Dalam suatu mimpi, dia memiliki badan yang kuat, mendapatkan senjata seperti pisau daging, dengan mata pisau bergerigi layaknya gergaji.
Ia mengira dengan tubuh dan senjata tersebut mampu menghadapi segala macam kejahatan di distrik yang ia datangi.
Distrik itu dikenal telah menghilangkan orang-orang yang datang kesana.
Dengan percaya dirinya dia berjalan di sekitaran distrik tersebut.
Tak dia temukan keanehan apapun, semuanya tampak normal, orang yang berlalu lalang terhanyut dalam kesibukannya, begitulah yang dia lihat.
Setelah masuk lebih dalam lagi, ia merasakan seperti ada yang mengawasinya.
Sejurus ia menoleh mencoba mencari mata tersebut, satu lengan besar menghantam punggungnya hingga ia pun jatuh pingsan.
Ketika tersadar, ia tengah berada dalam sebuah mobil, tangan dan kakinya terikat, wajah-wajah orang yang ia lalui dijalan tadi mengerumuninya.
Selain dia, ternyata ada seorang lagi dengan kondisi sepertinya.
Setelah ditelisik, ternyata orang itu teman sekolahnya dulu.
Setelah mobil berhenti, mereka berdua diseret keluar oleh orang-orang tadi.
Ketika dia melihat sekeliling, barulah dia sadar bahwa orang-orang ini sedang menggiring mereka berdua ke tempat ritual pemujaan.
Dengan banyak garis-garis hitam yang membentuk suatu gambar serta berserakannya bercak darah, semakin kr inti gambar itu, bercaknya semakin pekat.
'Ah, mungkin disana tempatnya' gumamnya.
Ia mencoba melepsakan ikatan yang membelenggu tubuhnya, namun sia-sia.
Dia baru sadar bahwa kekuatan fisik yang selalu dibanggakannya ternyata tak berguna.
Lalu dia mencari-cari senjata yang tersimpan harapan dirinya itu, tapi pisau gerigi itu telah raib sejak dia terbangun di mobil tadi.
Dengan penuh kekesalan, dia baru paham, bahwa dia telah salah menggantungkan harapan.
Dalam sepersekian detik itu, air matanya menetes, dengan penuh penyesalan dan perasaan bersalah dia baru mengerti, bahwa dirinya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.
Lalu dia mengalihkan pandangannga pada teman disampingnya dan berkata "Apa kau percaya kuasa Allah?".
Kemudian dalam pandangannya, timbul retakan seperti cermin.
Retakannya semakin merambat dan terus merambat. Hingga tiap keping retakan itu kian kecil dan banyak.
Lalu seperti balon yang hendak meletus, retakan itu mengembang sebentar lalu membuncah, mengjamburkan setiap serpihan ke segala pandang dari pria tadi.
Kemudian pria itu membuka mata, lalu terduduk di tempat tidurnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar