Selasa, 03 Maret 2020

Cerpen Nonfiksi: Tragedi Dano



Final liga champion, sebuah laga yang selalu menuntut perhatian. Bagaimana tidak, disinilah kita akan menemukan sebuah klub sepak bola terbaik dan pemain terbaik dunia di tahun itu. Dari seluruh pemain sepak bola yang ada di muka bumi ini, merekalah kandidat teratas untuk menyabet gelar “terbaik”. 

Dengan fakta demikian, wajar bilamana bukan cuma mereka yang suka bermain bola yang menantikan pertandingan ini. Dan mereka akan menyempatkan waktunya yang begitu padat, hanya untuk menonton pertandingan 2 x 45 menit ini. Meskipun keadaan mereka “sepertinya” tidak memungkinkan. Mereka akan mencoba menerobos tembok kemustahilan itu. dan itu pula yang terjadi padaku.
Aku masih ingat, saat itu tahun 2012, dua klub yang akan beradu gengsi adalah Bayer Munchen dari Jerman melawan Chelsea FC dari Inggris. Dan aku, yang saat itu kebetulan sedang duduk di kelas dua  Muallimien (setingkat SMA), yang kebetulan sedang bersekolah di sebuah pesantren modern, dan kebetulan tinggal dipondok sehari-harinya, dan kebetulan menjabat sebagai wakil ketua Asrama, dan kebetulan menjabat sebagai bidang Dakwah di organisasi RG (setingkat OSIS), ingin sekali menonton pertandingan ini.

Tentu saja, aku tak berani pergi memanjat dinding sekolah di tengah malam, mengitari pematang sawah, mencari mushola kecil untuk sekedar membersihkan sisa-sisa lumpur lalu mencari warung pinggir jalan yang buka 24 jam, kalau sendiri

Berpegang pada falsafah lidi, yang jika satu mudah patah, namun akan menjadi kuat jika diperbanyak, akupun mengutarakan keinginan menonton ini pada teman-teman asramaku (masih tanpa rencana apa-apa). Dari sekian banyak teman, terjaringlah tiga orang yang memiliki minat yang sama dengan latar belakang agak mirip-mirip. 

Mari aku perkenalkan satu persatu nama gerombolan ini.
We-em, sebut saja demikian, dia merupakan pengamat bola, namun kakinya jarang bersentuhan dengan bola, sekalinya bermain, sebaiknya kamu menyingkir jika ingin kakimu selamat , dia menjabat sekretaris  RG (setingkat sekretaris OSIS). 

Lalu ada Karyo, ini nama panggilannya, karena mirip tokoh Karyo diacara Sinetron Komedi “Suami-suami takut istri”.  Dia diberi amanah sebagai Ketua Asrama atau kami biasa menyebutnya Naqib.
Dan yang terakhir ada Blek, tentu penamaan ini karena kulitnya. Dia hampir sama sepertiku, suka bermain bola, baik di dunia nyata maupun dunia virtual. Menjabat sebagai Keamanan di asrama juga sebagai Bidang Kaderisasi di organisasi RG. 

Bisa kalian bayangkan, apa yang akan terjadi pada sekolah ini, jika penampuk kekuasaannya seperti kami ini. Orang-orang yang gemar membuat aturan, namun kala itu mencoba untuk menerobos aturan mereka sendiri. Namun, yang ada dipikiran kami kala itu, “kalau bukan sekarang, kapan lagi”( mungkung kita yang menjabat). Itulah tekad tersirat diantara kami berempat.  Dan sekarang saatnya mengatur rencana.

Di sekolah kami, sama seperti sekolah lainnya, tentu ada yang namanya penjaga sekolah sebut saja Pak Akir. Yang untungnya, diantara tim kami, We-em, sudah cukup kenal dengannya. Meskipun kenal, tentu saja kami tidak bisa meresikokan misi ini dengan memberitahu Pak Akir secara blak-blakan. Tapi setidaknya, We-em tahu betul dengan cara kerja Pak Akir, sehingga kami bisa memilih waktu yang tepat dengan saat dia tak ditempat. 

Sekolah kami dikelilingi hamparan sawah, dari sisi kiri, kanan dan belakang semuanya sawah, dan hanya lewat gerbang depanlah, yang langsung terhubung dengan jalan raya, sedangkan rumah penduduk berada di radius paling dekat dua ratus meter dari sini. Melalui jalan depan jelas tidak mungkin, dari sisi kanan juga sama, karena ada anjing penjaga, belakang apa lagi, kami harus loncat dari lantai tiga jika memaksakan diri lewat belakang, untungnya kami masih sayang nyawa. Satu-satunya celah adalah sisi sebelah kiri, karena disana ada bangunan  yang belum jadi dan masih satu lantai. 

Tepat tengah malam kami memulai aksi. 

“Gimana persiapannya, beres?” tanyaku kepada yang lain.
“Aman.”
“Sip.”
“Beres.”

Jawab mereka dengan penuh keraguan. Persiapan yang kumaksud bukan hal rumit berupa alat-alat pelarian diri, melainkan uang yang nantinya dipakai untuk membeli jajanan, dan yang lebih penting persiapan mental kami.

 Mau bagaimanapun, sampai disini, kami masih berusaha menguatkan diri masing-masing untuk tindakan gila ini. Semua ini merupakan hal baru bagi kami, memang kabur dari Asrama bukan hal baru, namun biasanya itu kami lakukan di siang hari atau sore hari, tidak dengan tengah malam begini. Jantungku berdegup kencang setiap kali melangkah, sepertinya merekapun sama. 

Kami mulai menaiki kelas yang nantinya akan tersambung dengan bangunan belum jadi tadi. Sebisa mungkin, kami bergerak tanpa meninggalkan suara,meski keringat dingin yang membanjiri tak kunjung surut. 

Hingga tiba saatnya di bangunan itu, satu persatu dari kami mulai turun dan langsung menginjakkan kaki dipematang sawah. Dinding itu hanya setinggi dua meter, sehingga bila kami mengambil posisi seperti mau memanjat, kami hanya perlu loncat sekitar satu meter. Aku duluan turun, aman. Diikuti Karyo dan We-em, sukses. Dan saat Blek menyusul, baru saat dia dalam posisi kedua tangan memengang kedua tepi tembok dan belum sempat membuat kuda-kuda untuk loncat, tembuk yang ada dalam pegangannya hancur, dan itu mengakibatkan dia jatuh terlentang di tengah kubangan lumpur. Kami yang menyaksikan itu, hampir saja tergelak. Untung mampu kami tahan, dan tahap pertamapun sukses. Dengan bonus lumpur yang menyelimuti Blek. 

Dalam rencana kami, seharusnya dari sini kami langsung mencari warung, namun karena melihat kondisi Blek yang bermandikan lumpur, kamipun berpikir keras mencari tempat yang aman untuk bersih-bersih, agar penampilan Blek sedikit lebih layak untuk dibawa ke warung. 
Sebagai orang yang punya koneksi luas, We-em teringat Kacung nya(baca: adik kelas yang ia didik langsung {maksudnya dijajah}) .

“Oh iya, Kita ke tempat Kacung Salman aja dulu, di Mushola kecil dekat sini” begitu katanya.
“Ide bagus.” Jawab Karyo. 

Kamipun sepakat untuk tempat peristriahatan selanjutnya, Mushola Dano. 

Setelah kaki kami kenyang menginjak-nginjak pematang sawah, akhirnya tiba di jalan raya. Kami berjalan sekitar dua ratus meter untuk tiba dimushola yang dimaksud. Sebelum kami bisa sampai di mushola, kami harus melewati gerbang besi yang sepertinya terkunci. Sehingga mau tak mau kami memanjat pagar dinding di sampingnya.

Malam itu begitu sunyi, dan perlu diingat, sampat pada detik ini, perasaan kami sudah sedikit tenang, rasanya kami sudah bisa menguasai medan. Sehingga saat hendak memanjat, aku begitu percaya diri, dan memang tidak terjadi apa-apa. We-em memanjat duluan, karena dia yang paling tahu lokasi, diikuti Blek,  mungkin dia tak ingin jadi sial lagi karena diposisi terakhir seperti tadi. Lalu aku ikut memanjat. Saat kaki menapaki halaman mushola, aku langsung berjalan mengikuti We-em dan Blek yang sudah jalan duluan. Mungkin jarak dari We-em dan Blek hanya lima meter, begitupun jarak Blek dan aku, sehingga langkah kakinya masih bisa kurasai. 

Beberapa waktu berselang, aku mulai sadar, kalau akau tak mendengar langkah kaki Karyo, yang seharusnya tepat berada dibelakangku. Saat kulirik kebelakang, ternyata memang tidak ada siapa-siapa, Karyo tidak ada disana, dia menghilang.
Ketika aku benar-benar yakin, bahwa dia tak ada, aku langsung memberi sinyal kepada yang didepan.

“We-em, Blek, si Karyo ngilang!!” bisikku.
“Wah, yang bener!” sambut Blek.
“Iya nggak ada anjir,” kata We-em sambil berbalik.

Aku benar-benar kaget, dan sepertinya merekapun sama. Kamipun mencoba kembali ke tempat terakir kali melihatnya, yaitu di pagar dinding tadi, yang jaraknya mungkin sekitar tujuh puluh meter dari tempat kami berdiri.  Setibanya disana, kami melihat sesosok yang kami kenali, dalam posisi berjongkok sambil menghadap ke jalan raya, Karyo. 

Aku berpikir keras, mencari alasan yang logis, mengapa dia tidak mengikuti kami dan malah berjongkok disana seperti patung. 

“Yo, Karyo..!!” seru Blek, setengah berbisik. Karyo tetap diam.
“Karyo, ngapain disitu?” tanya We-em keheranan. Karyo masih diam.
“Apa jangan-jangan dia kesambet.” Kataku spontan.  Dan Karyo masih saja diam. 

Perasaan kami campur aduk kala itu, antara panik, kaget, khawatir dan merasa iba. Tidak kami sangka, misi ini harus memakan tumbal. Dan tumbal itu adalah Karyo. Aku tak menyangka hidupnya akan senaas itu, mungkin karena ia pemimpin asrama, sehingga dia yang paling pantas terkena murka Ustad. 

Saat kami masih dirundung kebingungan, dari kejauhan dari sebrang jalan dari arah pukul 10, terlihat sebuah cahaya menyorot kearah kami. Awalnya kami benar-benar tidak tahu cahaya apa itu, sempat terlintas mungkin itu adalah suatu sosok yang hendak membawa Karyo. Mengerikan. Tapi lama kelamaan, kami sadar, ternyata itu hanya lampu senter yang dibawa oleh seorang pria paruh baya, yang dari penampilannya, mungkin dia sedang meronda. 

“Lagi pada ngapain disini?” kata pria itu. 

Ini hanya pertanyaan biasa, dan wajar. Namun kami yang masih setengah kaget dengan kehadirannya, mencoba kembali mencerna ucapan itu. dan tentu saja kami harus berpikir keras untuk memberikan jawaban sewajar mungkin, setidakmencurigakan mungkin.

“Lagi pada ngapain disini?” katanya sekali lagi. 

Namun kali ini dengan nada sedikit tinggi dengan aroma introgasi. Kami hafal benar aroma ini. Karena kamipun sering mempraktekannya kepada adik kelas yang berulah. 

“Ini pak, kami mau ke tempat temen, katanya lagi sakit, dia tinggal di Mushola” jawab We-em sekenanya, sangat tidak meyakinkan.

“Ah yang bener,” nada pria itu semakin tinggi. Masih tidak percaya, malah semakin mencurigai kami.
Jika kami melontarkan kalimat yang salah sekali lagi, sepertinya dia sudah bersiap untuk meneriaki kami, kami rasai itu. 

“Kartu santri!” celetuk We-em

Kartu Santri? Pikirku, ah benar, itu dia. “Iya Kartu santri, ada yang bawa kartu santri gak?” kataku.
Dalam benakku, mungkin hanya itu satu-satunya jalan agar kami tak dicap sebagai maling.  

Dan sialnya, diantara kami tidak ada yang membawanya. Tentu saja tidak kami bawa. Karena sejak awal kami ingin memberi kesan bahwa kami pemuda biasa yang kebetulan lewat dan ingin menonton bola di warung. Pergi ke mushola, juga dipergoki tukang ronda seperti ini, sungguh jauh dari ekspektasi kami. 

“Kami santri di pesantrennya Ajengan itu pak” kata Blek. Sembari tangannya mengarah ke sekolah kami.

Mungkin Blek menangkap maksudku dan We-em tentang kartu santri.  Dan langsung berkata demikian, dengan membawa nama Ajengan kami yang sudah terkenal di Kota ini, bahkan ke kota lain. Mungkin itu bisa sedikit memberi keyakinan pada si tukang ronda.

“Oh gitu, yaudah hati-hati, tingkah kalian sangat seperti maling saat memanjat tadi.” Katanya, dengan intonasi yang mulai merendah. 

“Yaudah kalau gitu, saya pergi dulu” sambungnya lagi. 

Berbarengan dengan memudarnya cahaya senter, kami menghela napas lega secara bersamaan. Ustad kami memang hebat, kami diselamatkan hanya dengan namanya saja. 
Patung yang sedari tadi diam, kini mulai bangkit. Karyo tidak jadi gila. 

“Gila, aku kaget banget, pas tadi mau manjat, tiba-tiba aja ada lampu senter kearah sini, karena bingung mau ngapain, jadi langsung aja jongkok kayak tadi” . begitulah Karyo menjelaskan pose jongokoknya. Dan alasan dia tak menggubris, karena dia tahu, pria itu sedang mengawasinya, dan hanya kamilah yang tidak sadar pengawasan tukang ronda itu.  tragedi selesai. 

Mungkin We-em seorang cenayang, karena ucapannya tentang “teman yang sakit”, itu benar-benar terjadi. Ketika kami begitu saja masuk mushola (tanpa permisi), kami mendapati seonggok manusia kurus kering sedang tergeletak lemah sambil kedinginan. Saat kusentuh keningnya, suhu badannya lumayan tinggi. 

“Waduh Salman, yang lainnya mana, kok ditinggal sendiri, pasti gak ada yang ngurus kamu sakit yah” kata We-em, seolah hatinya dipenuhi rasa kasihan, dan juga takut. Takut kehilangan salah satu Kacung terbaiknya. 

“Punya indomie gak Man, aku lapar nih,” masih kata We-em. (sepertinya We-em juga sakit).
Dalam keadaan begini, tindakan yang paling layak, sekurang-kurangnya mengurangi beban si sakit, misal dengan membawa makanan, atau membuatkan makanan untuknya. Tapi We-em, dia masih saja pada tindakan seharusnya antara majikan dan Kacung, memeras. Dan yang terburuk dari itu semua adalah kami, aku, Blek dan Karyo. Karena kami, bukannya menegur We-em. Tapi malah sama-sama menikmati mie tersebut disamping si sakit. Mungkin, meskipun sedang sakit, penciuman Salman masih sanggup membaui aroma dari mie ini. Namun dia tak mampu berkata apa-apa. Kasihan dia, dan kami bajingannya. 

Setelah kenyang dan berpisah dengan lumpur, sebelum pergi, We-em pun kembali memberi petuah kepada Kacungnya. Bahwa sebaiknya dia berhenti tinggal di mushola ini sendiri, karena jika ternyata nanti sakitnya tambah parah, itu akan membahayakan dirimu sendiri. 

Ucapan We-em sejernih air sungai dekat pegunungan. Namun kenyataannya, kamilah salah satu faktor yang menambah parah sakitnya. 

Kami melanjutkan perjalanan, menuju tempat paling dinanti-nanti, warung  24 jam.
Tidak sulit menemukan warung tersebut, karena seperti menandai seorang gadis cantik diantara kerumunan gadis cukup. sesampainya dilokasi, laga besar itu baru saja dimulai. Syukurlah. Namun timbul masalah lain. Warung lesehan ini ternyata tidak kosong. Ada seorang bapak-bapak yang sedang tidur terlentang tepat di tengah-tengah “lapak” yang merupakan tempat paling strategis jika ingin menonton pertandingan ini dengan duduk nyaman dan khidmat. 

Tapi sebenarnya, kesialan bukan menimpa kami, tapi menimpa orang tidur tersebut. Karena permainan “penguasaan lahan” sudah jadi makanan sehari-hari. Kami paham benar, serangkaian taktik yang mampu membuat si bapak menyingkir tanpa perlu bilang “Tolong minggir pak!”.
Dan orang yang sangat kredibel dengan hal ini, tiada lain dan tiada bukan adalah We-em. Masing-masing dari kami mungkin sudah memikirkan caranya sendiri-sendiri, tapi kami sadar diri. Dihadapan We-em, kemahiran kami mungkin seperti lihainya mencuri pakaian dalam tetangga, sedangkan We-em sudah menguasai modus operandi perampokan bank nasional. Sejauh itulah ketimpangan ilmu kami terkaut “penguasaan lahan”. 

Langkah pertama, tentu saja memesan beberapa cangkir kopi serta sekian batang rokok. Ini ibarat membeli tiket untuk menonton pertandingan laga yang mega besar, cukup murah bukan?
Langkah kedua, kami mulai duduk, disamping tempat lesehan sambil perlahan-lahan terus melaju sampai ke spot paling nyaman tadi. Gerakan kami layaknya siput, sungguh tak kentara. 

Langkah ketiga, We-em mulai mengajak ngobrol kami tak tentu arah, karena memang bukan obrolan kami yang penting, tapi tinggi rendahnya intonasi kami.  Dan, suara itu benar-benar mengganggu.
Langkah keempat, obrolan We-em mulai pada komentar tentang pertandingan di televisi, namun bukan komentar “ Wah, gocekannya bagus” , “Gila, larinya kenceng banget”. Bukan, bukan yang seperti itu. tapi seperti. “Aduh, kok kurang jelas yah.” “Kayaknya kalau geser kesini sedikit bolanya jadi kelihatan deh”. Dan dia mengucapkannya dengan nada yang cukup tinggi. 

Si orang tidur, yang saat di langkah kedua sudah mulai terbangun, namun masih mager, setelah melancarkan langkah keempat, saya yakin, si orang tidurpun menyadari maksud ucapannya, alih-alih sedang mengomentari bola, dia tahu bahwa We-em sedang bicara kepadanya, bila ditafsirkan mungkin seperti ini bunyunya “Minggir pak, bapak menghalangi saya”. 

Si orang tidur tidak mungkin melabrak We-em dengan bilang, “Kamu nyindir saya yah?” tidak mungkin dia berkata seperti itu. namun kami semua tahu, bahwa ucapan We-em memang menyuruhnya pergi. Namun si orang tidur kesulitan mencari dalih untuk aksi labrakannya, dan lagi dia kalah jumlah. Meski bila memang perkelahian terjadi (tapi tidak mungkin). Kami (Aku, Karyo dan Blek) tentu saja akan mundur saja. Tapi We-em seperti sudah sangat yakin dengan langkah-langkahnya, dan sudah mengetahui setiap langkah yang akan diambil oleh orang tidur tersebut, hingga akhirnya dia pun pergi. Benar-benar enyah dari sana. Dan kami berhasil menguasai warung tersebut. 

Kami menikmati sekali menonton pertandingan ini, Karyo tidak. Karena sejak awal incarannya bukan tertuju pada menonton, tapi adrenalin selama perjalan hingga sampai kemari dan ia mendapatkan itu, setidaknya momen jongkok mematung tadi akan ia ingat di sisa hidupnya. Ditemani seruputan kopi dan hisapan rokok, kami merasa benar-benar menikmati hidup ini. Dan misi kamipun sukses besar.
Tak peduli klub mana yang menang, yang penting kami menonton. Tak terpikirkan sedikitpun jika nantinya operasi ini nantinya diketahui pihak sekolah, karena menurut kami, operasi ini tanpa celah juga terlalu ngeri untuk membayangkan kami dihukum atas kejadian ini. Dan seminggu kemudian, kami benar-benar ketahuan dan dihukum. 

**
Ceritanya tamat disana, namun aku hanya ingin bilang, aku menulis kisah ini bukan untuk diikuti, tapi pengalaman seperti ini sungguh membuat kami merasa lebih erat, setiap kami bertemu setelah bertahun-tahun kemudian, dan teringat peristiwa ini, kami selalu bahagaia dan tertawa sejadi-jadinya, sungguh konyolnya tingkah kami itu. sungguh muskilnya tragedi itu, hanya untuk menonton bola sungguh banyak rintangan yang harus dilalui. Ternyata berbuat jahatpun terkadang butuh usaha yang keras. Tentu saja kami sangat merasa tidak enak hati terhadap guru-guru kami dengan tingkah itu, kami hanya berharap pintu maafnya masih tersedia bagi kami, sehingga dikemudian hari kami tidak jadi anak yang kualat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi