Selasa, 20 Juni 2023

Lomba lari part 2

Keesokan harinya, semua pelamar telah bersiap di lapangan lari untuk melakukan tes fisik, Atau setidaknya itulah yang diberitahukan kepada para pelamar oleh Freddy.

"Baik teman-teman sekalian, tes yang akan kalian jalani adalah lari 20 putaran, dan ingat siapapun yang berhenti berlari barang sedetik atau finish paling akhir, berarti dia harus pulang, apa kalian siap!". Kata Freddy denga suara yang cukup lantang.

"Siap Dannnn....." seru para pelamar.

"Hahaha, lihat Fred, si 30 itu, dengan tingginya yang hanya 165cm, berat tubuh 90 membuatnya terlihat semakin bulat saja." Celoteh Jonathan.

"Aku tak akan menyangkal itu, sepertinya hari ini kau beruntung Jon," jawab Freddy lemas.

"Tapi Jon, kenapa kau mengatakan peraturan yang merepotkan seperti itu, apakah kita sungguh akan mempulangkan yang gugur?" tanya Jonathan.

"Itu terserah padamu, aku hanya ingit mereka lebih termotivasi dan serius," kata Freddy menjelaskan.

"Mau dilihat dari manapun, si 30 benar-benar sial, pelamar yang lain, selain masih muda, badan mereka juga cukup ideal, sungguh kasihan." keluh Jonathan.

"Tahan sedihmu Jon, kau tak akan benar-benar tahu hasilnya sebelum dimulai"

"Ya ya, cepatlah mulai Fred," pinta Jonathan.

Freddy memberi tanda untuk seorang instruktur agar segera memulaj tesnya, sesaat kemudian dia pun berteriak dengan lantangnya, "TIGA, DUA, SATU, MULAI!!!!"

"Hahahaha, apa yang dilakukan si bodoh itu Fredd, di lomba lari long trip seperti ini, bukannya menjaga stamina agar tak cepat lelah, dia malah memulainya dengan lari sprint intensitas tinggi, benar-benar bunuh diri si 30 itu," kata Jonathan sambil tertawa kegirangan.

" Seperti katamu, lari seperti itu diawal bukanlah pilihan bijak, tapi lihat, pelari yang lain jadi ikut-ikutan lari sprint semua."

"Makannya kubilang dia itu bodoh, mencoba bertarung  di adu kecepatan lari, dengan tubuh seperti itu, jelas dia yang kalah" seru Jonathan.

"Kau benar-benar cerdas Jon, si 30 itu lambat laun mulai kelelahan dan sebentar lagi dia akan berada di posisi terakhir." jawab Freddy.

"Hahaha, sebaiknya kau mulai menyiapkan uangnya Freddy, sebentar lagi juga dia akan berhenti berlari dan gugur." kata Jonathan sambil senyum senang.

Freddy mengeluarkan smartphone nya, bersiap mentransfer sejumlah uang taruhan kepada Jonathan, sambil menunggu si 30 berhenrti berlari, tapi..

" Cepatlah Freddy, apa lagi yang kau tunggu"  pinta Jonathan.

"Iya Jon, akan aku bayar, tapi masalahnya, lihat, dia masih belum berhenti juga, meski larinya pelan sekali, tapi dia masih belum berhenti" jawab Freddy.

"Ah si bodoh itu, mau sampai kapan dia akan memaksakan diri, baiklah kita tunggu, sebentar lagi dia pasti tumbang, haha"

Beberapa saat kemudian.

"Ya ampun dia masih berlari, sulit dipercaya, apa dia masih merasa yakin bisa meyusul pelamar lain dengan perbedeaan selisih tiga putaran begini?" kata Freddy bertanya-tanya.

"Hah, dia keras kepala sekali, sekaligus tolol, yang lain sudah 13 putaran, sedang dia masih 10, berlari biasa saja susah, apalagi menyusul, sungguh buang-buang waktu Fredd," keluh Jonathan.

"Jon, lihat, apa yang terjadi, kenapa raut wajah pelari-pelari muda itu begitu pucat dan kelelahan, lari mereka pun jadi semakin pelan," seru Freddy sedikit terkejut.

"Kau benar Fredd, mereka  seperti sudah kehabisan tenaga atau staminanya, dan sekarang mereka sedang berjuang mati-matian agar larinya tidak berhenti, jika keadaan sudah begini, si bodoh itu juga pasti sama lelahnya."

"Oh Jon, sepertinya kali ini kau keliru, si 30 itu meski terlihat agak capek, tapi jelas dia rak seperti pelari yang lain, larinya pun sekarang seperti makin cepat!" kata Freed setengah tidak percaya.

"Bukan sepertinya, tapi dia benar-benar berlari tambah cepat, sedangkan pelari-pelari yang lain tinggal menunuggu waktu sampai mereka berguguran satu per saru." kata Jonathan sambil menatap tajam, senyumnya hilang.

"Bagaimana ini bisa terjadi? apa selama ini dia menyimpan tenaganya? menunggu untuk saat-saat seperti ini?" Kata Freddy sambil kebingungan.

"Mustahil, meski dia menyimpan tenaganya, tidak ada jaminan bahwa pelari lain akan kelelahan parah seperti ini."  jawab Jonathan.

"Pertaruhan yang besar sekali, benar-benar nekat, sepertinya dia cocok denganmu Jon" ejek Freddy.

"Hahaha, menarik sekali, tak kusangka, dia berani bertaruh bahwa lawan-lawannya akan kelelahan dan ia menyimpan tenaganya untuk saat itu," Kata Jonathan.

"Apa kita sudahi saja lombanya Jon,? semua pelari sudah berhenti kecuali si 30, sungguh tontonan menarik" tanya Freddy

"Ya Fredd, pemenanya sudah keluar, buat apa berlama-lama lagi, cepat panggil saja dia kemari, mari kita dengar alasannya bertaruh begitu, hahaha"

"Bagaimana dengan yang lainnya, apakah kita pulangkan mereka, tapi ini terlalu banyak, aku tak menduga akan seperti ini" kara Freddy sambil trrsenyum malu.

"Biarkan yang lainnya istirahat dulu, kita urus itu belakangan," jelas Jonathan

"Hei kamu kemarilah," seru Freddy kepada si 30.

Si 30 bergegas menghampiri Freddy dan Jonathan, sesaat setelah mereka telah berhadapan, Jon langsung bertanya.

"Siapa namamu?"

"Siap Dan, nama saya Ulil Albab" jawab si 30.

"Nama yang cukup unik, jadi, mengapa kau berani bertaruh seperti itu?" tanya Jonathan.

"Mohon ijin Dan, saya kurang mengeri maksud Komandan," jawab Ulil.

"Sudahlah, kami berdua tahu, kau bertaruh bahwa pelari lain akan berhenti atau tidak diakhir-akhir putaran kan?" kata Jonathan tak sabar.

"Mohon ijin Dan, apakah harus saya jawab sejujurnya?" tanya Ulil sedikit ragu.

"Katakan saja semuanya, kami benar-benar ingin tahu, dan tak usah panggil komandan, itu terlalu formal." jawab Jonathan.

"Baiklah, saya memang menunggu pelari lain untuk kecapean, tapi itu bukan pertaruhan, tapi kepastian. Kata Ulil.

"Hah, jangan bercanda, bagaimana kau yakin kalau mereka akan kelelahan? " bantah Jonathan.

"Bila Bapak-bapak sekalian masih mengingatnya, saat perlombaan dimulai, saya langsung mengambil inisiatif untuk lari sprint kan?"

"Yah benar, itu benar-benar bodoh dan sia-sia." kara Jonathan sekenanya.

"Saya merasa senang mendengar jawaban Bapak, karena bila bapak tidak menangkap arti tindakan saya, pelari yang lainpun tidak." jelas Ulil.

"Arti apanya, bukannya sprint itu dilakukan agar kamu dapat keunggulan di awal,  dengan mencoba berlari sejauh mungkin dari yang lainnya?" tanya Freddy yang sedari tadi ingin sekali bicara.

"Pemikiran itulah yang saya harapkan dari pelari lain saat melihat saya sprint, sehingga mereka tak membiarkan itu terjadi, dan berusaha mengejar saya secepet mungkin." jawab Ulil.

"Lantas apa sebenarnya tujuanmu melakukan sprint itu sebenarnya ?" tanya Jonathan sampil mengerutkan dahi.

"Mungkin Bapak-bapak juga sudah tahu, kalau usiaku jauh lebih tua dari yang lain, ditambah berat badan dan fisik ku, masih belum ideal. Jadi dari awal aku punya kehkawatiran bila tes masuk perusahaan ini ada eliminasi, mungkin aku yang paling pertama tersingkir," jelas Ulil.

" Ya yah, itu mungkin saja, lalu? " tanya Jonathan

" Tes lari barusan benar-benar mewujudkan kehkawatiranku, tes ini  merugikanku, karena disini yang diuji adalah stamina dan kecepatan, dimana aku kalah dari yang lain, jadi bila kami berlari dengan kondisi biasa dengan intensitas yang sama, sudah jelas aku yang akan kehabisan stamina terlebih dahulu." kata Ulil.

" Itu memang masuk akal, jadi? " kini Freddy yang bertanya.

"Jadi, mau tak mau aku harus menguras tenaga meteka sebanyak mungkin, sedangkan aku menyimpannya sebanyak mungkin. Bila aku tak lari sprint di awal, mereka tak akan lari seperti itu juga, karena sejatinya, dengan lari biasapun mereka tak akan kalah, terlebih lagi ada aku, dimana mereka mungkin menganggap bahwa aku pelari dengan stamina paling payah, sehingga mereka tinggal berlari santai dambil terus menjaga jarak dari ku agar tak menyusulnya. Jadi saat aku sprint, itu jelas mengganggu pemikiran mereka, dan mau tak mau merekapun mengejarku. " kata Ulil. 

" Hahaha, sungguh analisa yang menarik, tapi apakah itu cukup untuk membuat mereka kelelahan? Kurasa tidak. " jawab Jonathan sedikit cemberut. 

" Memang benar pak, mengejarku sambil lari sprint hanyalah langkah awal, saat mereka sudah berlari kencang dan melewatiku, mereka merasakan kesenangan semacam rasa kemenangan karena telah mrngalahkanku, rasa senang itu rasanya membuat mereka sedikit lupa dengan tes ini, dan ingin mengalahkan orang lagi, karena perasaan mengalahkan seseorang saat telah mengerahkan tenaga sungguh nikmat. Jadi saat mereka sudah melewatiku, mereka tidak menurunkan intensitas larinya, malah mempercepatnya karena telah mendapatkan lawan baru yang harus  dikalahkan. "jelas Ulil. 

" Menarik, menarik sekali, lanjutkan" seru Jonathan. 

"Setelah mereka saling mengejar satu sama lain denfan intensitas tinggi, aku dengan sengaja memperlambat lariku, semakin lama semakin pelan, hingga mereka menganggapku akan  gagal, dan melupakanku. Saat aku telah hilang dari pikiean smereka sebagai saingan, sisanya aku tinggal menjaga ritme lariku, sambil menunggu mereka mencapai batasnya. Dan akhirnya merekapun tumbang satu persatu. Mungkin caraku ini terkesan licik, tapi bila aku bertanding ranpa melakukan apa-apa, jelas aku yang akan dirugikan, mohon maafkan saya pak," kata Ulil sambil sedikit menunduk sebentar." 

"Hahahaha, sungguh pengambilan keputusan yang cepat, dengan analisa yang akurat, menakjubkan." puji Jonathan. 

"Baiklah Ulil, silahkan beristirah, selamat datang di perusahaan kami, semoga kita jadi rekan yang akrab" kata Jonatan lagi sambil menyodorkan tangannya. 

"Baik pak, terima kasih banyak," jawab Ulil sambil menyalaminya. Lalu ia pun pergi. 

"Benar-benar diluar perkiraanku Fredd, hahaha, sungguh tak sia-sia aku menghadiri tes seperti ini,  dimana sebaiknya aku tempatkan Ulil ini, potensinya terlalu berharga untuk disia-siakan" kata Jonathan. 

"Ulil bisa kita bahas belakang, sekarang mana cepat, aku yang menang," tukas Freddy sambil tersenyum. 

"Ah sial, kukira dengan kejadian barusan kau akan lupa,"keluh Jonathan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi