Semakin dilawan, daya dobraknya akan semakin kuat.
Saat itu aku sedang shalat magrib berjamaah di suatu masjid.
Jamaahnya cukup banyak, apalagi untuk ukuran masyarakat perkotaan, pikirku.
Sekitar lima atau enam shaf shalat terisi penuh, dengan dominasi oleh orang tua lebih dari 90%.
Orang tua yang kumaksud, mereka yang diatas usia 30-an.
Dan sebagiannya sudah pensiun.
Saat itu shalat memasuki rakaat ketiga, terdengar suara anak kecil sesegukan.
Suara itu berasal dari teras belakang masjid, tempat anak-anak yang biasa mengaji, tapi masih sulit diajak shalat.
Anak kecil tadi ternyata sedang bersitegang dengan temannya. Sepertinya perkelahian mereka hanya sebatas mulut tidak sampai adu jotos.
Sepertinya amarah mulai menguasai anak yang sesegukan tadi, hingga ia melontarkan nama-nama binatang yang biasa keluar ketika marah.
Ditambah, kata-kata yang vulgar, suatu kata yang pernah diucapkan oleh anak yang diberi sepeda oleh Pak Presiden.
Bedanya, anak "seguk" ini tidak salah ucap.
Ditengah keheningan para jamaah yang tengah berada di rakaat ketiga, suara kasar dan vulgar bocah tadi menggema dengan lantang.
Melihat peristiwa ini, aku pribadi mencoba menyimpulkan, bahwa Allah yang Maha Rahman sedang mengingatkan kita.
Bahwa ibadah, atau kebaikan itu harus diwariskan, sekurang-kurangnya kepada anak sendiri.
Rajin dalam beribadah jelas baik, tapi abai akan generasi mendatang tentu bukan langkah yang bijak.
Seperti dalam shalat, kita tidak hanya diperintah untuk "mengerjakan" shalat, tetapi "mendirikan" shalat.
Dan untuk menjaganya tetap berdiri, tentu menyiapkan penerus estafet perjuangan menjadi hal yang mesti.
Wallahu alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar