Jumat, 07 Februari 2020

Cerpen Nonfiksi: Bekerja


BEKERJA


“AJIIIII….. cepet bangun!!” teriak ibuku
“Iya mah, ini Aji udah bangun kok!”
“Kamu gak lupa kan, kalo hari ini kita mau ke rumah paman?” kata ibuku lagi, mengingatkan.
“Iya Aji gak lupa kok,” jawabku lagi, dengan kepala masih menempel di bantal.
Kenapa ibuku sampai berkali-kali sih mengingatkannya, apa sebegitu pentingnya yah pergi ke rumah paman ini, kenapa juga aku harus ikut, biasanya juga dia pergi sendiri. Padahal aku masih ngantuk, baru berapa jam aku tidur yah?.. sial, cuma dua jam. Pantes aja, mata ini belum sanggup menatap dunia. 
Karena tak tahan mendengar omelan ibu, akupun mencoba secepat mungkin mengumpulkan segenap tenaga dari istirahatku yang hanya dua jam. Dengan langkah yang masih tertatih ku jajaki kamar mandi, padahal hanya sekitar sepuluh meter, kok rasanya kayak seratus meter yah, sial, kesadaranku belum pulih seutuhnya.
Setibanya di dalam tempat setan ini, untuk bisa melaksanakan shalat, aku tak bisa jika hanya sekedar mengambil air wudu, tapi harus mandi, kenapa? Hahaha, bagi mereka yang mengerti pasti tak akan tanya mengapa.
“AJIIIII cepet bangun!, ini udah jam delapan pagi!!”
“Iya mah, ini udah di KAMAR MANDI!” sengaja kunaikkan nada suaraku pada “kamar mandi” saking kesalnya.
Aku tak habis pikir dengan moodku. Saat kutinggal diluar kota jauh dari keluarga, aku terkadang rindu dengan suasanan rumah. Tapi sekarang, saat aku sudah kembali tinggal dirumah, aku rasanya ingin segera pergi jauh lagi. Suara ibuku yang selalu teriak-teriak ini sungguh membuatku muak. Ia selalu mengingatkan ini itu, padahal aku juga tahu apa yang harus kukerjakan. Apakah berdosa aku yang bersikap seperti ini kepadanya? Entahlah.
Sehabis solat subuh, meski sepertinya itu lebih seperti solat duha. Aku langsung bersiap, mencomot hp, korek api dan tas selendang kecil kesayanganku. Dan bersegera aku menghampiri ibu, supaya “alarm”nya berhenti.
“Tuh bawa!” titahnya, sambil menunjuk ke sebuah ransel gemuk.
“Kok ranselnya penuh banget mah, emang isinya apaan?” tanyaku heran.
“Udah bawa aja, cerewet banget.” Jawabnya singkat. Seolah ingin menutup pembicaraan mengenai tas ini.
Yah sebenarnya aku gak peduli juga sama isi tasnya. Yang penting semuanya cepet beres.
Kamipun meninggalkan rumah, berjalan sekitar dua ratus meter menuju jalan besar. Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam, karena saat kutanya mau apa pergi kesana, dia malah menyebutku cerewet, yaudah, aku juga gak peduli mau pergi kemana, yang penting cepet pulang.

Setelah menaiki dua angkot yang ngetemnya bikin pengen nonjok, akhirnya sampai juga aku di rumah paman. Saat kami tiba, paman sedang sibuk memperhatikan kedua ayamnya yang sedang adu kekuatan. Entah apa yang kedua ayam itu perebutkan, kandangkah? Atau ayam betinakah? Atau mungkin ini pertengkaran antara suami  dan si hidung belang yang sudah “bermain” dengan istrinya? Bodo amat, kenapa juga aku jadi mikirin ayam-ayam ini.  Atau jangan-jangan, beginilah cara pamanku menentukan ayam mana yang akan dipotong, berarti ini pertandingan hidup mati!, sial, kenapa aku terus kepikiran sama mereka. 

Saat kami menyapa, paman tidak memberikan sambutan yang hangat, dia tetap diposisinya. Kedua bola matanya melirik kami sebentar, lalu kembali focus sama pertarungan itu. Jujur aku bingung harus berbuat apa, karena mulutnya tadi hanya membalas salam kami, tak memberi arahan formal lainnya. Hingga akupun terpaksa harus menonton pertarungan itu, karena tak ada hal yang lain menarik perhatianku.

Setelah puas dengan pertandingan itu, barulah pamanku membukakan pintu rumahnya kepada kami. Rumah tipe 27 dengan cicilan satu juta selama 10 tahun. Ruang makan, ruang keluarga juga ruang tamu berada di satu tempat, jadi tidak aneh jika kami duduk beralaskan tikar. Pamanku bersandar ke tembok, sedangkan aku berada di samping kanannya, dan ibuku berada disampingku.
Sepertinya paman dan ibu sudah bicara sebelumnya. Karena kalimat pertama yang keluar dari mulutnya, bukan pertanyaan mengenaiku, melainkan pernyataan yang telah ia peroleh dari ibu, sehingga mungkin inginnya pamanku ini, aku memastikan apakah benar penjelasan yang ia dapat dari ibu itu atau tidak. Dengan mengamati raut wajahku saat pernyataan itu terlontar sepertinya ia sudah tahu jawabannya.  Singkatnya, problem yang coba kami pecahkan kami disini itu, satu; melihat tingkahku yang susah disuruh, terus mengurung diri dikamar, “seperti tidak mau kerja”, ibu merasa risih, dan parahnya ia tak mampu berbuat apa-apa. Semua petuahnya dirasa hanya seperti angina lalu bagiku, ia merasa gagal dalam mendidik anak, merasa tidak bisa memahamiku, ia pun merasa sedikit maklum dengan sikapku, yang mungkin bertingkah seperti ini karena taka da sosok ayah disampingnya, begitu pikir ibuku. Dua; karena merasa tak sanggup membinaku, ibu melemparkan masalah ini kepada paman, dengan harapan semoga paman bisa menggantikan peran ayah yang selama ini tak aku miliki. Dan kesimpulan yang kudapat dari pertemuan ini, bahwa ibuku sendiri membuangku yang taka da gunanya ini. Meski terasa perih, aku terima. Karena aku sadar atas apa yang kulakukan. 

Apakah aku benci ibu? Sedikit. Tapi aku tertarik dengan pamanku ini. Dia mungkin tak seperti orang yang banyak membual, tapi suara yang keluar dari bibir pecah-pecahnya sungguh mengusik otakku. Pandangannya mengenai setiap perkara terkesan sederhana tapi mendalam. Sudut pandangnya unik juga menggelitik. Memberi ilustrasi segar yang menginspirasi. Sialnya, tidak setiap kami bertemu dia mengeluarkan petuah-petuahnya.  

“tak ada yang namanya kebetulan”, aku jadi teringat pepatah ini. Hampir genap tiga minggu aku di tempat paman, semakin aku sadar, memang seharusnya aku berada disini dulu. Kekesalanku kepada ibu menguap berganti rasa terima kasihku kepadanya. Mungkin harapan ibu terkabul, tapi itu tak sepenuhnya benar. Meski memang disini aku banyak belajar hal baru, tapi untuk menggantikan sosok ayah, sepertinya aku belum bisa memastikan. Bukan karena pamanku kurang cakap, tapi karena aku tak tahu peran ayah itu seperti apa sebenarnya, karena setiap orang, setiap keluarga memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai peran ayah, benar menurut ibu belum tentu aku setuju, begitupun sebaliknya. Tapi setidak-tidaknya, dari pamanku ini, banyak sekali yang kuperoleh, yang ia sodorkan bukan  perintah harus begini harus begitu, tapi memberiku suatu sudut pandang baru, sehingga pemahamanku mengenai dunia ini sedikit berubah, dia tidak menyuguhkan hasil pikiran tapi memaparkan bagaimana haru berpikir, ia tidak memberi buah, tapi bagaimana cara menanam pohon.
Sekilas kuamati kehidupannya biasa-biasa saja. Kerjaku disini hanya membantunya membangun rumah. Dari pagi sampai sore, lepas malam ia bermain game di hape atau poker di laptop. Ibadahnyapun biasa-biasa saja. Dan selama bekerja itu, ia tak banyak membuka obrolan, kami lebih sering terdiam dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. kadang aku berpikir, jika ibu meminta paman mendidikku, aku menanti-nanti pendidikkan seperti apa sebenarnya yang akan ia beri kepadaku. Tapi ternyata, yang aku rasakan, kami hanya melakukan hal biasa, dan tak sedikitpun mencerminkan sedang belajar.  

Aku sering bertanya dalam hati, sampai kapan aku disini, membantu paman membangun rumahnya. Sejujurnya aku tak mengharapkan upah darinya, karena diberi makan dan tempat tinggalpun rasanya sudah lebih dari cukup. Tapi sampai kapan? Aku sudah ingin kerja, meski ibu bilang aku seperti tak ingin kerja, padahal aku ingin sekali bekerja, mungkin karena aku pernah bekerja tiga hari lalu berhenti, ia pikir mentalku lemah dan harus dibina dulu. Tapi disini, aku sama sekali tidak menghasilkan uang, padahal hutangku sudah sangat jauh dari masa tenggang. Kalau dibilang betah di tempat paman, aku cukup betah. Hanya saja aku tidak bisa diam disini terus, aku harus kerja, dan segera melunasi hutang-hutangku, jika disini terus, kapan aku dapat uangnya. Itu yang terus ada dipikiranku kala itu.  Akupun kerja sekenanya aja, karena hanya membantu, tidak niat bekerja, dan karena tidak mengharapkan upah.

Hingga suatu malam, selepas makan dilanjutkan dengan merokok bersama. Ia mulai berpetuah. Ini yang aku tunggu. Seperti mampu membaca keresahanku, iapun memaparkan konsep bekerja yang ia pegang. 

“Manusia itu makhluk yang serba butuh. Dan apa yang ia lakukan ketika butuh sesuatu? Tentu saja meminta. Minta kepada siapa? Siapa saja yang mampu menutupi kebutuhannya tersebut.” Begitu premis yang pamanku buat. 

Sekilas, aku tak menangkap hal istimewa dari kata-kata ini, semua ucapannya aku sudah tahu dan paham. Tapi maksud terselubung di dalamnya aku belum kesampaian.
“Bisa kepada orang lain, bisa juga kepada Allah. Dan karena biasanya orang lain gak mampu atau gak mau memenuhi kebutuhannya, maka pilihan yang tersisa, Cuma minta sama Allah. Gak ada lagi cara lain.” Tambahnya. 

Sampai sini aku masih belum menemukan sesuatu yang menarik.
“Dan orang itu bermacam-macam cara memintanya, ada yang dikeraskan, ada yang dalam hati, ada yang lewat berdzikir, ada yang dimalam hari, ada yang sambil kerja, macam-macam pokoknya. Ada yang terlihat oleh kita kalau ia berdoa, atau kelihatan dari cara ia bekerja, begitu semangat, begitu gigih, sampai kitapun yakin dia benar-benar menginginkan sesuatu. Ada juga yang gak kelihatan berdoa, tapi hatinya menjerit. Pokoknya beragam sekali.”
Dari sini, ada sedikit gambaran baru bagiku. Tapi aku masih terus terdiam. Dan tak lepas sedikitpun fokusku teralihkan.

“Apa doanya pasti diijab? Yah pasti diijabah. Misalnya minta rezeki lebih, apa bakal dikasih? Yah pasti dikasih. Kita gak minta aja, rizki itu pasti Allah kasih. Apalagi kalau kita minta. Tapi, itu juga kalau bener mintanya. Ibarat kepastiannya gini. Kalau Aji menanam buah mangga, apa hasilnya bakal buah mangga? Tentu aja. Kalau menanam kelapa, tentu hasilnya kelapa. Apapun yang kita tanam pasti akan dapat hasil. Tapi, itu juga kalau bener menanamnya. Kalau kita tanam terus kita tinggalin, yaiyah gak bakalan jadi. Tanaman kita tentu harus dirawat, dikasih air, dibersihin kalau ada rumput liar, dikasih pupuk yang bagus, intinya dipelihara dengan baik. Maka hasilnya pun pasti ada.” Sambungnya. 

“Bukan cuma berdoa, bekerja juga gitu. Asal kita niat kerja, sungguh-sungguh kerjanya. Kerja apa aja, yang penting kita bener-bener niat kerja, gak usah bingung dapet upah atau enggak, yakin aja, pasti ada hasilnya. Baik itu hasilya berupa upah dari kantor tempat kerja, ataupun dari jalan yang lain. Pokoknya pasti hasil, asal niatnya kerja, dan sungguh-sungguh kerjanya, bener-bener dipelihara kerjanya. Semakin bagus kita memelihara pekerjaan kita, pasti hasilnya pun akan semakin bagus. Cuman, kadang hasilnya itu langsung, kadang juga lama. Tapi pasti ada hasil. Itu yang harus diinget. Intinya, mau kecil atau besar penghasilan kita, itu tergantung sebulat apa niat kita dalam bekerja.” Begitu tandasnya.

Entah ucapannya yang terakhir ini terdengar istimewa atau tidak bagi yang lain, hanya saja. Bagi diriku yang terkadang melihat gajinya dulu sebelum bekerja, yang pilih-pilih pekerjaan, karena merasa sudah banyak pengalaman dalam bekerja, jadi merasa diri paling tahu tentang dunia kerja dan menjadi sangat selektif karena tak mau merasa dibohongi nantinya dalam bekerja, ucapan pamanku ini begitu menggema di gendang telinga ini, membuatku mematung sesaat, seolah tersadar akan sesuatu. Dan merasa insaf, bahwa selama ini, aku salah mengerti tentang arti, apa itu bekerja. Dan juga sedikit memahami orang-orang yang bekerja, yang menurutku pekerjaannya tak masuk akal atau tak akan membuat mereka kaya mau sampai kapanpun mereka bekerja seperti itu.
Setelah sedikit mengerti apa itu bekerja, akupun merasa penglihatanku seperti bertambah luas, pikiranku menjadi lebih luas, dan hati merasa lebih mengerti dan memaklumi.
Untuk menyebut ini jawaban yang paling benar, rasanya terlalu berlebihan, tapi untuk menjawab beberapa keresahan yang selama ini menggantung dipikiranku, rasanya cukup.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi