandangi surabi yang dipasak, sambal bertanya-tanya “inikah punyaku?”

Ibu mengobrol dengan ibu-ibu lainnya, aku lupa saat itu sedang apa, karena yang aku ingat adalah saat telur yang sedari tadi ada dalam genggaman tiba-tiba lepas begitu saja, meluncur ke tanah basah dan pecah. Oh tidak, kataku dalam hati, bagaimana mungkin ini terjadi? Padahal aku yakin sekali bahwa telur ini tak akan pecah, aku yakin, yakin beribu-ribu yakin. Tapi ternyata takdir berkata lain.

Melihat hal itu, ibuku berkata “Nah kan, apa ibu bilang!” , apa dalam hatinya ia merasa menang? Aku takt ahu. Yang jelas telur itu pecah, dan perkataan ibuku serratus persen terjadi. Akhirnya ibu memberikan telur miliknya untukku.

Entah aku harus bicara apa kala itu, hanya saja bila mengingat kejadian tersebut, kesanku hanya begitulah ibu. Ucapannya selalu benar. Dan ia selalu berkorban untuk anaknya. Dan sebaiknya kita berhati-hati kawan, jaga baik-baik hatinya, agar ucapannya kepada kita baik pula.

 

Kamis, 17 Juni 2021

Cerpen Nonfiksi: Pembantai T-Rex


Pembantai T-Rex


Ini adalah kepingan cerita dalam hidupku yang cukup sulit kulupakan. Saat itu status pekerjaanku masih sebagai pengajar di sebuah pesantren. Di pesantren ini sebelum memasuki bulan Ramadan biasanya kegiatan belajar mengajar telah usai. Santri (siswa) akan kembali ke pesantren setelah lebaran. 

Pada bulan ramadhan tahun itu, beberapa pengajar berinisiatif untuk menyelenggarakan itikaf. Tentu saja ini tidak bersifat wajib, kebanyakan yang ikut serta adalah pengajar muda (belum menikah), aku dan teman-teman sebaya tentu termasuk didalamnya.  Mengapa aku ikut? yang pertama, karena penasaran. Bagaimana sih rasanya berdiam di masjid selama sepuluh hari tanpa sejengkalpun keluar dari sana. Ditambah, kami tidak diperbolehkan menggenggam telepon genggam ( cuma inisiatif) selama kegiatan tersebut. Dan lagi, selama sepuluh hari ini pun kami diberi agenda kegiatan yang cukup padat. Menghafal al-quran, menelaah hadis, tafsir, ilmu alat, dll. Katanya itu semua guna meningkatkan wawasan keilmuan kami. 

Acara ini tidak bersifat formal, sehingga jika ada teman yang ingin ikutpun, pintu terbuka lebar. Hanya sekitar tiga belas sampai lima belas yang ikut itikaf ini, ada pengajar muda, teman pengajar muda, dan pengajar senior yang merangkap sebagai panitia kegiatan itikaf ini. 

Hari demi hari kami lewati tidak begitu saja, banyak obrolan, kejadian yang cukup menarik. Berpisah dengan hp ternyata cukup memberi dampak positif, membuat hubungan kami lebih intens, karena semua jalur komunikasi lewat verbal bukan aplikasi. 

Di suatu malam yang entah keberapa, setelah selesai semua kegiatan, seperti biasa kami yang muda-muda mengobrol sambil merokok bersama (kesampingkan dulu masalah boleh tidaknya pengajar merokok di pesantren yang memasang peraturan santri tidak boleh merokok), sambil menunggu rasa kantuk datang. Diantara kumpulan itu ada Aziz (nama samaran), dia teman kami tapi bukan pengajar di pesantren, yang anehnya hanya dia yang tidak merokok disitu. Oh iya gais, meski kami disana disebut pengajar, atau biasa disebut ustad, sejatinya kami masih remaja tanggung yang sedang melangkah menuju pendewasaan. Seperti saat itu, kami yang biasanya memarahi serta menghukum santri yang kedapatan merokok (kadang pengajar yang memarahinya sambil merokok), malah merayu si aziz ini agar mencoba satu hisap saja. Aziz bukan orang yang sedari lahir belum pernah merokok, dia hanya sudah berhenti, sehingga membuatnya merokok lagipun dirasa bukan perbuatan yang tercela, haha. 

"Sok sok ziz cobaan sabatang weh," kata Adnan (nama samaran) 

"heueuh Ziz, sakali-kali mah moal nanaon meureun," tambah Ihsan (nama samaran) 

Karena kalah suara ditambah rayuan setannya terlalu kuat untuk ditahan, Aziz pun mengambil sebatang rokok Magnum, menempelkannya di mulut dan cekes, asappun keluar dari mulut aziz sambil sedikit batuk. 

Setelah momen cekes itu kamipun tepuk tangan pelan-pelan (karena sebagian orang sudah tidur), sambil mengucapkan selamat layaknya ucapan selamat kepada orang yang baru lulus sekolah. 

"Kieu ziz, mun aya nu menta rokok, buka bungkusna, terus sodorkeun ka jelemana, titah manehna nyokot sorangan, lain kuurang nyokot rokok dina bungkus eta terus dibikeun sabatang, kade lain kitu!" kata si Syekh (hanya sebutan) saat menjelasakan hukum tak tertulis sesama perokok. 

" Oh kitunya siap-siap a" jawab Aziz

"Ziz bisa kieu teu haseup na?" kata Lukman (nama samaran) saat menunjukkan kebolehannya membuat huruf O pada asapnya. 

"Wah bisaan euy, cikan kumaha eta teh carana a Luk?" tanya Aziz sambil terkagum-kagum 

"Ah eta mah ges biasa, Syekh Syekh tunjukeun jurus T-Rex tea ka si Aziz!" potong Ihsan. 

"Asa karek ngadengen jurus eta mah, cikan contoan a!" pinta Aziz. 

Dengan suara pelan namun berat Syekh berkata, "Tempokeun!" 

Syekh mengambil napas perlahan, meletak rokok dimulutnya dan menghisapnya dalam-dalam, dan mulai mengeluarkan asapnya secara perlahan, sehingga terlihat seperti lava putih meleleh keluar dari mulutnya. 

"Bari nangtung atuh Syekh biasana ge" pinta ihsan lagi. 

Syekh pun berdiri dan langsung memposisikan tangannya seperti Tiranosaurus Rex, sambil sekali lagi menghisap rokoknya, Syekh kembali memuntahkan asapnya secara perlahan namun kali ini dengan kepala yang diputar kekiri ke kanan, lengkap dengan posisi tangan dan tubuh layaknya T-Rex. Kamipun tertawa cukup keras tanpa kami sadari karena tingkah Syekh itu. 

Mulut kami masih menganga menikmati tawa, belum sempat tawa itu reda, tiba-tiba ada sekelibat bayangan yang tiba melesat, mendekati T-Rex dan menamparnya cukup telak. PLAK. 

Suara geplakan itu menyadarkanku, bahwa bayangan tadi itu adalah pengajar seniorku, dan tidak sampai disitu, seniorku itu seperti pemangsa yang gelap mata, kemana matanya mengarah, kepada orang itulah geplakan mengarah, sontak kumpulan itupun bubar secepat bubarnya anak-anak muda yang dirazia polisi 86. 

Beberapa teman sial kami terkena geplakan itu, meski tak setelak nasib T-Rex. Ada yang kena kepalanya, bahunya ataupun tangannya. Kami berhamburan menuju tempat tidur masing-masing dan langsung pura-pura tidur, seolah tak pernah kejadian apapun kala itu. Dalam keheningan, aku mencoba menata perasaan campur aduk yang mengoyak. Antara perasaan kaget, karena kegesitannya, juga kesal karena dia sudah menghancurkan kesenangan kami, kasihan, terhadap mereka yang terkena geplakan, namun yang paling dominan adalah perasaan ingin tertawa atas kejadian itu. Sekuat tenaga aku menahan mulutku untuk bertingkah. 

Yang lucunya adalah bahwa ini bukan kali pertama aku melihat aksi seniorku ini. Kadang-kadang jurus kilat ini pun aku lihat saat dia mengurusi santri, dan kini, kualami sendiri apa yang santri-santriku rasakan, haha. 

Tentu saja ini bukan perilaku yang patut dicontoh, hanya saja cerita ini merupakan harta yang takkan  mampu orang rebut dariku. Dan tentu saja, aku yakin kalian juga memiliki harta-harta kalian sendiri. 


Catatan : Untuk beberapa hari kedepan dari kejadian itu T-Rex dan Sang Pembantai tak saling bertegur sapa. 

Saksi