Seperti seorang bocah cilik yang mendapatkan mainan baru
yang selama ini ia inginkan, bocah itu begitu bahagia, berjingkrak kegirangan
lalu memamerkan kepada teman-teman bermainnya. Kurang lebih seperti itulah
perasaanku saat membaca buku “Man’s search for meaning”. Bagi pembaca pemula sepertiku, saat menemukan
hal baru dalam bacaannya langsung besar kepala, seolah ia menemukan harta karun
yang begitu bernilai. Keinginan untuk berbagi mengenai hasil bacaannya timbul
begitu saja. Terlebih lagi, secara kebetulan dalam buku ini, terdapat solusi
mengenai masalah yang sedang dihinggapinya.
Cukup banyak pencerahan yang kudapat di dalamnya. Satu diantara
yang masih kuingat ialah mengenai suatu penyakit psikis yang penulis beri nama “Kehampaan
Eksistensial”.
Katanya, di jaman sekarang, penyakit ini begitu popular
apalagi di kalangan anak muda. Penyakit ini
bukan penyakit yang menyerang kepada fisik kita secara langsung, melainkan
kepada mental kita.
Untuk mendeteksi apakah kita sedang terjangkit penyakit ini
atau tidak, cobalah jawab beberapa pertanyaan berikut:
“Apakah kamu pernah merasa seolah hidup ini tidak ada
artinya lagi?”
“Apa kamu merasa bosan dengan kehidupan yang sepertinya
begitu-begitu saja? Sehingga sempat terbesit bahwa meninggalkan hidup ini
bukanlah hal yang besar?
“apakah kamu merasa beban dan masalah yang menimpamu terasa
begitu hebat, sampai kamu berpikir untuk mengakhiri hidupmu? Buat apa hidup,
mati rasanya jauh lebih baik (mungkin begitu pikirmu)
Apabila kamu pernah merasakan hal-hal diatas, aku pun sama.
Dan saat aku membaca buku itu, lebih kurang aku mendapatkan
jawaban yang cukup memuaskan dan masuk akal mengenai apa yang kurasakan. Apa sebenarnya
masalah itu? lalu bagaimana solusinya.
Mungkin ada sebagian yang bertanya,” mengapa penyakit ini
popular sekarang? Bukankah pertanyaan atau perasaan demikian bisa hinggap pada
siapa saja dan kapan saja?”.
Memang benar, hal ini bisa hinggap pada siapa saja, namun
kenapa disebut popular sekarang? Karena,
diantara penyebab timbulnya penyakit ini adalah hilangnya makna. Dan diantara
makna itu terkandung dalam budaya dan tradisi. Disini pun aku baru sadar betapa
pentingnya kita menjaga tradisi dan budaya kita, karena salah satu hikmah dari
budaya itu sendiri adalah ia menyimpan atau menjaga makna.
Orang tua dulu, mungkin sering menasihati kita ini itu, atau
di daerah kita terdapat budaya begini begitu, yang terkadang saat melihat
praktek pelaksanaannya seperti tahayul. Padahal jika kita telaah sedikit lebih
dalam, biasanya pasti ada pesan tersirat didalamnya, ada suatu makna tentang
kehidupan yang menjadi pegangan orang tua kita. Dan lewat tradisi dan budaya
itulah makna itu terjaga, sehingga masyarakatnya dapat memetik nilai-nilai
kehidupan disana.
Namun, untuk masa sekarang, kita sadari betul, bahwa tradisi
dan budaya sedikit demi sedikit mulai tersingkirkan, terasingkan, sampai
akhirnya dilupakan.
Dan penyakit kehampaan eksistensial ini akar penyebabnya ialah
hilangnya makna dalam diri kita. Lalu kita pun tak tahu bagaimana atau dimana
menemukan makna tersebut. Untuk lebih
lengkapnya silahkan dibaca bukunya J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar