Kamis, 15 Agustus 2019

Cerpen Nonfiksi: Filosofi iddul Qurban



Sebetulnya beberapa tahun terakhir ini aku selalu turut serta dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban. Namun baru kali ini, kesanku dituangkan lewat tulisan.

Banyak sekali pengalaman baru, banyak hal baru yang kulihat yang juga menarik perhatian. Baik, pertama-tama, meski ritual penyembelihannya terbilang sedikit molor dan kurang terorganisir, tapi ternyata mereka telah mengetahui tupoksi masing-masing dan uniknya, bagi penempatan tugas disini seperti menggambarkan kehidupan, semacam falsafah. Menurutku, ada tiga faksi vital dalam ceremony ini. Pertama, Pemotong daging dan tulang juga menyembelih. Dua, kadut. Dan terakhir pemilahan daging.

Pemotong dan penyembelih

Peran ini yang paling penting dalam perayaan ini, karena tanpa mereka, pekerjaan lain tak akan tercipta. Yang bertanggung jawab disini pria dewasa, yang sudah kenyang dengan asam pahit kehidupan. Sehingga saat menyembelih, tekad mereka kuat, percaya diri mantap, mereka tahu beban yang ia tanggung serta resiko yang akan diderita bila gagal. Karena disin taka da percobaan kedua, harus sekali jadi. Seperti hal nya juga saat mereka memisahkan daging dari tubuh hewan tersebut, karena yang dipotong bukan hanya daging tapi tulang. Memotong tulang harus dengan kekuatan dan keteguhan jiwa. Sehingga setiap potongan terlihat pas dan pantas. Seolah menggambarkan bahwa kehidupan pria dewasa setiap langkahnya harus dengan langkah yang pasti, taka da lagi kebimbangan dari setiap keputusan yang diambil, dan sebesar apapun resiko yang terbentang, siap mereka lahap dengan penuh kenikmatan.

Kadut

Maksudnya kelompok yang bertugas membersihkan jeroan, dengan kata lain membersihkan kotoran. Tugas ini tak cocok untuk pria dewasa, karena bagi mereka ini hal sepele da nada tugas lain yang lebih tinggi resikonya. Yang sepertinya pantas untuk diberi mandat akan proyek ini adalah para pemuda. Mengapa? Mari kita sedikit memahami pekerjaan ini, pertama mereka akan diberi lambung serta usus hewan, lalu lambung terbetus mereka bedah yang didalamnya berisi setumpuk kotoran yang harus mereka keluarkan dengan tangan sendiri, dan saat aku mempraktekannya, menyentuhnya, mengeruk kotoran tersebut ada rasa hangat yang mengalir lewat kulit, dan untuk menyentuh itu, jelas bukan hal mudah, karena kotoran mau bagaimanapun adalah hal yang kita hindari apalagi oleh penciuman kita, terinjak saja sudah merasa begitu hina, sekarang harus menggenggamnya. Belum lagi usus, didalam usus juga terdapat kotoran, yang mau tak mau harus kita pijit pelan-pelan agar sibau ini keluar dan kita membedahnya atau membalikan kulit usus dalam yang menempel dengan kotoran kita jadikan diluar dan kita cuci setiap kotoran yang menempel disana, tak jarang saat kotoran itu sulit hilang kita harus mengeriknya dengan kuku kita. Semoga penjelasan sederhana ini mampu menggambarkan bahwa pekerjaan ini menjadikan kita (pemuda) harus terus berdekatan, bersentuhan tenggelam didalam hal yang sebenarnya ingin kita hindari. Seolah dalam hidup, pemuda dituntut harus selalu berhadapan dengan kejadian-kejadian yang tidak diharapkan dan mereka harus terbiasa dengannya dan menerima itu sebagai bagian dari hidup mereka. Seakan pemuda harus menelan pil pahit setiap hari, sehingga tanpa itu mereka akan mati, meski masih bernafas.

Pemilahan daging

Maksudnya memotong daging kecil-kecil lalu memilahnya dan memasukkannya sehingga menjadi sebuah paket, tentu saja didalamnya juga sudah ada usus, tulang, kulit dan sejenisnya. Yang mengemban tugas ini adalah Ibu-ibu. Kenapa, karena hanya mereka yang mampu menakar antara satu paket(daging kurban) dengan paket yang lain PORSINYA SAMA. Nah ini yang sepertinya sulit bila diberikan kepada kaum adam, karena mereka cenderung berat sebelah, merki dalam perkiraan mereka itu sudah sama rata. Pengukuran yang tepat juga perhitungan yang cermat dalam hal ini hanya sanggup dilakukan oleh ibu-ibu. Karena menghitung-hitung dan mengira-ngira sudah menjadi makanan sehari-hari mereka.
Lalu dimana gadis perawannya?, entahlah karena yang aku saksikan disini hanya satu atau dua yang ada dan mereka berada di dekat ibu mereka, seolah ingin mempelajari apa saja yang dilakukan ibunya. Seperti hal nya dalam hidup, seorang gadis harus benar-benar mampu belajar dari ibunya mengenai apa saja, apalagi yang berkaitan dengan rumah tangga.
Demikianlah hasil obervasi ngasal, yang tak berdasar dan berdata. Ini hanya opiniku semata, setuju atau tidak, terserah saja. Yang pasti aku hanya ingin menuangkan isi kepala, dan mengabadikannya, mungkin di kemudian hari aku akan terheran-heran dan malu sendiri saat melihat tulisan ini. Karena aku yakin besok atau lusa pemikiran ini akan lenyap diganti dengan masalah-masalah yang sudah mengantri, tak kuat ingin memasuki otakku yang penuh pesona. Hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi