Agaknya, bila pengetahuan kita membiat kita takut untuk melangkah, tidak tahu sama sekali jelas lebih baik.
Meskipun nantinya dia akan tahu pahitnya kenyataan.
Yah, sepuluh tahun yang lalu saat pengalaman kerjaku hanya jadi buruh pabrik, aku berniat menyelami dunia satpam.
Karena gajinya dua kali lebih besar dari pemberian pabrik.
Saat tawaran satpam itu muncul, pikiran kita langsung bekerja, mengumpulkan semua ingatan yang bisa diraih tentang satoam di kepalaku.
Hingga akhirnya, aku menarik kesimpulan, "Ah kayaknya jadi satpam tidak akan lebih capek dari kerja di pabrik," begitu pikirku.
Kesimpulan ini datang karena selama ini yang kulihat, orang yang berprofesi satpam itu kerjanya hanya diam, duduk-duduk saja, paling jauh hanya pengecekan tubuh atau barang bawaan, itu pun hanya formalitas.
Singkat kata, pergilah aku ke kantor pusat tempat aku akan menaruh ijazah pesantren ku.
Setibanya disana, aku diarahkan ke basecamp, tempat orang-orang sepertiku (melamar kerja kesini) berkumpul.
Besoknya, kami dikumpulkan dan dibariskan oleh seseorang yang menyebut dirinya instruktur.
Tapi bagiku dia lebih seperti kakak-kakak yang mengospek mahasiswa baru.
Bicaranya seperti dicampur marah, meski kami tak melakukan apa-apa.
Intinya dia bilang, bila menghadap "orang-orang kantor," awali ucapanmu dengan "Mohon ijin Dan (komandan)", meskipun hanya sebagian kecil saja yang dari kesatuan, sisanya hanya warga sipil biasa, lucu sekali.
Begitupun saat kita kebetulan di depan mereka, bukan kata "permisi" atau "punten", tapi sebelum lewat kita berhenti dulu, menghadap kepadanya, lalu memberi hormat, dan bilang, "Mohon ijin lewat Dan!", kalau dia sudah menjawab silahkan, barulah dia bisa lewat.
Aku bertanya-tanya siapa sih orang pertama yang membuat peraturan bodoh ini, selain tak efektif, tindakan ini juga terlalu memakan waktu, dan tentu saja membuat pelaku tindakannya terlihat rendah.
Setelah selesai bicara, dia mulai menjelaskan apa saja yang harus kita lakukan selama di kantor pusat ini.
Dimulai dengan latihan fisik seperti berlari, ditambah latihan seperti push ap, sit up, dan sebagainya.
Selain ini, kami juga mengjabiskan waktu dengan latihan baris-berbaris, kegiatan yang memaksaku kembali ke masa sekolah dasar untuk mengingat kembali gerakan-gerakannya.
Bila ada seseorang diantara kami yang terlihat bermain - main atau melakukan kesalahan saat menjalankan dua aktivitas ini, diberi teguran sudah merupakan berkah, karena tak jarang hadiahnya itu menepak nyamuk yang tidak ada diwajah kita.
Bila kesalahannya semakin fatal, dampaknya tidak lagi personal, tapi seluruh anggota terkena imbasnya, lalu kami akan melakukan gerakan yang disebut 'sikap taubat'.
Gerakannya itu kepala dan kaki menyentuh tanah, sedangkan badan dan kaki membentuk sudut siku-siku.
Bila dilihat dari samping, akan terlihat seperti angka selapan dalam bahasa arab.
Dan ritual ini cukup menyakitkan dan menguras tenaga.
Dan begitulah kuhabiskan hari-hariku disana, berlatih fisik, latihan baris-berbaris yang dibumbui dengan tamparan atau sikap taubat, dan jangan lupa bilang "Mohon ijin komandan".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar