Rabu, 16 Agustus 2023
Regenerasi
Selasa, 08 Agustus 2023
Rencana tidur
Aku terbangun sekitar pukul tiga dini hari. Masih teringat, terakhir kulihat layar ponsel angka yang tertera 01.00. Jadi aku terlelap hingga dua jam, meski yang kurasa hanya beberapa kejapan mata.
Tadinya aku berencana tidur selepas isya, atau mungkin dikisaran pukul delapan malam. Tapi, rencana hanyalah rencana, ajakan sepupu mencari makan malam, padahal aku bertekad untuk tidak makan berat di malam hari, tapi ya sudahlah.
Lalu adik sepupuku ini (masih sepupuku juga), dia baru pulang main sambil membawa teman mainnya menginap, yang kamarnya bersebelahan dengan kamarku biasa tidur.
Dia dan teman-temannya sepertinya tak berencana untuk tidur malam itu, tapi bermain game, yang kuhafal sekali jenis game apa itu, dan aku tahu game itu mampu mempermainkan otakmu untuk terus bekerja hingga matahari tiba.
Dengan semua kebisingan itu, alhamdulillah aku masih bisa tertidur.
Apakah aku marah karena sepupu-sepupuku yang merusak rencana malamku? Tentu tidak, tapi sedikit kesal ada lah.
Namun jika dipir lagi, sudah diberi tempat untuk tidur juga, harusnya sudah syukur, ini rumah paman dan bibiku.
Semua penghuni rumah menerimaku dengan segala kekurangannya.
Jadi akupun insaf dengan rasa kesal tadi. Terkadang rencana menggiring kita lupa akan apa yang nyata, hati hati.
Kamis, 03 Agustus 2023
Kakek di puskesmas 2
Selaim bertemu Kakek Kopasus, sebenarnya aku bertemu satu kakek-kakek lagi di puskesmas saat itu.
Kakek misterius. Mengapa? Karena dia datang tanpa identitas.
Perawakan yang tinggi kurus, dibalut baju kaos, celana pendek, sepatu jogging, khas orang yang baru lari pagi itu datang sendiri ke puskesmas.
Tanpa BPJS, tanpa KTP, samar-samar kudengar, saat menyebutkan alamat tinggalnya kepada resepsionis, ia agak kebingungan.
Salut aku kepada para petugas disini, yang begitu sabarnya menghadapi kakek misterius ini.
Atau mungkin bukan misterius, tapi misery lebih cocok bagi kakek ini.
Kakek di puskesmas
Saat itu aku sedang duduk bersama pasien lainnya menunggu panggilan dokter puskesmas.
Tiba-tiba saja, seorang pria dengan jaket parasit, serta topi, yang mencoba menutupi rambutnya yang putih semua, menyapaku.
"Sakit apa dek?" katanya
"Gini pak, kemarin saya ngelamar kerja, terus gak lolos tes kesehatan, nah sekarang saya cuma mau konsultasi sama dokter perihal penyakitnya."
"Oh, ngelamar kerja dimana emangnya?"
"Di Jakarta pak, jadi sekuriti, kebetulan dulu juga sudah pernah kerja jadi satpam."
"Hmm, bapak juga pernah kerja yang seperti itu, kalau gak salah waktu itu bapak jadi Chipnya."
"Bentar pak, bukannya chip itu sebutan buat pimpinan tertinggi satuan kerjanya?" tanyaku.
"Iya benar, setelah pensiun dari tentara, bapak kerja jadi chip disana beberapa tahun samle akhirnya pensiun juga."
"Oh bapak dari kesatuan, pantas saja, memang biasanya komandan regu apalagi chip diambil dari kesatuan, dari angkatan apa pak?" kataku lagi, penasaran.
"Dari Kopassus dek." jawabnya pendek, tapi cukup berefek.
"Wah Kopassus, oh iya iya, katanya pelatihan Kopassus itu lebih susah dari yang lainnya yah?"
Si bapak hanya mengangguk sambil tersenyum.
Selanjutnya, aku coba beberapa pertanyaan lagi, sampai akhirnya namaku di panggil dokter.
Sungguh, bila dia bukan pembohong, penampilannya sangat tidak mencerminkan kesatuam, apalagi Kopassus.
Saat kami mulai mengobrol, aku masih mengira dia kakek-kakek biasa sampai ia ungkap dirinya, karena penampilannya sungguh menipu.
Tak terlihat kegagahan, dari tubuhnya, yang tampak sering membungkuk itu, ah mungkin aku saja yang tak pandai menilai orang.
Dari sini aku belajar, jangan pernah menyepelekan orang yang terlihat lemah, apalagi kakek-kakek, bisa jadi yang kau temui mantan intel atau master bela diri.
Rabu, 26 Juli 2023
Berhenti berpikir, mulailah bergerak
Allah itu Maha Kaya, mintalah apapun, sejauh yang bisa kau bayangkan.
Namun, jika permintaanmu belum terkabul, bisa jadi dirimu yang belum siap atau mampu untuk menerimanya.
Beranilah bermimpi, hanya hati-hati membedakan antara mimpi dan angan-angan.
Menjemput rezeki, Sebenarnya sudah tak terhitung rezeki yang Allah limpahkan, hanya mungkin kita tak sadar, atau rak tahu cara mengambilnya.
Salah satu kebiasaanku adalah over thinking, terlalu lama berpikir hingga lupa melangkah. Terlalu lama memikirkan cara memenangi balapan tanpa sadar yang lain sudah di garis finish.
Melangkahlah, bergeraklah, bagiku ini cukup sulit, meski prakteknya mungkin sederhana.
Terlalu banyak berpikir dan merenun, jika pola bepikirnya tidak diarahkan dengan benar, bisa-bisa memikirkan sesuatu yang sebetulnya bukan ranah manusia atau makhluk.
Saat Rasul menyarankan unruk bermuhasabah, itu bukan mengajak berpikir mengawang tak jelas, tapi memikirkan, mengingat, dan mengevaluasi perbuatan kita. Baik perbuatan lahir maupun batin.
Berencana boleh, tapi jangan lupa dengan nikmat Allah yang setiap detiknya terus mengalir.
Jumat, 21 Juli 2023
Bekerja VS Ego
Bekerja, sebuah ide universal yang dipikirkan, dibicaran dan dijalankan oleh seluruh umat manusia.
Sebelum memulainya, luruskan niat terlebih dahulu, tanyakan pada diri untuk apa aku bekerja?, kenapa ini menjadi penting, karena inilah yang akan menentukan segalanya.
Niat yang akan membuat kita semangat atau malas dalam berkerja. Niat ini juga yang akan mengantarkan apakah pekerjaan itu akan membawa kita ke surga atau malah menjauhinya.
Dari niat inilah, apakah nantinya kita akan semakin mengenal Pencipta kita atau malah melupakannya.
Banyak orang bilang bahwa cari kerja itu susah, tapi jika kita lihat lowongan pekerjaan, ternyata masih terbentang luas.
Baik lowongan pekerjaan yang kita temui dari browsing atau lewat aplikasi pencari kerja, atau bahkan lowongan dari kabar tetangga atau saudara.
Lalu, mengapa orang bilang susah cari kerja? Mungkin maksud dari kalimat itu ialah susah cari kerja yang sesuai dengam selera kita.
Kita cenderung memberi batas-batas tak kasat mata saat mencari pekerjaan.
Batas itu bisa berupa jenis pekerjaan, besaran gaji, lokasi pekerjaan. Mari kita sudahi dari tiga batas ini saja dulu.
Mari kita perbaiki pertanyaannya, Jadi apakah susah mencari pekerjaan dengan jenis yang kita sukai, disertai gaji yang lumayan dan lokasinya dekat?
Jawannya bisa jadi, Jika kamu punya banyak skill, mendapat pekerjaan seperti ini mungkin saja.
Tapi jika kau merasa tidak punya keahlian khusus, mendapat pekerjaan seperti ini akan memakan lebih banyak waktu, (sedangkan waktu bukanlah sahabat baik para pencari kerja atau pengangguran).
Bila kita menghilangkan salah satu saja dari pembatas itu, misal kita panghilan kerja yang sesuai dengan keahlian tapi, kerjaannya jauh, atau gajihnya kecil, tentu tak akan jadi masalah.
Lalu bagaimana jika aku hanya lulusan sma tanpa keahlian khusus, atau sarjana tapi kuliahnya berasa gak kuliah, ada beberapa hal yang terpikir olehku, diantaranya
a. Turunkan ego
Bila merasa tak punya skill, mau tak mau harus menurunkan ego, menurunkan target jenis pekerjaan ke yang lebih umum, lenih bisa dilakukan siapapun, sekalipun tak punya skill atau pengalaman.
Misal, bila ingin menjadi pegawai kantoran, tapi keterampilan mengetik masih sebelas jari, maka turunkan target pekerjaan ke OB (office boy), pekerjaan yang lebih umum, lebih mudah dikerjakan oleh kebanyakan orang.
"Tapi, kerja jadi tukang bersih-bersih kan malu. ", bila ada yang bilang begini, makannya aku sampaikan di awal, turunkan ego.
Dan bila diperhatikan, bila kemampuan kita baru sebatas bersih-bersih, kenapa harus malu jika tujuan kita bekerja untuk ibadah karena Allah?
Lain cerita, jika kita bekerja ingin dipandang, atau diakui oleh orang, oleh sesama makhluk, bila dari awal bekerja ini niatnya, mau pekerjaan tukang parkir atau bos perusahaan pun tak akan damai, gelisah akan senantiasa membayangi, karena tujuannya orang, sedangkan isi pikiran orang berbeda-beda dan sering bertabrakan. Memenuhi harapan mereka semua adalah mustahil dan bodoh.
Apalagi sebagai seorang muslim, menggantungakan harapan atau kebahagiaan kepada selain Allah, apakah itu pantas? Apakah masih bisa disebut ikhlas? Sedangkan dalam surat Al-Ikhlas sendiri disebutkan bahwa Allahlah tempat bergantung segala sesuatu.
Oke oke, kita kembali ke topik. Oh iya, OB ini hanya perumpamaan, diluar sana juga banyak pekerjaan yang seperti ini.
Lalu apakah jika sudah dapat pekerjaan jadi OB (misal), sudah saja, tekuni pekerjaan itu selamanya?
Tentu saja tidak, ini hanya langkah awal. Allah memberi kita akal untuk berpikir dan hati untuk merasa atau menghayati.
Mulailah belajar hal baru, skill baru, untuk menunjang karir. "Tapi aku sudah nyaman kerja disini", yah silahkan saja.
Intinya, semangat belajar jangan sampai berhenti apalagi padam, karena itu pesan Rasulullah.
Dan sekali lagi, tentukan niat yang benar, dan bila kebenaran itu tak ditemukan dari pendapat orang-orang, yakinlah kebenaran Allah itu mutlak, absolut, dan sebenar-benarnya kebenaran. Wallahu alam.
Kamis, 13 Juli 2023
Minta doa
Suatu malam, ibu-ibu yang usianya mungkin 50 tahunan datang menemuiku.
Katanya dia sedang sedih, depresi karena orang tuanya baru saja meninggal dunia.
Karena tahu aku pernah nyantri, ia bertanya apakah aku punya do'a khusus untuk orang tuanya itu, aku jawab aku tak tahu do'a seperti itu.
Aku memang tidak tahu, ia mengulang pertanyaannya sampai 3x seolah tak percaya dengan jawabanku.
Lalu aku bilang, "Dari kutahu doa anak sholeh bisa sampai kepada orang tuanya".
Obrolanpun berlalu dengan cepat, dan ibu tersebut pamit.
Sebenarnya aku punya jawaban yang lebih mengena menurutku, tapi saat dia berkata sedang depresi, ku urungkan niat untuk bicara lebih panjang.
Setelah beberapa hari kemudian, aku diberitahu, bahwa si ibu yang tempo hari datang hanya menguji wawasanku, dan sepertinya dia kecewa dan ragu kalau aku keluaran pesantren, haha.
Mungkin inikah cara orang tua menguji seseorang, atau si ibu itu saja? Entahlah, yang jelas ini pelajaran yang cukup berharga bagiku.
Namun, apakah si ibu itu betulan depresi? Bodo amat.
Rabu, 12 Juli 2023
Biawak
Siang itu aku berjalan diantara rumah-rumah yang berjajar dikiri dan kanan menghadap kearahku.
Diujung persimpangan aku melihat seekor hewan melata, saat itu jarak kami sekitar 60 meter.
Awalnya kukira itu buaya, dengan warna kulit putih kekuningan, tapi saat ia mulai berjalan, ternyata ia lebih mirip kadal dalam versi yang lebih besar.
Taksiranku panjangnya sekitar satu meter. Dia berjalan dari arah rumah sebelah kiri menuju ke rumah di kananku, dengan santai.
Ia berjalan perlahan, tak seperti kadal yang gerakannya cukup gesit. Tapi sepertinya kadal juga akan berjalan santai bila tak sadar ada yang menatapnya atau mendekatinya.
Siang itu kondisi komplek depnaker tempat tinggal pamanku ini sepi. Sebagian sedang bekerja, sebagian memilih berdiam di dalam rumah, mungkin.
Meski ragu campur takut, aku tetap berjalan mendekat ke arah biawak itu, karena warung yang kutuju ada di seberang sana.
Aku berjalan, biawak itupun berjalan ke arah rumah, saat aku tiba di tempat awal melihatnya, dia sudah hilang.
Apakah biawak itu masuk rumah atau ke selokan, aku tak tahu. Tapi jelas aku tahu bahwa disini tadi ada biawak.
Tepat di tikungan, ternyata ada seorang bapak-bapak yang sedang membersihkan daun pohon menggunakan tangga yang tingginya sekitar dua sampai dua setengah meter.
Sambil duduk di tepi tangga, sibapak begitu asyik dengan aktivitasnya. Pertanyaanku, apakah dia sadar bahwa tadi ada biawak sepanjang satu meter melintas tak lebih dari tempatnya.
Kalau dia melihatnya dan bersikap tak acuh, berarti hal ini sudah biasa di komplek ini.
Tapi kalau dia tak melihatnya, berarti hanya aku saja manusia disana yang melihat biawak tersebut. Aku saja manusia yang tahu bahwa ada biawak yang kemungkinan masuk ke rumah atau ke selokan komplek.
Karena aku saja yang melihatnya, ini menjadi masalah, karena jika aku mengingatkan warga sekitar, mereka tak akan mudah percaya, karena aku tak memiliki bukti kuat, yang akhirnya hanya akan menimbulkan keriuhan dan kecemasan warga.
Karena boleh jadi biawak itu telah kembali ke asalnya dan tak keluar lagi.
Tapi bila aku tak memberi tahu, berarti hanya aku saja yang amtahu, dan akan khawatir bila melewati jalanan itu, karena aku tahu disana pernah ada biawak.
Coba saja, bila aku telat berjalan beberapa menit, biawak itu masih akan lewat, tapi aku tak akan melihatnya, sehingga tidak khawatir, dan tak akan muncul ide tentang biawak dalam benakku.
Namun di sisi lain, bila aku tidak tahu padahal disana benar-benar ada biawak dan aku tidak hati-hati dan menurunkan kewaspadaanku, itupun rasanya mengerikan juga.
Lalu bagaimana aku harus bersikap, apakah lebih baik tahu atau tidak tahu, karena keduanya memiliki sisi positif dan negatif juga.
Apapun jawabannya, ini membuktukan bahwa kita tidak berdaya dengan keadaan dan tidak tahu apa-apa. Semuanya serba bisa saja terjadi dan tidak terjadi.
Oleh karenanya, bersandar kepada Dzat yang Maha Tahu, merupakan pilihan paling logis, tepat dan benar.
Wallahu alam.
Minggu, 09 Juli 2023
Terlalu cepat
Kebijaksaan itu harta yang harus dimiliki, karena menyikapi kehidupan tanpa ini sedikit banyaknya akan memperkeruh hati dan pikiran.
Mata bisa menipu meski bisa melihat,
Telinga bisa memperdaya meski mendengar
Misalnya, dalam melihat perilaku orang lain, aku, biasanya menilai sesuai apa yang kulihat dan kudengar, setelah informasi diterima, otak mulai memproses dan menyimpulkan perbuatan orang tersebut buruk.
Tapi ini tidak bisa seratus persen buruk, harus selalu ada ruang untuk berfikir positif, dengan begitu mulut tak langsung berucap kepada orang tsb.
Karena kebenaran kejadiannya bisa jadi berbalikan atau berbeda dari apa yang kita simpulkan.
Dan aku pernah mengalami ini, terlalu cepat memvonis orang, dan ternyata kenyataannya lain, dan saat kebenaran itu terungkap, rasa bersalah, rasa malu mulai menyelusup ke dalam hati.
Disana aku belajar, jangan terlalu cepat menilai, jangan terlalu cepat memvonis, pelajari, amati semaksimal mungkin, setelah itu pun, saat hendak menilai, selalu diiringi pikiran positif, sehingga yang keluar dari mulut itu mendoakan kebaikan bukan celaan.
Dan yang paling penting, kembalikan semuanya kepada yang memiliki kebenaran absolut, yaitu Allah Al-Haqq.
Sabtu, 08 Juli 2023
Over thinking
Suatu hari aku ingin memberi saran kepada orang lain yang lebih tua, meski aku tak tahu apakah saranku diterima atau tidak, tapi aku yakin pendapatku memiliki landasan yang kuat.
Namun sebelum isi pikiran terlontarkan, ada suatu bisikan, yang mengatakan:
"Ah, sepertinya kalau aku bilang begini nanti dia bakal terainggung"
"Bagaimana kalau saran ini ternyata telah ia pikirkan sebelumnya"
"Bagaimana kalau tindakanku ini membuat hubungan merenggang"
Bila teman-teman pernah merasa seperti ini, akupun sama, dan mungkin karena kita introvert, tapi yang jelas ini over thinking.
Akupun akhirnya bertanya begini:
"Tuan, sebenarnya aku memiliki saran mengenai masalah tuan, tapi aku takut kalau ucapanku ini menyinggung tuan."
Kalian tahu apa jawaban tuan tersebut? Begini katanya:
"Kamu jangan terus-terusan berada di dunia 'kalau', kamu terlalu cepat memvonis dirimu sendiri, kamu tak akan tahu respon seseorang sampai kamu mengutarakan niatmu, dan selama niatnya baik, tak perlu ragu mengatakannya" kata tuan menjelaskan
"Dan juga, kita ini cuma orang biasa yang tak dapa melihat apalagi membaca isi hati orang lain, tapi tetap gunakan bahasa yang baik dan sopan, bijak dalam memilih kata dan melihat situasi dan kondisi" tambahnya.
Jawabannya cukup melegakan sekaligus menyadarkanku akan sesuatu, bahwa aku terlalu cepat memvonis diri sendiri dengan sesuatu yang belum tentu terjadi.
Rabu, 05 Juli 2023
Pengalaman menjadi satpam
Kamis, 29 Juni 2023
Belajar dari Keponakan
Satu waktu keponakan datang ke rumah. Usianya empat tahun. Anaknya suka bertanya, mungkin semua anak awalnya seperti ini.
Bila aku tak menghiraukan pertanyaannya, mungkin semangatnya untuk mempertanyakan sesuatu akan berkurang, begitu pikirku.
Kujawab dengan bahasa paling sederhana, apakah dia mengerti penjelasanku? Entahlah.
Dari apa yang kupelajari sebelumnya, meskipun anak kecil masih belum begitu mengerti, membumbui kebohongan dan tahayul pada cerita kita merupakan langkah yang keliru.
Jadi, kucoba untuk menjelaskan semua yang ingin dia tahu sebagaimana adanya saja. Kebetulan saat itu idul Qurban, jadi aku harus menjawab pertanyaannya seputar Sapi dan penyembelihannya. Apakah dia mengerti? Entahlah.
Satu hal yang tak kumengerti dari anak ini, bila aku hendak sholat ke masjid, ia selalu ingin ikut.
Awalnya aku senang-senang saja, mungkin ini langkah awal baginya untuk membiasakan sholat, pikirku.
Sebagai tindakan pencegahan, aku bilang padanya, "kalo mau main, di samping om aja, dan jangan berisik", meskipun dia menjawab 'iya', rasanya ucapanku itu masih terlalu kompleks untuk dia mengerti.
Saat ku sholat dia selalu berlarian di sekelilingku, pandangannya menyapu setiap sudut masjid, entah apa yang dicari.
Berjalan di depan orang yang sholat, kupikir itu tidak masalah, namanya juga anak-anak, dia belum mengerti. Tapi tetap saja, sebagai orang yang membawanya, aku merasa bertanggung jawab dan perasaan bersalah setiap kali dia melewati orang yang sedang sholat.
Terkadang dia bergumam ucapan tak jelas, yang bahkan ucapannya itu tak pernah keluar saat aku mengajaknya bicara.
Apakah dia ingin meniru ucapan imam yang sedang baca al-fatihah? Tapi karena lidahnya belum terbiasa, ucapan yang keluar jadi bahasa baru? Entahlah.
Sejauh ini, kupikir 'main' nya keponakanku masih bisa di tolelir oleh jamaah yang lain.
Hingga satu waktu, saat dia ikut sholat disebelahku, ada suara anak kecil, keponakanku langsung berlari ke sumber suara, dan sepertinya dia menemukan teman yang senasib.
Jadilah mereka dua anak kecil di tengah lautan orang dewasa yang sedang beribadah.
Keponakanku jadi lebih aktif, yang tadinya berjalan, kini setengah berlari saat lewat orang sholat, suaranya lebih lantang dan mencoba mengimbangi suara imam, begitu juga kawan barunya.
Untunglah sumber suara itu berada di sebelah kananku, sehingga keponakan tidak perlu melewati jamah sebelah kiri yang selalu merentangkan tangannya saat bocah itu mencoba lewat di depannya.
Mungkin keponakanku menganggu konsentrasinya, dan dia jelas mengganggu konsentrasiku. Karena jamaah ini sudah agak tua, sehingga ketika mengulurkan tangan menahan keponakan, ia mendorong kekuatan di permulaan gerakan, sehingga gerakannya lebih cepat tapi tak terkontrol.
Hal yang buatku khawatir, bila saat tangannya itu bergerak bersamaan dengan keponakanku, sehingga yang niat awalnya ingin menahan langkah keponakan malah memukulnya, karena momentumnya bertemu.
Sehingga akupun menarik anak ini agar terhindar dari tangan jamaah ini. Tapi namanya juga bocah, setelah ku tempatkan di samping, dia langsung berhambur ke temannya lagi.
Selesai sholat, kusuruh dia menghampiriku lalu memeluknya dipangkuanku. Biasanya cara ini sukses untuk menahannya dari bergerak kesana kemari, tapi saat itu tidak.
Setelah kupeluk, dia berontak ingin lepas dan kembali main. Tapi karena kebodohan dan kurangnya wawasan, aku kebingungan untuk menahannya, sehingga kuputuakan untuk langsung mengajaknya pulang, hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya.
Dalam perjalanan pulang, aku sempat terbesit rasa marah dan kesal pada keponakan ini, karena sikapnya lebih dari biasanya karena ada teman dan aku tak mampu menanganinya.
Dan entah mengapa rasanya, perasaan marahku yang hanya sebentar itu sampai pada bocah ini.
Padahal kalau dipikir lagi, kenapa pula aku harus marah, toh dia masih anak-anak, dan belum mengerti apa-apa.
Mungkin sepertinya aku bukan marah pada keponakan, tapi pada diri sendiri karena tidak sanggup menangani kejadian itu.
Akhirnya aku hanya mengira bahwa saat kita mengobrol dengan anak kecil, mungkin sebenarnya sedang bicara dengan diri sendiri.
Saat ucapan kita didasari dengan kasih sayang, ia pun akan menyambutnya, namun saat dorongannya amarah si anakpun seolah enggan mendekat.
Mungkin kesananya, bila semakin lama aku bermain dengan keponakanku ini, aku akan lebih mengenal diriku sendiri.
Minggu, 25 Juni 2023
Zona nyaman × Kemajuan
Sabtu, 24 Juni 2023
Main ke Mall
Sifat dan kebiasaan manusia sungguh beragam. Dimana ia tinggal, dengan siapa dia bergaul, keadaan ekonomi, setidaknya ketiga unsur ini memberi warna yang cukup bagi perilaku seseorang.
Pada awal bulan Juni 2023, aku berangkat dari Garut ke Kota Bekasi menuju rumah Uwa untuk urusan mencari pekerjaan.
Aku bertemu sepupuku, kepribadian kami cukup berlawanan dalam beberapa sisi.
Seperti saat dia mengajakku main ke Mall yang ada di Bekasi.
Bagi orang garut sepertiku, mall adalah tempat asing. Bahkan aku sendiri hampir tidak pernah pergi ke tempat seperti itu.
Sedangkan baginya, main ke mall seperti pergi ke alfamart.
Di dalam mall, dia menawariku mau makan apa, jujur aku bingung, karena dipikiranku makanan-makan disini pasti mahal.
Tapi baginya, makan di mall selayaknya makan di kaki lima. Mungkin karena kultur tempat, disertai ekonomi, pandangan kami tentang makan cukup berbeda.
Bagiku, makan itu pertama cari yang mengenyangkan, lalu murah baru enak. Tapi di benak sepupuku, murah tidak masuk dalam hitungannya.
Akhirnya aku memilih sesuai rekomendasinya saja, makan makanan Korea.
Konsep makan ala Korea disini seperti di alfamart, , kita pilih menunya, dimana makanannya itu memenuhi etalase, bayar kasir baru makan.
Harganya rara-rara diatas tiga puluh ribu, karena menunya cukup banyak aku bingung mau pilih yang mana, nama nama makannya asing ditelingaku.
Saat temanku memilih mrnu ramen, aku pun ngikut saja.
Untuk ramen yang harganya sekitar 40k, rasanya benar-benar biasa. Masih kalah jauh saat aku makan ramrn bajuri di lembang.
Aku tak mengeti mengapa ramen sebiasa ini begitu mahal, porsinya juga kecil, yah memang ada beberapa toping seperti irisan daging, dan telur, tapi itu sedikit sekali. Dari situ, aku baru sadar bahwa ramen Bajuri yang lernah kumakan benar-benar murah, banyak, dan jauh lebih enak dari ini.
Lebih parah sepupuku, kuah ramen miliknya kari, dan saat kucicipi, rasanya seperti mie sedap rasa kari ayam yang harga nya tak akan lebih dari lima ribu perak.
Saat kutanya, "Kok rasanya kayak mie sedap kari?".
Kata dia "Emang kayak gini rasanya."
Aku tak paham lagi sama sepupuku ini, dia tahu rasanya kayak mie sedap, tapi tetap memilih menu itu, sungguh tak masuk akal. Jauh-jauh makan di mall hanya untul makan mie sedap rasa kari itu benar-benar konyol, bodoh, dan pemborosan, menurutku.
Aku makan disana tidak berdua, adik perempuanku juga ikut. Sepertinya dia sama bingungnya denganku saat memilih menu. Aku lupa nama menunya apa, hanya saat coba, ternyata yang dia pesan itu cuma telur dadar tambah kecap ditambah beberapa irisan kol, sungguh konyol.
Maksudku telur dadar seperti ini aku juga bisa bikin sendiri dirumah, gak perlu di mall, dan harga tiga puluh ribuan untuk satu atau dua telur menurutku cukup gila.
Aku curiga, kalau ternyata makanan-makanan yang menumpuk di etalase ini sebenarnya makanan biasa yang hanya dikemas sedemikian rupa hingga tampak baru dan menarik.
Mungkihkah, hanya karena namanya makanan korea, membuat mereka betah disini, meski tau rasanya biasa saja. Dan meja makan disana selalu penuh pengunjung, sungguh aneh.
-
Saling mendoakan bukan saling menuntut, Kita ini saksi bukan jaksa.
-
Anatomi Manusia Manusia terdiri tiga hal: 1. Jasmani /Fisik /Badan Hak nya: Makan dan Minum, agar badan ada kekuatan untuk beraktivitas. Ak...
-
Rencanakan hari esok, agar tidak bingung saat melangkah. Sebelum menutup mata niatkan apa yang akan pertama kau lakukan saat memulai membuk...