Jumat, 23 Juni 2023

Menghadapi "Ahli Kebatinan"

 Dalam kehidupan, suatu waktu mungkin kau pernah bertemu dengan mereka.

Mereka yang terkesan sudah mempelajari ilmu agama begitu dalam. 

Katanya dalam islam, selain syariat, masih ada ilmu lain yang lebih tinggi. 

Tarekat, Hakekat dan Makrifat. Begitulah biasanya ilmu ini disebut. 

Lalu, apakah disiplin ilmu ini tidak benar?, saya tidak tahu.

Hanya saja, ada orang, dengan alasan mempelajari ilmu ini sampai berani menafikan bahkan meninggalkan ilmu syariat. 

Apakah itu disebabkan disiplin ilmunya atau cara orang memahaminya, saya tidak tahu. Satu yang pasti, meninggalkan syariat jelas salah. 

Bagaimana cara mengenali mereka?,

"Shalat itu kan intinya agar manusia melarang dari perbuatan fahsya dan munkar, jadi kalau kita sedang melakukan perbuatan mencegah dari keji dan munkar, tidak perlu sholat, karena sudah. "

Bila bertemu orang yang berkata dengan konteks kurang lebih seperti ini, mulailah curiga kalau mereka adalah orang disebutkan diatas. Atau biasa disebut orang kebatinan. 

Kalimat ucapannya ini, sekilas terkesan logis, dia seperti menjelaskan 'jika A sama dengan B, maka bila kita mengambil yang B, A nya gugur'.

Meski terkesan benar, sebenarnya yang keliru disini adalah pemisalannya. Karena rumusnya itu bukanA sama dengan B, tapi B bisa ada karena A.

Mencegah perbuatan keji dan munkar (B) bisa terjadi karena sholat(A). Kita (B) ada karena ada Orang tua (A) kita.

Bisakah kita menafikan atau meninggalkan orang tua kita? Bisa saja, tapi apakah itu di ridhoi oleh Sang Pencipta?

Meninggalkan shalat dengan alasan karena sudah dapar mencegah perbuatan keji dan mungkar, sejatinya dia telah mungkar sejak meninggalkan sholat itu sendiri.

Aku tidak bermaksud menyinggung disiplin ilmunya atau orangnya, tapi perilaku atau pemikirannya yang menyatakan bolehnya meninggalkan syariat, apalagi alasannya meninggalkan syariat didasarkan pada dalil Al-Quran dan Hadits.

Padahal sepantasnya, kita itu mengamalkan dalil bukannya mendalilkan amal. 

Dari pengalaman yang secuil, dalam menghadapi orang-orang seperti ini, ladeni saja dengan logika. Karena biasanya mereka juga berargumen dengan logika. Dan biasanya logika yang mereka bawakan bukan buah pikirannya sendiri, sehingga bila kita patahkan, kemungkinan mereka gelagapan cukup tinggi. *

Bila ada yang kurang sependapat, jangan sungkan tulis di komen. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi