Bekerja, sebuah ide universal yang dipikirkan, dibicaran dan dijalankan oleh seluruh umat manusia.
Sebelum memulainya, luruskan niat terlebih dahulu, tanyakan pada diri untuk apa aku bekerja?, kenapa ini menjadi penting, karena inilah yang akan menentukan segalanya.
Niat yang akan membuat kita semangat atau malas dalam berkerja. Niat ini juga yang akan mengantarkan apakah pekerjaan itu akan membawa kita ke surga atau malah menjauhinya.
Dari niat inilah, apakah nantinya kita akan semakin mengenal Pencipta kita atau malah melupakannya.
Banyak orang bilang bahwa cari kerja itu susah, tapi jika kita lihat lowongan pekerjaan, ternyata masih terbentang luas.
Baik lowongan pekerjaan yang kita temui dari browsing atau lewat aplikasi pencari kerja, atau bahkan lowongan dari kabar tetangga atau saudara.
Lalu, mengapa orang bilang susah cari kerja? Mungkin maksud dari kalimat itu ialah susah cari kerja yang sesuai dengam selera kita.
Kita cenderung memberi batas-batas tak kasat mata saat mencari pekerjaan.
Batas itu bisa berupa jenis pekerjaan, besaran gaji, lokasi pekerjaan. Mari kita sudahi dari tiga batas ini saja dulu.
Mari kita perbaiki pertanyaannya, Jadi apakah susah mencari pekerjaan dengan jenis yang kita sukai, disertai gaji yang lumayan dan lokasinya dekat?
Jawannya bisa jadi, Jika kamu punya banyak skill, mendapat pekerjaan seperti ini mungkin saja.
Tapi jika kau merasa tidak punya keahlian khusus, mendapat pekerjaan seperti ini akan memakan lebih banyak waktu, (sedangkan waktu bukanlah sahabat baik para pencari kerja atau pengangguran).
Bila kita menghilangkan salah satu saja dari pembatas itu, misal kita panghilan kerja yang sesuai dengan keahlian tapi, kerjaannya jauh, atau gajihnya kecil, tentu tak akan jadi masalah.
Lalu bagaimana jika aku hanya lulusan sma tanpa keahlian khusus, atau sarjana tapi kuliahnya berasa gak kuliah, ada beberapa hal yang terpikir olehku, diantaranya
a. Turunkan ego
Bila merasa tak punya skill, mau tak mau harus menurunkan ego, menurunkan target jenis pekerjaan ke yang lebih umum, lenih bisa dilakukan siapapun, sekalipun tak punya skill atau pengalaman.
Misal, bila ingin menjadi pegawai kantoran, tapi keterampilan mengetik masih sebelas jari, maka turunkan target pekerjaan ke OB (office boy), pekerjaan yang lebih umum, lebih mudah dikerjakan oleh kebanyakan orang.
"Tapi, kerja jadi tukang bersih-bersih kan malu. ", bila ada yang bilang begini, makannya aku sampaikan di awal, turunkan ego.
Dan bila diperhatikan, bila kemampuan kita baru sebatas bersih-bersih, kenapa harus malu jika tujuan kita bekerja untuk ibadah karena Allah?
Lain cerita, jika kita bekerja ingin dipandang, atau diakui oleh orang, oleh sesama makhluk, bila dari awal bekerja ini niatnya, mau pekerjaan tukang parkir atau bos perusahaan pun tak akan damai, gelisah akan senantiasa membayangi, karena tujuannya orang, sedangkan isi pikiran orang berbeda-beda dan sering bertabrakan. Memenuhi harapan mereka semua adalah mustahil dan bodoh.
Apalagi sebagai seorang muslim, menggantungakan harapan atau kebahagiaan kepada selain Allah, apakah itu pantas? Apakah masih bisa disebut ikhlas? Sedangkan dalam surat Al-Ikhlas sendiri disebutkan bahwa Allahlah tempat bergantung segala sesuatu.
Oke oke, kita kembali ke topik. Oh iya, OB ini hanya perumpamaan, diluar sana juga banyak pekerjaan yang seperti ini.
Lalu apakah jika sudah dapat pekerjaan jadi OB (misal), sudah saja, tekuni pekerjaan itu selamanya?
Tentu saja tidak, ini hanya langkah awal. Allah memberi kita akal untuk berpikir dan hati untuk merasa atau menghayati.
Mulailah belajar hal baru, skill baru, untuk menunjang karir. "Tapi aku sudah nyaman kerja disini", yah silahkan saja.
Intinya, semangat belajar jangan sampai berhenti apalagi padam, karena itu pesan Rasulullah.
Dan sekali lagi, tentukan niat yang benar, dan bila kebenaran itu tak ditemukan dari pendapat orang-orang, yakinlah kebenaran Allah itu mutlak, absolut, dan sebenar-benarnya kebenaran. Wallahu alam.