Rabu, 07 Juni 2023

Arti Menjadi Dewasa

Faqih dan Fikri sedang berada di warteg langganan mereka, yang letaknya hanya sekitar tiga puluh langkah dari gerbang kampus.

Mereka makan dengan begitu lahap setelah selesai mempelajari mengenai tahapan perkembangan dan pertumbuhan manusia di kelas sebelumnya. 

Keduanya merupakan mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling di salah satu universitas di Bandung. 

Selepas makan, Fikri langsung menyambar rokok dan korek dan menyalakannya. Di hisapan pertama pikiran Fikri mulai meraba-raba kembali apa yang disampaikan dosennya tadi. 

Di hisapan kedua, akhirnya ia ingat materi yang baru saja ia terima. 

Di hisapan ketiga ia akhirnya bicara. 

"Qih, kalau mengamati apa yang dosen sampaikan, berarti kita ini sekarang sudah masuk tahapan manusia dewasa yah?" Kata Fikri masih ragu. 

Faqih yang baru saja menyelesaikan makanannya tidak langsung menjawab, kebiasaan makannya yang agak lambat menular ke daya berpikirnya. 

" Bisa jadi, tapi aku juga gak begitu mengerti," balas Faqih. 

"Belum mengerti apanya?" 

"Menjadi dewasa, kalau dilihat dari usia dari penjelasan tadi, memang usia kita sudah memasuki tahap dewasa, tapi apakah menjadi dewasa itu sesederhana ini?" Kata Faqih menjelaskan. 

" Bener juga sih, terus jadi dewasa itu kayak gimana dong?" jawab Fikri masih ragu. 

" Aku juga gak tahu, makannya ini lagi mikir,". 

Tanpa mereka sadari, ternyata obrolan mereka terdengar oleh Ibu Warteg tersebut, yang biasa dipanggil bu Anwar. 

"Hei nak, kalian mau tahu dewasa itu apa?" Kata bu Anwar. 

"Emang bu Anwar tahu, kita aja yang mahasiswa kebingunan" jawab Fikri. 

"Hah, dasar anak jaman sekarang, baru jadi mahasiswa aja udah ngerasa paling pinter" balas bu Anwar. 

Merasa hatinya sedikit terusik, Faqih menimpali. 

"Kalau emang Bu Anwar tahu coba jelasin deh" 

"Dengerin nih, Kalau kamu sholatnya masih disuruh-suruh sama orang tua, berarti belum dewasa." Tegas bu Anwar. 

"Sesimpel itu?" tanya Fikri kebingungan. 

"Sesimpel itu." bu Anwar meyakinkan. 

"Apaan ah, jawabannya gak nyambung, apa kaitannya jadi dewasa sama disuruh-suruh sholat?" keluh Faqih. 

"Siapa bilang gak ada kaitannya, kalau kamu masih disuruh buat sholat, berarti kamu masih belum sadar sama kewajiban kamu sendiri sebagai muslim" jelas bu Anwar. 

"Terus kaitannya sama dewasa apa?" jawab Fikri masih kebingunan. 

" Ya Ampun, masih belum mengeri juga, kalian ini kuliah ngapain aja, kerangka berpikirnya dipake dong, " jawab bu Anwar sambil tersenyum. 

" Ah bu Anwar ini malah ngegoda kita," balas Faqih. 

"Hahaha, iya maaf maaf, jadi gini, sejak manusia dilahirkan dia sudah memikul tanggung jawab, dan seiring bertambahnya usia, tanggung jawabnya tambah banyak"  bu Anwar menjelaskan. 

"Oh jadi itulah kenapa orang yang udah nikah suka dipanggil dewasa, karena udah punya tanggung jawab," Faqih menanggapi. 

"Itu masih setengah benar, jangan sampai kalian keliru mengartikan orang dewasa dengan orang yang memiliki tanggung jawab." 

"Terus apa dong kalo bukan tanggung jawab?" tanya Fikri. 

"Kesadaran akan tanggung jawab, setiap orang memiliki tanggung jawab, baik kepada dirinya sendiri, orang tua, pasangannya, dan terutama kepada yang memberikannya tubuh dan kehidupan.  Tapi kesadaran akan tanggung jawab itu sendiri datang di waktu yang tak sama pada setiap orang, ada yang cepat ada yang lambat. Bisa juga sadar akan tanggung jawab sebagai anak kepada orang tua, tapi lupa kepada Tuhannya, atau sebaliknya. Jadi intinya kedewasaan seseorang hanya dia sendiri yang tahu, sedangkan orang lain hanya bisa menerka-nerka dari perbuatannya. " Jelas bu Anwar. 

" Iya iya, saya mulai paham bu, cuma yang saya gak paham, kok ibu malah jualan warteg, ngeliat cara ibu ngejelasin, serta gaya bahasanya, jelas banget ibu wawasannya cukup luas," jawab Fikri

" Bener tuh bu, coba kalau jadi pendakwah, mungkin bisa lah jadi kayak mamah dedeh" Faqih menambahi. 

"Hahaha, kalian ini ada-ada saja, emangnya menurut kalian, kalau mau dakwah itu harus jadi pendakwah atau penceramah dulu gitu? " 

" Emang begitukan?" tanya Fikri

"Ya nggaklah, dakwah itu kewajiban setiap muslim, mau seperti apapun statusnya dalam masyarakat. Dan tak harus naik mimbar, karena ada segudang cara untuk berdakwah" 

"Jadi penjual warteg juga bisa gitu bu?" tanya Fikri lagi. 

"Tentu saja bisa, dan mungkin bisa lebih diterima dakwah atau nasihatnya" 

"Lah kok bisa yakin gitu sih? Sergah Faqih. 

" Haha, setidaknya orang yang ada disini pas dengerin ibu enggak lagi kelaperan atau mikirin makan. "Jawab bu Anwar setengah bercanda. 

" Hahaha, bener juga sih, masa orang laper malah dikasih dalil bukannya makanan." kata Fikri sambil tersenyum lebar, seolah dia baru mendapatkan pencerahan. 

Faqih baru tersenyum beberapa menit setelahnya. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi