BEKERJA
“AJIIIII….. cepet bangun!!” teriak ibuku
“Iya mah, ini Aji udah bangun kok!”
“Kamu gak lupa kan, kalo hari ini kita mau ke rumah paman?”
kata ibuku lagi, mengingatkan.
“Iya Aji gak lupa kok,” jawabku lagi, dengan kepala masih
menempel di bantal.
Kenapa ibuku sampai berkali-kali sih mengingatkannya, apa
sebegitu pentingnya yah pergi ke rumah paman ini, kenapa juga aku harus ikut,
biasanya juga dia pergi sendiri. Padahal aku masih ngantuk, baru berapa jam aku
tidur yah?.. sial, cuma dua jam. Pantes aja, mata ini belum sanggup menatap
dunia.
Karena tak tahan mendengar omelan ibu, akupun mencoba
secepat mungkin mengumpulkan segenap tenaga dari istirahatku yang hanya dua
jam. Dengan langkah yang masih tertatih ku jajaki kamar mandi, padahal hanya
sekitar sepuluh meter, kok rasanya kayak seratus meter yah, sial, kesadaranku
belum pulih seutuhnya.
Setibanya di dalam tempat setan ini, untuk bisa melaksanakan
shalat, aku tak bisa jika hanya sekedar mengambil air wudu, tapi harus mandi,
kenapa? Hahaha, bagi mereka yang mengerti pasti tak akan tanya mengapa.
“AJIIIII cepet bangun!, ini udah jam delapan pagi!!”
“Iya mah, ini udah di KAMAR MANDI!” sengaja kunaikkan nada
suaraku pada “kamar mandi” saking kesalnya.
Aku tak habis pikir dengan moodku. Saat kutinggal diluar
kota jauh dari keluarga, aku terkadang rindu dengan suasanan rumah. Tapi
sekarang, saat aku sudah kembali tinggal dirumah, aku rasanya ingin segera
pergi jauh lagi. Suara ibuku yang selalu teriak-teriak ini sungguh membuatku
muak. Ia selalu mengingatkan ini itu, padahal aku juga tahu apa yang harus
kukerjakan. Apakah berdosa aku yang bersikap seperti ini kepadanya? Entahlah.
Sehabis solat subuh, meski sepertinya itu lebih seperti
solat duha. Aku langsung bersiap, mencomot hp, korek api dan tas selendang
kecil kesayanganku. Dan bersegera aku menghampiri ibu, supaya “alarm”nya
berhenti.
“Tuh bawa!” titahnya, sambil menunjuk ke sebuah ransel
gemuk.
“Kok ranselnya penuh banget mah, emang isinya apaan?” tanyaku
heran.
“Udah bawa aja, cerewet banget.” Jawabnya singkat. Seolah
ingin menutup pembicaraan mengenai tas ini.
Yah sebenarnya aku gak peduli juga sama isi tasnya. Yang
penting semuanya cepet beres.
Kamipun meninggalkan rumah, berjalan sekitar dua ratus meter
menuju jalan besar. Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam, karena saat
kutanya mau apa pergi kesana, dia malah menyebutku cerewet, yaudah, aku juga
gak peduli mau pergi kemana, yang penting cepet pulang.
Setelah menaiki dua angkot yang ngetemnya bikin pengen
nonjok, akhirnya sampai juga aku di rumah paman. Saat kami tiba, paman sedang
sibuk memperhatikan kedua ayamnya yang sedang adu kekuatan. Entah apa yang
kedua ayam itu perebutkan, kandangkah? Atau ayam betinakah? Atau mungkin ini
pertengkaran antara suami dan si hidung
belang yang sudah “bermain” dengan istrinya? Bodo amat, kenapa juga aku jadi
mikirin ayam-ayam ini. Atau
jangan-jangan, beginilah cara pamanku menentukan ayam mana yang akan dipotong,
berarti ini pertandingan hidup mati!, sial, kenapa aku terus kepikiran sama
mereka.
Saat kami menyapa, paman tidak memberikan sambutan yang
hangat, dia tetap diposisinya. Kedua bola matanya melirik kami sebentar, lalu
kembali focus sama pertarungan itu. Jujur aku bingung harus berbuat apa, karena
mulutnya tadi hanya membalas salam kami, tak memberi arahan formal lainnya.
Hingga akupun terpaksa harus menonton pertarungan itu, karena tak ada hal yang
lain menarik perhatianku.
Setelah puas dengan pertandingan itu, barulah pamanku
membukakan pintu rumahnya kepada kami. Rumah tipe 27 dengan cicilan satu juta
selama 10 tahun. Ruang makan, ruang keluarga juga ruang tamu berada di satu
tempat, jadi tidak aneh jika kami duduk beralaskan tikar. Pamanku bersandar ke
tembok, sedangkan aku berada di samping kanannya, dan ibuku berada disampingku.
Sepertinya paman dan ibu sudah bicara sebelumnya. Karena
kalimat pertama yang keluar dari mulutnya, bukan pertanyaan mengenaiku,
melainkan pernyataan yang telah ia peroleh dari ibu, sehingga mungkin inginnya
pamanku ini, aku memastikan apakah benar penjelasan yang ia dapat dari ibu itu
atau tidak. Dengan mengamati raut wajahku saat pernyataan itu terlontar
sepertinya ia sudah tahu jawabannya.
Singkatnya, problem yang coba kami pecahkan kami disini itu, satu;
melihat tingkahku yang susah disuruh, terus mengurung diri dikamar, “seperti
tidak mau kerja”, ibu merasa risih, dan parahnya ia tak mampu berbuat apa-apa.
Semua petuahnya dirasa hanya seperti angina lalu bagiku, ia merasa gagal dalam
mendidik anak, merasa tidak bisa memahamiku, ia pun merasa sedikit maklum
dengan sikapku, yang mungkin bertingkah seperti ini karena taka da sosok ayah
disampingnya, begitu pikir ibuku. Dua; karena merasa tak sanggup membinaku, ibu
melemparkan masalah ini kepada paman, dengan harapan semoga paman bisa
menggantikan peran ayah yang selama ini tak aku miliki. Dan kesimpulan yang
kudapat dari pertemuan ini, bahwa ibuku sendiri membuangku yang taka da gunanya
ini. Meski terasa perih, aku terima. Karena aku sadar atas apa yang kulakukan.
Apakah aku benci ibu? Sedikit. Tapi aku tertarik dengan
pamanku ini. Dia mungkin tak seperti orang yang banyak membual, tapi suara yang
keluar dari bibir pecah-pecahnya sungguh mengusik otakku. Pandangannya mengenai
setiap perkara terkesan sederhana tapi mendalam. Sudut pandangnya unik juga
menggelitik. Memberi ilustrasi segar yang menginspirasi. Sialnya, tidak setiap
kami bertemu dia mengeluarkan petuah-petuahnya.
“tak ada yang namanya kebetulan”, aku jadi teringat pepatah
ini. Hampir genap tiga minggu aku di tempat paman, semakin aku sadar, memang
seharusnya aku berada disini dulu. Kekesalanku kepada ibu menguap berganti rasa
terima kasihku kepadanya. Mungkin harapan ibu terkabul, tapi itu tak sepenuhnya
benar. Meski memang disini aku banyak belajar hal baru, tapi untuk menggantikan
sosok ayah, sepertinya aku belum bisa memastikan. Bukan karena pamanku kurang
cakap, tapi karena aku tak tahu peran ayah itu seperti apa sebenarnya, karena
setiap orang, setiap keluarga memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai
peran ayah, benar menurut ibu belum tentu aku setuju, begitupun sebaliknya.
Tapi setidak-tidaknya, dari pamanku ini, banyak sekali yang kuperoleh, yang ia
sodorkan bukan perintah harus begini
harus begitu, tapi memberiku suatu sudut pandang baru, sehingga pemahamanku
mengenai dunia ini sedikit berubah, dia tidak menyuguhkan hasil pikiran tapi
memaparkan bagaimana haru berpikir, ia tidak memberi buah, tapi bagaimana cara
menanam pohon.
Sekilas kuamati kehidupannya biasa-biasa saja. Kerjaku
disini hanya membantunya membangun rumah. Dari pagi sampai sore, lepas malam ia
bermain game di hape atau poker di laptop. Ibadahnyapun biasa-biasa saja. Dan
selama bekerja itu, ia tak banyak membuka obrolan, kami lebih sering terdiam
dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. kadang aku berpikir, jika ibu meminta
paman mendidikku, aku menanti-nanti pendidikkan seperti apa sebenarnya yang
akan ia beri kepadaku. Tapi ternyata, yang aku rasakan, kami hanya melakukan
hal biasa, dan tak sedikitpun mencerminkan sedang belajar.
Aku sering bertanya dalam hati, sampai kapan aku disini,
membantu paman membangun rumahnya. Sejujurnya aku tak mengharapkan upah
darinya, karena diberi makan dan tempat tinggalpun rasanya sudah lebih dari
cukup. Tapi sampai kapan? Aku sudah ingin kerja, meski ibu bilang aku seperti
tak ingin kerja, padahal aku ingin sekali bekerja, mungkin karena aku pernah
bekerja tiga hari lalu berhenti, ia pikir mentalku lemah dan harus dibina dulu.
Tapi disini, aku sama sekali tidak menghasilkan uang, padahal hutangku sudah
sangat jauh dari masa tenggang. Kalau dibilang betah di tempat paman, aku cukup
betah. Hanya saja aku tidak bisa diam disini terus, aku harus kerja, dan segera
melunasi hutang-hutangku, jika disini terus, kapan aku dapat uangnya. Itu yang
terus ada dipikiranku kala itu. Akupun
kerja sekenanya aja, karena hanya membantu, tidak niat bekerja, dan karena
tidak mengharapkan upah.
Hingga suatu malam, selepas makan dilanjutkan dengan merokok
bersama. Ia mulai berpetuah. Ini yang aku tunggu. Seperti mampu membaca
keresahanku, iapun memaparkan konsep bekerja yang ia pegang.
“Manusia itu makhluk yang serba butuh. Dan apa yang ia
lakukan ketika butuh sesuatu? Tentu saja meminta. Minta kepada siapa? Siapa
saja yang mampu menutupi kebutuhannya tersebut.” Begitu premis yang pamanku
buat.
Sekilas, aku tak menangkap hal istimewa dari kata-kata ini,
semua ucapannya aku sudah tahu dan paham. Tapi maksud terselubung di dalamnya
aku belum kesampaian.
“Bisa kepada orang lain, bisa juga kepada Allah. Dan karena
biasanya orang lain gak mampu atau gak mau memenuhi kebutuhannya, maka pilihan
yang tersisa, Cuma minta sama Allah. Gak ada lagi cara lain.” Tambahnya.
Sampai sini aku masih belum menemukan sesuatu yang menarik.
“Dan orang itu bermacam-macam cara memintanya, ada yang
dikeraskan, ada yang dalam hati, ada yang lewat berdzikir, ada yang dimalam
hari, ada yang sambil kerja, macam-macam pokoknya. Ada yang terlihat oleh kita
kalau ia berdoa, atau kelihatan dari cara ia bekerja, begitu semangat, begitu
gigih, sampai kitapun yakin dia benar-benar menginginkan sesuatu. Ada juga yang
gak kelihatan berdoa, tapi hatinya menjerit. Pokoknya beragam sekali.”
Dari sini, ada sedikit gambaran baru bagiku. Tapi aku masih
terus terdiam. Dan tak lepas sedikitpun fokusku teralihkan.
“Apa doanya pasti diijab? Yah pasti diijabah. Misalnya minta
rezeki lebih, apa bakal dikasih? Yah pasti dikasih. Kita gak minta aja, rizki
itu pasti Allah kasih. Apalagi kalau kita minta. Tapi, itu juga kalau bener
mintanya. Ibarat kepastiannya gini. Kalau Aji menanam buah mangga, apa hasilnya
bakal buah mangga? Tentu aja. Kalau menanam kelapa, tentu hasilnya kelapa.
Apapun yang kita tanam pasti akan dapat hasil. Tapi, itu juga kalau bener
menanamnya. Kalau kita tanam terus kita tinggalin, yaiyah gak bakalan jadi.
Tanaman kita tentu harus dirawat, dikasih air, dibersihin kalau ada rumput
liar, dikasih pupuk yang bagus, intinya dipelihara dengan baik. Maka hasilnya
pun pasti ada.” Sambungnya.
“Bukan cuma berdoa, bekerja juga gitu. Asal kita niat kerja,
sungguh-sungguh kerjanya. Kerja apa aja, yang penting kita bener-bener niat
kerja, gak usah bingung dapet upah atau enggak, yakin aja, pasti ada hasilnya.
Baik itu hasilya berupa upah dari kantor tempat kerja, ataupun dari jalan yang
lain. Pokoknya pasti hasil, asal niatnya kerja, dan sungguh-sungguh kerjanya,
bener-bener dipelihara kerjanya. Semakin bagus kita memelihara pekerjaan kita,
pasti hasilnya pun akan semakin bagus. Cuman, kadang hasilnya itu langsung,
kadang juga lama. Tapi pasti ada hasil. Itu yang harus diinget. Intinya, mau
kecil atau besar penghasilan kita, itu tergantung sebulat apa niat kita dalam
bekerja.” Begitu tandasnya.
Entah ucapannya yang terakhir ini terdengar istimewa atau
tidak bagi yang lain, hanya saja. Bagi diriku yang terkadang melihat gajinya
dulu sebelum bekerja, yang pilih-pilih pekerjaan, karena merasa sudah banyak
pengalaman dalam bekerja, jadi merasa diri paling tahu tentang dunia kerja dan
menjadi sangat selektif karena tak mau merasa dibohongi nantinya dalam bekerja,
ucapan pamanku ini begitu menggema di gendang telinga ini, membuatku mematung
sesaat, seolah tersadar akan sesuatu. Dan merasa insaf, bahwa selama ini, aku
salah mengerti tentang arti, apa itu bekerja. Dan juga sedikit memahami
orang-orang yang bekerja, yang menurutku pekerjaannya tak masuk akal atau tak
akan membuat mereka kaya mau sampai kapanpun mereka bekerja seperti itu.
Setelah sedikit mengerti apa itu bekerja, akupun merasa
penglihatanku seperti bertambah luas, pikiranku menjadi lebih luas, dan hati
merasa lebih mengerti dan memaklumi.
Untuk menyebut ini jawaban yang paling benar, rasanya
terlalu berlebihan, tapi untuk menjawab beberapa keresahan yang selama ini
menggantung dipikiranku, rasanya cukup.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar