Satu waktu keponakan datang ke rumah. Usianya empat tahun. Anaknya suka bertanya, mungkin semua anak awalnya seperti ini.
Bila aku tak menghiraukan pertanyaannya, mungkin semangatnya untuk mempertanyakan sesuatu akan berkurang, begitu pikirku.
Kujawab dengan bahasa paling sederhana, apakah dia mengerti penjelasanku? Entahlah.
Dari apa yang kupelajari sebelumnya, meskipun anak kecil masih belum begitu mengerti, membumbui kebohongan dan tahayul pada cerita kita merupakan langkah yang keliru.
Jadi, kucoba untuk menjelaskan semua yang ingin dia tahu sebagaimana adanya saja. Kebetulan saat itu idul Qurban, jadi aku harus menjawab pertanyaannya seputar Sapi dan penyembelihannya. Apakah dia mengerti? Entahlah.
Satu hal yang tak kumengerti dari anak ini, bila aku hendak sholat ke masjid, ia selalu ingin ikut.
Awalnya aku senang-senang saja, mungkin ini langkah awal baginya untuk membiasakan sholat, pikirku.
Sebagai tindakan pencegahan, aku bilang padanya, "kalo mau main, di samping om aja, dan jangan berisik", meskipun dia menjawab 'iya', rasanya ucapanku itu masih terlalu kompleks untuk dia mengerti.
Saat ku sholat dia selalu berlarian di sekelilingku, pandangannya menyapu setiap sudut masjid, entah apa yang dicari.
Berjalan di depan orang yang sholat, kupikir itu tidak masalah, namanya juga anak-anak, dia belum mengerti. Tapi tetap saja, sebagai orang yang membawanya, aku merasa bertanggung jawab dan perasaan bersalah setiap kali dia melewati orang yang sedang sholat.
Terkadang dia bergumam ucapan tak jelas, yang bahkan ucapannya itu tak pernah keluar saat aku mengajaknya bicara.
Apakah dia ingin meniru ucapan imam yang sedang baca al-fatihah? Tapi karena lidahnya belum terbiasa, ucapan yang keluar jadi bahasa baru? Entahlah.
Sejauh ini, kupikir 'main' nya keponakanku masih bisa di tolelir oleh jamaah yang lain.
Hingga satu waktu, saat dia ikut sholat disebelahku, ada suara anak kecil, keponakanku langsung berlari ke sumber suara, dan sepertinya dia menemukan teman yang senasib.
Jadilah mereka dua anak kecil di tengah lautan orang dewasa yang sedang beribadah.
Keponakanku jadi lebih aktif, yang tadinya berjalan, kini setengah berlari saat lewat orang sholat, suaranya lebih lantang dan mencoba mengimbangi suara imam, begitu juga kawan barunya.
Untunglah sumber suara itu berada di sebelah kananku, sehingga keponakan tidak perlu melewati jamah sebelah kiri yang selalu merentangkan tangannya saat bocah itu mencoba lewat di depannya.
Mungkin keponakanku menganggu konsentrasinya, dan dia jelas mengganggu konsentrasiku. Karena jamaah ini sudah agak tua, sehingga ketika mengulurkan tangan menahan keponakan, ia mendorong kekuatan di permulaan gerakan, sehingga gerakannya lebih cepat tapi tak terkontrol.
Hal yang buatku khawatir, bila saat tangannya itu bergerak bersamaan dengan keponakanku, sehingga yang niat awalnya ingin menahan langkah keponakan malah memukulnya, karena momentumnya bertemu.
Sehingga akupun menarik anak ini agar terhindar dari tangan jamaah ini. Tapi namanya juga bocah, setelah ku tempatkan di samping, dia langsung berhambur ke temannya lagi.
Selesai sholat, kusuruh dia menghampiriku lalu memeluknya dipangkuanku. Biasanya cara ini sukses untuk menahannya dari bergerak kesana kemari, tapi saat itu tidak.
Setelah kupeluk, dia berontak ingin lepas dan kembali main. Tapi karena kebodohan dan kurangnya wawasan, aku kebingungan untuk menahannya, sehingga kuputuakan untuk langsung mengajaknya pulang, hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya.
Dalam perjalanan pulang, aku sempat terbesit rasa marah dan kesal pada keponakan ini, karena sikapnya lebih dari biasanya karena ada teman dan aku tak mampu menanganinya.
Dan entah mengapa rasanya, perasaan marahku yang hanya sebentar itu sampai pada bocah ini.
Padahal kalau dipikir lagi, kenapa pula aku harus marah, toh dia masih anak-anak, dan belum mengerti apa-apa.
Mungkin sepertinya aku bukan marah pada keponakan, tapi pada diri sendiri karena tidak sanggup menangani kejadian itu.
Akhirnya aku hanya mengira bahwa saat kita mengobrol dengan anak kecil, mungkin sebenarnya sedang bicara dengan diri sendiri.
Saat ucapan kita didasari dengan kasih sayang, ia pun akan menyambutnya, namun saat dorongannya amarah si anakpun seolah enggan mendekat.
Mungkin kesananya, bila semakin lama aku bermain dengan keponakanku ini, aku akan lebih mengenal diriku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar