Prolog
Aku tak mengerti kepada mereka yang senang memelihara ayam.
Binatang itu diberi makan tiap hari, dan sebagai bentuk terima kasih, si ayam meninggalkan
tai kotok dimana-mana sepaket dengan pembau ruangannya. Mungkin bagi
ayam seluruh bumi ini adalah toilet, seperti perokok yang memandang bumi ini
adalah asbak.
Jika melihat untung
rugi, terlihat sangat timpang, jika mereka memelihara ayam dengan maksud
dimasak jika sudah besar, dan besarnya pengeluaran untuk biaya pakan tiap hari,
maka hasilnya rugi besar.
Dan mereka yang gemar
memelihara ayampun memang tak berniat untuk menjadikan peliharaannya itu
sebagai lahan usaha, melainkan kesenangan saja. Hanya itu.
Kesenangan? Sungguh aku tak mengerti dimana letak
kesenangannya. Yang ada menghabiskan uang, waktu dan tenaga, serta memberi kita
“ranjau” disana sini.
Begitulah pemikiran bodohku kala itu, hingga akhirnya
bertemu saudara yang kebetulan senang memelihara ayam.
Ternyata oh ternyata, setelah sedikit menyelami dunia ayam,
aku merasa menjadi orang paling buruk dengan pemikiran yang terbatas pada dunia
kasar. Sungguh banyak sekali hal yang mampu kita renungi dari mereka.
Karena begitu banyak sisi, aku akan mencoba membaginya ke
dalam beberapa tema, dan yang ingin
kuceritakan pertama kali adalah perihal “Adu Hayam”.
Adu Hayam
Dalam ilmu Psikologi, kebutuhan yang paling utama manusia
itu bukan makan, minum, pakaian, tempat tigggal, ataupun kasih sayang.
Kebutuhan yang utama adalah Eksistensi diri, pengakuan diri, seseorang akan
rela menggelontorkan uang berapa saja, melakukan apa saja, asal nama baiknya
tidak tercoreng? Benarkan?
Dalam dunia ayampun begitu, eksistensi diri adalah yang
utama. Namun berbeda dengan manusia yang pergerakannya sulit diduga, penuh
muslihat dan tipu daya dalam mencapai eksistensi. Cara yang dipakai ayam sangat
jelas, tegas, dan jujur. Yaitu lewat pertarungan.
Jika kamu pernah melihat ayam bertarung dan pemiliknya hanya
memperhatikan, lalu kamu beranggapan bahwa pemiliknya kejam, tidak
berprikehewanan, kamu keliru.
Kalau dibenakmu timbul pertanyaan,
“Kok ayamnya gak dipisahin sih, jahat amat?”
“Ayamnya udah berdarah gitu kok malah diliatin aja sih,
bener-bener gak punya hati,”.
Dan pertanyaan-pertanyaan lain serupa ini, sebaiknya kamu
lihat lebih dekat.
Pertarungan ayam, bukanlah keinginan si pemilik (kecuali di
tempat adu ayam). Jika di sebuah
peternakan ada ayam yang tiba-tiba beradu, itu murni keinginan ayam tersebut.
Untuk apa? Jelas untuk eksistensi, untuk menentukan siapa yang lebih kuat, baik
secara fisik maupun mental.
Sebagai manusia, kita tak akan mampu menghentikan mereka. Tidak
percaya, coba saja. Bila kucing berantem mungkin tinggal kita siram. Ayam
tidak. Saat mereka beradu nyali, kita diacuhkan, diabaikan, dianggap tiada.
Mungkin bisa saja kita memisahkannya dengan memasukkannya ke
dalam kandang, tapi itu hanya sementara. Saat mereka bertemu muka kembali,
hasrat bertarung akan timbul, karena sebelum ada yang mengaku kalah, mereka
akan terus bertarung, peduli setan kehilangan banyak darah, kalau perlu salah
satunya harus menjadi arwah.
Bagi ayam, pertarungan itu segalanya, kehormatan, rasa malu
bahkan nyawa, mereka pertaruhkan disana.
Lalu jika kita, manusia, dengan sekonyong-konyongnya
mengganggu pertandingan suci itu, berusaha jadi penyelamat dengan memisahkannya,
sejatinya kita telah menodai upacara sakral mereka.
Jadi, siapa sebenarnya yang tak berprikehewanan, siapa yang
tidak menghargai adat istiadat setempat?
Tapi terkadang, untuk menentukan yang terkuat, tak harus
sampai adu fisik, cukup saling tatap, adu “sima”, dan keluarlah sang
juara.
Menjadi Sang Juara, menjadi yang terkuat, berarti dia telah
berhasil menaklukan seluruh ayam yang ada disana. Adapun ada yang peringkat
kedua, berarti dia telah mempecundangi semua ayam kecuali sang juara, dan
begitulah seterusnya urutan kasta di dunia ayam.
Kapan ayam akan bertarung? Biasanya saat pertama kali
bertemu. Pertandingan mereka mungkin hanya sekali, tapi bersifat abadi. Sekali
menjadi pemenang, selamanya diakui begitu, berlaku juga pada yang kalah.
Namun ada suatu kondisi,
dimana si pecundang berani menantang kembali sang juara, yaitu saat
makan, lebih tepatnya saat lapar. Dalam keadaan perut kosong, loser bisa
saja lupa diri, lupa dirinya pernah dikalahkan, khilaf jika dia lebih lemah.
Makannya tak heran, jika saat pemberian pakan, perilaku
ayam-ayam sedikit lebih gesit, terasa lebih bringas, sifat mereka menjadi lebih
bersemangat, lebih berani dari seharusnya. berlomba-lomba dengan yang lain
untuk dapat makan. Berdesakan, saling sikut, saling patuk, yang kuat menjitak
yang lemah agar menyingkir, yang kecil curi-curi makan saat yang lebih besar
lengah.
Tunggu sebentar, bukankah sifat demikian mengingatkan kita
akan seseorang? Yah benar, itu mirip seperti kita, manusia. Saat kita lapar,
ketika membahas perihal makanan, bukankah kita tak beda jauh dari ayam-ayam
tadi?
Dalam pekerjaan misalnya, tak jarang ditemukan mereka yang
saling menjatuhkan, saling menyebar fitnah, yang kuat menindas yang lemah, yang
lebih punya kuasa lebih memiliki lebih banyak ruang, dll. Untuk apa semua itu
dilakukan, yah, benar lagi, untuk makan, titik.
Mungkin hanya karena kita memiliki akal, kita mampu
mengontrol perilaku, tindakannya lebih terencana, lebih samar, lebih soft,
lebih smooth.
Tapi bisa juga kita membobol segala batasan yang ada, norma
yang terkumpul dalam agama, negara ataupun keluarga kita labrak semua, hanya
untuk memenuhi isi perut.
Hingga akhirnya tetap saja akan bertemu pada suatu kalimat
“lebih mulia dari malaikat, atau lebih buruk dari hewan”.
Ada situasi lain yang memungkinkan ayam untuk beradu. Yaitu
jika ada ayam baru, datang keluarga baru. Murid baru. Setiap ada ayam baru yang
masuk ke peternakan, tidak bisa tidak, dia pasti bertarung, memperjelas posisi,
mengukur kekuatan. Dan itu semua bukan keinginan si peternak, tapi sudah
menjadi hukum adat bagi bangsa ayam.
Perilaku terhadap anak baru seperti ini, sejauh pengalamanku
tak sering ditemui di kehidupan manusia. Tapi, kalimat “Sejauh apa kemampuan
anak ini?” pernahkah terbesit di pikiranmu saat ada murid baru??
Bersusah payah, bersimbah darah agar menjadi juara jelas
bukan perbuatan mudah. Tapi setidaknya,
semua kesulitan itu akan sedikit terobati, karena menjadi juara berarti menjadi
idola, dan menjadi pendamping idola adalah idaman setiap betina (mirip di kita
gak?). Yah begitulah hukum alamnya. Betina hanya melirik yang terbaik.
Namun sebagaimana obat yang memiliki efek samping. Dalam titel “yang Terkuat” tersembunyi gelar “yang Tersendiri”. Menjadi yang
teratas, secara otomatis menjadikannya minoritas. Dan sebagaimana yang kita
ketahui bersama, kata minoritas identik dengan yang sedikit, yang sedikit
dianggap berbeda, dan yang berbeda hanya akan berteman sunyi. Menjadi yang
terhebat berarti siap menjalani
hari-hari penuh bising keheningan.
Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar