Tampilkan postingan dengan label Masalah keseharian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masalah keseharian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Agustus 2023

Regenerasi

Mau sejauh apapun manusia ingin bersikap apatis, dorongan diri akan selalu tertuju pada kepedulian, katena itu fitrah manusia.
Semakin dilawan, daya dobraknya akan semakin kuat. 
Saat itu aku sedang shalat magrib berjamaah di suatu masjid.
Jamaahnya cukup banyak, apalagi untuk ukuran masyarakat perkotaan, pikirku. 
Sekitar lima atau enam shaf shalat terisi penuh, dengan dominasi oleh orang tua lebih dari 90%.
Orang tua yang kumaksud, mereka yang diatas usia 30-an.
Dan sebagiannya sudah pensiun.
Saat itu shalat memasuki rakaat ketiga, terdengar suara anak kecil sesegukan. 
Suara itu berasal dari teras belakang masjid, tempat anak-anak yang biasa mengaji, tapi masih sulit diajak shalat. 
Anak kecil tadi ternyata sedang bersitegang dengan temannya. Sepertinya perkelahian mereka hanya sebatas mulut tidak sampai adu jotos. 
Sepertinya amarah mulai menguasai anak yang sesegukan tadi, hingga ia melontarkan nama-nama binatang yang biasa keluar ketika marah. 
Ditambah, kata-kata yang vulgar, suatu kata yang pernah diucapkan oleh anak yang diberi sepeda oleh Pak Presiden. 
Bedanya, anak "seguk" ini tidak salah ucap. 
Ditengah keheningan para jamaah yang tengah berada di rakaat ketiga, suara kasar dan vulgar bocah tadi menggema dengan lantang. 
Melihat peristiwa ini, aku pribadi mencoba menyimpulkan, bahwa Allah yang Maha Rahman sedang mengingatkan kita. 
Bahwa ibadah, atau kebaikan itu harus diwariskan, sekurang-kurangnya kepada anak sendiri.
Rajin dalam beribadah jelas baik, tapi abai akan generasi mendatang tentu bukan langkah yang bijak.
Seperti dalam shalat, kita tidak hanya diperintah untuk "mengerjakan" shalat, tetapi "mendirikan" shalat.
Dan untuk menjaganya tetap berdiri, tentu menyiapkan penerus estafet perjuangan menjadi hal yang mesti.
Wallahu alam. 

Selasa, 08 Agustus 2023

Dengar dan lihat baik-baik sekitarmu

 Kebingungan atau kepusingan kadang timbul karena banyaknya hal yang ingin kita lakukan tapi bimbang harus mana yang di dahulukan,

Lalu aku mencoba dari yang paling cepat memakan waktu, susah dan mudah agak fleksibel, yang jelas kadang kita bisa mengira, seberapa banyak waktu yang kita habiskan bila melakukan hal-hal  itu.

Dan juga, kerjakanlah dahulu apa yang dinasihatkan. Nasihatnya mungkin bisa datang dari siapa saja, tapi ingat, tak ada yang kebetulan. 

Jika nasihat itu kebaikan, dahulukan. Bila pekerjaannya itu satu dari dua pilihan, dimana pilihan keduanya yang menurutmu yang terbaik. Dahulukan yang dinasihatkan. 

Pikiran kita kadang keliru, jalan pikiran kita terhadap sesuatu sering kali tak teruji, hanya berdasarkan asumsi pribadi semata, tak jarang dicampuri bisikan setan, hati-hati.

Jadi, perhatikan baik-baik, lihat dan dengar sekitarmu, saat kita bimbang antara dua pilihan atau lebih, pesan itu pasti datang.

Buka mata, buka hati, buka mata hatimu. Memohon bimbinganNya, insyaallah jalan yang lurus akan terhampar jelas. Wallahu alam. 

Senin, 07 Agustus 2023

Rencana

 Rencanakan hari esok, agar tidak bingung saat melangkah.

Sebelum menutup mata niatkan apa yang akan pertama kau lakukan saat memulai membuka mata kembali. 

Dan sebaik-baik rencana, adalah yang disandarkan kepada sang pemilik diri kita, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Rab semesta alam, Allah Subhanahu Wataa'la.

Kamis, 03 Agustus 2023

Pertarungan dini

 03.30

Nomor yang cantik, pantas saja aku terbangun. Hanya bangun, belum berbuat apapun lagi selain melihat waktu di hp. 

Disinilah semuanya dimulai, sejak kita tersadar setan sudah menunggu dan langsung menyerang tanpa aba-aba.

Pertarungan yang sederhana sebenarnya, bila kita beranjak dari tempat tidur, kita menang. Tapi jika kita tertidur lagi, berarti setan menang.

Dan saat kita bangun lagi yang kedua kalinya, penyesalan yang menyambut.

Memulai hari dengan penyesalan, bukanlah awal yang baik. 


Senin, 31 Juli 2023

Kotor itu kepastian

07.30

Aku bangun, sambil mengecek dimana letak hp, lalu membuka beberapa sosial media, kebiasaan yang aku sendiri tak tahu betul apa itu perlu dilakukan.

Kemudian bergegas mengambil air wudhu, dan melaksanakan sholat subuh, meski lebih cocok sholat duha jika dilihat dari waktunya. 

Seperti biasa, aku mulai mengambil sapu dan pengki, untuk membersihkan lantai dua, yang terdiri dari dua kamar bersebelahan dengan ruang besar didepan kedua kamar itu. 

Lalu aku mengamati kondisi lantai di lantai dasar, apakah terlihat sudah disapu atau belum, jika sudah, berarti aku tinggal mengepel. 

Dan aku mulai mengepel setiap ruangan, kecuali kamar tidur di lantai satu. 

Tak lupa kubersihkan daun-daun yang baru berguguran pagi itu dihalaman rumah.

Mengecek wastafel juga kulakukan untuk memastikan apakah ada wadah kotor atau tidak. 

Semua kegiatan ini kucoba jadikan sebagai rutinitas pagiku, sebagai pengingat bahwa kotor itu suatu kepastian. 

Ia akan selalu datang, baik dari hasil perilaku kita, maupun datang sendiri. 

Sedangkan membersihkan kotoran itu pilihan. 

Dan bila kita mengabaikannya, kekotoran akan menumpuk, hingga di satu kondisi, membersihkannya akan menguras waktu dan tenaga. 

Dan kegiatan bebersih inipun menjadi gambaran, bahwa selain materi atau fisik yang selalu didatangi kekotoran, pikiran dan hati kitapun akan mengalami hal yang sama.

Oleh karenanya, Rasulullah mencontohkan agar kita selalu beristigfar, untuk membersihkan atau menyucikan diri dari dosa. 

Memerintahkan kita berzakat dan menganjutkan sedeqah dan infaq untuk membersihkan atau menyucikan hati dan harta kita. Wallahu alam. 

Rencana dan Realita

Berencana untuk satu hari kedepan, satu minggu, satu bulan bahkan satu tahun kedepan boleh saja.
Hanya saja jangan sampai perencanaan itu menghambat kita dalam menjalankan tugas utama sebagai manusia, yaitu ibadah kepada Allah SWT. 
Akan lebih indah jika perencanaan kira aejalan dengan ibadah kita. 
Namun hati-hati, rencana tak sama dengan melamun.
Perencanaan adalah langkah nyata yang hendak kita jalankan setelah mengukur kesanggupan. 
Bukan sekedar melamun ingin sesuatu tanpa tindakan nyata untuk mewujudkannya. 
Dan selalu ingat dan tetapkan niat saat membuat perencanaan, bahwa semuanya itu kita kerjakan semata karena Allah saja. 
Kita kerjakan hanya untuk mendapatkan rahmat dan rido-Nya.
Kita juga harus sadari betul, sejauh apapun rencana itu kita persiapkan, maut bisa datang kapan saja. 
Sehingga dalam setiap aktivitas keseharian kita, kita jalani dengan penuh kesungguhan karena Allah SWT.
Nikmati setiap detiknya hidup, sadari itu, kenali tanda - tanda kekuasaanNya, dan berdzikirlah.
Karena sumber kebahagian itu saat kita menyadari akan nikmat Allah yang ia limpahkan kepada kita. Wallahu alam. 

Tidak ada ayah yang sempurna

Memiliki seorang ayah yang suka bertengkar dengan ibu memang opsi ke sekian.

Mungkin satu opsi diatas ayah yang sering pergi bekerja berbulan-bulan diluar kota.

Dari dua opsi ini mana yang lebih baik?

Bagi anak yang orang tuanya sering bertengkar, mungkin akan memilih ayah yang suka kerja diluar, karena akan membuat suasana rumah damai. 

Begitupun sebalikmya, anak yang jarang bertemu ayah, tentu mendambakan keberadaan ayah setiap harinya, meski perangainya buruk.

Ini hanya contoh kecil, diluar sana, tentu gambaran seorang ayah lebih beragam, mau itu baik ataupun buruknya. 

Sebagai seorang anak, kita tak bisa menafikan keberadaan ayah, jadi terima dia dengan segala kekurangannya. 

Mau bagaimanapun, dia adalah ayah yang telah Allah pilihkan untuk kita. 

Tiru kebaikannya, dan jadikan pelajaran untuk kita bila mendapati keburukannya. 

Karena dia dan kita sama. Sama-sama manusia. Sedang sifat manusia itu tak sempurna. 

Rabu, 26 Juli 2023

Merasa suci

Perasaan suci, suatu rasa saat yang timbul saat kita sudah melakukan ta'lim, atau mendengar atau melihat pengajian, lalu kita berada di kondisi lingkungan biasa, lingkunagn umum, dunia nyata, tempat dimana kejahatan-kejahatan yang terlihat kecil dibiarkan, keburukan-keburukan yang terkesan sepele diabaikan. 

Sedangkan kita saat itu baru saja mendapat siraman rohani, baru selesai menyucikan diri, membersihkan jiwa, lalu dihadapkan dengan kenyataan dunia yang beragam, kemudian timbullah perasaan soal kita ini setetes embun di tengah kubangan lumpur. 

Perasaan bersih dan yang lain kotor, ini kadang mengakibatkan berhentinya komunikasi. Karena kita tak ingin terkontaminasi dengan kekotoran ucapan mereka. 

Begitulah kiranya gambaran, saat aku merasa suci, apakah ini baik, jelas tidak, bahkan membahayakan. 

Hal ini terjadi saat kita memandang dunia dari kacamata negatifnya saja. Hanya terfokus saat orang-orang melakukan kesalahan atau keburukan. 

Seolah hanya mata kiri yang terbuka. Dan kita menjadi antipati kepada yang lain, yang menurut kita salah. 

Saat hati enggan, pikiran negatif, dan ucapan tertahan, ini jelas tak baik bagi seorang muslim, saat diperintah untuk mensyiarkan islam kemana-mana. 

Lalu, apakah mendengarkan pengajian itu buruk?, bukan begitu juga. Ayat Al-quran dan Hadits yang disampaikan jelas suci, karena memang bersumbur dari yang Maha Suci. 

Tapi kehidupan nyata di dunia memang tak sempurna, begitulah adanya. Nah tugas kitalah untuk menyambungkan keduanya, dengan kesadaran, ke ikhlasan hati, pikiran positif, ilmu yang haq, dan kebijaksanaan.  Wallahu alam. 



Berhenti berpikir, mulailah bergerak

 Allah itu Maha Kaya, mintalah apapun, sejauh yang bisa kau bayangkan.

Namun, jika permintaanmu belum terkabul, bisa jadi dirimu yang belum siap atau mampu untuk menerimanya. 

Beranilah bermimpi, hanya hati-hati membedakan antara mimpi dan angan-angan. 

Menjemput rezeki, Sebenarnya sudah tak terhitung rezeki yang Allah limpahkan, hanya mungkin kita tak sadar, atau rak tahu cara mengambilnya. 

Salah satu kebiasaanku adalah over thinking, terlalu lama berpikir hingga lupa melangkah. Terlalu lama memikirkan cara memenangi balapan tanpa sadar yang lain sudah di garis finish. 

Melangkahlah, bergeraklah, bagiku ini cukup sulit, meski prakteknya mungkin sederhana. 

Terlalu banyak berpikir dan merenun, jika pola bepikirnya tidak diarahkan dengan benar, bisa-bisa memikirkan sesuatu  yang sebetulnya bukan ranah manusia atau makhluk. 

Saat Rasul menyarankan unruk bermuhasabah, itu bukan mengajak berpikir mengawang tak jelas, tapi memikirkan, mengingat, dan mengevaluasi perbuatan kita. Baik perbuatan lahir maupun batin. 

Berencana boleh, tapi jangan lupa dengan nikmat Allah yang setiap detiknya terus mengalir. 

Jumat, 21 Juli 2023

Bekerja VS Ego

 Bekerja, sebuah ide universal yang dipikirkan, dibicaran dan dijalankan oleh seluruh umat manusia. 

Sebelum memulainya, luruskan niat terlebih dahulu, tanyakan pada diri untuk apa aku bekerja?, kenapa ini menjadi penting, karena inilah yang akan menentukan segalanya. 

Niat yang akan membuat kita semangat atau malas dalam berkerja. Niat ini juga yang akan mengantarkan apakah pekerjaan itu akan membawa kita ke surga atau malah menjauhinya. 

Dari niat inilah, apakah nantinya kita akan semakin mengenal Pencipta kita atau malah melupakannya. 

Banyak orang bilang bahwa cari kerja itu susah, tapi jika kita lihat lowongan pekerjaan, ternyata masih terbentang luas. 

Baik lowongan pekerjaan yang kita temui dari browsing atau lewat aplikasi pencari kerja, atau bahkan lowongan dari kabar tetangga atau saudara. 

Lalu, mengapa orang bilang susah cari kerja? Mungkin maksud dari kalimat itu ialah susah cari kerja yang sesuai dengam selera kita. 

Kita cenderung memberi batas-batas tak kasat mata saat mencari pekerjaan. 

Batas itu bisa berupa jenis pekerjaan, besaran gaji, lokasi pekerjaan. Mari kita sudahi dari tiga batas ini saja dulu. 

Mari kita perbaiki pertanyaannya, Jadi apakah susah mencari pekerjaan dengan jenis yang kita sukai, disertai gaji yang lumayan dan lokasinya dekat?  

Jawannya bisa jadi, Jika kamu punya banyak skill, mendapat pekerjaan seperti ini mungkin saja. 

Tapi jika kau merasa tidak punya keahlian khusus, mendapat pekerjaan seperti ini akan memakan lebih banyak waktu, (sedangkan waktu bukanlah sahabat baik para pencari kerja atau pengangguran). 

Bila kita menghilangkan salah satu saja dari pembatas itu, misal kita panghilan kerja yang sesuai dengan keahlian tapi, kerjaannya jauh, atau gajihnya kecil, tentu tak akan jadi masalah. 

Lalu bagaimana jika aku hanya lulusan sma tanpa keahlian khusus, atau sarjana tapi kuliahnya berasa gak kuliah, ada beberapa hal yang terpikir olehku, diantaranya

a. Turunkan ego

Bila merasa tak punya skill, mau tak mau harus menurunkan ego, menurunkan target jenis pekerjaan ke yang lebih umum, lenih bisa dilakukan siapapun, sekalipun tak punya skill atau pengalaman. 

Misal, bila ingin menjadi pegawai kantoran, tapi keterampilan mengetik masih sebelas jari, maka turunkan target pekerjaan ke OB (office boy), pekerjaan yang lebih umum, lebih mudah dikerjakan oleh kebanyakan orang. 

"Tapi, kerja jadi tukang bersih-bersih kan malu. ", bila ada yang bilang begini, makannya aku sampaikan di awal, turunkan ego. 

Dan bila diperhatikan, bila kemampuan kita baru sebatas bersih-bersih, kenapa harus malu jika tujuan kita bekerja untuk ibadah karena Allah? 

Lain cerita, jika kita bekerja ingin dipandang, atau diakui oleh orang, oleh sesama makhluk, bila dari awal bekerja ini niatnya, mau pekerjaan tukang parkir atau bos perusahaan pun tak akan damai, gelisah akan senantiasa membayangi, karena tujuannya orang, sedangkan isi pikiran orang berbeda-beda dan sering bertabrakan. Memenuhi harapan mereka semua  adalah mustahil dan bodoh. 

Apalagi sebagai seorang muslim, menggantungakan harapan atau kebahagiaan kepada selain Allah, apakah itu pantas? Apakah masih bisa disebut ikhlas? Sedangkan dalam surat Al-Ikhlas sendiri disebutkan bahwa Allahlah tempat bergantung segala sesuatu. 

Oke oke, kita kembali ke topik. Oh iya, OB ini hanya perumpamaan, diluar sana juga banyak pekerjaan yang seperti ini. 

Lalu apakah jika sudah dapat pekerjaan jadi OB (misal), sudah saja, tekuni pekerjaan itu selamanya? 

Tentu saja tidak, ini hanya langkah awal. Allah memberi kita akal untuk berpikir dan hati untuk merasa atau menghayati. 

Mulailah belajar hal baru, skill baru, untuk menunjang karir. "Tapi aku sudah nyaman kerja disini", yah silahkan saja. 

Intinya, semangat belajar jangan sampai berhenti apalagi padam, karena itu pesan Rasulullah. 

Dan sekali lagi, tentukan niat yang benar, dan bila kebenaran itu tak ditemukan dari pendapat orang-orang, yakinlah kebenaran Allah itu mutlak, absolut, dan sebenar-benarnya kebenaran. Wallahu alam. 

Kamis, 20 Juli 2023

Panggilan Adzan

 Lafadz adzan merupakan lafadz yang langsung dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dari dulu sampai sekarang.

Tak bisa diubah-ubah mengikuti kemauan kita.

Pernahkah kita mencoba untuk merenung sedikit, mencoba memetik hikmah dibalik lafadz-lafadz adzan tersebut.

Seperti ketika Lafadz "Allahu akbar Allahu akbar" menggema, pernahkah berpikir bahwa Allah sedang mengingatkan kita bahwa Dia lah yang Maha Besar, Maha Kuasa, sehingga sebesar apapun masalah yang sedang kita hadapi, dihadapan Allah yang Maha Besar, masalah yang kita anggap besar itu bukanlah apa-apa.

Maka saat lafadz itu dikumandangkan pernahkah kau merasa bahwa Allah sedang memanggil "Kemarilah, masalah apapun yang kau hadapi, serahkan padaKu".

Kemudian lafadz setelah itu, merupakan dua kalimat syahadat, yang mana mengingatkan janji yang pernah kita ikrarkan sejak dalam kandungan. 

Tentu kita tak ingin menjadi orang yang suka ingkar janji, terlebih janji kepada Dzat yang telah menciptakan kita. 

Lalu lafadz "Hayya 'alas sholah". (Marilah Shalat)

Dengan sifat Maha Kuasa-Nya, Dia memilih menggunakan kalimat ajakan (marilah), bukan perintah. Betapa Maha PenyayangNya Allah.

Lalu lafadz "Hayya' alal falah" sering diartikan Marilah menuju kemenangan).

Bila kita kaitkan dengan lafadz sebelumnya, berati Allah memberitahu kita, "Bila ingin meraih kemenangan maka sholatlah".

Dan lagi, khusus untuk kedua lafadz ini, Rasullah mencontohkan jawaban yang berbeda. 

Maksudnya, ketika mendengar adzan, kita disunahkan untuk menjawab dengan mengucapkan kembali lafadz yang muadzin kumandangkan. 

Tapi saat muadzin berseru " Hayya 'alas Sholah" dan "Hayya' alal Falah", kita disunahkan menjawabnya dengan lafadz "Laa haula walaa quwwata illa billah" (Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah). 

Bila kita iman, dan yakin bahwa kita ini dapat bergerak, bernafas, berjalan, berpikir, bekerja semua karena izin Allah. Maka lafadz adzan itu akan terdengar seperti "Mari sholat, karena kamu bisa bernafas atau bergerak sekarang itu juga karena izin-Nya, kehendak-Nya". 

Lalu adzan itu diakhiri dengan lafadz "Laa ilaaha illallah". 

Sebuah penegasan bahwa tidak ada tuhan (yang patut diibadahi atau disembah) kecuali Allah. 

Sebuah kalimat tauhid, kalimat yang diimpikan setiap muslim, sebagai kalimat terakhirnya sebelum tutup usia. 

Sungguh indah, sungguh bahasa yang filosofis, padat, mencakup, kuat sekali, bila kita coba untuk memetik hikmahnya. 

Tapi bila ditanya, apakah ini makna sebenarnya dari lafadz-lafadz adzan tersebut? Wallahu 'Alam. 


Senin, 17 Juli 2023

Ada yang bersembunyi

 Dalam menjalani kehidupan, terkadang apa yang terlintas di hati tak sampai menjadi ucapan.

Apa yang tersampaikan oleh mulut, berbanding terbalik dengan keinginan di hati. 

Atau mungkin teriakan di hati tak menghasilkan satupun bunyi atau huruf. 

Mengapa ini bisa terjadi?

Apakah yang terbesit dihati itu kalimat negatif?

Atau mungkin yang bersuara itu baik, hanya saja kita takut menyuarakannya. Takut menyuarakan yang baik? mengapa?

Apakah karena kebaikannya ini masih bersifat subjektif dari diri sendiri, ataukah kebaikan ini benar menurut syariat?

Atau kita tak berkata karena takut menyinggung lawan bicara, meskipun yang ingin kita ucapkan baik dan benar sesuai ketentuan?

Baik dan benar memang harus disampaikan, hanya tentu dibarengi dengam kebijaksanaan. Memilah dan memilih kata yang sesuai. 

Ketakutan kadang timbul karena kurangnya perbendaharaan kata, sedikit cara yang kita tahu dalam metode penyampaian. 

Namun sejatinya, sebagai seorang muslim, sebagai orang beriman, sebagai hamba Allah Ta'ala, hati pikiran dan ucapan/perbuatan harus seirama, seiya sekata.

Adapan bila bisikan negatif datang, segeralah meminta perlindungan kepada-Nya.

Dalam suatu ayat dijelaskan manusia itu diartikan al-ins yang bermakna nampak/tampil.

Masih di ayat yang sama, ada makhluk yang disebut juga yaitu al-jin yang bermakna tersembunyi.

Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa sifat manusia itu nampak, harus tampil. Karena yang bersembunyi itu sifatnya jin. Wallahu alam. 

Sabtu, 15 Juli 2023

Menerima tamu

Pengalaman memang memberikan pemahaman lebih cepat ketimbang membaca teori.
Pengalaman tak harus dari perilaku sendiri, bisa juga dari sikap orang yang kita hadapi. 
Suatu pagi aku dan sepupu pergi berkunjung ke rumah kakaknya(sepupuku juga). 
Kakaknya sudah berkeluarga, dikaruniai 2 anak yang tampan lagi shaleh.
Saat aku tiba disana, sepupuku dan suaminya menyalamiku dan membiarkanku. 
Mereka kembali ke aktivitas masing-masing, mengabaikanku.
Maksudku, kenapa begitu?
Kita saudara yang sudah puluhan tahun tidak bertemu. 
Tidak adakah yang ingin dia tanyakan, walau sekedar basa-basi?
Ah, mungkin tak cukup menarik untuk dijadikan teman mengobrol. 
Atau memang seperti itulah biasanya mereka menerima tamu. 

Jumat, 14 Juli 2023

Bersih fisik bersih psikis, bersih raga bersih jiwa

Sekuat apapun kamu berniat, bila tak dilaksanakan, akankah terpenuhi?

Manusia punya rasa punya pikiran, untuk menguatkan keduanya, diperlukan tindakan nyata, perbuatan nyata, tanpa itu, akan terjadi ketidak seimbangan. 

Tadinya aku berpikir, saat aku ingin kerja, aku melamar, mencari kesana sini, kirim-kirim surat lamarannya terus menunggu. 

Ternyata ada yang lebih baik, meskipun sudah mengirim lamaran, tetap lah kerja atau mengerjakan apapun yang kita bisa.
 
Lalu aku kebingungan harus berbuat apa, karena setiap orang (mungkin) ingin membersihkan kotoran-kotoran yamg ada di hati dan pikirannya, maka langkah nyatanya, aku mulai dari membersihkan kotoran yang ada di badan, lalu pakaian, tempat tidur, lalu kamar, lalu kamar mandi, dan begitu seterusnya.

Intinya, hal yang bersifat tak material, bisa kita mulai dari yang material, agar seimbang. 

Mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan secepat yamg sepatutnya. 

Manfaat lama merias wajah

Bagi sebagian lelaki, melihat perempuan yang berdandan begitu lama, terkadang merasa aneh, tak masuk akal, kenapa harus sampai begitu lama?

Yah, kita berpikir begitu karena membandingkan dengan cara berdandan kita yang mingkin hanya pake minyak wangi dan bersisir, kadang hanya sisir jari. 

Ia memang, kita juga tau mengapa mereka begitu lama, itu disebabkan puluhan atau mingkin ratusan item yang ditumpahkan ke wajah cantik mereka.

Kukira ini merupakan kekurangan, karrna terlalu banyak memakan waktu. 

Namun dalam sebuah buku menjelaskan, kebiasaan berdandan perempuan dapat melatih skill multitasking mereka.

Benarkah itu? entahlah, tapi stereotypes yang mengatakan kalau "Wanita itu bisa melakukan beberapa jenis pekerjaan dalam satu waktu (multitasking), beda dengan lelaki yang hanya bisa fokus pada satu hal" dan Wanita itu kalau dandan lama" benar adanya. 


Rabu, 12 Juli 2023

Antara menjadi makhluk, manusia dan Hamba

Siapa kita?

Kita adalah manusia, manusia itu apa?

Manusia itu makhluk atau yang diciptakan

Apa tujuan manusia diciptakan?

Untuk menghamba atau beribadah kepada tuhannya, siapa tuhannya?

Dia yang menciptakannya, merawatnya, pemilik bumi dan langit, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Siapa Dia?

Allah Subhanahu Wataala, memiliki sifat mukhalafatu lil hawadisi (berbeda dengan makhluknya) 

Karenanya, 

Bila manusia makan, Dia tidak. 

Bila manusia tidur, Dia tidak, 

Bila manusia kadang tidak tahu sesuatu, Dia pemilik pengetahuan itu sendiri

Bila manusia berpasangan, Dia Esa/Tunggal

Lalu, karena Dia Maha Sempurna, maka wajar bila makhluk tidak perlu menuntut sempurna (karena memang tidak mungkin), karena sifat bawaan makhluk itu tidak sempurna. 

Tapi kalau mencoba untuk melakukan semaksimal atau sesempurna mungkin, tentu saja boleh (meski tetap tak akan sempurna). 

Saat kita mengerti ini, ketika bertemu seseorang, dan dia melakukan kesalahan, kita bisa menerimanya dengan pikiran yang logis serta hati yang tenang, karena kita tahu kita makhluk, dan sifatnya itu tidak sempurna, atau pasti dikenai salah. 

Oleh karenanya, mari berhati-hati, menuntut seseorang menjadi sempurna berarti memaksanya keluar dari fitrahnya, mendorongnya keluar dari hakikat dirinya. 

Dan karena Kesempurnaan itu sifat Sang Khalik (Pencipta), meminta manusia menjadi sempurna, sama saja memintanya untuk menjadi tuhan, itu jelas mustahil. 

Oleh karenanya, sebagai sesama makhluk Allah, sesama manusia, saling menghargai, menghormati, dan menerima kekurangan dan mendoakan kebaikan merupakan sikap yang bijak. 

Serta terus belajar dan memperbaiki diri, bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi makhluk atau hamba Allah yang terbaik. 

Wallahu alam. 


Senin, 10 Juli 2023

Dari anak kecil

Dari anak kecil aku belajar, kalau marah atau sedih, sebentar saja.

Dari anak kecil aku belajar untuk selalu memaafkan dan berbaikan. 

Dari anak kecil, rasa ingin tahu begitu menggebu hingga orang dewasa mengikisnya sedikit demi sedikit. 

Dari anak kecil aku belajar bahwa untuk bahagia cukup dengan melihat hewan-hewan kecil.

Dari anak kecil, aku berlatih mengendalikan emosi, karena anak kecil begitu peka, bila ada amarah yang diarahkan pada nya, dia akan mencoba mencari perlindungan dari ancaman itu atau menjauh darinya. 

Tapi sungguh lucu, saat perilaku anak kecil hinggap di orang-orang yang sudah tumbuh kumis dan janggut.

Karena gara-gara satu dan lain hal, ada juga atau bahkan banyak orang dewasa yang masih berperilaku seperti anak kecil.

Seperti anak kecil yang menangis sejadi-jadinya karena tak dibelikan es krim, begitupun orang dewasa, ada yang rela melakukan apapun bahkan sampai melampaui batas hanya untuk memenuhi keinginan sesaat.

Anak kecil penuh daya khayal. Tapi sikap suka berhayal ini akan merepotkan bila ada di orang dewasa, pikiran yang mengawang kesana kemari, berangan-angan menginginkan ini dan itu hingga lupa, bahwa ia belum melangkah sama sekali.

Anak kecil mudah terbuai dengan hal baru yang menurutnya menakjubkan, dan itupun tak jarang menghinggapi masyarakat dewasa, saat melihat atau mendapat sesuatu yang baru dan mengagetkan, kita terlalu cepat kagum. Terkadang melewatkan telaah objektif. 


Minggu, 09 Juli 2023

Terlalu cepat

Kebijaksaan itu harta yang harus dimiliki, karena menyikapi kehidupan tanpa ini sedikit banyaknya akan memperkeruh hati dan pikiran.

Mata bisa menipu meski bisa melihat, 

Telinga bisa memperdaya meski mendengar

Misalnya, dalam melihat perilaku orang lain, aku, biasanya menilai sesuai apa yang kulihat dan kudengar, setelah informasi diterima, otak mulai memproses dan menyimpulkan perbuatan orang tersebut buruk.

Tapi ini tidak bisa seratus persen buruk, harus selalu ada ruang untuk berfikir positif, dengan begitu mulut tak langsung berucap kepada orang tsb.

Karena kebenaran kejadiannya bisa jadi berbalikan atau berbeda dari apa yang kita simpulkan. 

Dan aku pernah mengalami ini, terlalu cepat memvonis orang, dan ternyata kenyataannya lain, dan saat kebenaran itu terungkap, rasa bersalah, rasa malu mulai menyelusup ke dalam hati.

Disana aku belajar, jangan terlalu cepat menilai, jangan terlalu cepat memvonis, pelajari, amati semaksimal mungkin, setelah itu pun, saat hendak menilai, selalu diiringi pikiran positif, sehingga yang keluar dari mulut itu mendoakan kebaikan bukan celaan. 

Dan yang paling penting, kembalikan semuanya kepada yang memiliki kebenaran absolut, yaitu Allah Al-Haqq. 

Sabtu, 08 Juli 2023

Over thinking

 Suatu hari aku ingin memberi saran kepada orang lain yang lebih tua, meski aku tak tahu apakah saranku diterima atau tidak, tapi aku yakin pendapatku memiliki landasan yang kuat.


Namun sebelum isi pikiran terlontarkan, ada suatu bisikan, yang mengatakan:

"Ah, sepertinya kalau aku bilang begini nanti dia bakal terainggung"

"Bagaimana kalau saran ini ternyata telah ia pikirkan sebelumnya"

"Bagaimana kalau tindakanku ini membuat hubungan merenggang"

Bila teman-teman pernah merasa seperti ini, akupun sama, dan mungkin karena kita introvert, tapi yang jelas ini over thinking.

Akupun akhirnya bertanya begini:

"Tuan, sebenarnya aku memiliki saran mengenai masalah tuan, tapi aku takut kalau ucapanku ini menyinggung tuan."

Kalian tahu apa jawaban tuan tersebut? Begini katanya:

"Kamu jangan terus-terusan berada di dunia 'kalau', kamu terlalu cepat memvonis dirimu sendiri, kamu tak akan tahu respon seseorang sampai kamu mengutarakan niatmu, dan selama niatnya baik, tak perlu ragu mengatakannya" kata tuan menjelaskan

"Dan juga, kita ini cuma orang biasa yang tak dapa melihat apalagi membaca isi hati orang lain, tapi tetap gunakan bahasa yang baik dan sopan, bijak dalam memilih kata dan melihat situasi dan kondisi" tambahnya.

Jawabannya cukup melegakan sekaligus menyadarkanku akan sesuatu, bahwa aku terlalu cepat memvonis diri sendiri dengan sesuatu yang belum tentu terjadi. 

Kamis, 06 Juli 2023

Anatomi Manusia

Anatomi Manusia

Manusia terdiri tiga hal:

1. Jasmani /Fisik /Badan

Hak nya: Makan dan Minum, agar badan ada kekuatan untuk beraktivitas. 
Aktivitas atau amal terbagi dua:

a. Amal shaleh, amalan yang disandarkan kepada Rab, dan di pandang baik oleh Sang Khaliq bukan makhluk. Untuk mengetahuinya, Dia mengutus Rasul Muhammad SAW untuk menyampaikan  Kitab (Al-Qur'an) Nya. Yang mana didalamnya terdapat petunjuk mengenai semua hal, jawaban atas semua permasalahan, dan panduan hidup yang mengantarkan seorang muslim semakin dekat dengan Rabnya, jika dia jujur. 

b. Amal biasa, amalan atau aktivitas mau itu baik atau buruk di pandangan manusia, tetapi tidak di sandarkan kepadaNya. Bila amalnya baik, maka Allah SWT akan membalasnya didunia, sehingga tak ada lagi sisa amal kebaikan saat dia di akhirat. 

Kewajiban Jasmani: Digunakan atau digerakan untuk ibadah kepada Allah SWT. Mengapa demikian? karena pemilik sejati tubuh manusia adalah Sang Khaliq.

2. Akal pikiran /nalar

Hak nya : seperti badan atau jasmani, Akalpun harus senantiasa di beri "makan". Dengan melihat, membaca, mendengar, belajar, berfikir. Hal ini guna untuk meningkatkan daya nalar kita. Bila akal kita tumpul, kita akan mudah dibodohi dan termakan oleh ide-ide menyimpang, isme-isme busuk yang seolah berbau harum, pandangan-pandangan menyesatkan.
Karena jika akal atau nalar bekerja sebagaimana mestinya, itu akan membawa kita semakin dekat dengan yang menciptakan akal itu sendiri, Allah SWT, memang begitulah seharusnya.

Kewajiban akal : Dilatih atau digunakan dengan tujuan semakin memperkuat keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa.

3. Jiwa /Rohani

Hak nya: Diberi asupan atau siraman rohani agar jiwa kita senantiasa kembali suci, sebagaimana saat roh/ruh itu Allah SWT masukan ke dalam diri kita.
Saat Allah SWT meniupkan ruh dan masuk kedalam diri kita dan menetap di tempat bernama Nafs atau biasa kita sebut jiwa. 
Karena Allah itu Maha Baik, Maha Pengasih, Penyayang, Pemaaf, dengan kata lain Allah iti sumber dari seluruh kebaikan itu sendiri. 
Jadi saat iruh itu ditiupkan, ia (ruh) tentu saja disertai dengan nilai-nilai kebaikan, kesucian dari Allah.
Oleh karena itu di dalam jiwa/ruhani setiap manusia (mau nantinya menjadi muslim atau tidak) melekat sifat taqwa, yang membuat manusia selalu condong kepada berbuat kebaikan.
Meski telah ditiupkan ruh, karena pembentukan manusia itu sampai sembilan bulan, dan bayi butuh makanan, yang mana disuplai oleh ibunya dari makanan yang didapat dari hasil kerja ayahnya.
Karena manusia itu makhluk yang tak sempurna, ada saja dosa yang ia perbuat, makanan yang masuk pada tubuh bayipun tak bisa bersih sepenuhnya. 
Nah hal inilah yang mendorong masuknya sifat fujur kedalam jiwa manusia. 
Jadi di dalam jiwa /ruhani manusia iti ter dapat dua sifat, taqwa dan fujur, atau lebih mudah kita pahami dengan baik dan buruk.
Kedua hal ini terus beradu dan berlomba. Bila taqwa yang menang maka niat melakukan kebaikan itu akan direspon oleh akal dsn selanjutnya digerakkan oleh badsn untuk berbuat baik. Begitupun sebaliknya jika fujur yang menang.
Oleh karenanya, untuk menekan agar fujur tidak keluar, maka taqwanya harus kuat, dan cara menguatkannya dengan cara diberi "makan". Melakukan ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur'an jadi ssalah satu cara untuk membuat ruhani kita tetap kuat.
Oleh sebab itu Allah memerintahkan kita shalat wajib 5 kali sehari, karena kita memang butuh itu, seperti halnya kita butuh makan 2 atau 3 kali sehari.
Fujur merupakan kebalikan dari taqwa, sehingga turunan sifat buruknya pun ada kebalikannya. 
Sehingga bila melihat ada orang yang sombong (fujur) kita balas dengan kebalikannya yakni rendah hati (taqwa). Bila marah, kita senyum atau hibur. Bila dia kikir kita balas dengan dermawan, begitu seterusnya. 
Dan bila fujur dalam diri kita ingin keluar, dengan kata lain kita hendak berbuat buruk, ingatlah tiga hal ini:
a. Kehinaan, setiap hal buruk pasti akan berakhir dengan kehinaan, 
b. Dampak kepada orang tua, perbuatan buruk kita akan berimbas pada orang tua, sekurang-kurangnya menodai kehormatan mereka. 
c. Ingat mati, bayangan saat kita melakukan hal buruk, saat itu juga nyawa kita dicabut, dengan kata lain kita mati dalam keadaan su'ul khatimah, bukan khusnul khatimah. 

Begitulah 3 hal yang ada pada manusia yang harus kita penuhi agar dapat kembali fitrahnya. Wallahu a'lam.

(sumber : ceramah Ust. Adi Hidayat mengenai mengendalikan hawa nafsu lengkap dengan dalilnya) 

Saksi