Kamis, 17 Juni 2021

Cerpen Nonfiksi: Pembantai T-Rex


Pembantai T-Rex


Ini adalah kepingan cerita dalam hidupku yang cukup sulit kulupakan. Saat itu status pekerjaanku masih sebagai pengajar di sebuah pesantren. Di pesantren ini sebelum memasuki bulan Ramadan biasanya kegiatan belajar mengajar telah usai. Santri (siswa) akan kembali ke pesantren setelah lebaran. 

Pada bulan ramadhan tahun itu, beberapa pengajar berinisiatif untuk menyelenggarakan itikaf. Tentu saja ini tidak bersifat wajib, kebanyakan yang ikut serta adalah pengajar muda (belum menikah), aku dan teman-teman sebaya tentu termasuk didalamnya.  Mengapa aku ikut? yang pertama, karena penasaran. Bagaimana sih rasanya berdiam di masjid selama sepuluh hari tanpa sejengkalpun keluar dari sana. Ditambah, kami tidak diperbolehkan menggenggam telepon genggam ( cuma inisiatif) selama kegiatan tersebut. Dan lagi, selama sepuluh hari ini pun kami diberi agenda kegiatan yang cukup padat. Menghafal al-quran, menelaah hadis, tafsir, ilmu alat, dll. Katanya itu semua guna meningkatkan wawasan keilmuan kami. 

Acara ini tidak bersifat formal, sehingga jika ada teman yang ingin ikutpun, pintu terbuka lebar. Hanya sekitar tiga belas sampai lima belas yang ikut itikaf ini, ada pengajar muda, teman pengajar muda, dan pengajar senior yang merangkap sebagai panitia kegiatan itikaf ini. 

Hari demi hari kami lewati tidak begitu saja, banyak obrolan, kejadian yang cukup menarik. Berpisah dengan hp ternyata cukup memberi dampak positif, membuat hubungan kami lebih intens, karena semua jalur komunikasi lewat verbal bukan aplikasi. 

Di suatu malam yang entah keberapa, setelah selesai semua kegiatan, seperti biasa kami yang muda-muda mengobrol sambil merokok bersama (kesampingkan dulu masalah boleh tidaknya pengajar merokok di pesantren yang memasang peraturan santri tidak boleh merokok), sambil menunggu rasa kantuk datang. Diantara kumpulan itu ada Aziz (nama samaran), dia teman kami tapi bukan pengajar di pesantren, yang anehnya hanya dia yang tidak merokok disitu. Oh iya gais, meski kami disana disebut pengajar, atau biasa disebut ustad, sejatinya kami masih remaja tanggung yang sedang melangkah menuju pendewasaan. Seperti saat itu, kami yang biasanya memarahi serta menghukum santri yang kedapatan merokok (kadang pengajar yang memarahinya sambil merokok), malah merayu si aziz ini agar mencoba satu hisap saja. Aziz bukan orang yang sedari lahir belum pernah merokok, dia hanya sudah berhenti, sehingga membuatnya merokok lagipun dirasa bukan perbuatan yang tercela, haha. 

"Sok sok ziz cobaan sabatang weh," kata Adnan (nama samaran) 

"heueuh Ziz, sakali-kali mah moal nanaon meureun," tambah Ihsan (nama samaran) 

Karena kalah suara ditambah rayuan setannya terlalu kuat untuk ditahan, Aziz pun mengambil sebatang rokok Magnum, menempelkannya di mulut dan cekes, asappun keluar dari mulut aziz sambil sedikit batuk. 

Setelah momen cekes itu kamipun tepuk tangan pelan-pelan (karena sebagian orang sudah tidur), sambil mengucapkan selamat layaknya ucapan selamat kepada orang yang baru lulus sekolah. 

"Kieu ziz, mun aya nu menta rokok, buka bungkusna, terus sodorkeun ka jelemana, titah manehna nyokot sorangan, lain kuurang nyokot rokok dina bungkus eta terus dibikeun sabatang, kade lain kitu!" kata si Syekh (hanya sebutan) saat menjelasakan hukum tak tertulis sesama perokok. 

" Oh kitunya siap-siap a" jawab Aziz

"Ziz bisa kieu teu haseup na?" kata Lukman (nama samaran) saat menunjukkan kebolehannya membuat huruf O pada asapnya. 

"Wah bisaan euy, cikan kumaha eta teh carana a Luk?" tanya Aziz sambil terkagum-kagum 

"Ah eta mah ges biasa, Syekh Syekh tunjukeun jurus T-Rex tea ka si Aziz!" potong Ihsan. 

"Asa karek ngadengen jurus eta mah, cikan contoan a!" pinta Aziz. 

Dengan suara pelan namun berat Syekh berkata, "Tempokeun!" 

Syekh mengambil napas perlahan, meletak rokok dimulutnya dan menghisapnya dalam-dalam, dan mulai mengeluarkan asapnya secara perlahan, sehingga terlihat seperti lava putih meleleh keluar dari mulutnya. 

"Bari nangtung atuh Syekh biasana ge" pinta ihsan lagi. 

Syekh pun berdiri dan langsung memposisikan tangannya seperti Tiranosaurus Rex, sambil sekali lagi menghisap rokoknya, Syekh kembali memuntahkan asapnya secara perlahan namun kali ini dengan kepala yang diputar kekiri ke kanan, lengkap dengan posisi tangan dan tubuh layaknya T-Rex. Kamipun tertawa cukup keras tanpa kami sadari karena tingkah Syekh itu. 

Mulut kami masih menganga menikmati tawa, belum sempat tawa itu reda, tiba-tiba ada sekelibat bayangan yang tiba melesat, mendekati T-Rex dan menamparnya cukup telak. PLAK. 

Suara geplakan itu menyadarkanku, bahwa bayangan tadi itu adalah pengajar seniorku, dan tidak sampai disitu, seniorku itu seperti pemangsa yang gelap mata, kemana matanya mengarah, kepada orang itulah geplakan mengarah, sontak kumpulan itupun bubar secepat bubarnya anak-anak muda yang dirazia polisi 86. 

Beberapa teman sial kami terkena geplakan itu, meski tak setelak nasib T-Rex. Ada yang kena kepalanya, bahunya ataupun tangannya. Kami berhamburan menuju tempat tidur masing-masing dan langsung pura-pura tidur, seolah tak pernah kejadian apapun kala itu. Dalam keheningan, aku mencoba menata perasaan campur aduk yang mengoyak. Antara perasaan kaget, karena kegesitannya, juga kesal karena dia sudah menghancurkan kesenangan kami, kasihan, terhadap mereka yang terkena geplakan, namun yang paling dominan adalah perasaan ingin tertawa atas kejadian itu. Sekuat tenaga aku menahan mulutku untuk bertingkah. 

Yang lucunya adalah bahwa ini bukan kali pertama aku melihat aksi seniorku ini. Kadang-kadang jurus kilat ini pun aku lihat saat dia mengurusi santri, dan kini, kualami sendiri apa yang santri-santriku rasakan, haha. 

Tentu saja ini bukan perilaku yang patut dicontoh, hanya saja cerita ini merupakan harta yang takkan  mampu orang rebut dariku. Dan tentu saja, aku yakin kalian juga memiliki harta-harta kalian sendiri. 


Catatan : Untuk beberapa hari kedepan dari kejadian itu T-Rex dan Sang Pembantai tak saling bertegur sapa. 

1 komentar:

Saksi