Jumat, 13 Maret 2020

Cerpen Nonfiksi: Adu Hayam


Prolog
Aku tak mengerti kepada mereka yang senang memelihara ayam. Binatang itu diberi makan tiap hari, dan sebagai bentuk terima kasih, si ayam meninggalkan tai kotok dimana-mana sepaket dengan pembau ruangannya. Mungkin bagi ayam seluruh bumi ini adalah toilet, seperti perokok yang memandang bumi ini adalah asbak.

 Jika melihat untung rugi, terlihat sangat timpang, jika mereka memelihara ayam dengan maksud dimasak jika sudah besar, dan besarnya pengeluaran untuk biaya pakan tiap hari, maka hasilnya rugi besar.

 Dan mereka yang gemar memelihara ayampun memang tak berniat untuk menjadikan peliharaannya itu sebagai lahan usaha, melainkan kesenangan saja. Hanya itu.

Kesenangan? Sungguh aku tak mengerti dimana letak kesenangannya. Yang ada menghabiskan uang, waktu dan tenaga, serta memberi kita “ranjau” disana sini.

Begitulah pemikiran bodohku kala itu, hingga akhirnya bertemu saudara yang kebetulan senang memelihara ayam. 

Ternyata oh ternyata, setelah sedikit menyelami dunia ayam, aku merasa menjadi orang paling buruk dengan pemikiran yang terbatas pada dunia kasar. Sungguh banyak sekali hal yang mampu kita renungi dari mereka. 

Karena begitu banyak sisi, aku akan mencoba membaginya ke dalam beberapa tema,  dan yang ingin kuceritakan pertama kali adalah perihal “Adu Hayam”.

Adu Hayam
Dalam ilmu Psikologi, kebutuhan yang paling utama manusia itu bukan makan, minum, pakaian, tempat tigggal, ataupun kasih sayang. Kebutuhan yang utama adalah Eksistensi diri, pengakuan diri, seseorang akan rela menggelontorkan uang berapa saja, melakukan apa saja, asal nama baiknya tidak tercoreng? Benarkan? 

Dalam dunia ayampun begitu, eksistensi diri adalah yang utama. Namun berbeda dengan manusia yang pergerakannya sulit diduga, penuh muslihat dan tipu daya dalam mencapai eksistensi. Cara yang dipakai ayam sangat jelas, tegas, dan jujur. Yaitu lewat pertarungan. 

Jika kamu pernah melihat ayam bertarung dan pemiliknya hanya memperhatikan, lalu kamu beranggapan bahwa pemiliknya kejam, tidak berprikehewanan, kamu keliru.
Kalau dibenakmu timbul pertanyaan, 

“Kok ayamnya gak dipisahin sih, jahat amat?”
“Ayamnya udah berdarah gitu kok malah diliatin aja sih, bener-bener gak punya hati,”. 
Dan pertanyaan-pertanyaan lain serupa ini, sebaiknya kamu lihat lebih dekat. 

Pertarungan ayam, bukanlah keinginan si pemilik (kecuali di tempat adu ayam).  Jika di sebuah peternakan ada ayam yang tiba-tiba beradu, itu murni keinginan ayam tersebut. Untuk apa? Jelas untuk eksistensi, untuk menentukan siapa yang lebih kuat, baik secara fisik maupun mental. 

Sebagai manusia, kita tak akan mampu menghentikan mereka. Tidak percaya, coba saja. Bila kucing berantem mungkin tinggal kita siram. Ayam tidak. Saat mereka beradu nyali, kita diacuhkan, diabaikan, dianggap tiada.

Mungkin bisa saja kita memisahkannya dengan memasukkannya ke dalam kandang, tapi itu hanya sementara. Saat mereka bertemu muka kembali, hasrat bertarung akan timbul, karena sebelum ada yang mengaku kalah, mereka akan terus bertarung, peduli setan kehilangan banyak darah, kalau perlu salah satunya harus menjadi arwah.

Bagi ayam, pertarungan itu segalanya, kehormatan, rasa malu bahkan nyawa, mereka pertaruhkan disana. 

Lalu jika kita, manusia, dengan sekonyong-konyongnya mengganggu pertandingan suci itu, berusaha jadi penyelamat dengan memisahkannya, sejatinya kita telah menodai upacara sakral mereka.

Jadi, siapa sebenarnya yang tak berprikehewanan, siapa yang tidak menghargai adat istiadat setempat?

Tapi terkadang, untuk menentukan yang terkuat, tak harus sampai adu fisik, cukup saling tatap, adu “sima”, dan keluarlah sang juara.  

Menjadi Sang Juara, menjadi yang terkuat, berarti dia telah berhasil menaklukan seluruh ayam yang ada disana. Adapun ada yang peringkat kedua, berarti dia telah mempecundangi semua ayam kecuali sang juara, dan begitulah seterusnya urutan kasta di dunia ayam.

Kapan ayam akan bertarung? Biasanya saat pertama kali bertemu. Pertandingan mereka mungkin hanya sekali, tapi bersifat abadi. Sekali menjadi pemenang, selamanya diakui begitu, berlaku juga pada yang kalah. 

Namun ada suatu kondisi,  dimana si pecundang berani menantang kembali sang juara, yaitu saat makan, lebih tepatnya saat lapar. Dalam keadaan perut kosong, loser bisa saja lupa diri, lupa dirinya pernah dikalahkan, khilaf jika dia lebih lemah. 

Makannya tak heran, jika saat pemberian pakan, perilaku ayam-ayam sedikit lebih gesit, terasa lebih bringas, sifat mereka menjadi lebih bersemangat, lebih berani dari seharusnya. berlomba-lomba dengan yang lain untuk dapat makan. Berdesakan, saling sikut, saling patuk, yang kuat menjitak yang lemah agar menyingkir, yang kecil curi-curi makan saat yang lebih besar lengah.

Tunggu sebentar, bukankah sifat demikian mengingatkan kita akan seseorang? Yah benar, itu mirip seperti kita, manusia. Saat kita lapar, ketika membahas perihal makanan, bukankah kita tak beda jauh dari ayam-ayam tadi? 

Dalam pekerjaan misalnya, tak jarang ditemukan mereka yang saling menjatuhkan, saling menyebar fitnah, yang kuat menindas yang lemah, yang lebih punya kuasa lebih memiliki lebih banyak ruang, dll. Untuk apa semua itu dilakukan, yah, benar lagi, untuk makan, titik. 

Mungkin hanya karena kita memiliki akal, kita mampu mengontrol perilaku, tindakannya lebih terencana, lebih samar, lebih soft, lebih smooth.

Tapi bisa juga kita membobol segala batasan yang ada, norma yang terkumpul dalam agama, negara ataupun keluarga kita labrak semua, hanya untuk memenuhi isi perut. 

Hingga akhirnya tetap saja akan bertemu pada suatu kalimat “lebih mulia dari malaikat, atau lebih buruk dari hewan”.

Ada situasi lain yang memungkinkan ayam untuk beradu. Yaitu jika ada ayam baru, datang keluarga baru. Murid baru. Setiap ada ayam baru yang masuk ke peternakan, tidak bisa tidak, dia pasti bertarung, memperjelas posisi, mengukur kekuatan. Dan itu semua bukan keinginan si peternak, tapi sudah menjadi hukum adat bagi bangsa ayam. 

Perilaku terhadap anak baru seperti ini, sejauh pengalamanku tak sering ditemui di kehidupan manusia. Tapi, kalimat “Sejauh apa kemampuan anak ini?” pernahkah terbesit di pikiranmu saat ada murid baru??

Bersusah payah, bersimbah darah agar menjadi juara jelas bukan perbuatan mudah. Tapi  setidaknya, semua kesulitan itu akan sedikit terobati, karena menjadi juara berarti menjadi idola, dan menjadi pendamping idola adalah idaman setiap betina (mirip di kita gak?). Yah begitulah hukum alamnya. Betina hanya melirik yang terbaik.

Namun sebagaimana obat yang memiliki efek samping.  Dalam titel “yang Terkuat” tersembunyi  gelar “yang Tersendiri”. Menjadi yang teratas, secara otomatis menjadikannya minoritas. Dan sebagaimana yang kita ketahui bersama, kata minoritas identik dengan yang sedikit, yang sedikit dianggap berbeda, dan yang berbeda hanya akan berteman sunyi. Menjadi yang terhebat berarti siap  menjalani hari-hari penuh bising keheningan.
Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi