Siang itu aku berjalan diantara rumah-rumah yang berjajar dikiri dan kanan menghadap kearahku.
Diujung persimpangan aku melihat seekor hewan melata, saat itu jarak kami sekitar 60 meter.
Awalnya kukira itu buaya, dengan warna kulit putih kekuningan, tapi saat ia mulai berjalan, ternyata ia lebih mirip kadal dalam versi yang lebih besar.
Taksiranku panjangnya sekitar satu meter. Dia berjalan dari arah rumah sebelah kiri menuju ke rumah di kananku, dengan santai.
Ia berjalan perlahan, tak seperti kadal yang gerakannya cukup gesit. Tapi sepertinya kadal juga akan berjalan santai bila tak sadar ada yang menatapnya atau mendekatinya.
Siang itu kondisi komplek depnaker tempat tinggal pamanku ini sepi. Sebagian sedang bekerja, sebagian memilih berdiam di dalam rumah, mungkin.
Meski ragu campur takut, aku tetap berjalan mendekat ke arah biawak itu, karena warung yang kutuju ada di seberang sana.
Aku berjalan, biawak itupun berjalan ke arah rumah, saat aku tiba di tempat awal melihatnya, dia sudah hilang.
Apakah biawak itu masuk rumah atau ke selokan, aku tak tahu. Tapi jelas aku tahu bahwa disini tadi ada biawak.
Tepat di tikungan, ternyata ada seorang bapak-bapak yang sedang membersihkan daun pohon menggunakan tangga yang tingginya sekitar dua sampai dua setengah meter.
Sambil duduk di tepi tangga, sibapak begitu asyik dengan aktivitasnya. Pertanyaanku, apakah dia sadar bahwa tadi ada biawak sepanjang satu meter melintas tak lebih dari tempatnya.
Kalau dia melihatnya dan bersikap tak acuh, berarti hal ini sudah biasa di komplek ini.
Tapi kalau dia tak melihatnya, berarti hanya aku saja manusia disana yang melihat biawak tersebut. Aku saja manusia yang tahu bahwa ada biawak yang kemungkinan masuk ke rumah atau ke selokan komplek.
Karena aku saja yang melihatnya, ini menjadi masalah, karena jika aku mengingatkan warga sekitar, mereka tak akan mudah percaya, karena aku tak memiliki bukti kuat, yang akhirnya hanya akan menimbulkan keriuhan dan kecemasan warga.
Karena boleh jadi biawak itu telah kembali ke asalnya dan tak keluar lagi.
Tapi bila aku tak memberi tahu, berarti hanya aku saja yang amtahu, dan akan khawatir bila melewati jalanan itu, karena aku tahu disana pernah ada biawak.
Coba saja, bila aku telat berjalan beberapa menit, biawak itu masih akan lewat, tapi aku tak akan melihatnya, sehingga tidak khawatir, dan tak akan muncul ide tentang biawak dalam benakku.
Namun di sisi lain, bila aku tidak tahu padahal disana benar-benar ada biawak dan aku tidak hati-hati dan menurunkan kewaspadaanku, itupun rasanya mengerikan juga.
Lalu bagaimana aku harus bersikap, apakah lebih baik tahu atau tidak tahu, karena keduanya memiliki sisi positif dan negatif juga.
Apapun jawabannya, ini membuktukan bahwa kita tidak berdaya dengan keadaan dan tidak tahu apa-apa. Semuanya serba bisa saja terjadi dan tidak terjadi.
Oleh karenanya, bersandar kepada Dzat yang Maha Tahu, merupakan pilihan paling logis, tepat dan benar.
Wallahu alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar