Sebetulnya beberapa tahun terakhir ini aku selalu turut
serta dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban. Namun baru kali ini,
kesanku dituangkan lewat tulisan.
Banyak sekali pengalaman baru, banyak hal baru yang kulihat
yang juga menarik perhatian. Baik, pertama-tama, meski ritual penyembelihannya
terbilang sedikit molor dan kurang terorganisir, tapi ternyata mereka telah
mengetahui tupoksi masing-masing dan uniknya, bagi penempatan tugas disini
seperti menggambarkan kehidupan, semacam falsafah. Menurutku, ada tiga faksi
vital dalam ceremony ini. Pertama, Pemotong daging dan tulang juga menyembelih.
Dua, kadut. Dan terakhir pemilahan daging.
Pemotong dan penyembelih
Peran ini yang paling penting dalam perayaan ini, karena
tanpa mereka, pekerjaan lain tak akan tercipta. Yang bertanggung jawab disini
pria dewasa, yang sudah kenyang dengan asam pahit kehidupan. Sehingga saat
menyembelih, tekad mereka kuat, percaya diri mantap, mereka tahu beban yang ia
tanggung serta resiko yang akan diderita bila gagal. Karena disin taka da
percobaan kedua, harus sekali jadi. Seperti hal nya juga saat mereka memisahkan
daging dari tubuh hewan tersebut, karena yang dipotong bukan hanya daging tapi
tulang. Memotong tulang harus dengan kekuatan dan keteguhan jiwa. Sehingga
setiap potongan terlihat pas dan pantas. Seolah menggambarkan bahwa kehidupan
pria dewasa setiap langkahnya harus dengan langkah yang pasti, taka da lagi
kebimbangan dari setiap keputusan yang diambil, dan sebesar apapun resiko yang
terbentang, siap mereka lahap dengan penuh kenikmatan.
Kadut
Maksudnya kelompok yang bertugas membersihkan jeroan, dengan
kata lain membersihkan kotoran. Tugas ini tak cocok untuk pria dewasa, karena
bagi mereka ini hal sepele da nada tugas lain yang lebih tinggi resikonya. Yang
sepertinya pantas untuk diberi mandat akan proyek ini adalah para pemuda.
Mengapa? Mari kita sedikit memahami pekerjaan ini, pertama mereka akan diberi
lambung serta usus hewan, lalu lambung terbetus mereka bedah yang didalamnya
berisi setumpuk kotoran yang harus mereka keluarkan dengan tangan sendiri, dan
saat aku mempraktekannya, menyentuhnya, mengeruk kotoran tersebut ada rasa
hangat yang mengalir lewat kulit, dan untuk menyentuh itu, jelas bukan hal
mudah, karena kotoran mau bagaimanapun adalah hal yang kita hindari apalagi
oleh penciuman kita, terinjak saja sudah merasa begitu hina, sekarang harus
menggenggamnya. Belum lagi usus, didalam usus juga terdapat kotoran, yang mau
tak mau harus kita pijit pelan-pelan agar sibau ini keluar dan kita membedahnya
atau membalikan kulit usus dalam yang menempel dengan kotoran kita jadikan
diluar dan kita cuci setiap kotoran yang menempel disana, tak jarang saat
kotoran itu sulit hilang kita harus mengeriknya dengan kuku kita. Semoga
penjelasan sederhana ini mampu menggambarkan bahwa pekerjaan ini menjadikan
kita (pemuda) harus terus berdekatan, bersentuhan tenggelam didalam hal yang
sebenarnya ingin kita hindari. Seolah dalam hidup, pemuda dituntut harus selalu
berhadapan dengan kejadian-kejadian yang tidak diharapkan dan mereka harus
terbiasa dengannya dan menerima itu sebagai bagian dari hidup mereka. Seakan
pemuda harus menelan pil pahit setiap hari, sehingga tanpa itu mereka akan
mati, meski masih bernafas.
Pemilahan daging
Maksudnya memotong daging kecil-kecil lalu memilahnya dan
memasukkannya sehingga menjadi sebuah paket, tentu saja didalamnya juga sudah
ada usus, tulang, kulit dan sejenisnya. Yang mengemban tugas ini adalah
Ibu-ibu. Kenapa, karena hanya mereka yang mampu menakar antara satu
paket(daging kurban) dengan paket yang lain PORSINYA SAMA. Nah ini yang
sepertinya sulit bila diberikan kepada kaum adam, karena mereka cenderung berat
sebelah, merki dalam perkiraan mereka itu sudah sama rata. Pengukuran yang
tepat juga perhitungan yang cermat dalam hal ini hanya sanggup dilakukan oleh
ibu-ibu. Karena menghitung-hitung dan mengira-ngira sudah menjadi makanan
sehari-hari mereka.
Lalu dimana gadis perawannya?, entahlah karena yang aku
saksikan disini hanya satu atau dua yang ada dan mereka berada di dekat ibu
mereka, seolah ingin mempelajari apa saja yang dilakukan ibunya. Seperti hal
nya dalam hidup, seorang gadis harus benar-benar mampu belajar dari ibunya
mengenai apa saja, apalagi yang berkaitan dengan rumah tangga.
Demikianlah hasil obervasi ngasal, yang tak berdasar dan
berdata. Ini hanya opiniku semata, setuju atau tidak, terserah saja. Yang pasti
aku hanya ingin menuangkan isi kepala, dan mengabadikannya, mungkin di kemudian
hari aku akan terheran-heran dan malu sendiri saat melihat tulisan ini. Karena
aku yakin besok atau lusa pemikiran ini akan lenyap diganti dengan
masalah-masalah yang sudah mengantri, tak kuat ingin memasuki otakku yang penuh
pesona. Hahaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar