Menulislah untuk dirimu sendiri
Sebenarnya cukup dengan akal saja manusia bisa membedakan mana yang baik
dan mana yang buruk, tanpa ada tuntutan dari agama manapun. Seperti jujur itu
baik, bohong itu buruk, memberi itu baik, mencuri itu buruk dan lain
sebagainya. Kenapa ini bisa terjadi?? Karena Sang Maha Pencipta telah
menanamkan hal ini kepada kita. Namun kita juga diberikan sahwat yang bisa
membuat kita untuk melakukan hal yang tidak benar meskipun kita sadar hal itu
memang tidak benar, itulah yang terjadi ketika kita salah menyalurkan syahwat
kita, atau karena kita sudah tergoda rayuan syetan. Lalu Sang Maha Pencipta pun
memberikan kita petunjuk agar kita tidak terjerumus terhadap rayuan syetan,
maka islam pun ia turunkan kepada manusia pertama yang ia turunkan ke bumi ini,
dengan segala petunjuk tuntunan hidup baginya. Dan islam itu terus ia wariskan
terus menerus dengan pengawasan Sang Maha Pencipta hingga sampai kepada kita. Yang mana, ada dua
tipe manusia ketika datangnya pedoman hidup ini, ada yang menerima, dan ada
juga yang menolak karena ia telah memiliki pedoman hidup yang lain yang datang
dari sesamanya bukan dari Sang Maha Pencipta, yang sebenarnya pedomannya orang
yang menolak itu masih merupakan bagian dari makhluk dari Sang Maha Pencipta.
Muslim adalah sebutan bagi mereka yang menerima serta tunduk patuh terhadap
isi petunjuk yang diturunkan Sang Maha Pencipta kepadanya. Dan pada masa akhir
jaman ini kitab petunjuk itu merupakan penyempurnaan dari kitab-kitab
sebelumnya yang disebut dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang disampaikan
melalui Nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad saw.
Menjadi serorang muslim tak membuatnya terbebas dari godaan syetan, bahkan
ketika keimanannya meningkat syetan yang menggodanya juga bukan syetan biasa.
Begitu juga kadang keadaan keimanannya, kadang naik kadan turun. Kadang dia
begitu rajin dalam beribadah, kadang pula dia malas dalam beramal. Hal ini
memang biasa terjadi, salah satu penyebabnya karena kadang kita begitu dekat
dengan petunjukNya, kadang pula kita lupa dengannya, dan ketika lupa inilah
ketika iman sedang kendor ditambah ada ujian dan cobaan yang menimpa syetan
sudah siap untuk menggoda dan mendorong kita untuk melakukan hal yang
bertentangan dengan petunjuk, dan karena kita sedang turun keimanannya kita pun
terpedaya dengan muslihat syetan. Terkadang ketika keimanan sedang turun teman
kita pun melihat hal itu dan mencoba untuk memberi tahu kepada kita bahwa hal
yang kita lakukan itu suatu kemaksiatan, namun entah mengapa pada saat itu kita
tidak menggubris nasehat teman kita, bahkan jika nasehat itu datang dari
seorang ulama, karena hatinya telah tertutup ia enggan untuk menurutinya, dan
ketika kita sudah sampai pada titik ini tak ada yang dapat merubah kita kecuali
hidayah Allah SWT dan diri kita sendiri. Karena enggan menerima masukan orang
lain hanya dirinyalah yang mampu menasihatinya. Bagaimana kita bisa menasihati
diri kita sendiri padahal pada saat itu pikiran kita sedang tertutup dengan
kebaikan apalagi dengan nasehat-nasehat.
Jalan keluar untuk keadaan kita yang sudah terpuruk diatas ialah dengan
membaca kembali gagasan- gagasan, pandangan-pandangan, dan yang semisalnya yag
kita tulis ketika keimananan kita sedang naik. Iya memang benar, hal ini takan
tercapai tanpa kita meulis. Kita pasti pernah merasakan ketika sedang rajin-rajinnya
beribadah, melihat orang yang malas sungguh ada banyak hal yang kita sampaikan
kepadanya namun tak kita ungkapkan
karena mungkin kita tak berani atau malu. Sehingga gagasan itu hilang
begitu saja. Maka dari sekarang, ketika suatu gagasan yang bagus itu muncul,
segeralah kita tuangkan dalam bentuk tulisan agar gagasan tersebut tidak hilang
dibawa angin. Dan pada saat kita terpuruklah gagasan-gagasan itu akan cukup
berguna. Karena bukan orang lain yang sedang menasihati anda, tapa diri anda
sendiri. Oleh karena itu penulis ingin mengatakan. “Menulislah untuk dirimu
sendiri.”
Terinspirasi dari
buku Tasawuf Modern karya Buya Hamka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar