Beberapa hari yang lalu, aku dan sepupuku berkujunjung ke rumah temannya. Dalam perjalanan ke rumahnya, sepupuku memberi pengantar mengenai temannya tersebut.
Temannya itu sebut saja Rina, usianya 3 tahun diatasku, dan usiaku 28 tahun. Rina belum menikah, ibunya merasa khawatir dengan kehidupan asmara Rina mengingat usianya, hingga ia kerap kali memintanya untuk sesegera mungkin menikah.
Keluarga Rina bisa dibilang kaya atau berada, ayahnya seorang pensiunan polisi dengan beberapa mobil dan motor memenuhi parkiran rumahnya, dan rasanya halaman itu masih cukup untuk beberapa mobil lagi.
Rina bekerja di Dinas Perhubungam dengam gaji UMP yang hampir menyentuh 5 juta.
Ia memiliki seorang adik polisi, sudah menikah beranak dua, Rina didahului adiknya.
Menurut sepupuku, Rina orang yang baik, enak diajak ngobrol, dan pengertian.
Namun, bila melihat luarnya, dia tidak cantik, bahkan parasnya terkesan sangar, dan pribadinya agak tomboy, kata sepupuku.
Sepertinya penjelasan terakhir ini yang membuatnya masih melajang, apalagi kata 'sangar' untuk seorang wanita terdengar ganjil.
Setelah kami tiba dirumahnya, kami disambut oleh sesosok wanita dengan rambut bergelombang sebahu, memakai baju kaos lengan pendek serta celana pendek seperti boxer yang biasa laki-laki pakai, dan sandal jepit.
Setelah bertemu langsung, penjelasan sepupuku tentang 'sangar' rasanya sedikit kumaklumi.
Selanjutnya kamk mengobrol lalu pergi mencari makan diluar menggunakan mobilnya. Rina yang mengemudi, karena baik aku maupun sepupuku belum bisa menyetir.
Saat pergi keluar itu, Rina berganti dari baju kaos ke baju berkerah tangan pendek, dan celana panjang, tanpa riasan atau wewangian sedikitpun sebagaimana biasanya perempuan lakukan.
Setelah makan kami kembali kerumahnya dan kamipun pamit pulang.
Dari pertemuan dengan Rina, aku tiba-tiba saja 'merasa' mengerti arti ungkapan "tampil apa adanya".
Dan apakah Rina tampil apa adanya?, kurasa tidak.
Mengapa? karena dengan kemampuan ekonomi dirinya maupun keluarganya, rasanya dia mampu menampilkan diri yang lebih.
Meski sepupuku berkata bahwa Rina selalu tampil apa adanya seperti itu, aku berpikiran berbeda.
Bila Rina anak remaja yang labil, tanpa tekanan menikah, tanpa pekerjaan cukup, yang hanya fokus belajar sehingga lupa penampilannya, aku maklumi.
Tapi Rina adalah wanita dewasa dengan pikiran yang matang, dengan pekerjaan yang cukup, dan latar belakamg keluarga yang terbilang oke.
Dengan desakan dari ibunya yang terus menerus, kiranya perihal pernikahan cukup mendesak bagi Rina.
Rinapun ingin meredakan kekhawatiran ibunya, namun ia menempuh jalan yang sulit menurutku.
Meski jodoh adalah urusan langit, namun ada ruang untuk ikhtiar disana.
Dan Rina mengambil langkah tampil apa adanya (menurutnya) sebagai bemtuk ikhtiar menjemput jodohnya.
Menurut sepupuku yang merupakan teman dekatnya, Rina berpenampilan apa adanya begitu karena ingin menguji apakah ada yang mau dengannya saat dia tampil begitu sekenanya.
Mungkin Rina berpikiran bila ada yang mau menerimanya seperti itu, pria itu benar-benar pria yang baik. Terlebih dia telah kecewa terhadap ayahnya yang kurang perhatian.
Kurasa keinginan Rina sama seperti kita semua, ingin mendapatkan pasangan yang bisa menerima kita apa adanya.
Rina juga pernah bilang pada sepupuku, bila telah mendapatkan pria yang tepat, ia akan patuh sepenuhnya, ia akan merubah penampilannya, berhijab atau apapun itu yang diminta suaminya kelak.
Mungkin pemikiranku yang memandang Rina bukan tampil apa adanya tapi dia hanya ingin tampil seadanya untuk menguji pria itu berbeda dengan yang lain, dan kupikir tampil apa adanya Rina bisa lebih dari itu
Rina seperti sedang bersandiwara menjadi versi seadanya dirinya, dimana sebenarnya itu bukan dia yang sebenarnya.
Menurutku, setelah melihat Rina, tampil apa adanya berarti menampilkan versi terbaik diri kita dimanapun dan kapanpun kita berada.
Menampilkan yang terbaik bukan berarti menambahkan sesuatu yang sebenarnya diluar kemampuan kita.
Namun, apakah yang dilakukan Rina itu salah? Apakah tampil seperti itu untuk menguji pria salah? Aku tidak tahu, hanya saja kukira itu jalan yang sulit.
Mengapa? Begini, dari sudut pandangan perempuan, rasa nya tak berlebihan bila kubilang bahwa saat mencari pria, sifat-sifat seperti baik, perhatian dsb lebih didahulukan dibanding tampilan fisiknya.
Meski laki-lakipun menginginkan wanita yang di penuhi sifat positif, tapi laki-laki itu bodoh, dan selalu lebih terpana atau terpedaya dengan tampilan fisik wanita dari pada sifatnya, setidaknya pada kesan pertama.
Seberapa baikpun wanita, kesan pertama yang biasa dilihat lelaki terlebih dahulu adalah tampilan luar.
Namun itu bukan berarti wanitanya harus benar-benar cantik seperti artis, cukup dengan sedikit cantik atau manis, dengan sedikit riasan atau wewangian agar suasana terasa nyaman, terkadang mampu untuk menarik perhatian lelaki pada kesan pertama.
Namun, Rina mengabaikan kesan pertama ini, dia lebih memilih tampil di depan lelaki seperti dia tampil saat dia bangun tidur. Inilah yang kumaksud Rina menempuh jalan yang sulit.
Dan satu lagi, entah ini hanya diriku saja atau lelaki memang begini, yaitu, tidak senang dengan ujian-ujian yang seperti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar