Selasa, 29 November 2016

Ringkasan Buku: Mengintip Arti Tasawuf


Mengintip arti Tasawuf
Tatkala kerajaan islam bertambah besar dan pemeluk agama islam bertambah tersiar keluar tanah Arab, bertemulah dia dengan bangsa-bangsa dan agama-agama serta pemikiran-pemikiran baru. Masuklah paham filsafat ke dalam dunia islam dan suburlah ahli pikir Mu’tazilah dan mulailah timbul kaum tasawuf itu.
Ketika itu kemajuan telah menyebabkan bingung. Kekayaan bertimbun masuk ke dalam dunia islam, kehidupan sangat megah, sehingga mahar al-Ma’mun kepada Bauran anak menterinya saja lebih dari semiliun dinar. Di samping itu dalam majlis istana terjadi bantahan ahli-ahli pikir tentang Ketuhanan, apakah Tuhan menakdirkan juga kejahatan manusia. Tentang manusia sendiri, apakah dia masih tetap islam kalau sekiranya dia mengerjakan dosa besar. Tentang      Al-Qur’an, adakah dia hadits atau qadim, dan lain-lain sebagainya. Sehingga kadang-kadang menimbulkan sengketa, dan perbantahan yang menyebabkan lalai mengerjakan ibadah.
Tentu saja timbol golongan yang merasa jemu melihat itu, lalu menyisihkan dirinya. Ia menjauhkan diri dari orang dunia, dari orang yang katanya pintar tapi telah terlampau pintar, atau orang yang dilalaikan hartanya.
Orang yang menyisihkan itulah asal-usul kaum Sufi itu, yang mulanya bermaksud baik, tetapi akhirnya telah banyak tambahnya. Maksud mereka hendak memerangi hawa-nafsu, dunia dan setan, tetapi kadang-kadang jala yang mereka tempuh tidak digariskan oleh agama. Terkadang mereka haramkan terhadap diri sendiri barang yang dihalalkan Tuhan, bahkan ada yang tidak mau lagi mencari rezeki, menyumpahi harta, membelakangi huru-hara dunia, dan membenci kerajaan. Sehingga kemudiannya, ketika bala tentara Mongol masuk ke negeri islam, tidaklah ada lagi senjata yang tajam buat menangkis, sebab orang telah terbagi dan terpecah.
Sebagian menjadi budak harta, yang lebih sayang kepada hartanya dari pada agamanya. Setengahnya lagi menyadi budak fikih, bertengkar bertegang urat leher, meributkan apakah batal wudhu’ kalau sekiranya darah tuma lekat kepada baju. Dan ada pulan yang karam di dalam khalwatnya, dengan pakaian sufinya, tidak peduli apa-apa, tidak menangkis serangan, karena merasa “lezat” di dalam kesunyian tasawuf itu.
Tasawuf yang demikian bukanlah asal dari pelajaran islam. Zuhud yang melemahkan itu bukanlah bawaan islam. Semangat islam adalah semangat berjuang. Semangat berkurban, bekerja, bukan semangat malas, lemah-paruh, dan melempem.
Agama islam adalah agama yang meyeru umatnya mencari rezeki dan mengambil sebab-sebab mencapai kemuliaan, ketinggian, dan keagungan dalam perjuangan hidup bangsa-bangsa. Bahkan, agama islam menyerukan menjadi yang dipertuan di dalam alam dengan dasar keadilan, memungut kebaikan dimanapun juga bersuanya, dan memperbolehkan mengambil peluang mencari kesenangan yang diijinkan.
Maksud tasawuf pada mula-mula timbulnya adalah suci, yaitu hendak memperbaiki budi pekerti. Ketika mula-mula timbul itu semua orang bisa menjadi  sufi, tidak perlu memakai pakaian tertentu, atau bendera tertentu, atau berkhalwat sekian hari lamanya di dalam kamar, atau mengadu kening dengan kening guru.
Di zaman Nabi Muhammad Saw hidup, semua orang menjadi “sufi”. Yaitu sufi dalam artian keluar dari budi pekerti yang buruk dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji. Baik Nabi dan sahabatnya yang berempat, atau yang beribu-ribu itu, semuanya berakhlak tinggi, berbudi mulia, sanggup menderita lapar dan haus, dan jika mereka memperoleh kekayaan, tidaklah kekayaan itu lekat ke dalam hatinya, sehingga melukai hati jika terpisah. Apalagi suasana ketika itu, pergaulan, letak negeri, semuanya menyebabkan hidup serba kecil menjadi biasa. Dan mereka tidak perlu bernama sufi, fiqih atau bernama raja sekalipun. Karena apakah lagi suatu nama yang lebih mulia daripada nama sahabat Rasulullah?
Dari paparan diatas, semoga kita bisa lebih memahami arti tasawuf.
Diambil dari buku Tasawuf Modern karya Buya Hamka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi