Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Agustus 2023

Rencana

 Rencanakan hari esok, agar tidak bingung saat melangkah.

Sebelum menutup mata niatkan apa yang akan pertama kau lakukan saat memulai membuka mata kembali. 

Dan sebaik-baik rencana, adalah yang disandarkan kepada sang pemilik diri kita, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Rab semesta alam, Allah Subhanahu Wataa'la.

Kamis, 03 Agustus 2023

Pertarungan dini

 03.30

Nomor yang cantik, pantas saja aku terbangun. Hanya bangun, belum berbuat apapun lagi selain melihat waktu di hp. 

Disinilah semuanya dimulai, sejak kita tersadar setan sudah menunggu dan langsung menyerang tanpa aba-aba.

Pertarungan yang sederhana sebenarnya, bila kita beranjak dari tempat tidur, kita menang. Tapi jika kita tertidur lagi, berarti setan menang.

Dan saat kita bangun lagi yang kedua kalinya, penyesalan yang menyambut.

Memulai hari dengan penyesalan, bukanlah awal yang baik. 


Senin, 31 Juli 2023

Kotor itu kepastian

07.30

Aku bangun, sambil mengecek dimana letak hp, lalu membuka beberapa sosial media, kebiasaan yang aku sendiri tak tahu betul apa itu perlu dilakukan.

Kemudian bergegas mengambil air wudhu, dan melaksanakan sholat subuh, meski lebih cocok sholat duha jika dilihat dari waktunya. 

Seperti biasa, aku mulai mengambil sapu dan pengki, untuk membersihkan lantai dua, yang terdiri dari dua kamar bersebelahan dengan ruang besar didepan kedua kamar itu. 

Lalu aku mengamati kondisi lantai di lantai dasar, apakah terlihat sudah disapu atau belum, jika sudah, berarti aku tinggal mengepel. 

Dan aku mulai mengepel setiap ruangan, kecuali kamar tidur di lantai satu. 

Tak lupa kubersihkan daun-daun yang baru berguguran pagi itu dihalaman rumah.

Mengecek wastafel juga kulakukan untuk memastikan apakah ada wadah kotor atau tidak. 

Semua kegiatan ini kucoba jadikan sebagai rutinitas pagiku, sebagai pengingat bahwa kotor itu suatu kepastian. 

Ia akan selalu datang, baik dari hasil perilaku kita, maupun datang sendiri. 

Sedangkan membersihkan kotoran itu pilihan. 

Dan bila kita mengabaikannya, kekotoran akan menumpuk, hingga di satu kondisi, membersihkannya akan menguras waktu dan tenaga. 

Dan kegiatan bebersih inipun menjadi gambaran, bahwa selain materi atau fisik yang selalu didatangi kekotoran, pikiran dan hati kitapun akan mengalami hal yang sama.

Oleh karenanya, Rasulullah mencontohkan agar kita selalu beristigfar, untuk membersihkan atau menyucikan diri dari dosa. 

Memerintahkan kita berzakat dan menganjutkan sedeqah dan infaq untuk membersihkan atau menyucikan hati dan harta kita. Wallahu alam. 

Rencana dan Realita

Berencana untuk satu hari kedepan, satu minggu, satu bulan bahkan satu tahun kedepan boleh saja.
Hanya saja jangan sampai perencanaan itu menghambat kita dalam menjalankan tugas utama sebagai manusia, yaitu ibadah kepada Allah SWT. 
Akan lebih indah jika perencanaan kira aejalan dengan ibadah kita. 
Namun hati-hati, rencana tak sama dengan melamun.
Perencanaan adalah langkah nyata yang hendak kita jalankan setelah mengukur kesanggupan. 
Bukan sekedar melamun ingin sesuatu tanpa tindakan nyata untuk mewujudkannya. 
Dan selalu ingat dan tetapkan niat saat membuat perencanaan, bahwa semuanya itu kita kerjakan semata karena Allah saja. 
Kita kerjakan hanya untuk mendapatkan rahmat dan rido-Nya.
Kita juga harus sadari betul, sejauh apapun rencana itu kita persiapkan, maut bisa datang kapan saja. 
Sehingga dalam setiap aktivitas keseharian kita, kita jalani dengan penuh kesungguhan karena Allah SWT.
Nikmati setiap detiknya hidup, sadari itu, kenali tanda - tanda kekuasaanNya, dan berdzikirlah.
Karena sumber kebahagian itu saat kita menyadari akan nikmat Allah yang ia limpahkan kepada kita. Wallahu alam. 

Rabu, 26 Juli 2023

Merasa suci

Perasaan suci, suatu rasa saat yang timbul saat kita sudah melakukan ta'lim, atau mendengar atau melihat pengajian, lalu kita berada di kondisi lingkungan biasa, lingkunagn umum, dunia nyata, tempat dimana kejahatan-kejahatan yang terlihat kecil dibiarkan, keburukan-keburukan yang terkesan sepele diabaikan. 

Sedangkan kita saat itu baru saja mendapat siraman rohani, baru selesai menyucikan diri, membersihkan jiwa, lalu dihadapkan dengan kenyataan dunia yang beragam, kemudian timbullah perasaan soal kita ini setetes embun di tengah kubangan lumpur. 

Perasaan bersih dan yang lain kotor, ini kadang mengakibatkan berhentinya komunikasi. Karena kita tak ingin terkontaminasi dengan kekotoran ucapan mereka. 

Begitulah kiranya gambaran, saat aku merasa suci, apakah ini baik, jelas tidak, bahkan membahayakan. 

Hal ini terjadi saat kita memandang dunia dari kacamata negatifnya saja. Hanya terfokus saat orang-orang melakukan kesalahan atau keburukan. 

Seolah hanya mata kiri yang terbuka. Dan kita menjadi antipati kepada yang lain, yang menurut kita salah. 

Saat hati enggan, pikiran negatif, dan ucapan tertahan, ini jelas tak baik bagi seorang muslim, saat diperintah untuk mensyiarkan islam kemana-mana. 

Lalu, apakah mendengarkan pengajian itu buruk?, bukan begitu juga. Ayat Al-quran dan Hadits yang disampaikan jelas suci, karena memang bersumbur dari yang Maha Suci. 

Tapi kehidupan nyata di dunia memang tak sempurna, begitulah adanya. Nah tugas kitalah untuk menyambungkan keduanya, dengan kesadaran, ke ikhlasan hati, pikiran positif, ilmu yang haq, dan kebijaksanaan.  Wallahu alam. 



Berhenti berpikir, mulailah bergerak

 Allah itu Maha Kaya, mintalah apapun, sejauh yang bisa kau bayangkan.

Namun, jika permintaanmu belum terkabul, bisa jadi dirimu yang belum siap atau mampu untuk menerimanya. 

Beranilah bermimpi, hanya hati-hati membedakan antara mimpi dan angan-angan. 

Menjemput rezeki, Sebenarnya sudah tak terhitung rezeki yang Allah limpahkan, hanya mungkin kita tak sadar, atau rak tahu cara mengambilnya. 

Salah satu kebiasaanku adalah over thinking, terlalu lama berpikir hingga lupa melangkah. Terlalu lama memikirkan cara memenangi balapan tanpa sadar yang lain sudah di garis finish. 

Melangkahlah, bergeraklah, bagiku ini cukup sulit, meski prakteknya mungkin sederhana. 

Terlalu banyak berpikir dan merenun, jika pola bepikirnya tidak diarahkan dengan benar, bisa-bisa memikirkan sesuatu  yang sebetulnya bukan ranah manusia atau makhluk. 

Saat Rasul menyarankan unruk bermuhasabah, itu bukan mengajak berpikir mengawang tak jelas, tapi memikirkan, mengingat, dan mengevaluasi perbuatan kita. Baik perbuatan lahir maupun batin. 

Berencana boleh, tapi jangan lupa dengan nikmat Allah yang setiap detiknya terus mengalir. 

Jumat, 21 Juli 2023

Bekerja VS Ego

 Bekerja, sebuah ide universal yang dipikirkan, dibicaran dan dijalankan oleh seluruh umat manusia. 

Sebelum memulainya, luruskan niat terlebih dahulu, tanyakan pada diri untuk apa aku bekerja?, kenapa ini menjadi penting, karena inilah yang akan menentukan segalanya. 

Niat yang akan membuat kita semangat atau malas dalam berkerja. Niat ini juga yang akan mengantarkan apakah pekerjaan itu akan membawa kita ke surga atau malah menjauhinya. 

Dari niat inilah, apakah nantinya kita akan semakin mengenal Pencipta kita atau malah melupakannya. 

Banyak orang bilang bahwa cari kerja itu susah, tapi jika kita lihat lowongan pekerjaan, ternyata masih terbentang luas. 

Baik lowongan pekerjaan yang kita temui dari browsing atau lewat aplikasi pencari kerja, atau bahkan lowongan dari kabar tetangga atau saudara. 

Lalu, mengapa orang bilang susah cari kerja? Mungkin maksud dari kalimat itu ialah susah cari kerja yang sesuai dengam selera kita. 

Kita cenderung memberi batas-batas tak kasat mata saat mencari pekerjaan. 

Batas itu bisa berupa jenis pekerjaan, besaran gaji, lokasi pekerjaan. Mari kita sudahi dari tiga batas ini saja dulu. 

Mari kita perbaiki pertanyaannya, Jadi apakah susah mencari pekerjaan dengan jenis yang kita sukai, disertai gaji yang lumayan dan lokasinya dekat?  

Jawannya bisa jadi, Jika kamu punya banyak skill, mendapat pekerjaan seperti ini mungkin saja. 

Tapi jika kau merasa tidak punya keahlian khusus, mendapat pekerjaan seperti ini akan memakan lebih banyak waktu, (sedangkan waktu bukanlah sahabat baik para pencari kerja atau pengangguran). 

Bila kita menghilangkan salah satu saja dari pembatas itu, misal kita panghilan kerja yang sesuai dengan keahlian tapi, kerjaannya jauh, atau gajihnya kecil, tentu tak akan jadi masalah. 

Lalu bagaimana jika aku hanya lulusan sma tanpa keahlian khusus, atau sarjana tapi kuliahnya berasa gak kuliah, ada beberapa hal yang terpikir olehku, diantaranya

a. Turunkan ego

Bila merasa tak punya skill, mau tak mau harus menurunkan ego, menurunkan target jenis pekerjaan ke yang lebih umum, lenih bisa dilakukan siapapun, sekalipun tak punya skill atau pengalaman. 

Misal, bila ingin menjadi pegawai kantoran, tapi keterampilan mengetik masih sebelas jari, maka turunkan target pekerjaan ke OB (office boy), pekerjaan yang lebih umum, lebih mudah dikerjakan oleh kebanyakan orang. 

"Tapi, kerja jadi tukang bersih-bersih kan malu. ", bila ada yang bilang begini, makannya aku sampaikan di awal, turunkan ego. 

Dan bila diperhatikan, bila kemampuan kita baru sebatas bersih-bersih, kenapa harus malu jika tujuan kita bekerja untuk ibadah karena Allah? 

Lain cerita, jika kita bekerja ingin dipandang, atau diakui oleh orang, oleh sesama makhluk, bila dari awal bekerja ini niatnya, mau pekerjaan tukang parkir atau bos perusahaan pun tak akan damai, gelisah akan senantiasa membayangi, karena tujuannya orang, sedangkan isi pikiran orang berbeda-beda dan sering bertabrakan. Memenuhi harapan mereka semua  adalah mustahil dan bodoh. 

Apalagi sebagai seorang muslim, menggantungakan harapan atau kebahagiaan kepada selain Allah, apakah itu pantas? Apakah masih bisa disebut ikhlas? Sedangkan dalam surat Al-Ikhlas sendiri disebutkan bahwa Allahlah tempat bergantung segala sesuatu. 

Oke oke, kita kembali ke topik. Oh iya, OB ini hanya perumpamaan, diluar sana juga banyak pekerjaan yang seperti ini. 

Lalu apakah jika sudah dapat pekerjaan jadi OB (misal), sudah saja, tekuni pekerjaan itu selamanya? 

Tentu saja tidak, ini hanya langkah awal. Allah memberi kita akal untuk berpikir dan hati untuk merasa atau menghayati. 

Mulailah belajar hal baru, skill baru, untuk menunjang karir. "Tapi aku sudah nyaman kerja disini", yah silahkan saja. 

Intinya, semangat belajar jangan sampai berhenti apalagi padam, karena itu pesan Rasulullah. 

Dan sekali lagi, tentukan niat yang benar, dan bila kebenaran itu tak ditemukan dari pendapat orang-orang, yakinlah kebenaran Allah itu mutlak, absolut, dan sebenar-benarnya kebenaran. Wallahu alam. 

Kamis, 20 Juli 2023

Panggilan Adzan

 Lafadz adzan merupakan lafadz yang langsung dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dari dulu sampai sekarang.

Tak bisa diubah-ubah mengikuti kemauan kita.

Pernahkah kita mencoba untuk merenung sedikit, mencoba memetik hikmah dibalik lafadz-lafadz adzan tersebut.

Seperti ketika Lafadz "Allahu akbar Allahu akbar" menggema, pernahkah berpikir bahwa Allah sedang mengingatkan kita bahwa Dia lah yang Maha Besar, Maha Kuasa, sehingga sebesar apapun masalah yang sedang kita hadapi, dihadapan Allah yang Maha Besar, masalah yang kita anggap besar itu bukanlah apa-apa.

Maka saat lafadz itu dikumandangkan pernahkah kau merasa bahwa Allah sedang memanggil "Kemarilah, masalah apapun yang kau hadapi, serahkan padaKu".

Kemudian lafadz setelah itu, merupakan dua kalimat syahadat, yang mana mengingatkan janji yang pernah kita ikrarkan sejak dalam kandungan. 

Tentu kita tak ingin menjadi orang yang suka ingkar janji, terlebih janji kepada Dzat yang telah menciptakan kita. 

Lalu lafadz "Hayya 'alas sholah". (Marilah Shalat)

Dengan sifat Maha Kuasa-Nya, Dia memilih menggunakan kalimat ajakan (marilah), bukan perintah. Betapa Maha PenyayangNya Allah.

Lalu lafadz "Hayya' alal falah" sering diartikan Marilah menuju kemenangan).

Bila kita kaitkan dengan lafadz sebelumnya, berati Allah memberitahu kita, "Bila ingin meraih kemenangan maka sholatlah".

Dan lagi, khusus untuk kedua lafadz ini, Rasullah mencontohkan jawaban yang berbeda. 

Maksudnya, ketika mendengar adzan, kita disunahkan untuk menjawab dengan mengucapkan kembali lafadz yang muadzin kumandangkan. 

Tapi saat muadzin berseru " Hayya 'alas Sholah" dan "Hayya' alal Falah", kita disunahkan menjawabnya dengan lafadz "Laa haula walaa quwwata illa billah" (Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah). 

Bila kita iman, dan yakin bahwa kita ini dapat bergerak, bernafas, berjalan, berpikir, bekerja semua karena izin Allah. Maka lafadz adzan itu akan terdengar seperti "Mari sholat, karena kamu bisa bernafas atau bergerak sekarang itu juga karena izin-Nya, kehendak-Nya". 

Lalu adzan itu diakhiri dengan lafadz "Laa ilaaha illallah". 

Sebuah penegasan bahwa tidak ada tuhan (yang patut diibadahi atau disembah) kecuali Allah. 

Sebuah kalimat tauhid, kalimat yang diimpikan setiap muslim, sebagai kalimat terakhirnya sebelum tutup usia. 

Sungguh indah, sungguh bahasa yang filosofis, padat, mencakup, kuat sekali, bila kita coba untuk memetik hikmahnya. 

Tapi bila ditanya, apakah ini makna sebenarnya dari lafadz-lafadz adzan tersebut? Wallahu 'Alam. 


Senin, 17 Juli 2023

Ada yang bersembunyi

 Dalam menjalani kehidupan, terkadang apa yang terlintas di hati tak sampai menjadi ucapan.

Apa yang tersampaikan oleh mulut, berbanding terbalik dengan keinginan di hati. 

Atau mungkin teriakan di hati tak menghasilkan satupun bunyi atau huruf. 

Mengapa ini bisa terjadi?

Apakah yang terbesit dihati itu kalimat negatif?

Atau mungkin yang bersuara itu baik, hanya saja kita takut menyuarakannya. Takut menyuarakan yang baik? mengapa?

Apakah karena kebaikannya ini masih bersifat subjektif dari diri sendiri, ataukah kebaikan ini benar menurut syariat?

Atau kita tak berkata karena takut menyinggung lawan bicara, meskipun yang ingin kita ucapkan baik dan benar sesuai ketentuan?

Baik dan benar memang harus disampaikan, hanya tentu dibarengi dengam kebijaksanaan. Memilah dan memilih kata yang sesuai. 

Ketakutan kadang timbul karena kurangnya perbendaharaan kata, sedikit cara yang kita tahu dalam metode penyampaian. 

Namun sejatinya, sebagai seorang muslim, sebagai orang beriman, sebagai hamba Allah Ta'ala, hati pikiran dan ucapan/perbuatan harus seirama, seiya sekata.

Adapan bila bisikan negatif datang, segeralah meminta perlindungan kepada-Nya.

Dalam suatu ayat dijelaskan manusia itu diartikan al-ins yang bermakna nampak/tampil.

Masih di ayat yang sama, ada makhluk yang disebut juga yaitu al-jin yang bermakna tersembunyi.

Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa sifat manusia itu nampak, harus tampil. Karena yang bersembunyi itu sifatnya jin. Wallahu alam. 

Sabtu, 15 Juli 2023

Menerima tamu

Pengalaman memang memberikan pemahaman lebih cepat ketimbang membaca teori.
Pengalaman tak harus dari perilaku sendiri, bisa juga dari sikap orang yang kita hadapi. 
Suatu pagi aku dan sepupu pergi berkunjung ke rumah kakaknya(sepupuku juga). 
Kakaknya sudah berkeluarga, dikaruniai 2 anak yang tampan lagi shaleh.
Saat aku tiba disana, sepupuku dan suaminya menyalamiku dan membiarkanku. 
Mereka kembali ke aktivitas masing-masing, mengabaikanku.
Maksudku, kenapa begitu?
Kita saudara yang sudah puluhan tahun tidak bertemu. 
Tidak adakah yang ingin dia tanyakan, walau sekedar basa-basi?
Ah, mungkin tak cukup menarik untuk dijadikan teman mengobrol. 
Atau memang seperti itulah biasanya mereka menerima tamu. 

Jumat, 14 Juli 2023

Bersih fisik bersih psikis, bersih raga bersih jiwa

Sekuat apapun kamu berniat, bila tak dilaksanakan, akankah terpenuhi?

Manusia punya rasa punya pikiran, untuk menguatkan keduanya, diperlukan tindakan nyata, perbuatan nyata, tanpa itu, akan terjadi ketidak seimbangan. 

Tadinya aku berpikir, saat aku ingin kerja, aku melamar, mencari kesana sini, kirim-kirim surat lamarannya terus menunggu. 

Ternyata ada yang lebih baik, meskipun sudah mengirim lamaran, tetap lah kerja atau mengerjakan apapun yang kita bisa.
 
Lalu aku kebingungan harus berbuat apa, karena setiap orang (mungkin) ingin membersihkan kotoran-kotoran yamg ada di hati dan pikirannya, maka langkah nyatanya, aku mulai dari membersihkan kotoran yang ada di badan, lalu pakaian, tempat tidur, lalu kamar, lalu kamar mandi, dan begitu seterusnya.

Intinya, hal yang bersifat tak material, bisa kita mulai dari yang material, agar seimbang. 

Mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan secepat yamg sepatutnya. 

Manfaat lama merias wajah

Bagi sebagian lelaki, melihat perempuan yang berdandan begitu lama, terkadang merasa aneh, tak masuk akal, kenapa harus sampai begitu lama?

Yah, kita berpikir begitu karena membandingkan dengan cara berdandan kita yang mingkin hanya pake minyak wangi dan bersisir, kadang hanya sisir jari. 

Ia memang, kita juga tau mengapa mereka begitu lama, itu disebabkan puluhan atau mingkin ratusan item yang ditumpahkan ke wajah cantik mereka.

Kukira ini merupakan kekurangan, karrna terlalu banyak memakan waktu. 

Namun dalam sebuah buku menjelaskan, kebiasaan berdandan perempuan dapat melatih skill multitasking mereka.

Benarkah itu? entahlah, tapi stereotypes yang mengatakan kalau "Wanita itu bisa melakukan beberapa jenis pekerjaan dalam satu waktu (multitasking), beda dengan lelaki yang hanya bisa fokus pada satu hal" dan Wanita itu kalau dandan lama" benar adanya. 


Rabu, 12 Juli 2023

Antara menjadi makhluk, manusia dan Hamba

Siapa kita?

Kita adalah manusia, manusia itu apa?

Manusia itu makhluk atau yang diciptakan

Apa tujuan manusia diciptakan?

Untuk menghamba atau beribadah kepada tuhannya, siapa tuhannya?

Dia yang menciptakannya, merawatnya, pemilik bumi dan langit, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Siapa Dia?

Allah Subhanahu Wataala, memiliki sifat mukhalafatu lil hawadisi (berbeda dengan makhluknya) 

Karenanya, 

Bila manusia makan, Dia tidak. 

Bila manusia tidur, Dia tidak, 

Bila manusia kadang tidak tahu sesuatu, Dia pemilik pengetahuan itu sendiri

Bila manusia berpasangan, Dia Esa/Tunggal

Lalu, karena Dia Maha Sempurna, maka wajar bila makhluk tidak perlu menuntut sempurna (karena memang tidak mungkin), karena sifat bawaan makhluk itu tidak sempurna. 

Tapi kalau mencoba untuk melakukan semaksimal atau sesempurna mungkin, tentu saja boleh (meski tetap tak akan sempurna). 

Saat kita mengerti ini, ketika bertemu seseorang, dan dia melakukan kesalahan, kita bisa menerimanya dengan pikiran yang logis serta hati yang tenang, karena kita tahu kita makhluk, dan sifatnya itu tidak sempurna, atau pasti dikenai salah. 

Oleh karenanya, mari berhati-hati, menuntut seseorang menjadi sempurna berarti memaksanya keluar dari fitrahnya, mendorongnya keluar dari hakikat dirinya. 

Dan karena Kesempurnaan itu sifat Sang Khalik (Pencipta), meminta manusia menjadi sempurna, sama saja memintanya untuk menjadi tuhan, itu jelas mustahil. 

Oleh karenanya, sebagai sesama makhluk Allah, sesama manusia, saling menghargai, menghormati, dan menerima kekurangan dan mendoakan kebaikan merupakan sikap yang bijak. 

Serta terus belajar dan memperbaiki diri, bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi makhluk atau hamba Allah yang terbaik. 

Wallahu alam. 


Biawak

 Siang itu aku berjalan diantara rumah-rumah yang berjajar dikiri dan kanan menghadap kearahku.

Diujung persimpangan aku melihat seekor hewan melata, saat itu jarak kami sekitar 60 meter.

Awalnya kukira itu buaya, dengan warna kulit putih kekuningan, tapi saat ia mulai berjalan, ternyata ia lebih mirip kadal dalam versi yang lebih besar. 

Taksiranku panjangnya sekitar satu meter. Dia berjalan dari arah rumah sebelah kiri menuju ke rumah di kananku, dengan santai. 

Ia berjalan perlahan, tak seperti kadal yang gerakannya cukup gesit. Tapi sepertinya kadal juga akan berjalan santai bila tak sadar ada yang menatapnya atau mendekatinya. 

Siang itu kondisi komplek depnaker tempat tinggal pamanku ini sepi. Sebagian sedang bekerja, sebagian memilih berdiam di dalam rumah, mungkin. 

Meski ragu campur takut, aku tetap berjalan mendekat ke arah biawak itu, karena warung yang kutuju ada di seberang sana. 

Aku berjalan, biawak itupun berjalan ke arah rumah, saat aku tiba di tempat awal melihatnya, dia sudah hilang. 

Apakah biawak itu masuk rumah atau ke selokan, aku tak tahu. Tapi jelas aku tahu bahwa disini tadi ada biawak. 

Tepat di tikungan, ternyata ada seorang bapak-bapak yang sedang membersihkan daun pohon menggunakan tangga yang tingginya sekitar dua sampai dua setengah meter.

Sambil duduk di tepi tangga, sibapak begitu asyik dengan aktivitasnya. Pertanyaanku, apakah dia sadar bahwa tadi ada biawak sepanjang satu meter melintas tak lebih dari tempatnya. 

Kalau dia melihatnya dan bersikap tak acuh, berarti hal ini sudah biasa di komplek ini. 

Tapi kalau dia tak melihatnya, berarti hanya aku saja manusia disana yang melihat biawak tersebut. Aku saja manusia yang tahu bahwa ada biawak yang kemungkinan masuk ke rumah atau ke selokan komplek.

Karena aku saja yang melihatnya, ini menjadi masalah, karena jika aku mengingatkan warga sekitar, mereka tak akan mudah percaya, karena aku tak memiliki bukti kuat, yang akhirnya hanya akan menimbulkan keriuhan dan kecemasan warga. 

Karena boleh jadi biawak itu telah kembali ke asalnya dan tak keluar lagi. 

Tapi bila aku tak memberi tahu, berarti hanya aku saja yang amtahu, dan akan khawatir bila melewati jalanan itu, karena aku tahu disana pernah ada biawak. 

Coba saja, bila aku telat berjalan beberapa menit, biawak itu masih akan lewat, tapi aku tak akan melihatnya, sehingga tidak khawatir, dan tak akan muncul ide tentang biawak dalam benakku. 

Namun di sisi lain, bila aku tidak tahu padahal disana benar-benar ada biawak dan aku tidak hati-hati dan menurunkan kewaspadaanku, itupun rasanya mengerikan juga. 

Lalu bagaimana aku harus bersikap, apakah lebih baik tahu atau tidak tahu, karena keduanya memiliki sisi positif dan negatif juga. 

Apapun jawabannya, ini membuktukan bahwa kita tidak berdaya dengan keadaan dan tidak tahu apa-apa. Semuanya serba bisa saja terjadi dan tidak terjadi. 

Oleh karenanya, bersandar kepada Dzat yang Maha Tahu, merupakan pilihan paling logis, tepat dan benar. 

Wallahu alam. 


Senin, 10 Juli 2023

Dari anak kecil

Dari anak kecil aku belajar, kalau marah atau sedih, sebentar saja.

Dari anak kecil aku belajar untuk selalu memaafkan dan berbaikan. 

Dari anak kecil, rasa ingin tahu begitu menggebu hingga orang dewasa mengikisnya sedikit demi sedikit. 

Dari anak kecil aku belajar bahwa untuk bahagia cukup dengan melihat hewan-hewan kecil.

Dari anak kecil, aku berlatih mengendalikan emosi, karena anak kecil begitu peka, bila ada amarah yang diarahkan pada nya, dia akan mencoba mencari perlindungan dari ancaman itu atau menjauh darinya. 

Tapi sungguh lucu, saat perilaku anak kecil hinggap di orang-orang yang sudah tumbuh kumis dan janggut.

Karena gara-gara satu dan lain hal, ada juga atau bahkan banyak orang dewasa yang masih berperilaku seperti anak kecil.

Seperti anak kecil yang menangis sejadi-jadinya karena tak dibelikan es krim, begitupun orang dewasa, ada yang rela melakukan apapun bahkan sampai melampaui batas hanya untuk memenuhi keinginan sesaat.

Anak kecil penuh daya khayal. Tapi sikap suka berhayal ini akan merepotkan bila ada di orang dewasa, pikiran yang mengawang kesana kemari, berangan-angan menginginkan ini dan itu hingga lupa, bahwa ia belum melangkah sama sekali.

Anak kecil mudah terbuai dengan hal baru yang menurutnya menakjubkan, dan itupun tak jarang menghinggapi masyarakat dewasa, saat melihat atau mendapat sesuatu yang baru dan mengagetkan, kita terlalu cepat kagum. Terkadang melewatkan telaah objektif. 


Minggu, 09 Juli 2023

Terlalu cepat

Kebijaksaan itu harta yang harus dimiliki, karena menyikapi kehidupan tanpa ini sedikit banyaknya akan memperkeruh hati dan pikiran.

Mata bisa menipu meski bisa melihat, 

Telinga bisa memperdaya meski mendengar

Misalnya, dalam melihat perilaku orang lain, aku, biasanya menilai sesuai apa yang kulihat dan kudengar, setelah informasi diterima, otak mulai memproses dan menyimpulkan perbuatan orang tersebut buruk.

Tapi ini tidak bisa seratus persen buruk, harus selalu ada ruang untuk berfikir positif, dengan begitu mulut tak langsung berucap kepada orang tsb.

Karena kebenaran kejadiannya bisa jadi berbalikan atau berbeda dari apa yang kita simpulkan. 

Dan aku pernah mengalami ini, terlalu cepat memvonis orang, dan ternyata kenyataannya lain, dan saat kebenaran itu terungkap, rasa bersalah, rasa malu mulai menyelusup ke dalam hati.

Disana aku belajar, jangan terlalu cepat menilai, jangan terlalu cepat memvonis, pelajari, amati semaksimal mungkin, setelah itu pun, saat hendak menilai, selalu diiringi pikiran positif, sehingga yang keluar dari mulut itu mendoakan kebaikan bukan celaan. 

Dan yang paling penting, kembalikan semuanya kepada yang memiliki kebenaran absolut, yaitu Allah Al-Haqq. 

Rabu, 05 Juli 2023

Tebar senyuman

Dalam hadits mengakatakan bahwa senyum itu shadaqah, oleh karenanya, sebagai seorang muslim tebarkanlah senyuman.

Lalu ada yang berkata kepada saya, "Bagaimana bila kita memaknai senyuman disini dengan senyuman di wajah orang yang kita temui bukan senyum di wajah kita?"

"Maksudnya?" tanyaku. 

"Maksudnya, kita bukan hanya tersenyum tapi melakukan sesuatu perbuatan seperti membantunya bila dia terlihat sedang kesulitan, meringankan sedikit bebannya bila pikirannya sedang berat dan sebagainya, hingga di akhir, dia akan tersenyum kepada kita dengan tulus dan ikhlas. "

" Hmmm, menarik. " 


Ibu dan anak

Bila kau memiliki seorang anak tapi dia tidak mengakuimu sebagai ibunya, bagaimana perasaanmu?
Kau tetap pelihara dia, kau perhatikan tumbuh kembangnya, tapi anak itu tetap mau mengakuimu sebagai ibunya, malah dia mencari orang lain dan menyatakan "Ini ibu saya".
Meski begitu, kau tetap memberinya kasih sayang, memberinya makan, memberinya ilmu, tapi anakmu tetap tak mengakuimu ibu nya, tak mau mendengar suruhanmu, walaupun ia terima suapanmu, ia rasakan kasih sayangmu, ia bangga dengan ilmu yang kau banggakan,
Dengan semua tindakan anakmu, kau tetap memerikannya kamar, mengizinkannya untuk tidur di rumahmu, meski anakmu tak pernah menggubris laranganmu dan tanpa malu sedikitpun, tidur pulas di kamar yang kau siapkan. 

Minggu, 02 Juli 2023

Cara Bahagia dalam Bekerja

Kita kerap merasa jika mengambil pekerjaan ini pasti menyenangkan, lalu setelah memasukinya ternyata dibawah ekspetasi.
Lalu setelah merasa gagal, kita mencari jenis pekerjaan yang lain, kemudian berkata, "Ah sepertinya yang ini pekerjaan yang mudah lagi nyaman".
Awalnya kita merasakam kenikmatan itu, lalu lama kelamaan kita baru sadar, bahwa itu kesenangan semu, dengan waktu kerja yang dihabiskan, pendapatannya tak berimbang. 
Begitulah kita, selalu mencari pekerjaan yang mudah dan nyaman.
Sedangkan pepatah sunda menyebutkan  "Euweuh pagawean nu ngeunah." (tidak ada pekerjaan yang enak).
Apakah pepatah ini menjelaskan bila pekerjaannya menyenangkan atau mudah, itu bukan kerja. 
Berbicara tentang mudah, aku mencapai pada satu teori, bila jenis pekerjaan itu sulit atau membutuhkan skill khusus, maka akan dibayar tinggi. Semakin sulit pekerjaan, semakin sedikit peminatnya sehingga langka. 
Begitupun sebaliknya, semakin mudah pekerjaan dilakukan, semakin banyak peminat, semakin sedikit upahnya. 
Namun teori ini belum dikaitkan dengan kenyamanan atau kebahagian dalam bekerja. 
Kenyamanan itu kadang diukur atau ditentukan dengan setinggi apa ekspektasi kita pada pekerjaan itu. 
Bila dibawahnya, mungkin kita tidak bahagia atau nyaman, begitupun sebaliknya. 
Tapi, ada cara lain agar nyaman dalam bekerja, kuncinya itu, jangan taruh harapan kebahagiaan pada keadaan tertentu, orang tertentu, tempat tertentu. 
Bersyukurlah, semakin banyak kita bersyukur semakin banyak kebahagiaan yang dapat dialami. 
Bersyukur tidak berkaitan dengan tinggi rendahnya pendapatan, tapi orang bersyukur akan selalu melakukan yang terbaik, melaksanakan ikhtiar sejauh yang ia mampu, berusaha semaksimal mungkin. 
Bekerja kepada orang lain atau tidak bukanlah soalnya, tapi apakah pekerjaan itu kita laksanakan karena Allah atau tidak?. 
Bila suatu pekerjaan membuat kita semakin jauh dari-Nya bukan semakin dekat, marilah bertafakkur dan bermuhasabah, dan ingatlah bahwa Dia itu Maha Baik, dan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. 

Jumat, 30 Juni 2023

Guru-guru setengah Gila

Sebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa bukanlah isapan jempol belaka, karena memang ada guru yang seperti beliau-beliau ini.

Guru yang mencurahkan segenap jiwa dan raganya untuk mendidik dan menemani tumbuh kembang peserta didiknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. 

Ingin ku sampaikan beribu terima kasih kepada mereka, semoga mendapatkan tempat disisi Sang Maha Rahman. 

Tapi, kita juga tak bisa menutup mata begitu saja, karena faktanya ada juga orang-orang yang mengaku dirinya guru tanpa menyadari tanggung jawabnya.

Orang-orang yang terlalu berorientasi pada materi (harta), hingga lupa menyiapkan materi pengajaran yang terbaik untuk peserta didiknya.

Mengajar hanya formalitas, yang penting absen, karena kalau tidak absen, berarti uangnya berkurang. 

Apa yang dia bicarakan dengan sesama gurunya bukanlah tentang bagaimana cara meningkatkan perkembangan anak, tapi bagaimana cara mengembangkan isi dompet. 

Sehingga tanggungjawab menilai murid-muridnya dengan jujurpun diabaikan.

Ia berikan nilai lebih dari apa yang bisa didapatkan anak tersebut demi mendapatkan kado dari orang tuanya. 

Bila ada teman guru yang mendapatkan pekerjaan lebih, hatinya tak tenang, iri menggerogotinya, karena merasa orang lain mendapatkan uang lebih banyak darinya. 

Apakah teman-teman mengira aku ini sedang berhayal? Tidak, fakta di lapangan, realitas dalam kehidupan kita memang ada makhluk-makhluk seperti ini yang mengaku dirinya guru dan mencoreng nama guru.

Tak ada sedikitpun niat untuk menghinakan guru, malah aku ingin memberitahukan bahwa ada oknum yang menghina profesi guru dengan begitu masif dan bersembunyi dibalik kedok guru itu sendiri. 

Tapi hal ini pu tak lepas dari peran orang tua murid yang "mendidik" guru seperti ini dengan memberi "hadiah" demi menaikkan nilai anaknya.

Orang tua itu mungkin bilang dia melakukan itu karena cinta kepada anaknya, padahal sejatinya dia sedang membohongi anaknya serta menjerumuskan anaknya ke tempat yang tak seharusnya ia diami. 

Misal, nilai sebenarnya dari si anak tak memenuhi syarat untuk masuk sekolah unggulan, tapi karena orang tua memberi amplop kepada guru, nilainya naik dan masuk sekolah itu. 

Pertanyaannya? Apakah anak tersebut akan mampu berada di tempat yang seharusnya tak ia diami, karena nilai yang didapatnya itu semu. 

Bila niat orang tua memasukan anaknya kesana agar pintar, menurutku ini langkah yang keliru. 

Namun jika niat orang tua memasukkannya ke sekolah unggulan itu untuk harga dirinya sendiri, maka bersiap lah, bisa jadi anak yang dia jadikan alat menaikkan harga dirinya menjadi bumerang dan menjadi alat yang akan menghancurkan harga dirinya kelak. 

Kau menuai apa yang kau tanam. Wallahualam 

Saksi