Kamis, 29 Juni 2023

Meaningless

Ada satu fase dalam kehidupan dimana kita menganggap bahwa kehidupan di dunia itu ternyata begitu-begitu saja.

Bila kamu belum pernah merasakannya, barang kali kamu pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, orang yang menganggap hidup itu membosankan, tidak berguna, semua hal yang dikerjakan ternyata begiti saja akhirnya. Tak ada seauatu apapun yang istimewa.

Cara pandang diatas aku menyebutnya Meaningless.

Sepupuku orang yang begini, Ia tak punya semagat atau gairah dalam menjalani hidupnya. Tanpa tujuan, tanpa rencana masa depan, karena dia sudah memganggap bahwa hidup itu gitu-gitu aja. 

"Emangnya mau nyari  apa lagi?"  begitu biasanya dia berkata padaku bila kutanya perihal rencana kedepan.

Dia hanya satu tahun lebih tua dariku, yang saat itu berusia 28 tahun. Dia sudah punya pekerjaan tetap dengan kontrak hingga dia berusia 60an (pensiun).

Belum menikah, karena merasa bahwa wanita itu sumber masalah bukan kebahagiaan, dia berbicara begitu dari pengalamannya. 

Tak memiliki cita-cita atau impian, hobi dia satu-satunya ialah makan. Iya senang mencoba berbagai macam makanan yang ada di daerahnya, karena gajihnya cukup lumayan, dan pengeluarannya pun hanya untuk beli makan.

Aku jelaskan ini semua, hanya untuk memberi tahu, bahwa orang dengan pemikiran Meaningless, bukanlah dia yang kesusahan atau kemiskinan, tapi terkadang mereka yang dalam hidupnya belum mengalami kesusahan yang berarti.

Seperti sepupuku, saat kebutuhan finansial sudah terpenuhi, orang tua yang berada, mungkin hal ini yang membuatnya berpikir bahwa hidup itu biasa-biasa saja, membosankan, karena kebutuhannya telah terpenuhi.

 Sehingga tak perlu lagi baginya untuk bersusah payah untuk mengejar sesuatu, karena merasa semuanya telah ia miliki dan pernah dia alami (padahal pengalaman kerjanya tidak banyak).

Orang seperti ini sering berpandangan bahwa setiap manusia itu berbeda-beda, tak bisa disamakan satu dengan yang lainnya.

Kisah hidup yang berbeda, pengalaman berbeda, rasa sakit yang berbeda, sehingga masalah yang kita alami berbeda.

Sampai sini mungkin kita akan menganggap tidak ada yang keliru dan bisa diterima, tapi dampak dari pemikirannya yang ini ialah:

> hidup masing-masing (apatis)

> kita tak bisa menasihati orang lain, dan orang lain pun tak bisa menasihati kita, dengan dalih,pengalaman kita berbeda.

> sering merasa benar sendiri

Bagiku sikap-sikap ini sangat menghawatirkan, karena akan menghambat perkembangannya.

Saat seseorang menutup diri dari nasihat, dia akan tertinggal, tidak maju, hidupnya stak, tidak ada gairah karena merasa kebenaran yang ia miliki berdasarkan pengalamannya merupakan kebenaran mutlak, dan ini bahaya.

Jadi, menurutku Meaningless itu cukup buruk. Bila kau sedang merasakannya, cobalah untuk merenunginya. 

Kalau memiliki teman yang seperti ini, cobalah yang terbaik untuk menghidupkan gairah hidupnya. 

Karena akupun baru menyadari dan menemukan secara langsung orang dengan cara pandang ini, aku pun tak tahu harus bagaimana, hanya saja dari yang kuperhatikan salah satu benang masalahnya adalah keimanan. 

Hal dasar yang harus dipahami seorang yang beriman adalah bahwa yakin bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini tidak sia-sia, bukan tidak ada gunanya.

Dan hal ini bertolak belakang dengan cara pandang meaningless.

Jadi mungkin cara untuk membantu kita atau teman kita dengan mencoba untuk mulai mengenal islam, iman dan ihsan. 

Apakah ini mudah dilakukan? Wallahualam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi