Jumat, 25 November 2016

Refleksi: Menulislah untuk dirimu sendiri

Menulislah untuk dirimu sendiri
Sebenarnya cukup dengan akal saja manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tanpa ada tuntutan dari agama manapun. Seperti jujur itu baik, bohong itu buruk, memberi itu baik, mencuri itu buruk dan lain sebagainya. Kenapa ini bisa terjadi?? Karena Sang Maha Pencipta telah menanamkan hal ini kepada kita. Namun kita juga diberikan sahwat yang bisa membuat kita untuk melakukan hal yang tidak benar meskipun kita sadar hal itu memang tidak benar, itulah yang terjadi ketika kita salah menyalurkan syahwat kita, atau karena kita sudah tergoda rayuan syetan. Lalu Sang Maha Pencipta pun memberikan kita petunjuk agar kita tidak terjerumus terhadap rayuan syetan, maka islam pun ia turunkan kepada manusia pertama yang ia turunkan ke bumi ini, dengan segala petunjuk tuntunan hidup baginya. Dan islam itu terus ia wariskan terus menerus dengan pengawasan Sang Maha Pencipta  hingga sampai kepada kita. Yang mana, ada dua tipe manusia ketika datangnya pedoman hidup ini, ada yang menerima, dan ada juga yang menolak karena ia telah memiliki pedoman hidup yang lain yang datang dari sesamanya bukan dari Sang Maha Pencipta, yang sebenarnya pedomannya orang yang menolak itu masih merupakan bagian dari makhluk dari Sang Maha Pencipta.
Muslim adalah sebutan bagi mereka yang menerima serta tunduk patuh terhadap isi petunjuk yang diturunkan Sang Maha Pencipta kepadanya. Dan pada masa akhir jaman ini kitab petunjuk itu merupakan penyempurnaan dari kitab-kitab sebelumnya yang disebut dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang disampaikan melalui Nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad saw.
Menjadi serorang muslim tak membuatnya terbebas dari godaan syetan, bahkan ketika keimanannya meningkat syetan yang menggodanya juga bukan syetan biasa. Begitu juga kadang keadaan keimanannya, kadang naik kadan turun. Kadang dia begitu rajin dalam beribadah, kadang pula dia malas dalam beramal. Hal ini memang biasa terjadi, salah satu penyebabnya karena kadang kita begitu dekat dengan petunjukNya, kadang pula kita lupa dengannya, dan ketika lupa inilah ketika iman sedang kendor ditambah ada ujian dan cobaan yang menimpa syetan sudah siap untuk menggoda dan mendorong kita untuk melakukan hal yang bertentangan dengan petunjuk, dan karena kita sedang turun keimanannya kita pun terpedaya dengan muslihat syetan. Terkadang ketika keimanan sedang turun teman kita pun melihat hal itu dan mencoba untuk memberi tahu kepada kita bahwa hal yang kita lakukan itu suatu kemaksiatan, namun entah mengapa pada saat itu kita tidak menggubris nasehat teman kita, bahkan jika nasehat itu datang dari seorang ulama, karena hatinya telah tertutup ia enggan untuk menurutinya, dan ketika kita sudah sampai pada titik ini tak ada yang dapat merubah kita kecuali hidayah Allah SWT dan diri kita sendiri. Karena enggan menerima masukan orang lain hanya dirinyalah yang mampu menasihatinya. Bagaimana kita bisa menasihati diri kita sendiri padahal pada saat itu pikiran kita sedang tertutup dengan kebaikan apalagi dengan nasehat-nasehat.
Jalan keluar untuk keadaan kita yang sudah terpuruk diatas ialah dengan membaca kembali gagasan- gagasan, pandangan-pandangan, dan yang semisalnya yag kita tulis ketika keimananan kita sedang naik. Iya memang benar, hal ini takan tercapai tanpa kita meulis. Kita pasti pernah merasakan ketika sedang rajin-rajinnya beribadah, melihat orang yang malas sungguh ada banyak hal yang kita sampaikan kepadanya namun tak kita ungkapkan  karena mungkin kita tak berani atau malu. Sehingga gagasan itu hilang begitu saja. Maka dari sekarang, ketika suatu gagasan yang bagus itu muncul, segeralah kita tuangkan dalam bentuk tulisan agar gagasan tersebut tidak hilang dibawa angin. Dan pada saat kita terpuruklah gagasan-gagasan itu akan cukup berguna. Karena bukan orang lain yang sedang menasihati anda, tapa diri anda sendiri. Oleh karena itu penulis ingin mengatakan. “Menulislah untuk dirimu sendiri.”

Terinspirasi dari buku Tasawuf Modern karya Buya Hamka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi