Kiranya saat itu matahari sedang bersemangat menebarkan cahayanya.
Namun bagi pria tersebut cahaya terik itu bukan apa-apa bila dibandingkan dengan awan gelap dikepalanya.
Untuk beberapa saat dia mematung seperti itu sambil sesekali mengerutkan dahinya.
Tak lama berselang, seorang kakek tua duduk di sampingnya.
Si Kakek tua mengamati pria disampingnya itu, dari parasnya kakek tua menerka bahwa usia pria ini hampir mengijak kepala tiga, "masih cukup muda" gumamnya.
Perawakannya cukup proposional, tidak terlalu gemuk maupun kurus.
Dari pakaiannya, dengan kemeja polos biru langit dan dasi hitam yang menggantung di lehernya, ditambah celana bermerek, jelas bahwa pria ini adalah pekerja kantoran dengan gaji diatas UMP Jakarta, pikir si Kakek.
Wajah pria itu pun rasanya cukup rupawan, si Kakek tidak kaget bila ada beberapa teman kerjanya mencoba mendekatinya.
Tapi kenapa? Si Kakek kebingunan, dengan semua hal yang melekat pada dirinya, mau berapa kalipun si Kakek mengamati, pria ini jelas sedang merasa terpuruk.
Paras tampannya tertutupi kesedihan sekaligus kemarahan.
Badan yang menampung otot yang kuat itu terlihat lemas.
Dan pakaiannya kusut sekali.
Rasa penasaran si Kakek sudah ke ubun-ubun, dan akhirnya dia pun bertanya pada pria tersebut.
"Hey nak, kenapa mukamu begitu kusut, rasanya butuh beberapa balikan untuk merapikannya bila dengam setrikaan" canda si Kakek.
Pria itu membuka matanya lalu matanya mengarah ke sumber suara. Melihat sosok kakek tua dengan wajah yang begitu teduh, sedikit menggerakkan minat di hatinya.
Meski penampilan si Kakek begitu sederhana, namun senyumannya begitu tulus, terasa sekali bahwa ia menikmati masa hidupnya dengan sangat baik.
"Bagaimana caranya Kek?"
"Apa maksudmu nak?"
"Bagaimana kau bisa masih terlihat begitu bahagia, padahal kau sudah tua?"
"Hahaha, kau lucu sekali nak, memang apa salahnya dengan bahagia, bukankah itu yang dicari semua orang di dunia ini?"
"Iya aku tau itu, tapi bagaimana bisa? Aku saja yang baru umur segini sudah begitu muak dengan kehidupan ini, kebahagian menjadi sesuatu terlalu jauh untuk kugapai."
"Oh begitu, memangnya apa yang sudah menimpamu sehingga memberi kesan demikian pada kehidupan?" tanya si Kakek.
Pria itu menghela napas sejenak sambil memejamkan mata sebelum menjawab.
"Percayalah Kek, kau hanya buang-buang waktu jika mendengar ceritaku."
"Cobalah, semoga saja ajal belum menjemputku sampai ceritamu selesai."
"Hey Kek, jangan bilang kau sedang sekarat, aku sudah repot dengan hidupku, jangan kau tambah-tambah."
"Haha, hiraukan saja ucapanku barusan, cepat katakan saja cerita sedihmu itu."
Pria itu msnghela napas seperti sebelumnya.
"Baiklah jika kau begitu penasaran, dan ingat, jangan mati dulu saat aku masih disini."
"Kau ini cerewet sekali" kata Si Kakek.
"Sebentar Kek, dimana harus kumulai semua kisah tragis ini, ah baik, aku mulai dari sana saja"
"Aku lahir dari keluarga berada, orang tuaku juga cukup tegas dalam hal yang berkaitan dengam agama.." kata si Pria memulai cerita.
"Hei nak, meski aku setuju mendengar ceritamu, bukankah sedikit keterlaluan bila harus mendengar riwayat hidupmu dari bayi sampai sekarang" gerutu si Kakek.
"Dasar Kakek tua, sabarlah, Aku tak seantusias itu, aku hanya menarik benang yang berkaitannya saja."
"Haha untunglah, lanjutkan nak"
"Jangan bicara sampai aku selesai cerita Kek, kalau tidak pergi saja sana"
"Kau ini pemarah sekali, baik aku akan jadi pendengar yang baik."
Pria itu melanjutkan ceritanya lagi.
"Karena orang tuaku taat beragama sekaligus 'orang berada', sedari kecil aku tak pernah lepas dari pendidikan agama, hingga masuk pesantren modern pun tak kulewatkan.
Meski dijejali dengan ilmu agama sedari dini, aku akui, aku bukan orang yang taat beribadah.
Namun karena ajaran itu terus-menerus mengalir deras ke dalam pikiranku hingga masuk alam bawah sadarku, akupun jadi selamat dari banyak jurang kemaksiatan, menurutku.
Masa kuliah ku jalani dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya aku bisa mendapat pekerjaan seperti sekarang. Yah meski pekerjaan ini juga didapat masih dengan bantuan dari orang tuaku.
Setelah beberapa tahun bekerja ibuku mulai menanyakan perihal pernikahan. Dia bertanya apa aku sudah punya calon, aku hanya cengengesan saja.
Dia pun memintaku untuk mulai memikirkam hal ini, mengingat usiaku sudah lebih dari cukup (menurutnya).
Awalnya aku menanggapi ini sekenanya saja, tapi dia tanpa lelah mengingatkanku akan hal ini, ketimbang mengingatkan itu lebih seperti tuntutan atau hutang yang harus segera kubayar.
Aku mengerti keinginannya, hanya saja aku belum menemukan calon tersebut.
Memang benar, ada beberapa rekan kerja wanita yang mencoba mendekatiku.
"Tuh kan benar apa kataku," kata si Kakek dalam hatinya.
Meski aku tak begitu mendalami agama, tapi dalam hal jodoh aku ingin mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW, yaitu lihat agamanya.
Dan teman kerjaku itu rasanya tak memenuhi kriteria tersebut.
Kian hari, kelakuan ibuku semakin menjadi-jadi, bilang kalau dia sudah tak sabar ingin menggendong cucu, mencoba pura-pura sakit, dan banyak hal ganjil lainnya.
Entah ibuku sadar atau tidak kalau itu sangat membebani pikiranku, produktuvitasku di kantor menurun secara berangsur-angsur. Pulang kerja, dirumah membuatku semakin tak nyaman dengam "serangan" dari ibuku.
Tak lama setelah itu, aku coba bercerita dengan rekan kerjaku, ku bilang bagaimana caranya agar mendapatkan calon istri yang agamanya kuat.
Temanku ini memang tak tahu caranya, tapi dia tahu seseorang yang mungkin bisa memecahkan masalahku katanya.
Orang itu adalah Ajengan di daerah tempat tinggalnya.
Katanya Ajengan ini suka membantu orang yang lagi kena masalah, baik itu masalah jodoh, pekerjaan, dll.
Intinya Ajengan ini selalu punya solusi atas masalah orang yang datang meminta bantuannya.
Setiap hari pasti ada saja orang yang datang ke rumah Ajengan ini. Begitu kata temanku menggambarkan kemasyhuran Ajengan ini.
Dalam hati, kupikir Ajengan ini adalah paranormal. Tapi saat itu aku sedang kalut, sehingga seruan hati kuabaikan.
Aku pergi ke tempat Ajengan itu dengan kawanku tentu saja. Sesampainya disana, kulihat dinding-dinding ruangannya dipenuhi kaligrafi dan lukisan tokoh islam kurasa, karena orang-orang dalam lukisan itu memakai sorban, mungkin potret wali atau habib aku tak tahu.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya aku bertemu Ajengan tersebut. Sebetulnya Ajengan itu hanya panggilan yang orang lain berikan, dia sendiri lebih senang dipanggil Ki Haji.
Saat mulai berbincang-bincang, kupikir dia akan menebarkan omong kosong dan cerita-cerita penuh khayal, ternyata tidak. Pemahamannya tentang agama cukup dalam. Dia berbicara tentang rukun islam, rukun iman dan yang semisalnya. Meski aku lulusan pesantren modern, ku akui aku kesulitan mengikuti pemaparannya. Ilmunya terlalu jauh untuk kuimbangi. Aku terkagum-kagum, dan kurasa kalau Ki Haji ini bukanlah paranormal. Tapi memang orang yang diberi kelebihan oleh Allah SWT.
Setelah mengetahui masalahku, bahwa aku ingin mendapatkan jodoh yang kuat agamanya, Ki Haji hanya memberiku bacaan dzikir, yang katanya harus kubaca setelah sholat Subuh dan Isya. Aku ingat-ingat betul apa yang di sarankan itu.
Akhirnya setelah dua minggu aku mengamalkan bacaan dzikir yang diberikan Ki Haji tanpa bocor sekalipun, aku bertemu wanita yang kelihatannya cocok sesuai kriteriaku.
Wanita itu bernama Sofia, matanya yang tidak terlalu sipit, hidungnya yang tak terlalu mancung, dan senyumannya yang menenangkan, sungguh melengkapi keindahan parasnya. Cara Sofia berpakaian begitu anggun, kelonggaran baju yang dipakainya tak menyisakan sedikitpun lekukan tubuhnya, terlihat sekali bahwa ia begitu menjaga auratnya.
Setelah kami mencoba untuk saling mengenal pribadi masing-masing, aku jadi tahu, selain baik, orangnya cukup ramah sekaligus enak diajak ngobrol, dan lagi dia sangat menjaga sholatnya, semakin membuatku yakin untuk meminangnya.
Karena merasa saling cocok, dan kedua keluarga kamipun saling setuju. Akhirnya kamipun menikah.
Aku merasa tenang karena ibuku sudah berhenti 'menagih hutang', sekaligus senang karena mendapatkan wanita yang selain cantik juga kuat agamanya, seperti yang dianjurkan Nabi. Kupikir kehidupan rumah tangga kami akan damai tentram dan membahagiakan, karena istriku cukup agamis, tapi ternyata tidak.
Semakin lama aku tinggal dengannya, semakin terlihat jelas sikap aslinya.
Meski dia rajin beribadah dan berpakain rapi, tapi sifatnya terkadang kekanak-kanakan, tidak menyambutku bila aku pulang kerja.
Kami juga sering bertengkar bahkan dia berani menentangku sambil menaikkan suaranya , bukankah seorang istri itu harusnya taat sepenuhnya pada suami? Benar-benar tak habis pikir.
Aku seharusnya tahu dari awal, kalau Ki Haji itu benar-benar paranormal. Sial, bodoh sekali aku sampai mengerjakan jampi-jampinya itu selama dua minggu penuh.
Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi? padahal aku hanya ingin mendapat istri seperti yang dianjurkan nabi, yang kuat agamanya?kenapa malah dapat wanita seperti itu? " Pria itu mulai menggerutu, seperti gerutuan yang ia gumamkan saat wajahnya menghadap matahari tadi.
" Apakah ceritanya sudah selesai nak? " tanya si Kakek.
" Memangnya apa lagi yang ingin kaudengar?" rasa kesalnya belum hilang.
" Hahaha, kau ini lucu sekali nak, kupikir kau itu terkena musibah, ternyata hanya masalah sepele." balas si Kakek.
"Hah, untuk orang sebahagia sepertimu, mana paham kau perasaanku."
"Haha, ayolah nak, jangan habiskan tenagamu untuk menggerutu, apa kau mau dengar beberapa patah kata dari Kakek tua ini?"
"Biacara saja sesukamu, lagipula aku bukan anakmu." jawab si Pria.
"Begini nak, dari ceritamu itu, sepertinya sumber masalahmu itu hanyalah kesalahan pahaman saja."
"Bagian mananya yang salah paham, apa kau sudah mulai pikun Kek?" bantah Pria itu.
"Aku tidak bercanda, kau hanya salah paham memaknai maksud anjuran Nabi kita, dan juga aku masih belum pikun."
"Salah paham bagian mananya, anjuran Nabi begitu jelas agar kita melihat agamanya."
"Itu memang benar, tapi dari mana kita bisa menakar atau melihat kedalaman agama seseorang?" tanya si Kakek.
"Tentu saja dari sikapnya, bisa juga dari cara dia berpakaian atau ibadahnya." jawab si Pria.
"Itu kan hanya dugaanmu saja, niat seseorang itu tersembunyi di dalam hati, sedangkan perbuatan yang kita lihat hanyalah buah dari niat."
"Ia itu memang benar, bila bukan dari perbuatan, lalu bagaimana caranya kita tahu bahwa seorang wanita itu kuat agamanya?" tanya si Pria.
"Disinilah yang ku maksud bahwa kau itu telah salah paham, pikiranmu dipenuhi dengan 'aku harus menemukan pasangan dengan agama yang kuat', padahal kedalaman agama seseorang itu sangat sulit dilihat, apalagi bagi orang-orang biasa seperti kita."
"Bila kita tak bisa melihat kedalaman agama seseorang, lalu bagaimana kita menemukan pasangan yang dikatakan Nabi?"
"Nak, kau kan lulusan pesantren, tentu kau pernah mendengar ayat Al-Quran yang menjelaskan, bahwa hidup manusia itu berpasangan, muslim dengan muslim, yang sholeh dengan yang sholeh, yang kafir dengan yang kafir, dan seterusnya. Secara tersirat ayat ini memberi tahu kita, bahwa jodoh yang akan kita dapatkan adalah cerminan diri kita. Oleh karenyanya, anjuran Nabi tentang 'pilih lah pasangan karena agamanya' itu bila dimaknai agar kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan atau agama kita sendiri."
" Hmmm, ucapanmu terdengar masuk akal Kek, " celoteh si Pria.
" Sebentar, jangan memotong ucapanku, Bila kita landaskan anjuran Nabi itu dengan meningkatkan keimanan diri sendiri, iman kita akan semakin kuat, sehingga mungkin saat kau bertemu dengan orang seperti Ki Haji itu, kau dapat dengan mantap menentukan sikap. Dan juga, bila mindsetmu itu senantiasa ingin meningkatkan keimanan dan pasangan itu cerminan diri kita, mungkin kau tak akan dengan mudahnya menganggap kekurangan pasangan itu sebagai sesuatu yang salah, tapi memandangnya lebih kepada bahwa ternyata akupun masih banyak kekurangannya, dan pasanganku mengingatkanku akan hal itu, bukankah dengan cara pikir demikian, kalian akan jadi pasangan yang saling memaafkan dan tumbuh bersama? "
" Kek, kau mulai terdengar seperti Ki Haji itu, haha. " goda pria itu yang pandangannya sudah menampakkan perubahan.
" Nak, meski aku sudah tua, aku masih sanggup untuk memberikan satu atau dua pukulan padamu,"
" Aku bercanda Kek, " jawab Pria itu, sedikit tersenyum.
" Lalu dimana sekarang istrimu? dari ceritamu itu, kurasa dia wanita baik, hanya saja karena ekspektasimu yang terlampau tinggi, kesalahan kecil yang ia buat kau lebih-lebihkan tanpa sadar. Dan lagi cara kau bertemu dengannya, kau terlalu mengaitkannya dengan Ki Haji, bila kau bertemu dengannya dengan cara lain, mungkin dampaknya tak akan seburuk ini pada dirimu, "kata si Kakek.
" Kami sedang pisah ranjang, dan sepertinya dia akan meminta cerai, mengingat sikapku kepadanya. Meski kata-katamu seolah menyadarkanku akam 'kesalahpahaman' itu Kek, tapi sepertinya sekarang sudah terlambat. " kata si Pria dengam nada pesimis.
"Bila kau benar-benar menikah karen mengharap ridho Allah SWT. jangan kau sia-siakan, berusahalah sejauh yang kau bisa, sisanya serahkan saja kepada Pemiliknya."
"Baik kek, akan kulakukan nasehatmu ini, oh iya tapi tadi kau bilang bahwa masalahku ini sepele, memangnya masalah apa yang pernah menimpamu?".
"Bila kukatakan pada bulan Juni dua tahun lalu anak pertamaku bersama istri dan cucuku meninggal dalam kecelakaan pesawat, lalu satu tahun berikutnya anak keduaku dan keluarganya mengalami kecelakaan mobil. Dan minggu kemarin istri tercintaku menghembuskan napas terakhirnya, apakah kau percaya?"
"Dengan raut wajah bahagiamu yang seperti ini?? tidak mungkin."
"Haha, sudah kuduga" jawab si Kakek.
Lalu si Kakek berdiri dan berjalan meninggalkan Pria itu.
"Kakek tua yang aneh" gumam si Pria.
Karena penasaran, si Pria membuka ponsel pintarnya dan mencoba berita kecelakaan yang terjadi pada bulan Juni dua tahun ke belakang, dan ternyata itu nyata. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar