Rabu, 14 Juni 2023

Keliru meletakkan ketakutan

Diantara ketakutan-ketakutan yang kerap bergentayangan di alam pikiran manusia adalah kematian.
Kematian karena jantung tak lagi berdetak, mati karena tak lagi bernapas, mati karena ruh sudah berpisah dari raga. 
Kenapa kita takut akan kematian yang ini? 
Apakah karena kita sudah terlanjur betah di dunia ini?, 
Apakah kecintaannya kepada dunia sudah menggunung hingga tak sanggup melepaskannya?
Salah satu penyebab timbulnya rasa takut mati, mungkin karena kita merasa memiliki. 
Memiliki rumah, kendaraan, keluarga, anak, teman, sehingga kita enggan melepas apa yang kita miliki, atau takut kehilangan itu semua. 
Namun bila kita tidak merasa memiliki, tapi merasa dititipi, semua komponen-komponen tadi berpisah dengan kita, perasaan lega mungkin akan muncul, karena sejatinya telah mengembalikan apa yang dititipkan kepada kita kepada yang Maha Memiliki, Sang Pemilik Sejati, Allah SWT.
Bila pola pikir kita berawal dari sini, mungkin kita akan lebih bijak dalam menjaga diri, keluarga, teman dan harta benda yang telah Allah SWT titipkan kepada kita.
Dengan landasan demikian, merasa takut akan kematian menjadi terdengar konyol atau tak masuk akal. 
Belum lagi, kematian merupakan gerbang agar kita dapat kembali kepadaNya, bertemu denganNya, yang mana ini merupakan kenikmatan tertinggi yang didambakan oleh setiap kaum muslimin.
Ketakutan sebenarnya yang harus kita waspadai bukan ini, melainkan takut keimanan kita perlahan-lahan terkikis hingga tak bersisa atau sama dengan matinya iman.
Godaan dunia sungguh memabukkan, bila kita tak menjaga iman kita, lambat laun mungkin mata kita akan tertutup, lalu telinga kita, begitu seterusnya hingga hati dan pikiran kita tertutup sepenuhnya dari iman. 
Secara medis, mungkin kita masih hidup seperti biasa, namun mata ini tak lagi terpesona dengan keagungan Sang Pencipta. 
Telinga kita tak lagi tergerak saaat ayat sucinya dilantunkan. 
Pikiran kita jadi tumpul dalam membedakan yang baik dan buruk. 
Dan hati kita telah lama mati hingga nasihat tak dapat lagi menyentuhnya.
Inilah yang sekiranya harus kita takutkan, harus kita waspadai. 
Lalu bagaimana agar kita senantiasa menjaga keimanan ini?
Pertama, mulailah dengan mengenali diri sendiri, karena semakin kita mengenali diri, semakin kenal pula dengan Pemiliknya. 
Menyadari bahwa kita tak memiliki apa-apa, sadar bahwa semuanya hanya titipan, yang harus kita jaga dan gunakan secara benar dan bijaksana berdasarkan petunjuknya, petunjuk yang berupa Al-Quran dan Al-Hadits.
Iman kepada Kitab Allah begitu penting, karena bila kita benar-benar meyakininya, apapun masalah dunia yang menghinggapi kita, Allah telah memberi kita petunjuk bahwa solusinya ada dalam Kitab tersebut. 
Bagaimana cara menjalani hidup, bagaimana cara menghadapi orang lain, bagaimana cara menanggulangi masalah, bagaimana cara menghilangkan stres, dan berbagai macam masalah lainnya dan juga panduam hidup lainnya selama kita di dunia, Allah telah memberi san menyediakan kita cara mengakatasinya, yaitu dengan mengikuti apa yang termaktub dalam Al-Quran dan Al-Hadits.
Boleh jadi pendapat seseorang begitu masuk akal bagi satu orang, tapi tidak bagi yang lainnya, boleh jadi masukkan seseorang begitu mudah dimengerti, namum tetap saja akan ada yang berpandangam sebaliknya, oleh karenanya bila kita hanya mendengarkan manusia, kita mungkin akan menjadi orang yang benar dan salah disaat yang bersamaan. 
Oleh karenya langkah terbaik, adalah mengembalikan masalah itu kepadaNya dengan mengikuti arahan dalam KitabNya. Karena Kitab itu bukanlah karangan manusia yang senantiasa berbeda pendapat, melainkan Kitab yang berasal dari Sang Pemilik dan Pemelihara dunia itu sendiri.
Wallau 'alam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi