Alkisah, seorang bocah yang menghabiskan masa sekolahnya
dengan penuh “bully” oleh teman sekelasnya. Mungkin karena dia sedikit keras
kepala dan emosian, juga mungkin factor ekonomi yang membuatnya pemilih dalam
memberi. Meski semua orang tahu hatinya begitu baik.
Biasanya, layaknya sebuah cerita, di kemudian hari bocah
seperti ini akan meraih kesuksesan, sebagai imbalan atas kisah pilu masa lalu. Orang-orang
yang dulu pernah mencibir akan mulai berpikir untuk meminta maaf dan meminta
bantuannya dari derasnya gelombang kehidupan.
Namun tidak, Tuhan selalu punya cara tersendiri dalam
memainkan alur hidup. Demi kelangsungan hidup, si bocah harus bekerja lebih
keras dari orang lain, namun karena ia hanya manusia biasa, iapun menghibur
diri lebih dalam dari orang kebanyakan. Tubuh tak mampu mengimbanginya, hingga
ia terpaksa rubuh. Terkapar lemas berminggu-minggu. Sampai sini takdir belum juga memberikan titik
balik, membuatnya sehat, sejahtera dan bahagia. Tidak. Sang Pencipta memberi
balasan yang lebih dari itu, lebih dari segala macam kenikmatan yang ada di
dunia. Yaitu menyegerakan si bocah menemuiNya. Puncak dari segala macam
kenikmatan.
Sepintas, terlihat Tuhan begitu tak adil dalam memberikan
jatah kebahagiaan, tapi satu hal yang mesti kita yakini, Ilmu manusia dan Ilmu
Tuhan amatlah berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar