Sifat dan kebiasaan manusia sungguh beragam. Dimana ia tinggal, dengan siapa dia bergaul, keadaan ekonomi, setidaknya ketiga unsur ini memberi warna yang cukup bagi perilaku seseorang.
Pada awal bulan Juni 2023, aku berangkat dari Garut ke Kota Bekasi menuju rumah Uwa untuk urusan mencari pekerjaan.
Aku bertemu sepupuku, kepribadian kami cukup berlawanan dalam beberapa sisi.
Seperti saat dia mengajakku main ke Mall yang ada di Bekasi.
Bagi orang garut sepertiku, mall adalah tempat asing. Bahkan aku sendiri hampir tidak pernah pergi ke tempat seperti itu.
Sedangkan baginya, main ke mall seperti pergi ke alfamart.
Di dalam mall, dia menawariku mau makan apa, jujur aku bingung, karena dipikiranku makanan-makan disini pasti mahal.
Tapi baginya, makan di mall selayaknya makan di kaki lima. Mungkin karena kultur tempat, disertai ekonomi, pandangan kami tentang makan cukup berbeda.
Bagiku, makan itu pertama cari yang mengenyangkan, lalu murah baru enak. Tapi di benak sepupuku, murah tidak masuk dalam hitungannya.
Akhirnya aku memilih sesuai rekomendasinya saja, makan makanan Korea.
Konsep makan ala Korea disini seperti di alfamart, , kita pilih menunya, dimana makanannya itu memenuhi etalase, bayar kasir baru makan.
Harganya rara-rara diatas tiga puluh ribu, karena menunya cukup banyak aku bingung mau pilih yang mana, nama nama makannya asing ditelingaku.
Saat temanku memilih mrnu ramen, aku pun ngikut saja.
Untuk ramen yang harganya sekitar 40k, rasanya benar-benar biasa. Masih kalah jauh saat aku makan ramrn bajuri di lembang.
Aku tak mengeti mengapa ramen sebiasa ini begitu mahal, porsinya juga kecil, yah memang ada beberapa toping seperti irisan daging, dan telur, tapi itu sedikit sekali. Dari situ, aku baru sadar bahwa ramen Bajuri yang lernah kumakan benar-benar murah, banyak, dan jauh lebih enak dari ini.
Lebih parah sepupuku, kuah ramen miliknya kari, dan saat kucicipi, rasanya seperti mie sedap rasa kari ayam yang harga nya tak akan lebih dari lima ribu perak.
Saat kutanya, "Kok rasanya kayak mie sedap kari?".
Kata dia "Emang kayak gini rasanya."
Aku tak paham lagi sama sepupuku ini, dia tahu rasanya kayak mie sedap, tapi tetap memilih menu itu, sungguh tak masuk akal. Jauh-jauh makan di mall hanya untul makan mie sedap rasa kari itu benar-benar konyol, bodoh, dan pemborosan, menurutku.
Aku makan disana tidak berdua, adik perempuanku juga ikut. Sepertinya dia sama bingungnya denganku saat memilih menu. Aku lupa nama menunya apa, hanya saat coba, ternyata yang dia pesan itu cuma telur dadar tambah kecap ditambah beberapa irisan kol, sungguh konyol.
Maksudku telur dadar seperti ini aku juga bisa bikin sendiri dirumah, gak perlu di mall, dan harga tiga puluh ribuan untuk satu atau dua telur menurutku cukup gila.
Aku curiga, kalau ternyata makanan-makanan yang menumpuk di etalase ini sebenarnya makanan biasa yang hanya dikemas sedemikian rupa hingga tampak baru dan menarik.
Mungkihkah, hanya karena namanya makanan korea, membuat mereka betah disini, meski tau rasanya biasa saja. Dan meja makan disana selalu penuh pengunjung, sungguh aneh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar