Aku terbangun sekitar pukul tiga dini hari. Masih teringat, terakhir kulihat layar ponsel angka yang tertera 01.00. Jadi aku terlelap hingga dua jam, meski yang kurasa hanya beberapa kejapan mata.
Tadinya aku berencana tidur selepas isya, atau mungkin dikisaran pukul delapan malam. Tapi, rencana hanyalah rencana, ajakan sepupu mencari makan malam, padahal aku bertekad untuk tidak makan berat di malam hari, tapi ya sudahlah.
Lalu adik sepupuku ini (masih sepupuku juga), dia baru pulang main sambil membawa teman mainnya menginap, yang kamarnya bersebelahan dengan kamarku biasa tidur.
Dia dan teman-temannya sepertinya tak berencana untuk tidur malam itu, tapi bermain game, yang kuhafal sekali jenis game apa itu, dan aku tahu game itu mampu mempermainkan otakmu untuk terus bekerja hingga matahari tiba.
Dengan semua kebisingan itu, alhamdulillah aku masih bisa tertidur.
Apakah aku marah karena sepupu-sepupuku yang merusak rencana malamku? Tentu tidak, tapi sedikit kesal ada lah.
Namun jika dipir lagi, sudah diberi tempat untuk tidur juga, harusnya sudah syukur, ini rumah paman dan bibiku.
Semua penghuni rumah menerimaku dengan segala kekurangannya.
Jadi akupun insaf dengan rasa kesal tadi. Terkadang rencana menggiring kita lupa akan apa yang nyata, hati hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar