Tampilkan postingan dengan label Ulasan Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Juni 2023

Ulasan buku : Atomic Habits

Buat siapa buku ini bagusnya dibaca? 

1. Orang yang ingin berubah atau memperbaiki diri menjadi lebih baik

2. Orang yang ingin lebih memahami cara kerja kebiasaan

3. Orang yang ingin mengetahui beberapa cara kerja seputar gairah, hasrat, kebahagian, ganjaran, pengulangan. 

4. Orang yang suka scoll medsos

5. Orang yang penasaran

6. Orang yang suka baca

7. Orang yang suka nulis

8. Orang yang ingin menurunkan berat badan 

dan orang-orang lainnya. 

Seperti namanya, buku karya James Clear ini membahas seputar kebiasaan.

Bagaimana cara membangun kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk. 

Fakta-fakta mengenai 'kebiasaan' dikupas secara menarik, sehingga kita lebih mengerti mengapa kita sulit memulai atau menonggalkan suatu kebiasaan.

Dalam buku ini juga disediakan cara-cara terapan  yang cukup terperinci, sehingga bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa yang ringan dan enak dibaca, membuat buku ini mudah dipahami dan cerna. 

Lebih menariknya, saat kita telah mengetahui trik-trik untuk merubah kebiasaan, hal ini berdampak bukan pada diri sendiri, melainkan orang lain juga. 

Bila memiliki kenalan yang ingin berhenti minum alkohol atau sabu, mungkin buku ini bisa memberi beberapa saran sederhana yang praktis. 

Lebih jauh lagi, bila dalam skala yang lebih besar, buku ini bisa dijadikan bagian dari sandaran saat membuat peraturan. 

Baik peraturan dalam lingkup yang kecil sampai besar sepeeti negara. 

Mengapa demikian?, karena sejatinya pembuatan peraturan atau undang-undang bertujuan untuk membentuk kebiasaan ke arah yang lebih baik. 


Jadi, tunggu apa lagi, hehe.

Ulasan Buku : Mindset

Seperti judulnya, buku ini membahas tentang polapikir.

Didalamnya, mengenalkan kepada kita bahwa polapikir atau mindset manusia itu terbagi dua. 

Apa manfaat dari tiap-tiap polapikir tersebut dan mana yang lebih baik.

Karena setiap manusia jelas memiliki polapikir, jadi tidak terlalu sulit untuk menyadari kita ada di bagian mana, dan bagaimana caranya bila ingin merubahnya. 

Merubah mindset berarti membuka jalan untuk sudut pandang baru akan sesuatu, sudut pandang baru akan dunia, yang tentu saja akan merubah gaya hidup kita.

Dengan mengenali mindset juga, kita lebih mudah menghadapi orang lain. 

Dalam buku ini banyak contoh menjelaskan bahwa mengenal mindset sungguh berguna bagi guru maupun orang tua untuk melihat ataupun mengarahkan anaknya. 

Dan tentu saja berguna juga bagi dirikita sendiri.

Untuk orang yang tertarik dengan disiplin ilmu psikologi, buku ini akan memberi dorongan tersendiri saat membacanya.

Satu hal lagi yang membuat buku ini sayang untuk di lewatkan, didalamnya bayak sekali contoh kongkret yang menunjukkan pentingnya mindset. 

Diantara cerita, ada satu yang membuatku benar-benar menarik yaitu, saat mindset menghadapi kasus perundungan atau bullying antar siswa, bagaimana cara menyelesaikannya agar kedua belah pihak bisa menerima. 

Jadi, selamat membaca. 

Selasa, 06 Juni 2023

Ulasan Buku: The Psychology of Money

Buku The Psychology of Money merupakan buku best seller yang telah di terjemahkan ke dalam banyak bahasa.

Disamping itu banyak juga influencer yang merekomendasikan buku ini untuk menambah wawasan kita terhadap uang. 

Melihat dua fakta diatas, sebagai orang yang mudah terbawa arus, akupun penasaran dengan isi buku tersebut. 

Awalnya kusangka bahwa isinya akan mengajarkan kita tentang cara-cara mendapatkan uang, cara menjadi kaya, tutorial sukses dan semisalnya.

Setelah kujelajahi halaman demi halaman, melompat dari satu pembahasan ke pembahasan lain, anggapanku tentang buku ini ternyata meleset, jauh sekali. 

Banyak kisah-kisah pendek didalamnya, sebagai jembatan untuk teori yang disodorkan, sehingga lebih memudahkan pembaca untuk memahami maksud tulisan sang penulis. 

Secara keseluruhan buku ini menuntun kita memandang uang dari sudut pandang yang lain.

Banyak poin yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Namun, yang menarik perhatianku, diantara poin tersebut, ada poin yang benar-benar sama seperti yang diajarkan guru ngajiku dulu.

Mungkin setiap pembaca akan mendapatkan manfaat atau hikmah yang berbeda tergantung pemikiran mereka sendiri. 

Namun satu poin yang ini benar-benar mirip dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, dan bisa dibilang poin ini termasuk yang ditekankan penulis.

Poinnya itu adalah sikap Qonaah. Meskipun tentu saja dalam buku tersebut kamu tidak akan menemukan kata "Qonaah" ini.

Maksud atau inti dari ucapanku , buku keluaran barat yang penulisnya mungkin tidak mengenal ajaran-ajaran spesifik dalam islam, tapi dari pengalaman hidupnya mempelajari tentang uang selama bertahun-tahun, akhirnya dia menyadari bahwa sikap Qonaah merupakam solusi dalam masalah keuangan.

Mengingat banyaknya buku ini terjual apalagi hingga di terjemahkan kedalam puluhan bahasa, lebih kurang ini bisa menjadi tanda bahwa banyak orang setuju dengan gagasannya.

Dengan kata lain, banyak orang diluar sana dengan berbagai macam kepercayaan, menyadari dan setuju terhadap ajaran islam, mungkin tanpa mereka sadari. 

Meski aku juga tidak tahu apakah hal ini ada juga di agama lain atau tidak, yang jelas dalam islam, pembahasan tentang sikap Qonaah ini telah diajarkan sejak masih di bangku sekolah, entah itu di SD/MI, SMP/MTs atau SMA/MA.

Pelajaran dimana kita mendapatkannya sejak dini, namun penulis ini baru menyadarinya setelah bertahun-tahun dengan penuh riset.

Kuharap kalian paham arah ucapanku barusan. 

Secara umum buku ini cukup berisi, membacanya tidak akan membuatmu menyesal akan waktu yang terpakai. 

Minggu, 29 Agustus 2021

Ulasan buku : Man's Search for Meaning

 

Seperti seorang bocah cilik yang mendapatkan mainan baru yang selama ini ia inginkan, bocah itu begitu bahagia, berjingkrak kegirangan lalu memamerkan kepada teman-teman bermainnya. Kurang lebih seperti itulah perasaanku saat membaca buku “Man’s search for meaning”.  Bagi pembaca pemula sepertiku, saat menemukan hal baru dalam bacaannya langsung besar kepala, seolah ia menemukan harta karun yang begitu bernilai. Keinginan untuk berbagi mengenai hasil bacaannya timbul begitu saja. Terlebih lagi, secara kebetulan dalam buku ini, terdapat solusi mengenai masalah yang sedang dihinggapinya.

Cukup banyak pencerahan yang kudapat di dalamnya. Satu diantara yang masih kuingat ialah mengenai suatu penyakit psikis yang penulis beri nama “Kehampaan Eksistensial”.

Katanya, di jaman sekarang, penyakit ini begitu popular apalagi di kalangan anak muda.  Penyakit ini bukan penyakit yang menyerang kepada fisik kita secara langsung, melainkan kepada mental kita.

Untuk mendeteksi apakah kita sedang terjangkit penyakit ini atau tidak, cobalah jawab beberapa pertanyaan berikut:

“Apakah kamu pernah merasa seolah hidup ini tidak ada artinya lagi?”

“Apa kamu merasa bosan dengan kehidupan yang sepertinya begitu-begitu saja? Sehingga sempat terbesit bahwa meninggalkan hidup ini bukanlah hal yang besar?

“apakah kamu merasa beban dan masalah yang menimpamu terasa begitu hebat, sampai kamu berpikir untuk mengakhiri hidupmu? Buat apa hidup, mati rasanya jauh lebih baik (mungkin begitu pikirmu)

Apabila kamu pernah merasakan hal-hal diatas, aku pun sama.

Dan saat aku membaca buku itu, lebih kurang aku mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan dan masuk akal mengenai apa yang kurasakan. Apa sebenarnya masalah itu? lalu bagaimana solusinya.

Mungkin ada sebagian yang bertanya,” mengapa penyakit ini popular sekarang? Bukankah pertanyaan atau perasaan demikian bisa hinggap pada siapa saja dan kapan saja?”.

Memang benar, hal ini bisa hinggap pada siapa saja, namun kenapa disebut popular sekarang?  Karena, diantara penyebab timbulnya penyakit ini adalah hilangnya makna. Dan diantara makna itu terkandung dalam budaya dan tradisi. Disini pun aku baru sadar betapa pentingnya kita menjaga tradisi dan budaya kita, karena salah satu hikmah dari budaya itu sendiri adalah ia menyimpan atau menjaga makna.

Orang tua dulu, mungkin sering menasihati kita ini itu, atau di daerah kita terdapat budaya begini begitu, yang terkadang saat melihat praktek pelaksanaannya seperti tahayul. Padahal jika kita telaah sedikit lebih dalam, biasanya pasti ada pesan tersirat didalamnya, ada suatu makna tentang kehidupan yang menjadi pegangan orang tua kita. Dan lewat tradisi dan budaya itulah makna itu terjaga, sehingga masyarakatnya dapat memetik nilai-nilai kehidupan disana.

Namun, untuk masa sekarang, kita sadari betul, bahwa tradisi dan budaya sedikit demi sedikit mulai tersingkirkan, terasingkan, sampai akhirnya dilupakan.

Dan penyakit kehampaan eksistensial ini akar penyebabnya ialah hilangnya makna dalam diri kita. Lalu kita pun tak tahu bagaimana atau dimana menemukan makna tersebut.  Untuk lebih lengkapnya silahkan dibaca bukunya J

Selasa, 29 November 2016

Ringkasan Buku: Mengintip Arti Tasawuf


Mengintip arti Tasawuf
Tatkala kerajaan islam bertambah besar dan pemeluk agama islam bertambah tersiar keluar tanah Arab, bertemulah dia dengan bangsa-bangsa dan agama-agama serta pemikiran-pemikiran baru. Masuklah paham filsafat ke dalam dunia islam dan suburlah ahli pikir Mu’tazilah dan mulailah timbul kaum tasawuf itu.
Ketika itu kemajuan telah menyebabkan bingung. Kekayaan bertimbun masuk ke dalam dunia islam, kehidupan sangat megah, sehingga mahar al-Ma’mun kepada Bauran anak menterinya saja lebih dari semiliun dinar. Di samping itu dalam majlis istana terjadi bantahan ahli-ahli pikir tentang Ketuhanan, apakah Tuhan menakdirkan juga kejahatan manusia. Tentang manusia sendiri, apakah dia masih tetap islam kalau sekiranya dia mengerjakan dosa besar. Tentang      Al-Qur’an, adakah dia hadits atau qadim, dan lain-lain sebagainya. Sehingga kadang-kadang menimbulkan sengketa, dan perbantahan yang menyebabkan lalai mengerjakan ibadah.
Tentu saja timbol golongan yang merasa jemu melihat itu, lalu menyisihkan dirinya. Ia menjauhkan diri dari orang dunia, dari orang yang katanya pintar tapi telah terlampau pintar, atau orang yang dilalaikan hartanya.
Orang yang menyisihkan itulah asal-usul kaum Sufi itu, yang mulanya bermaksud baik, tetapi akhirnya telah banyak tambahnya. Maksud mereka hendak memerangi hawa-nafsu, dunia dan setan, tetapi kadang-kadang jala yang mereka tempuh tidak digariskan oleh agama. Terkadang mereka haramkan terhadap diri sendiri barang yang dihalalkan Tuhan, bahkan ada yang tidak mau lagi mencari rezeki, menyumpahi harta, membelakangi huru-hara dunia, dan membenci kerajaan. Sehingga kemudiannya, ketika bala tentara Mongol masuk ke negeri islam, tidaklah ada lagi senjata yang tajam buat menangkis, sebab orang telah terbagi dan terpecah.
Sebagian menjadi budak harta, yang lebih sayang kepada hartanya dari pada agamanya. Setengahnya lagi menyadi budak fikih, bertengkar bertegang urat leher, meributkan apakah batal wudhu’ kalau sekiranya darah tuma lekat kepada baju. Dan ada pulan yang karam di dalam khalwatnya, dengan pakaian sufinya, tidak peduli apa-apa, tidak menangkis serangan, karena merasa “lezat” di dalam kesunyian tasawuf itu.
Tasawuf yang demikian bukanlah asal dari pelajaran islam. Zuhud yang melemahkan itu bukanlah bawaan islam. Semangat islam adalah semangat berjuang. Semangat berkurban, bekerja, bukan semangat malas, lemah-paruh, dan melempem.
Agama islam adalah agama yang meyeru umatnya mencari rezeki dan mengambil sebab-sebab mencapai kemuliaan, ketinggian, dan keagungan dalam perjuangan hidup bangsa-bangsa. Bahkan, agama islam menyerukan menjadi yang dipertuan di dalam alam dengan dasar keadilan, memungut kebaikan dimanapun juga bersuanya, dan memperbolehkan mengambil peluang mencari kesenangan yang diijinkan.
Maksud tasawuf pada mula-mula timbulnya adalah suci, yaitu hendak memperbaiki budi pekerti. Ketika mula-mula timbul itu semua orang bisa menjadi  sufi, tidak perlu memakai pakaian tertentu, atau bendera tertentu, atau berkhalwat sekian hari lamanya di dalam kamar, atau mengadu kening dengan kening guru.
Di zaman Nabi Muhammad Saw hidup, semua orang menjadi “sufi”. Yaitu sufi dalam artian keluar dari budi pekerti yang buruk dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji. Baik Nabi dan sahabatnya yang berempat, atau yang beribu-ribu itu, semuanya berakhlak tinggi, berbudi mulia, sanggup menderita lapar dan haus, dan jika mereka memperoleh kekayaan, tidaklah kekayaan itu lekat ke dalam hatinya, sehingga melukai hati jika terpisah. Apalagi suasana ketika itu, pergaulan, letak negeri, semuanya menyebabkan hidup serba kecil menjadi biasa. Dan mereka tidak perlu bernama sufi, fiqih atau bernama raja sekalipun. Karena apakah lagi suatu nama yang lebih mulia daripada nama sahabat Rasulullah?
Dari paparan diatas, semoga kita bisa lebih memahami arti tasawuf.
Diambil dari buku Tasawuf Modern karya Buya Hamka

Saksi