Saling mendoakan bukan saling menuntut,
Kita ini saksi bukan jaksa.
Aku terbangun sekitar pukul tiga dini hari. Masih teringat, terakhir kulihat layar ponsel angka yang tertera 01.00. Jadi aku terlelap hingga dua jam, meski yang kurasa hanya beberapa kejapan mata.
Tadinya aku berencana tidur selepas isya, atau mungkin dikisaran pukul delapan malam. Tapi, rencana hanyalah rencana, ajakan sepupu mencari makan malam, padahal aku bertekad untuk tidak makan berat di malam hari, tapi ya sudahlah.
Lalu adik sepupuku ini (masih sepupuku juga), dia baru pulang main sambil membawa teman mainnya menginap, yang kamarnya bersebelahan dengan kamarku biasa tidur.
Dia dan teman-temannya sepertinya tak berencana untuk tidur malam itu, tapi bermain game, yang kuhafal sekali jenis game apa itu, dan aku tahu game itu mampu mempermainkan otakmu untuk terus bekerja hingga matahari tiba.
Dengan semua kebisingan itu, alhamdulillah aku masih bisa tertidur.
Apakah aku marah karena sepupu-sepupuku yang merusak rencana malamku? Tentu tidak, tapi sedikit kesal ada lah.
Namun jika dipir lagi, sudah diberi tempat untuk tidur juga, harusnya sudah syukur, ini rumah paman dan bibiku.
Semua penghuni rumah menerimaku dengan segala kekurangannya.
Jadi akupun insaf dengan rasa kesal tadi. Terkadang rencana menggiring kita lupa akan apa yang nyata, hati hati.
Kebingungan atau kepusingan kadang timbul karena banyaknya hal yang ingin kita lakukan tapi bimbang harus mana yang di dahulukan,
Lalu aku mencoba dari yang paling cepat memakan waktu, susah dan mudah agak fleksibel, yang jelas kadang kita bisa mengira, seberapa banyak waktu yang kita habiskan bila melakukan hal-hal itu.
Dan juga, kerjakanlah dahulu apa yang dinasihatkan. Nasihatnya mungkin bisa datang dari siapa saja, tapi ingat, tak ada yang kebetulan.
Jika nasihat itu kebaikan, dahulukan. Bila pekerjaannya itu satu dari dua pilihan, dimana pilihan keduanya yang menurutmu yang terbaik. Dahulukan yang dinasihatkan.
Pikiran kita kadang keliru, jalan pikiran kita terhadap sesuatu sering kali tak teruji, hanya berdasarkan asumsi pribadi semata, tak jarang dicampuri bisikan setan, hati-hati.
Jadi, perhatikan baik-baik, lihat dan dengar sekitarmu, saat kita bimbang antara dua pilihan atau lebih, pesan itu pasti datang.
Buka mata, buka hati, buka mata hatimu. Memohon bimbinganNya, insyaallah jalan yang lurus akan terhampar jelas. Wallahu alam.
Rencanakan hari esok, agar tidak bingung saat melangkah.
Sebelum menutup mata niatkan apa yang akan pertama kau lakukan saat memulai membuka mata kembali.
Dan sebaik-baik rencana, adalah yang disandarkan kepada sang pemilik diri kita, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Rab semesta alam, Allah Subhanahu Wataa'la.
Selaim bertemu Kakek Kopasus, sebenarnya aku bertemu satu kakek-kakek lagi di puskesmas saat itu.
Kakek misterius. Mengapa? Karena dia datang tanpa identitas.
Perawakan yang tinggi kurus, dibalut baju kaos, celana pendek, sepatu jogging, khas orang yang baru lari pagi itu datang sendiri ke puskesmas.
Tanpa BPJS, tanpa KTP, samar-samar kudengar, saat menyebutkan alamat tinggalnya kepada resepsionis, ia agak kebingungan.
Salut aku kepada para petugas disini, yang begitu sabarnya menghadapi kakek misterius ini.
Atau mungkin bukan misterius, tapi misery lebih cocok bagi kakek ini.
Saat itu aku sedang duduk bersama pasien lainnya menunggu panggilan dokter puskesmas.
Tiba-tiba saja, seorang pria dengan jaket parasit, serta topi, yang mencoba menutupi rambutnya yang putih semua, menyapaku.
"Sakit apa dek?" katanya
"Gini pak, kemarin saya ngelamar kerja, terus gak lolos tes kesehatan, nah sekarang saya cuma mau konsultasi sama dokter perihal penyakitnya."
"Oh, ngelamar kerja dimana emangnya?"
"Di Jakarta pak, jadi sekuriti, kebetulan dulu juga sudah pernah kerja jadi satpam."
"Hmm, bapak juga pernah kerja yang seperti itu, kalau gak salah waktu itu bapak jadi Chipnya."
"Bentar pak, bukannya chip itu sebutan buat pimpinan tertinggi satuan kerjanya?" tanyaku.
"Iya benar, setelah pensiun dari tentara, bapak kerja jadi chip disana beberapa tahun samle akhirnya pensiun juga."
"Oh bapak dari kesatuan, pantas saja, memang biasanya komandan regu apalagi chip diambil dari kesatuan, dari angkatan apa pak?" kataku lagi, penasaran.
"Dari Kopassus dek." jawabnya pendek, tapi cukup berefek.
"Wah Kopassus, oh iya iya, katanya pelatihan Kopassus itu lebih susah dari yang lainnya yah?"
Si bapak hanya mengangguk sambil tersenyum.
Selanjutnya, aku coba beberapa pertanyaan lagi, sampai akhirnya namaku di panggil dokter.
Sungguh, bila dia bukan pembohong, penampilannya sangat tidak mencerminkan kesatuam, apalagi Kopassus.
Saat kami mulai mengobrol, aku masih mengira dia kakek-kakek biasa sampai ia ungkap dirinya, karena penampilannya sungguh menipu.
Tak terlihat kegagahan, dari tubuhnya, yang tampak sering membungkuk itu, ah mungkin aku saja yang tak pandai menilai orang.
Dari sini aku belajar, jangan pernah menyepelekan orang yang terlihat lemah, apalagi kakek-kakek, bisa jadi yang kau temui mantan intel atau master bela diri.
03.30
Nomor yang cantik, pantas saja aku terbangun. Hanya bangun, belum berbuat apapun lagi selain melihat waktu di hp.
Disinilah semuanya dimulai, sejak kita tersadar setan sudah menunggu dan langsung menyerang tanpa aba-aba.
Pertarungan yang sederhana sebenarnya, bila kita beranjak dari tempat tidur, kita menang. Tapi jika kita tertidur lagi, berarti setan menang.
Dan saat kita bangun lagi yang kedua kalinya, penyesalan yang menyambut.
Memulai hari dengan penyesalan, bukanlah awal yang baik.
07.30
Aku bangun, sambil mengecek dimana letak hp, lalu membuka beberapa sosial media, kebiasaan yang aku sendiri tak tahu betul apa itu perlu dilakukan.
Kemudian bergegas mengambil air wudhu, dan melaksanakan sholat subuh, meski lebih cocok sholat duha jika dilihat dari waktunya.
Seperti biasa, aku mulai mengambil sapu dan pengki, untuk membersihkan lantai dua, yang terdiri dari dua kamar bersebelahan dengan ruang besar didepan kedua kamar itu.
Lalu aku mengamati kondisi lantai di lantai dasar, apakah terlihat sudah disapu atau belum, jika sudah, berarti aku tinggal mengepel.
Dan aku mulai mengepel setiap ruangan, kecuali kamar tidur di lantai satu.
Tak lupa kubersihkan daun-daun yang baru berguguran pagi itu dihalaman rumah.
Mengecek wastafel juga kulakukan untuk memastikan apakah ada wadah kotor atau tidak.
Semua kegiatan ini kucoba jadikan sebagai rutinitas pagiku, sebagai pengingat bahwa kotor itu suatu kepastian.
Ia akan selalu datang, baik dari hasil perilaku kita, maupun datang sendiri.
Sedangkan membersihkan kotoran itu pilihan.
Dan bila kita mengabaikannya, kekotoran akan menumpuk, hingga di satu kondisi, membersihkannya akan menguras waktu dan tenaga.
Dan kegiatan bebersih inipun menjadi gambaran, bahwa selain materi atau fisik yang selalu didatangi kekotoran, pikiran dan hati kitapun akan mengalami hal yang sama.
Oleh karenanya, Rasulullah mencontohkan agar kita selalu beristigfar, untuk membersihkan atau menyucikan diri dari dosa.
Memerintahkan kita berzakat dan menganjutkan sedeqah dan infaq untuk membersihkan atau menyucikan hati dan harta kita. Wallahu alam.
Memiliki seorang ayah yang suka bertengkar dengan ibu memang opsi ke sekian.
Mungkin satu opsi diatas ayah yang sering pergi bekerja berbulan-bulan diluar kota.
Dari dua opsi ini mana yang lebih baik?
Bagi anak yang orang tuanya sering bertengkar, mungkin akan memilih ayah yang suka kerja diluar, karena akan membuat suasana rumah damai.
Begitupun sebalikmya, anak yang jarang bertemu ayah, tentu mendambakan keberadaan ayah setiap harinya, meski perangainya buruk.
Ini hanya contoh kecil, diluar sana, tentu gambaran seorang ayah lebih beragam, mau itu baik ataupun buruknya.
Sebagai seorang anak, kita tak bisa menafikan keberadaan ayah, jadi terima dia dengan segala kekurangannya.
Mau bagaimanapun, dia adalah ayah yang telah Allah pilihkan untuk kita.
Tiru kebaikannya, dan jadikan pelajaran untuk kita bila mendapati keburukannya.
Karena dia dan kita sama. Sama-sama manusia. Sedang sifat manusia itu tak sempurna.
Perasaan suci, suatu rasa saat yang timbul saat kita sudah melakukan ta'lim, atau mendengar atau melihat pengajian, lalu kita berada di kondisi lingkungan biasa, lingkunagn umum, dunia nyata, tempat dimana kejahatan-kejahatan yang terlihat kecil dibiarkan, keburukan-keburukan yang terkesan sepele diabaikan.
Sedangkan kita saat itu baru saja mendapat siraman rohani, baru selesai menyucikan diri, membersihkan jiwa, lalu dihadapkan dengan kenyataan dunia yang beragam, kemudian timbullah perasaan soal kita ini setetes embun di tengah kubangan lumpur.
Perasaan bersih dan yang lain kotor, ini kadang mengakibatkan berhentinya komunikasi. Karena kita tak ingin terkontaminasi dengan kekotoran ucapan mereka.
Begitulah kiranya gambaran, saat aku merasa suci, apakah ini baik, jelas tidak, bahkan membahayakan.
Hal ini terjadi saat kita memandang dunia dari kacamata negatifnya saja. Hanya terfokus saat orang-orang melakukan kesalahan atau keburukan.
Seolah hanya mata kiri yang terbuka. Dan kita menjadi antipati kepada yang lain, yang menurut kita salah.
Saat hati enggan, pikiran negatif, dan ucapan tertahan, ini jelas tak baik bagi seorang muslim, saat diperintah untuk mensyiarkan islam kemana-mana.
Lalu, apakah mendengarkan pengajian itu buruk?, bukan begitu juga. Ayat Al-quran dan Hadits yang disampaikan jelas suci, karena memang bersumbur dari yang Maha Suci.
Tapi kehidupan nyata di dunia memang tak sempurna, begitulah adanya. Nah tugas kitalah untuk menyambungkan keduanya, dengan kesadaran, ke ikhlasan hati, pikiran positif, ilmu yang haq, dan kebijaksanaan. Wallahu alam.
Allah itu Maha Kaya, mintalah apapun, sejauh yang bisa kau bayangkan.
Namun, jika permintaanmu belum terkabul, bisa jadi dirimu yang belum siap atau mampu untuk menerimanya.
Beranilah bermimpi, hanya hati-hati membedakan antara mimpi dan angan-angan.
Menjemput rezeki, Sebenarnya sudah tak terhitung rezeki yang Allah limpahkan, hanya mungkin kita tak sadar, atau rak tahu cara mengambilnya.
Salah satu kebiasaanku adalah over thinking, terlalu lama berpikir hingga lupa melangkah. Terlalu lama memikirkan cara memenangi balapan tanpa sadar yang lain sudah di garis finish.
Melangkahlah, bergeraklah, bagiku ini cukup sulit, meski prakteknya mungkin sederhana.
Terlalu banyak berpikir dan merenun, jika pola bepikirnya tidak diarahkan dengan benar, bisa-bisa memikirkan sesuatu yang sebetulnya bukan ranah manusia atau makhluk.
Saat Rasul menyarankan unruk bermuhasabah, itu bukan mengajak berpikir mengawang tak jelas, tapi memikirkan, mengingat, dan mengevaluasi perbuatan kita. Baik perbuatan lahir maupun batin.
Berencana boleh, tapi jangan lupa dengan nikmat Allah yang setiap detiknya terus mengalir.
Anak kecil, aku kira benar bercerita ternyata aku yang dia ceritakan
Di tes, aku kira beneran bertanya, ternyata sedang menguji diriku
Mengecat tembok, aku kira betulan tembok, ternyata maksudnya aku harus mewarnai lingkungan,
Berlindung dalam kebaikan, aku kira aku betulan berbuat baik, ternyata secara tak sadar aku sedang bersembunyi dalam kebaikan
Mulai dengan membersihkan tempatmu berada, selalu bersihkan tempat dimanapun kau berada, dimanapun kau tinggal
Membersihkan tempat melatih membersihkan hati
Kotor melahirkan aura negatif, mempengaruhi diri jadi negatif secara tak sadar,
Bila orang dihadapan kita membicarakan orang lain, lalu menyamarkan namanya, cobalah berpikir kalau yang dia objek omongan itu adalah kamu
Bilapun orang yang diomongkannya benar dengan menyebutkan namanya, tetap cobalah berpikir bahwa objek ucapannya adalah kamu
Untuk menguji kepekaanmu, tengoklah, bila kamu masih tak peduli melihat yang kotor, berarti belum peka.
Bila melihat yang kotor, tergerak hati untuk membersihkan, bisa jadi kamu sudah mulai peka
Lakukan secepatnya, meskipun kau hanya menetap beberapa hari saja, bersihkan saja semuanya
Saat tinggal di dimanapun, baik di rumah, ataupun rumah orang lain, kamar orang lain, jangan menerima keadaan begitu saja, jika dirasa banyak yang kotor, bersihkan, jika dirasa tidak rapi, bereskan. Inilah yang kupahami sekarang dengan apa yang dimaksud "Mewarnai lingkungan sekitar"
Saat kau merasa baik, boleh jadi kau benar-benar sedang tidak baik.
Dibanding bandingkan memang pahit, tapi itulah kenyataannya, harus aku terima dan memperbaiki diriku lagi.
Leak, bayi linglu
Bersihkam, bsrsihkan, bismillah
Bekerja, sebuah ide universal yang dipikirkan, dibicaran dan dijalankan oleh seluruh umat manusia.
Sebelum memulainya, luruskan niat terlebih dahulu, tanyakan pada diri untuk apa aku bekerja?, kenapa ini menjadi penting, karena inilah yang akan menentukan segalanya.
Niat yang akan membuat kita semangat atau malas dalam berkerja. Niat ini juga yang akan mengantarkan apakah pekerjaan itu akan membawa kita ke surga atau malah menjauhinya.
Dari niat inilah, apakah nantinya kita akan semakin mengenal Pencipta kita atau malah melupakannya.
Banyak orang bilang bahwa cari kerja itu susah, tapi jika kita lihat lowongan pekerjaan, ternyata masih terbentang luas.
Baik lowongan pekerjaan yang kita temui dari browsing atau lewat aplikasi pencari kerja, atau bahkan lowongan dari kabar tetangga atau saudara.
Lalu, mengapa orang bilang susah cari kerja? Mungkin maksud dari kalimat itu ialah susah cari kerja yang sesuai dengam selera kita.
Kita cenderung memberi batas-batas tak kasat mata saat mencari pekerjaan.
Batas itu bisa berupa jenis pekerjaan, besaran gaji, lokasi pekerjaan. Mari kita sudahi dari tiga batas ini saja dulu.
Mari kita perbaiki pertanyaannya, Jadi apakah susah mencari pekerjaan dengan jenis yang kita sukai, disertai gaji yang lumayan dan lokasinya dekat?
Jawannya bisa jadi, Jika kamu punya banyak skill, mendapat pekerjaan seperti ini mungkin saja.
Tapi jika kau merasa tidak punya keahlian khusus, mendapat pekerjaan seperti ini akan memakan lebih banyak waktu, (sedangkan waktu bukanlah sahabat baik para pencari kerja atau pengangguran).
Bila kita menghilangkan salah satu saja dari pembatas itu, misal kita panghilan kerja yang sesuai dengan keahlian tapi, kerjaannya jauh, atau gajihnya kecil, tentu tak akan jadi masalah.
Lalu bagaimana jika aku hanya lulusan sma tanpa keahlian khusus, atau sarjana tapi kuliahnya berasa gak kuliah, ada beberapa hal yang terpikir olehku, diantaranya
a. Turunkan ego
Bila merasa tak punya skill, mau tak mau harus menurunkan ego, menurunkan target jenis pekerjaan ke yang lebih umum, lenih bisa dilakukan siapapun, sekalipun tak punya skill atau pengalaman.
Misal, bila ingin menjadi pegawai kantoran, tapi keterampilan mengetik masih sebelas jari, maka turunkan target pekerjaan ke OB (office boy), pekerjaan yang lebih umum, lebih mudah dikerjakan oleh kebanyakan orang.
"Tapi, kerja jadi tukang bersih-bersih kan malu. ", bila ada yang bilang begini, makannya aku sampaikan di awal, turunkan ego.
Dan bila diperhatikan, bila kemampuan kita baru sebatas bersih-bersih, kenapa harus malu jika tujuan kita bekerja untuk ibadah karena Allah?
Lain cerita, jika kita bekerja ingin dipandang, atau diakui oleh orang, oleh sesama makhluk, bila dari awal bekerja ini niatnya, mau pekerjaan tukang parkir atau bos perusahaan pun tak akan damai, gelisah akan senantiasa membayangi, karena tujuannya orang, sedangkan isi pikiran orang berbeda-beda dan sering bertabrakan. Memenuhi harapan mereka semua adalah mustahil dan bodoh.
Apalagi sebagai seorang muslim, menggantungakan harapan atau kebahagiaan kepada selain Allah, apakah itu pantas? Apakah masih bisa disebut ikhlas? Sedangkan dalam surat Al-Ikhlas sendiri disebutkan bahwa Allahlah tempat bergantung segala sesuatu.
Oke oke, kita kembali ke topik. Oh iya, OB ini hanya perumpamaan, diluar sana juga banyak pekerjaan yang seperti ini.
Lalu apakah jika sudah dapat pekerjaan jadi OB (misal), sudah saja, tekuni pekerjaan itu selamanya?
Tentu saja tidak, ini hanya langkah awal. Allah memberi kita akal untuk berpikir dan hati untuk merasa atau menghayati.
Mulailah belajar hal baru, skill baru, untuk menunjang karir. "Tapi aku sudah nyaman kerja disini", yah silahkan saja.
Intinya, semangat belajar jangan sampai berhenti apalagi padam, karena itu pesan Rasulullah.
Dan sekali lagi, tentukan niat yang benar, dan bila kebenaran itu tak ditemukan dari pendapat orang-orang, yakinlah kebenaran Allah itu mutlak, absolut, dan sebenar-benarnya kebenaran. Wallahu alam.
Lafadz adzan merupakan lafadz yang langsung dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dari dulu sampai sekarang.
Tak bisa diubah-ubah mengikuti kemauan kita.
Pernahkah kita mencoba untuk merenung sedikit, mencoba memetik hikmah dibalik lafadz-lafadz adzan tersebut.
Seperti ketika Lafadz "Allahu akbar Allahu akbar" menggema, pernahkah berpikir bahwa Allah sedang mengingatkan kita bahwa Dia lah yang Maha Besar, Maha Kuasa, sehingga sebesar apapun masalah yang sedang kita hadapi, dihadapan Allah yang Maha Besar, masalah yang kita anggap besar itu bukanlah apa-apa.
Maka saat lafadz itu dikumandangkan pernahkah kau merasa bahwa Allah sedang memanggil "Kemarilah, masalah apapun yang kau hadapi, serahkan padaKu".
Kemudian lafadz setelah itu, merupakan dua kalimat syahadat, yang mana mengingatkan janji yang pernah kita ikrarkan sejak dalam kandungan.
Tentu kita tak ingin menjadi orang yang suka ingkar janji, terlebih janji kepada Dzat yang telah menciptakan kita.
Lalu lafadz "Hayya 'alas sholah". (Marilah Shalat)
Dengan sifat Maha Kuasa-Nya, Dia memilih menggunakan kalimat ajakan (marilah), bukan perintah. Betapa Maha PenyayangNya Allah.
Lalu lafadz "Hayya' alal falah" sering diartikan Marilah menuju kemenangan).
Bila kita kaitkan dengan lafadz sebelumnya, berati Allah memberitahu kita, "Bila ingin meraih kemenangan maka sholatlah".
Dan lagi, khusus untuk kedua lafadz ini, Rasullah mencontohkan jawaban yang berbeda.
Maksudnya, ketika mendengar adzan, kita disunahkan untuk menjawab dengan mengucapkan kembali lafadz yang muadzin kumandangkan.
Tapi saat muadzin berseru " Hayya 'alas Sholah" dan "Hayya' alal Falah", kita disunahkan menjawabnya dengan lafadz "Laa haula walaa quwwata illa billah" (Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah).
Bila kita iman, dan yakin bahwa kita ini dapat bergerak, bernafas, berjalan, berpikir, bekerja semua karena izin Allah. Maka lafadz adzan itu akan terdengar seperti "Mari sholat, karena kamu bisa bernafas atau bergerak sekarang itu juga karena izin-Nya, kehendak-Nya".
Lalu adzan itu diakhiri dengan lafadz "Laa ilaaha illallah".
Sebuah penegasan bahwa tidak ada tuhan (yang patut diibadahi atau disembah) kecuali Allah.
Sebuah kalimat tauhid, kalimat yang diimpikan setiap muslim, sebagai kalimat terakhirnya sebelum tutup usia.
Sungguh indah, sungguh bahasa yang filosofis, padat, mencakup, kuat sekali, bila kita coba untuk memetik hikmahnya.
Tapi bila ditanya, apakah ini makna sebenarnya dari lafadz-lafadz adzan tersebut? Wallahu 'Alam.
Dalam menjalani kehidupan, terkadang apa yang terlintas di hati tak sampai menjadi ucapan.
Apa yang tersampaikan oleh mulut, berbanding terbalik dengan keinginan di hati.
Atau mungkin teriakan di hati tak menghasilkan satupun bunyi atau huruf.
Mengapa ini bisa terjadi?
Apakah yang terbesit dihati itu kalimat negatif?
Atau mungkin yang bersuara itu baik, hanya saja kita takut menyuarakannya. Takut menyuarakan yang baik? mengapa?
Apakah karena kebaikannya ini masih bersifat subjektif dari diri sendiri, ataukah kebaikan ini benar menurut syariat?
Atau kita tak berkata karena takut menyinggung lawan bicara, meskipun yang ingin kita ucapkan baik dan benar sesuai ketentuan?
Baik dan benar memang harus disampaikan, hanya tentu dibarengi dengam kebijaksanaan. Memilah dan memilih kata yang sesuai.
Ketakutan kadang timbul karena kurangnya perbendaharaan kata, sedikit cara yang kita tahu dalam metode penyampaian.
Namun sejatinya, sebagai seorang muslim, sebagai orang beriman, sebagai hamba Allah Ta'ala, hati pikiran dan ucapan/perbuatan harus seirama, seiya sekata.
Adapan bila bisikan negatif datang, segeralah meminta perlindungan kepada-Nya.
Dalam suatu ayat dijelaskan manusia itu diartikan al-ins yang bermakna nampak/tampil.
Masih di ayat yang sama, ada makhluk yang disebut juga yaitu al-jin yang bermakna tersembunyi.
Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa sifat manusia itu nampak, harus tampil. Karena yang bersembunyi itu sifatnya jin. Wallahu alam.
Bagi sebagian lelaki, melihat perempuan yang berdandan begitu lama, terkadang merasa aneh, tak masuk akal, kenapa harus sampai begitu lama?
Yah, kita berpikir begitu karena membandingkan dengan cara berdandan kita yang mingkin hanya pake minyak wangi dan bersisir, kadang hanya sisir jari.
Ia memang, kita juga tau mengapa mereka begitu lama, itu disebabkan puluhan atau mingkin ratusan item yang ditumpahkan ke wajah cantik mereka.
Kukira ini merupakan kekurangan, karrna terlalu banyak memakan waktu.
Namun dalam sebuah buku menjelaskan, kebiasaan berdandan perempuan dapat melatih skill multitasking mereka.
Benarkah itu? entahlah, tapi stereotypes yang mengatakan kalau "Wanita itu bisa melakukan beberapa jenis pekerjaan dalam satu waktu (multitasking), beda dengan lelaki yang hanya bisa fokus pada satu hal" dan Wanita itu kalau dandan lama" benar adanya.