Sabtu, 17 Desember 2016

Cerpen Fiksi: Enter



 Enter

Sudah lima belas menit aku termenung di depan monitor laptopku. Jari telunjukku siap untuk mengklik tombol di keyword. Di temani dinginnya angin malam, aku masih memikirkan tentang apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus membagikan artikel yang baru saja ku buat atau tidak.  Memang isi artikel tersebut berisi tentang penjelasan pentingnya bersikap jujur, jika disebarkan tentu akan berdampak baik bagi siapa saja yang membacanya. Namun yang membuat ku ragu, karena dimata teman-teman, diriku merupakan pribadi yang  buruk.
 Bahkan merekaa sudah tidak percaya kepadaku karena setiap aku bercerita tentang diriku selalu kudilebih-lebihkan.
 Tidak hanya berbohong, aku juga suka merampas uang atau jajanan adik kelas, sehingga hilang sudah kehormatan dan wibawaku dimata mereka.
Bukan itu saja, akupun kerap kali mencuri barang-barang  atau uang milik teman sekelasku. Pernah suatu ketika saat aku pergi ke kantin, karena banyaknya siswa aku berani mengambil makanan tanpa membayarnya. Dan hal itu terlihat oleh si ibu kantin.
 Pernah juga aku mencuri uang kas kelas yang aku tahu uang itu berada di dalam tas Rendi. Dan lagi-lagi perbuatanku itu kepergok. Tapi, karena tak pernah ada bukti yang kuat untuk mengahakimiku, mereka hanya mampu untuk menjauhiku.
Sehingga aku tak memiliki teman satupun, kalaupun ada teman yang mau diajak ngobrol, teman tersebut pasti lah benar-benar bersikap waspada baik terhadap ucapan ataupun perbuatanku.
 Lama-kelamaan akupun mulai merasa tak nyaman dengan sikap mereka. Sehingga tanpa sadar aku  menjadi pribadi yang pemurung dan pendiam.
Sebenarnya sejak saat itu perasaan bersalah sudah ada dihati ini. Dan aku pun berniat untuk meninggalkan perilaku burukku ini. Namun teman-temanku tak pernah tahu kalau aku ingin berubah.
Pernah suatu ketika aku mencoba memberitahu Arman –salah satu teman sekelasku- bahwa akutelah berubah. namun baru juga aku memanggil namanya, sorot mata yang diberikan kepadaku jelas merupakan tanda kebencian yang mendalam. Sehingga akupun mengurungkan niatku.
Pernah juga terjadi, ketika ada teman yang kehilangan uang di tasnya. Seluruh kecurigaan tertuju kepadaku meskipun tak ada yang menuduhku secara langsung, namun dengan gerak-gerik mereka sudah cukup jelas bagiku bahwa mereka memang menuduhku. Meskipun dalam hati aku ingin teriak “heyy...!! bukan aku yang mengambilnya” . namun teriakan itu takan merubah apapun.
Untuk mengusir rasa sepiku, akhir-akhir ini aku lebih sering membaca novel. Meskipun rasa sepi ini tak terobati sepenuhnya tapi tak apalah, yang penting Allah tahu akan itiqad hijrahku ini.
Berawal dari novel, akupun terdorong untuk membaca buku-buku yang lainnya sehingga sekarang aku bisalah disebut pencinta buku. Karena hanya buku yang mau berbicara denganku, mengajariku, menasihatiku  dan membimbingku untuk menjadi manusia yang baik.
Hingga suatu ketika, ketika aku sedang membaca, si buku itu seolah berkata bahwa kebaikan itu tak cukup jika hanya diketahui dan dikerjakan oleh diri sendiri. Dari situlah aku bertekad untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan yang telah aku pelajari.
Tapi bagaimana aku memberitahukannya, mengobrol denganku saja mereka tak mau. Karena yang mereka tahu aku masih Fadli yang dulu, Fadli yang suka berbohong, mencuri dan menganiaya adik kelas. Tapi niatku sudah bulat. Jadi kuputuskan untuk membuat artikel dan menyebarkannya lewat sosial media. Dengan begitu, kupikir mereka akan mau mengobrol denganku tanpa harus bertatap muka dengan si berandal ini.
Saat aku sedang berpikir keras apakah pantas aku membagikan artikel ini. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dan terdengar suara perempuan yang aku tahu dia adalah Fuji kakak perempuanku.
“Fad, cepet turun. Makan malam udah siap tuh!”
“ia Kak bentar.” Jawabku pendek
“emang lagi ngapain sih?”tanya nya.
“lagi sibuk kak.”
Mendengar jawabanku itu, kakak ku langsung masuk tanpa meminta iji dariku dulu. Diapun langsung menghampiriku.
“oh.. lagi bikin artikel yah? “ katanya sambil melihat tulisan di monitorku. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaanya itu.
“wah bagus juga tulisannya. Ini udah kamu sebar belum?”
“Belum kak,”
“loh kenapa. Sayang banget tahu, kalau tulisan bagus ini Cuma kakak doang yang tahu”
“aku malu kak buat nyebarinnya”
“kenapa harus malu, tulisannya bagus koq” tanya nya dengan nada penasaran.
“ia sih tulisannya bagus, tapi aku nya yang gak bagus kak.”
“maksud kamu?”
“jadi gini kak. Aku ini orangnya suka nyuri, ngebohong, bahkan ngerampas jajanan dan uang adik kelas.” Jelasku.
“terus, gara-gara kamu punya sifat buruk , kamu jadi malu buat nyebarin kebaikan?” tanyanya dengan nada datar.
“iya” jawabku lemas.
“denger yah Fad. Di dunia ini gak ada manusia yang sempurna. Kakak yakin dengan kamu buat artikel ini, kamu itu pasti punya kemauan buat berubahkan?” tanya nya dengan mata sedikit melotot.
“iya juga sih”jawabku pendek.
“nah sekarang coba deh kamu bayangin gimana jadinya hidup ini, kalau semua orang yang mau berubah kayak kamu ini punya pemikiran yang sama kayak kamu tadi?”
“hmm... mungkin kiamat kak, hehe.” Jawabku sekenanya.
“yee... ditanya serius malah gitu jawabnya. Tapi bener juga sih. Ketika orang yang  taubat malu untuk menyebarkan kebaikan. Sedangkan setiap orang pasti pernah berbuat salah. Pasti populasi orang baik akan terus berkurang dan orang jahat membludak.”jelasnya dengan nada penuh percaya diri.
“loh koq orang baik bisa berkurang dan orang jahat membludak gitu sih kak,?” tanyaku bingung
“ia karena orang yang berusaha menjadi baik tadi merasa malu dan tak pantas untuk memberitahu teman nya yang jelas-jelas berbuat salah, sedangkan si jahat ini masih saja menganggap orang baik tadi orang yang sama sepertinya karena tidak tahu kalau dia telah berubah. “
“oh jadi gitu yah kak, aku mulai ngerti sekarang.”
“inget Fad, gak ada manusia yang sempurna. Oleh karenanya, yang bisa kita lakukan adalah saling menyempurnakan satu sama lain dengan cara selaing menolong dan menasihati.”
“iya bu guru..” jawabku dengan sedikit canda.
“ihh, dikasih tahu malah ngeledek. Dan inget satu lagi Fad, kejahatan kadang timbul bukan karena kuatnya si penjahat, tapi karena diam (penakut) nya orang-orang baik.”
“iya Pak Polisi, aku udah ngerti.” Jawabku sedikit kesal.
“hehe, yaudah kalau gitu, yuk makan mumpung semur jengkolnya masih anget.”ajaknya.
Akupun mengangguk dan mengikutinya turun. Dan sambil beranjak dari tempat duduk, ku arahkan jariku menuju satu tombol dalam keyword lalu aku klik, enter.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi