Rabu, 21 Desember 2016

Tips : Persiapan Pidato



Masih Persiapan Materi
Setelah kita berhasil membuka dan memecahkan kebekuan yang membuat Anda sudah tidak lagi berjarak dengan audience, maka akan dengan mudah anda akan masuk dan memberikan informasi dakwah yang ingin anda sampaikan. Informasi inilah yang kita sebut dengan “isi”.

Setidaknya ada beberapa alasan kenapa kita memerlukan  alur berpikir untuk memudah kan menyampaikan isi tausiah kita,
1.      Alur berpikir akan menentukan plot pembicaraan kita sehinggi isi pembicaraan kita harus runut ulai awal, penuturan isi, dan akhir seperti yang kita rencanakan.
2.      Alur berpikir memudahkan seorang pembicara dalam bercerita, ibarat rel kereta api yang menuntun arah pembicaraan. Hal ini akan membantu audience untuk mengikuti pembicaraan kita.
3.      Pemmbuatan alur berpikir membuat kita memiliki kerangka acuan dalam berbicara dan memastikan materi yang kita bawakan bisa tersampaikan seluruhnya kepada audience.
Dan diantara alur berpikir yang biasa dipakai oleh para pakar pembicara publik, ialah:
1.      Metode Kronologis (berdasarkan waktu)
2.      Metode Spasial (berdasakan tempat/lokasi)
3.      Metode Sebab-Akibat
4.      Metode Problem-Solusi
5.      Metode Teori-Praktek
6.      Metode Akronim (Singkatan seperti DUITT: Doa Usaha Iman, Taat, Tawakal)
7.      Metode 5W + 1H
8.      Metode Numerik

Setelah kita mempelajari sekilas tentang pembukaan dan isi, sekarang mari kita lihat seperti apa sebenarnya cara menutup sebuah pidato yang berkesan  dan membekas dihati para audience.
1.      Menyimpulkan atau mengemukakan ikhtisar pembicaraan
2.      Menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat dan kata yang berbeda
3.      Mendorong audience untuk bertindak
4.      Mengakhiri dengan klimaks
5.      Mengatakan kutipan sajak, Kitab Suci, Peribahasa, atau Ucapan Ahli
6.      Menceritakan contoh yang berupa Ilustrasi dari tema pembicaraan
7.      Menerangkan maksud sebenarnya pribadi pembicara
8.      Memuji dan menghargai audience
9.      Membuat pernyataanyang humoris atau anekdot
Diambil dari buku “menjadi dai yang dicintai” karya N. Faqih Syarif H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi