Mengintip arti Tasawuf
Tatkala kerajaan islam bertambah besar dan pemeluk agama islam bertambah
tersiar keluar tanah Arab, bertemulah dia dengan bangsa-bangsa dan agama-agama
serta pemikiran-pemikiran baru. Masuklah paham filsafat ke dalam dunia islam
dan suburlah ahli pikir Mu’tazilah dan mulailah timbul kaum tasawuf itu.
Ketika itu kemajuan telah menyebabkan bingung. Kekayaan bertimbun masuk ke
dalam dunia islam, kehidupan sangat megah, sehingga mahar al-Ma’mun kepada
Bauran anak menterinya saja lebih dari semiliun dinar. Di samping itu dalam
majlis istana terjadi bantahan ahli-ahli pikir tentang Ketuhanan, apakah Tuhan
menakdirkan juga kejahatan manusia. Tentang manusia sendiri, apakah dia masih
tetap islam kalau sekiranya dia mengerjakan dosa besar. Tentang Al-Qur’an,
adakah dia hadits atau qadim, dan lain-lain sebagainya. Sehingga kadang-kadang
menimbulkan sengketa, dan perbantahan yang menyebabkan lalai mengerjakan
ibadah.
Tentu saja timbol golongan yang merasa jemu melihat itu, lalu menyisihkan
dirinya. Ia menjauhkan diri dari orang dunia, dari orang yang katanya pintar
tapi telah terlampau pintar, atau orang yang dilalaikan hartanya.
Orang yang menyisihkan itulah asal-usul kaum Sufi itu, yang mulanya
bermaksud baik, tetapi akhirnya telah banyak tambahnya. Maksud mereka hendak
memerangi hawa-nafsu, dunia dan setan, tetapi kadang-kadang jala yang mereka
tempuh tidak digariskan oleh agama. Terkadang mereka haramkan terhadap diri
sendiri barang yang dihalalkan Tuhan, bahkan ada yang tidak mau lagi mencari
rezeki, menyumpahi harta, membelakangi huru-hara dunia, dan membenci kerajaan. Sehingga
kemudiannya, ketika bala tentara Mongol masuk ke negeri islam, tidaklah ada
lagi senjata yang tajam buat menangkis, sebab orang telah terbagi dan terpecah.
Sebagian menjadi budak harta, yang lebih sayang kepada hartanya dari pada
agamanya. Setengahnya lagi menyadi budak fikih, bertengkar bertegang urat leher,
meributkan apakah batal wudhu’ kalau sekiranya darah tuma lekat kepada baju. Dan
ada pulan yang karam di dalam khalwatnya, dengan pakaian sufinya, tidak peduli
apa-apa, tidak menangkis serangan, karena merasa “lezat” di dalam kesunyian
tasawuf itu.
Tasawuf yang demikian bukanlah asal dari pelajaran islam. Zuhud yang
melemahkan itu bukanlah bawaan islam. Semangat islam adalah semangat berjuang. Semangat
berkurban, bekerja, bukan semangat malas, lemah-paruh, dan melempem.
Agama islam adalah agama yang meyeru umatnya mencari rezeki dan mengambil sebab-sebab
mencapai kemuliaan, ketinggian, dan keagungan dalam perjuangan hidup
bangsa-bangsa. Bahkan, agama islam menyerukan menjadi yang dipertuan di dalam
alam dengan dasar keadilan, memungut kebaikan dimanapun juga bersuanya, dan
memperbolehkan mengambil peluang mencari kesenangan yang diijinkan.
Maksud tasawuf pada mula-mula timbulnya adalah suci, yaitu hendak
memperbaiki budi pekerti. Ketika mula-mula timbul itu semua orang bisa menjadi sufi, tidak perlu memakai pakaian tertentu,
atau bendera tertentu, atau berkhalwat sekian hari lamanya di dalam kamar, atau
mengadu kening dengan kening guru.
Di zaman Nabi Muhammad Saw hidup, semua orang menjadi “sufi”. Yaitu sufi
dalam artian keluar dari budi pekerti yang buruk dan masuk kepada budi
pekerti yang terpuji. Baik Nabi dan sahabatnya yang berempat, atau yang
beribu-ribu itu, semuanya berakhlak tinggi, berbudi mulia, sanggup menderita
lapar dan haus, dan jika mereka memperoleh kekayaan, tidaklah kekayaan itu
lekat ke dalam hatinya, sehingga melukai hati jika terpisah. Apalagi suasana
ketika itu, pergaulan, letak negeri, semuanya menyebabkan hidup serba kecil
menjadi biasa. Dan mereka tidak perlu bernama sufi, fiqih atau bernama raja
sekalipun. Karena apakah lagi suatu nama yang lebih mulia daripada nama sahabat
Rasulullah?
Dari paparan
diatas, semoga kita bisa lebih memahami arti tasawuf.
Diambil dari buku
Tasawuf Modern karya Buya Hamka