Enter
Sudah lima belas menit aku termenung di depan monitor laptopku. Jari telunjukku
siap untuk mengklik tombol di keyword. Di temani dinginnya angin malam, aku
masih memikirkan tentang apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus membagikan
artikel yang baru saja ku buat atau tidak.
Memang isi artikel tersebut berisi tentang penjelasan pentingnya
bersikap jujur, jika disebarkan tentu akan berdampak baik bagi siapa saja yang
membacanya. Namun yang membuat ku ragu, karena dimata teman-teman, diriku merupakan
pribadi yang buruk.
Bahkan merekaa sudah tidak percaya
kepadaku karena setiap aku bercerita tentang diriku selalu kudilebih-lebihkan.
Tidak hanya berbohong, aku juga suka
merampas uang atau jajanan adik kelas, sehingga hilang sudah kehormatan dan
wibawaku dimata mereka.
Bukan itu saja, akupun kerap kali mencuri barang-barang atau uang milik teman sekelasku. Pernah suatu
ketika saat aku pergi ke kantin, karena banyaknya siswa aku berani mengambil
makanan tanpa membayarnya. Dan hal itu terlihat oleh si ibu kantin.
Pernah juga aku mencuri uang kas
kelas yang aku tahu uang itu berada di dalam tas Rendi. Dan lagi-lagi
perbuatanku itu kepergok. Tapi, karena tak pernah ada bukti yang kuat untuk
mengahakimiku, mereka hanya mampu untuk menjauhiku.
Sehingga aku tak memiliki teman satupun, kalaupun ada teman yang mau diajak
ngobrol, teman tersebut pasti lah benar-benar bersikap waspada baik terhadap
ucapan ataupun perbuatanku.
Lama-kelamaan akupun mulai merasa
tak nyaman dengan sikap mereka. Sehingga tanpa sadar aku menjadi pribadi yang pemurung dan pendiam.
Sebenarnya sejak saat itu perasaan bersalah sudah ada dihati ini. Dan aku
pun berniat untuk meninggalkan perilaku burukku ini. Namun teman-temanku tak
pernah tahu kalau aku ingin berubah.
Pernah suatu ketika aku mencoba memberitahu Arman –salah satu teman
sekelasku- bahwa akutelah berubah. namun baru juga aku memanggil namanya, sorot
mata yang diberikan kepadaku jelas merupakan tanda kebencian yang mendalam.
Sehingga akupun mengurungkan niatku.
Pernah juga terjadi, ketika ada teman yang kehilangan uang di tasnya.
Seluruh kecurigaan tertuju kepadaku meskipun tak ada yang menuduhku secara
langsung, namun dengan gerak-gerik mereka sudah cukup jelas bagiku bahwa mereka
memang menuduhku. Meskipun dalam hati aku ingin teriak “heyy...!! bukan aku
yang mengambilnya” . namun teriakan itu takan merubah apapun.
Untuk mengusir rasa sepiku, akhir-akhir ini aku lebih sering membaca novel.
Meskipun rasa sepi ini tak terobati sepenuhnya tapi tak apalah, yang penting
Allah tahu akan itiqad hijrahku ini.
Berawal dari novel, akupun terdorong untuk membaca buku-buku yang lainnya
sehingga sekarang aku bisalah disebut pencinta buku. Karena hanya buku yang mau
berbicara denganku, mengajariku, menasihatiku
dan membimbingku untuk menjadi manusia yang baik.
Hingga suatu ketika, ketika aku sedang membaca, si buku itu seolah berkata
bahwa kebaikan itu tak cukup jika hanya diketahui dan dikerjakan oleh diri
sendiri. Dari situlah aku bertekad untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan yang
telah aku pelajari.
Tapi bagaimana aku memberitahukannya, mengobrol denganku saja mereka tak
mau. Karena yang mereka tahu aku masih Fadli yang dulu, Fadli yang suka
berbohong, mencuri dan menganiaya adik kelas. Tapi niatku sudah bulat. Jadi
kuputuskan untuk membuat artikel dan menyebarkannya lewat sosial media. Dengan
begitu, kupikir mereka akan mau mengobrol denganku tanpa harus bertatap muka
dengan si berandal ini.
Saat aku sedang berpikir keras apakah pantas aku membagikan artikel ini.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dan terdengar suara perempuan yang aku tahu dia
adalah Fuji kakak perempuanku.
“Fad, cepet turun. Makan malam udah siap tuh!”
“ia Kak bentar.” Jawabku pendek
“emang lagi ngapain sih?”tanya nya.
“lagi sibuk kak.”
Mendengar jawabanku itu, kakak ku langsung masuk tanpa meminta iji dariku
dulu. Diapun langsung menghampiriku.
“oh.. lagi bikin artikel yah? “ katanya sambil melihat tulisan di
monitorku. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaanya itu.
“wah bagus juga tulisannya. Ini udah kamu sebar belum?”
“Belum kak,”
“loh kenapa. Sayang banget tahu, kalau tulisan bagus ini Cuma kakak doang
yang tahu”
“aku malu kak buat nyebarinnya”
“kenapa harus malu, tulisannya bagus koq” tanya nya dengan nada penasaran.
“ia sih tulisannya bagus, tapi aku nya yang gak bagus kak.”
“maksud kamu?”
“jadi gini kak. Aku ini orangnya suka nyuri, ngebohong, bahkan ngerampas
jajanan dan uang adik kelas.” Jelasku.
“terus, gara-gara kamu punya sifat buruk , kamu jadi malu buat nyebarin
kebaikan?” tanyanya dengan nada datar.
“iya” jawabku lemas.
“denger yah Fad. Di dunia ini gak ada manusia yang sempurna. Kakak yakin
dengan kamu buat artikel ini, kamu itu pasti punya kemauan buat berubahkan?”
tanya nya dengan mata sedikit melotot.
“iya juga sih”jawabku pendek.
“nah sekarang coba deh kamu bayangin gimana jadinya hidup ini, kalau semua
orang yang mau berubah kayak kamu ini punya pemikiran yang sama kayak kamu
tadi?”
“hmm... mungkin kiamat kak, hehe.” Jawabku sekenanya.
“yee... ditanya serius malah gitu jawabnya. Tapi bener juga sih. Ketika
orang yang taubat malu untuk menyebarkan
kebaikan. Sedangkan setiap orang pasti pernah berbuat salah. Pasti populasi
orang baik akan terus berkurang dan orang jahat membludak.”jelasnya dengan nada
penuh percaya diri.
“loh koq orang baik bisa berkurang dan orang jahat membludak gitu sih
kak,?” tanyaku bingung
“ia karena orang yang berusaha menjadi baik tadi merasa malu dan tak pantas
untuk memberitahu teman nya yang jelas-jelas berbuat salah, sedangkan si jahat
ini masih saja menganggap orang baik tadi orang yang sama sepertinya karena
tidak tahu kalau dia telah berubah. “
“oh jadi gitu yah kak, aku mulai ngerti sekarang.”
“inget Fad, gak ada manusia yang sempurna. Oleh karenanya, yang bisa kita
lakukan adalah saling menyempurnakan satu sama lain dengan cara selaing
menolong dan menasihati.”
“iya bu guru..” jawabku dengan sedikit canda.
“ihh, dikasih tahu malah ngeledek. Dan inget satu lagi Fad, kejahatan
kadang timbul bukan karena kuatnya si penjahat, tapi karena diam (penakut) nya
orang-orang baik.”
“iya Pak Polisi, aku udah ngerti.” Jawabku sedikit kesal.
“hehe, yaudah kalau gitu, yuk makan mumpung semur jengkolnya masih anget.”ajaknya.
Akupun mengangguk dan mengikutinya turun. Dan sambil beranjak dari tempat
duduk, ku arahkan jariku menuju satu tombol dalam keyword lalu aku klik,
enter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar