Sabtu, 07 September 2019

Refleksi: Jatah Kebahagiaan


Alkisah, seorang bocah yang menghabiskan masa sekolahnya dengan penuh “bully” oleh teman sekelasnya. Mungkin karena dia sedikit keras kepala dan emosian, juga mungkin factor ekonomi yang membuatnya pemilih dalam memberi. Meski semua orang tahu hatinya begitu baik. 

Biasanya, layaknya sebuah cerita, di kemudian hari bocah seperti ini akan meraih kesuksesan, sebagai imbalan atas kisah pilu masa lalu. Orang-orang yang dulu pernah mencibir akan mulai berpikir untuk meminta maaf dan meminta bantuannya dari derasnya gelombang kehidupan.

Namun tidak, Tuhan selalu punya cara tersendiri dalam memainkan alur hidup. Demi kelangsungan hidup, si bocah harus bekerja lebih keras dari orang lain, namun karena ia hanya manusia biasa, iapun menghibur diri lebih dalam dari orang kebanyakan. Tubuh tak mampu mengimbanginya, hingga ia terpaksa rubuh. Terkapar lemas berminggu-minggu.  Sampai sini takdir belum juga memberikan titik balik, membuatnya sehat, sejahtera dan bahagia. Tidak. Sang Pencipta memberi balasan yang lebih dari itu, lebih dari segala macam kenikmatan yang ada di dunia. Yaitu menyegerakan si bocah menemuiNya. Puncak dari segala macam kenikmatan.

Sepintas, terlihat Tuhan begitu tak adil dalam memberikan jatah kebahagiaan, tapi satu hal yang mesti kita yakini, Ilmu manusia dan Ilmu Tuhan amatlah berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi