Selasa, 27 Juni 2023

Mengatasi Pelaku dan Korban Bullying

Perundungan atau bullying sudah seperti sunatullah di masa-masa sekolah awal.

Bisa saat di SD, SMP atau mungkin SMA, lalu bila posisimu sebagai guru, apa yang harus dilakukan?

Haruskah kita memberi fasilitas kepada si korban untuk membalaskan perbuatan temannya itu?

Atau haruskah kita meminta para pelaku untuk meminta maaf, dan masalah selesai untuk selamanya?, sepertinya tak semudah itu.

Dulu aku mengira disini ada lingkaran setan, karena kalau kita tegur dan memarahi para pelaku dan meminta mereka untuk minta maaf, mungkin saat itu akan beres, tapi apa yang bisa menjamin bahwa esoknya mereka akan berhenti membully?

Ditambah lagi, bila kita hanya meminta si korban untuk memaafkan tanpa membalas perbuatan pelaku kepadanya, seolah kita tutup mata atas tindakan para perundung itu, dan sepertinya akan menyakiti hati si korban. 

Atau katakanlah kita fasilitasi, jadi misal korban sering dipukul, maka kita fasilitasi dan meminta si korban untuk memukul perundung itu satu per satu di depan kita, agar impas sehingga tak ada dendam di kedua belah pihak kedepannya. Apakah bisa seperti ini? Aku pikir tidak, yang terjadi malah esoknya si korban akan di bully lebih parah lagi.

Kau tahu apa yang keliru dari semua ini? Keadilan kepada si korban. Itulah kekeliruannya.

Pola pikir yang menginginkan si korban dapat membalas perbuatan pelaku, mendapatkan keadilan lah yang salah. 

Sekilas kita melihat bahwa si korbanlah satu-satunya yang tersiksa, sebenarnya tidak begitu, pelaku perundungan juga sebenarnya adalah korban. Korban lingkungan yang menimbulkan sifat bengis kepada dirinya sampai berani menyiksa sesamanya.

Setiap pendidik baiknya memiliki visi kedepan untuk kemajuan peserta didiknya, bukan keadilan semu jangka pendek. 

Jadi langkah yang diambil adalah dengan menanyai para perundung seputar kehidupannya dan mencari sumber masalahnya. 

Kemudian memberi pengertian pada si korban bahwa kita harus saling menyayangi, balas dendam terbaik adalah memaafkan, dan memberi tahunya bahwa orang yang merundungnya itu sebenarnya keadaan mereka tidak lebih baik darinya (si korban).

Disamping itu, menjadi korban bullying di sekolah tingkat Sd misalnya, sulit kuberpikir sampai harus kehilangan  atau mengancam nyawa, jadi ada sisi baik agar mental si korban jadi lebih kuat karena tahu rasa sakit, rasa disudutkan, dijauhi, dll.

Kepada pelaku perundungan, setelah menemukan solusi atas masalah mereka, coba terus dekati, dan nasihati sedikit demi sedikit dengan pembawaan penuh rasa kasih bahwa perbuatan itu tidak baik bagi semua pihak, dampak apa yang akan diterima bagi dirinya. 

Bagaimana kalau si perundung berada di posisi sebaliknya sebagai korban. Bangun kesadarannga dengan didasari kasih sayang bukan amarah, demi kemajuan dan perkembangannya kedepan. 

Bila mungkin, membuat mereka (pelaku dan kotban) jadi berteman, bila tidakpun setidaknya, pembullyannya telah berhenti.

Lebih bagus lagi menanmkan pada bekas pelaku itu agar jadi pelindung bila suatu hari ada temannya yang lain yang di rundung. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi