Rabu, 11 Maret 2020

Cerpen Fiksi: Angkot




 “Tak ada yang lebih nikmat di hari libur, selain duduk di teras, menikmati sejuknya aroma pagi, apalagi jika ditambah secangkir kopi.”gumamku dalam hati. Sambil melihat kendaraan yang lalulalang, tak sengaja kulihat angkot itu, yah tak salah lagi. Hahaha.  Entah kenapa tiba-tiba kuteringat kisah ini. Kisah yang setiap bagiannya begitu menyenangkan pun memilukan dan menyakitkan.
Berdua dengannya, duduk bersebelahan di dalam angkot, sambil sesekali menatapnya, tak pernah berhenti ku mengucap syukur telah memilikinya. Gadis bersahaja yang mau-mau saja diajak main diantar kendaraan ini. Karena sepengetahuanku, di zaman sekarang, perempuan akan sudi diajak kencan jika sekurang-kurangnya dijemput pakai motor. Sedangkan dia, sedikitpun tak mengeluh saat kuajak menggunakan angkutan kota ini.
Karena jaraknya yang lumayan jauh, jurusan StHal – Lembang selalu dipadati penumpang. Ada keasyikan tersendiri saat menaiki transportasi ini. Dengan letak kursi saling berhadapan, saling pandang menjadi hal yang tak dapat dihindarkan. Memandangi satu persatu wajah penumpang lain, mengamati raut wajahnya, menerka-nerka, apa sebenarnya yang mereka pikirkan dalam keadaan seperti ini.
Ada yang senyum-senyum sendiri sambil memandangi layar smartphonenya. Aku berani bertaruh dia sedang dirayu oleh kakak kelasnya. Ada juga yang terus memandang kearah depan, dengan badan tegap dan kepala sedikit menengadah juga dihiasi sedikit kerutan di dahi. Meskipun mulutnya tak bersuara, kudengar jelas teriakan dari wajahnya, bahkan mengumpat akan lamanya perjalanan.  Yang lainnya, yang duduk paling dekat dengan kaca belakang, ia memandangi pengendara sepeda motor yang tepat di belakang angkot kami, pengendara itu pun menatapnya balik, keduanya saling pandang dengan tatapan masa bodo, pada hal itu, aku sungguh tak tahu siapa yang tak sopan dan tak tahu malu. Lalu ada juga dua orang yang terus mengobrol, yang mau tak mau harus kudengarkan, sampai aku tau duduk permasalahan mereka dan tak tahan ingin memberikan solusi, namun tentu saja tak kulakukan.
Aku sendiri, terus saja membisu sambil mengawasi takut-takut ada pria tak tau diri memandang genit kepada orang disampingku. Satu per satu penumpang turun, hingga menyisakan kami bertiga. Aku dia dan Pa Supir. Sekarang aku lebih berani untuk mengajaknya bicara, tentang apa saja, asalkan bisa sambil menatap parasnya.
Sang senja perlahan hilang dari pandangan, berganti gelap yang datang mendekap. Sedangkan kami masih disini, tertahan. Sungguh ku ingin seperti ini seterusnya, hanya berdua dengannya, yah meskipun secara teknis bertiga, namun seperti mengerti dengan keadaan kami, sang supir seolah tak menghiraukan kami sedikitpun. Disaat seperti ini, ku teringat pada supir taxi yang membawa turis terus berputar-putar demi meninggikan tarifnya. “Ayolah, putar lagi pa supir, carilah jalan paling lama,  biarkan kami berduaan lebih lama lagi.” pintaku dalam hati. Dan seakan seluruh makhluk tahu keinginanku, tak ada satupun penumpang lain yang naik.
Habis bahan obrolan, kami pun mengabadikan momen itu, meskipun handphone ini kameranya buruk, ditambah langit yang sudah menghitam, terkadang aku berpikir apa sih yang kita abadikan ini, karena baik wajahku maupun wajahnya, di layar itu sudah tak jelas. Namun kami asyik saja, seolah dipotret oleh kamera DSLR keluaran terbaru.
Setiap mengingat momen itu, aku selalu tertawa, betapa bodohnya aku waktu itu. Pendidikan agama yang ku emban, peringkat pertama yang tak mau lepas dari namaku, semuanya tak mampu menyadarkanku. Seringkali teman-teman pondok menasihati tentang terlarangnya hubungan ini, banyak juga yang menyindir, sampai-sampai ada juga yang memberiku julukan santri gadungan. “Terserahlah mereka mau ngomong apa, mereka tak pernah tau rasanya hidup tanpa orang tua dan menumpang di rumah orang. Selama ini tak ada yang benar-benar memberiku perhatian kecuali dia.” pikirku kala itu.
Saking lamanya di dalam mobil krem itu, aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Hingga akhirnya kuberanikan diri, untuk meluapkan keinginan terbesar itu padanya. Sebuah kalimat yang terus menggantung dipikiran, sangat mengganggu, apalagi saat hendak tidur.
“Lisa, saat aku lulus dan mendapat pekerjaan nanti, tunggulah, aku akan meminangmu dengan mahar dari keringatku sendiri!”
Wajahnya seketika memerah, tak ada jawaban apapun darinya, hanya tersenyum sambil memalingkan tatapannya. Dan ku anggap itu sebagai jawaban “Ya”.
Di dalam angkot, “kami” ukir janji suci itu. Entah pa supir dengar atau tidak, yang pasti, kendaraan ini akan menjadi saksi dihadapan Tuhan nanti. Sungguh kenangan yang tak mungkin terlupakan, sekaligus memberiku kekuatan baru untuk berusaha lebih keras dalam menjalani hidup.
Impian terbesarku, bukan jadi miliader, bukan juga menjadi orang paling terkenal di bumi pertiwi, tapi cukup dengan menghabiskan sisa usia dengannya. Karena sudah terbukti, kebahagiaan sejati tak akan ditemukan dalam kelebihan harta maupun ketenaran, melainkan saat kau menemukan sesosok makhluk yang mampu memahami dan menerima sebagamana adanya dirimu.

“Hey.. Rudi Kusuma, ngelamun aja lo!” kata temanku sambil duduk dan meletakkan kopinya diatas meja.
“Siapa yang ngelamun,” Jawabku ketus, karena dikagetkan seperti itu.
“Lo serius  mau dateng ke nikahan Lisa?” tanya temanku.
“Iya, emangnya kenapa?”
“Gak papa.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi