Senin, 21 Juni 2021

Cerpen Nonfiksi: Telor Pecah

Telor Pecah

Kurasa kita semua sepakat bahwa ucapan orang tua itu doa, apalagi ibu. Dari sekian banyak ingatan dalam hidup kita, terkadang yang benar-benar melekat adalah kenangan yang pahit. Aku pun heran, aku yang mudah lupa masih mengingat tentang peristiwa ini.

Aku tumbuh dan besar di sebuah kampung di kota Subang, kota yang rasanya tak sering dibicarakan di media sosial, ataupun di layer kaca. Aku lupa saat itu usia berapa, yang pasti masih duduk di sekolah dasar.

Sudah menjadi kebiasaan warga kampungku, saat minggu pagi tiba, kamu selalu berbondong-bondong membeli surabi. Setiap kali teringat suasana minggu pagi, rasanya begitu damai. Udara sejuk, cahaya matahari yang hangat, oh, ingin sekali rasanya kembali ke pagi itu.

Seperti warga lainnya, akupun tak ingin kehabisan surabi itu. Biasanya aku pergi Bersama ibu. Dari rumah kami sudah persiapan membawa telur, karena surabi tambah telur dan taburan oncom sungguh perpaduan yang dahsyat.

Namun pagi itu aku minta kepada ibu agar aku membawa telur itu sendiri, dengan tanganku sendiri. Tapi ibu tak menghendakinya. Ia bilang kalua aku yang bawa nanti telurnya pecah. Aku tahu, waktu itu aku masih kecil, namun dengan kesadaran penuhku, memegang telur agar tidak pecah tentu bukan hal yang sulit ataupun rumit, cukup digenggam saja.

Akhirnya ibuku mengalah, kami pun berangkat ke tempat kha situ. Sampai disana sudah banyak orang berkerumun, memandangi surabi yang dipasak, sambal bertanya-tanya “inikah punyaku?”

Ibu mengobrol dengan ibu-ibu lainnya, aku lupa saat itu sedang apa, karena yang aku ingat adalah saat telur yang sedari tadi ada dalam genggaman tiba-tiba lepas begitu saja, meluncur ke tanah basah dan pecah. Oh tidak, kataku dalam hati, bagaimana mungkin ini terjadi? Padahal aku yakin sekali bahwa telur ini tak akan pecah, aku yakin, yakin beribu-ribu yakin. Tapi ternyata takdir berkata lain.

Melihat hal itu, ibuku berkata “Nah kan, apa ibu bilang!” , apa dalam hatinya ia merasa menang? Aku takt ahu. Yang jelas telur itu pecah, dan perkataan ibuku serratus persen terjadi. Akhirnya ibu memberikan telur miliknya untukku.

Entah aku harus bicara apa kala itu, hanya saja bila mengingat kejadian tersebut, kesanku hanya begitulah ibu. Ucapannya selalu benar. Dan ia selalu berkorban untuk anaknya. Dan sebaiknya kita berhati-hati kawan, jaga baik-baik hatinya, agar ucapannya kepada kita baik pula.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi