Jumat, 30 Juni 2023

Guru-guru setengah Gila

Sebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa bukanlah isapan jempol belaka, karena memang ada guru yang seperti beliau-beliau ini.

Guru yang mencurahkan segenap jiwa dan raganya untuk mendidik dan menemani tumbuh kembang peserta didiknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. 

Ingin ku sampaikan beribu terima kasih kepada mereka, semoga mendapatkan tempat disisi Sang Maha Rahman. 

Tapi, kita juga tak bisa menutup mata begitu saja, karena faktanya ada juga orang-orang yang mengaku dirinya guru tanpa menyadari tanggung jawabnya.

Orang-orang yang terlalu berorientasi pada materi (harta), hingga lupa menyiapkan materi pengajaran yang terbaik untuk peserta didiknya.

Mengajar hanya formalitas, yang penting absen, karena kalau tidak absen, berarti uangnya berkurang. 

Apa yang dia bicarakan dengan sesama gurunya bukanlah tentang bagaimana cara meningkatkan perkembangan anak, tapi bagaimana cara mengembangkan isi dompet. 

Sehingga tanggungjawab menilai murid-muridnya dengan jujurpun diabaikan.

Ia berikan nilai lebih dari apa yang bisa didapatkan anak tersebut demi mendapatkan kado dari orang tuanya. 

Bila ada teman guru yang mendapatkan pekerjaan lebih, hatinya tak tenang, iri menggerogotinya, karena merasa orang lain mendapatkan uang lebih banyak darinya. 

Apakah teman-teman mengira aku ini sedang berhayal? Tidak, fakta di lapangan, realitas dalam kehidupan kita memang ada makhluk-makhluk seperti ini yang mengaku dirinya guru dan mencoreng nama guru.

Tak ada sedikitpun niat untuk menghinakan guru, malah aku ingin memberitahukan bahwa ada oknum yang menghina profesi guru dengan begitu masif dan bersembunyi dibalik kedok guru itu sendiri. 

Tapi hal ini pu tak lepas dari peran orang tua murid yang "mendidik" guru seperti ini dengan memberi "hadiah" demi menaikkan nilai anaknya.

Orang tua itu mungkin bilang dia melakukan itu karena cinta kepada anaknya, padahal sejatinya dia sedang membohongi anaknya serta menjerumuskan anaknya ke tempat yang tak seharusnya ia diami. 

Misal, nilai sebenarnya dari si anak tak memenuhi syarat untuk masuk sekolah unggulan, tapi karena orang tua memberi amplop kepada guru, nilainya naik dan masuk sekolah itu. 

Pertanyaannya? Apakah anak tersebut akan mampu berada di tempat yang seharusnya tak ia diami, karena nilai yang didapatnya itu semu. 

Bila niat orang tua memasukan anaknya kesana agar pintar, menurutku ini langkah yang keliru. 

Namun jika niat orang tua memasukkannya ke sekolah unggulan itu untuk harga dirinya sendiri, maka bersiap lah, bisa jadi anak yang dia jadikan alat menaikkan harga dirinya menjadi bumerang dan menjadi alat yang akan menghancurkan harga dirinya kelak. 

Kau menuai apa yang kau tanam. Wallahualam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi