Kamis, 05 April 2018

Cerpen Favorit Gue


PESTA ULANG TAHUN
Suara kaki yang menghatam tanah sungguh membuat  seisi ruangan begitu bergemuruh, belum lagi ditambah dengan tepukan taman yang membuat suasana menjadi semakin ramai. Tuan kelinci yang memandu acara tersebut menghentikan tarian sambil berkata
“Para hadirin sekalian, sekarang mari kita saksikan acara sulap yang akan ditampilkan oleh Olivia!”
Semuanya bertepuk tangan sambil menyemangati anak yang kala itu menjadi orang paling penting di pesta ini, karena ini adalah pesta ulang tahunnya yang ke 10. Selangkah demi selangkah Olivia maju kehadapan para pengunjung dibantu dengan tuan tikus yang menyiapkan meja untuk acara sulapnya. Dilihat dari ekspresi wajahnya, jelas terlihat dia begitu percaya diri dengan sulap yang akan ia bawakan.
“Nah olivia, sulap apa yang akan kamu tampilkan pada kami semua?” tanya tuan kelinci
“Aku akan menghilangkan orang!” jawabnya penuh keyakinan
Para hadirin pun tertawa sambil kembali bertepuk tangan, seolah tak sabar menunggu akan penampilan dari gadis berambut pirang ini.
“Siapa yang akan kamu hilangkan malam ini?” Tanya tuan kelinci lagi
“Evelin adikku!”
“Baiklah, Evelin ayo kemari, kakakmu akan menghilangkanmu dari dunia ini!”
Dibarengin dengan suara tawa para pengunjung Evelin pun bergabung dengan kakaknya dan tuan kelinci, Evelin lalu dibaringkan badannya diatas meja yang ada dihadapan Olivia. Kemudian Oli membawa kain dan menutupi seluruh tubuh adiknya hingga kain itu menyentuh lantai. Dan tanpa menunggu aba-aba dari siapapun dia, Oli mengeluarkan mantranya.
“Simsalabim, Alakazam, Sudah selesai! Kata Oli
Untuk sesaat ruangan itu terasa hening saking takjubnya dengan apa yang dilihat, yang kemudian diikuti suara sorak dan tepuk tangan yang membuat suasana menjadi lebih ramai dari sebelumnya.
“Wah pertunjukan yang bagus sekali,  sekarang coba kamu kembalikan adikmu Oli” pinta tuan kelinci
“Aku tidak bisa tuan kelinci, saat aku melihat sulap ini di tv, aku hanya melihat sampai sini, karena waktu itu ayah memindahkan salurannya!”
Semua orang tertawa, terutama para orang tua karena ucapan yang baru saja diucapkan oleh Olivia. Karena semua orang pasti berpikir kalau Evelin berada dibawah meja tersebut.
“hahaha, biar ku tebak, pasti adikmu berada disinikan!” jawab tuan kelinci sambil menyingkapkan kain yang  menutupi kolong meja.
Namun ternyata, evelin tak ada disana. Tuan kelinci merasa kaget, lalu diapun menyingkirkan kain itu secara keseluruhan, namun yang terlihat hanyalah meja yang keadaannya sama seperti saat baru disimpan disitu.
Sontak para hadirin terutama orang tua Oli kaget dan langsung mencoba mencari Evelin kesetiap sudut di ruangan itu namun hasilnya tetap nol. Suasana menjadi sedikit menegangkan, namun demi menghindari kegelisahan diantara para hadiriin, tuan kelinci melanjutkan acara sampai selesai.
Setelah semua hadirin pulang, orang tua Oli kembali mencari Evelin ke setiap ruangan sekali lagi, mereka mencari dikamarnya,ruang makan, dapur, toilet, bahkan sampai ke lantai dua. Yang pada saat acara sulap berlangsung, ayah Oli berada di tangga, dan merasa yakin, bahwa tak adu satu orangpun yang naik ke lantai atas.
Akhirnya karena merasa putus asa, orang tua Oli memanggil polisi untuk membantu mencari Evelin sampai-sampai anjing pelacakpun diturunkan. Namun dicari kemanapun hasilnya tetap sama bahwa Evelin menghilang.
***
Sepulang mengajar di universitas, Oliver menerima telepon, bahwa orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Di dalam taxi dia menangis atas berita tersebut sambil berkata dalah hati
“Andai saja aku masih punya adik, mungkin saat ini aku tak akan merasa kesepian”.

Menceritakan kembali cerpen dengan bahasa sendiri. Diambil dari cerpen berjudul “Pesta Ulang Tahun” Karya Ana Maria Shua


ILYAS
Di daerah Ufa, hiduplah seorang petani bernama Ilyas. Ayahnya meninggal saat usia pernikahannya setahun. Ayahnya bukan orang kaya, sehingga meninggalkan warisan yang seadanya, yaitu enam ekor kuda betina, dua ekor sapi dan sepuluh kambing.
Ilyas dan istrinya adalah pekerja yang rajin. Ia bekerja dari terbit fajar sampai senja datang. Dia bangun lebih pagi dan tidur lebih malam dari orang biasanya. Namun segala upayanya itu tak percuma, setiap berganti tahun kekayaannya semakin bertambah dan terus bertambah.
Sekarang  dia sudah menjadi orang paling kaya di daerah Ufa, namanya tersebar kemana-mana. Ia sekarang memiliki dua ratus kuda, seratus lima puluh sapi dan seribu domba. Ia memiliki banyak pekerja, yang laki-laki ia suruh untuk mengembalakan ternaknya dan yang perempuan disuruh untuk memeras susu sapi dan kuda.
Hampir setiap hari ada saja tamu yang datang, dan setiap itu pula ia menyembelih kambing untuk jamuan, terkadang jika tamunya banyak ia menyembelih seekor sapi. Tamupun,tak  sedikit yang datang dari jauh hanya untuk sekedar melihat bagaimana kekayaan Ilyas yang terkenal.
Ia memiliki tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Namun karena kekayaan ayahnya, anak sulungnya hidup berfoya-foya dengan mabuk-mabukan, dan berakhir dengan kematian karena terlibat keributan. Anak yang kedua menikah dengan seorang wanita yang sombong, sehingga harta itu dipakainya untuk pamer. Dan anak yang ketiga pergi ke luar daerah dibawa oleh suaminya.
Sedikit demi sedikit keberuntungan yang dimiliki Ilyas berubah jadi kemalangan, selain dengan masalah anak-anaknya, ia sekarang jatuh sakit dan banyak dari hartanya yang ia pakai untuk berobat. Belum lagi belakangan hewan-hewan ternaknya banyak yang mati karena terkena wabah penyakit.
Setiap berganti hari, kekayaannya sedikit demi sedikit berkurang hingga akhirnya tak ada yang tersisa dari kekayaannya. Ilyas yang dulu dipandang sebagai orang paling kaya, kini di usianya yang mengijak kepala tujuh, hanyalah seorang tua yang miskin dan lemah.
Adalah Muhammadsyah, seorang tetangga yang merasa iba dan prihatin atas nasib yang tertimpa kepada Ilyas dan Istrinya. Muhammadsyah bukanlah orang kaya, namun tidak juga melarat. Karena teringat akan jasa-jasa Ilyas dimasa lalu yang sering membantunya, ia pun menawarkan kepada Ilyas dan istrinya untuk tinggal dirumahnya dan bekerja kepadanya.
“Wahai Ilyas, maukah kau dan istrimu bekerja dengankku, kau bisa membantuku di kebun melon, dan istrimu memeras susu dari sapi ternakku? Sebagai gantinya kebutuhan sandang panganmu aku yang menanggung. Dan jika kau ingin sesuatu aku akan membantumu sebisaku, bagaimana?”
Sambil melirik kearah istrinya, ia pun menerima tawaran dari tetangganya itu.
Muhammadsyah merasa beruntung memiliki pekerja seperti Ilyas, karena semua pekerjaannya sungguh telah memuaskan hatinya. Namun di satu sisi ia pun merasa sedih apabila mengingat akan kemalangan yang dialamai Ilyas dan istrinya.
Suatu hari saat Muhammadsyah kedatangan tamu, seperti bagaimana seharusnya Ilyas menyiapkan jamuan untuk tamu yang merupakan mullah. Ilyas menyembelih kambing memasaknya dan menghidangkan jamuan itu. Muhammadsyah bercerita kepada tamunya mengenai Ilyas.
“Apakah kalian tahu siapa orang yang barusan menyuguhkan makanan?” kata Muhammadsyah
“Memang siapakah dia itu?”
“Apakah kalian pernah mendengar seseorang bernama Ilyas yang kaya raya?”
“Yah, aku sering mendengarnya, ia adalah seseorang yang kekayaannya sangat melimpah ruah, tapi aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya”
“Dialah Ilyas yang sering kalian dengar Itu.” Muhammadsyah menjelaskan
“Mana mungkin, bukankah dia orang yang kaya? Mengapa sekarang dia malah menjadi pekerja dirumahmu?”
“Dulu dia memang orang kaya, tapi nasib berkata lain. Seluruh kekayaannya sedikit demi sedikit terkikis, hingga akhirnya dia menjadi miskin dan seperti sekarang ini.”
“Hidup memang seperti roda, kadang diatas kadang dibawah. Pasti sekarang dia teramat sedih. Karena kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Apakah aku boleh bertanya kepada Ilyas? aku sungguh penasaran dengan perasaannya sekarang”
“Silahkan saja”
“ Ilyas... kemarilah, dan bawa istrimu kemari!”
Ilyas pun datang dan duduk di dekat pintu, dan istrinya ikut duduk disampingnya.
“Ilyas, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?” tanya Mullah
“Silahkan tuan”
“aku telah mendengar tentang kehidupanmu, apakah kamu merasa bersedih dengan kehidupanmu yang sekarang dan menyesalinya?”
Ilyas tersenyum dan melirik kearah istrinya
“Tuan, mungkin tuan tak akan menyangka dengan jawaban saya, alangkah baiknya jika istri saya yang menjawabnya, karena perempuan itu, apa yang di ucapkannya itu pula lah yang ada didalam isi hatinya” jawab Ilyas
“Baiklah kalau begitu” sambil mengubah pandangannya ke arah istri Ilyas
“Jika tuan ingin tahu apa yang kami rasakan sekarang ini, sungguh sekarang kami telah menemukan kebahagiaan yang selama kami memiliki kekayaan, kebahagiaan ini tak pernah kami temukan.” Jawab istri Ilyas
“Mana mungkin seperti itu, coba jelaskan kepada kami secara lebih sederhana?”
“Dulu saat kami kaya, kami hidup penuh dengan kecemasan. Kami cemas dengan tamu yang datang kerumah, karena kami takut tak dapat memberikan jamuan yang baik kepada mereka. Kami cemas terhadap para pekerja, karena takut kami telah berbuat zolim kepada mereka. Tidur kami tak pernah nyenyak, karena penuh rasa cemas akan hewan ternak kami, takut akan ada yang mencurinya, takut ada srigala yang memangsanya. Kami terlalu sibuk mengurus kekayaan kami, sehingga kami jarang mengobrol dari hati ke hati. Dan kamipun bahkan lupa untuk  mengingat Tuhan. Sungguh tak kami temukan kebahagiaan dalam itu semua. Dan kami bersyukur kepada Tuhan karena telah membukakan pintu kebahagiaan yang sejati kepada kami. Sekarang kami bisa tidur nyenyak, dalam bekerja kami hanya tinggal melakukannya sebaik mungkin agar majikan kami bisa mencintai kami. Setelah pekerjaan selesai kami memiliki banyak waktu untuk mengobrol dari hati ke hati dan bisa lebih banyak mengingat Tuhan.” Jawab istri Ilyas dengan nada yang sungguh membuat hati tenang.
“Hahaha, benar juga yang kamu katakan itu” kata mullah
“Ini bukan lelucon tuan, tak pantas untuk ditertawakan, ini adalah ilmu tentang kehidupan.” Jawab Ilyas tegas
Tamu itu pun berhenti tertawa dan mulai berpikir.
Menceritakan kembali cerpen karya Leo Tolstoy yang berjudul “Ilyas”



 


VARKA HANYA INGIN TIDUR
Malam, Valka seorang gadis berumur tiga belas tahun sedang menggoyang-goyangkan ayunan, sebagai bentuk usaha agar bayi yang di dalamnya tertidur. Sambil bersenandung.
“Tidurlah tidur bayiku sayang...”
Di ruangan itu ada lentera dan seutas benang yang memanjang diatas kepala Valka, di benang itu tersampir baju bayi dan celana panjang hitam. Dari sana terlihat bayangan dari pakaian itu dilihat oleh Varka seakan bergerak-gerak. Varka sedang mengantuk sehingga kesadarannya tinggal separuh. Matanya seperti dilem sehingga sulit untuk dibuka, dan kepalanya serasa berat sekali.
            Sambil bersenandung dan menggoyangkan si bayi, pandangannya mulai samar, ia melihat lentera yang memancarkan cahaya hijau seolah berubah menjadi gelap, lalu ia seperti berada di sebuah lapang dan melihat orang-orang yang berada di depannya berjalan menghapiri sebuah danau sambil memegang dompet, dan mereka menjatuhkan diri mereka kedanau. Varka bertanya
“Mengapa kalian menjatuhkan diri kedanau?”
“Kami ingin tidur.” Jawab mereka
Lalu tiba-tiba semua yang dilihat Varka menjadi gelap kembali seperti ada yang mematikan lampu. Dan seketika saja Varka sudah berada di sebuah pondok. Disana  dia mendengar suara ayahnya Yemif yang berguling-guling dilantai karena kesakitan, saking sakitnya dia tak mampu untuk berkata apa-apa lagi. Varka merasa bingung harus berbuat apa, tak lama kemudian terdengar suara kaki menghentak tanah dengan begitu keras dan cepatnya, ternyata itu adalah suara langkah ibunya dan seorang pria dibelakangnya.
“Dokter, tolong cepatlah periksa suamiku, kasihan dia, dari tadi terus merengek kesakitan!”
Dokterpun tanpa berpikir panjang langsung memeriksa, dan dengan raut wajah yang sedikit tegang dia berkata
“Demamnya tinggi sekali, kita harus secepatnya membawa ke rumah sakit!”
“Bagaimana mungkin dokter, ini tengah malam. Mereka pasti sudah tutup” jawab ibuku
“Tenang saja, akan kuberikan surat pengantar, agar sesegera mungkin ditangani, dan akupun akan meminjam kereta kuda ke majikan kalian”
“Terima kasih dokter, kalau begitu mari kita bergegas”
Sambil membopong ayah Varka, dokter dan ibu berlari lagi menuju rumah majikan, meminjam keretanya, dan langsung bergegas pergi. Varka tahu dimana rumah sakit  itu, jadi ia berlari secepat mungkin menyusul mereka. Setibanya di rumah sakit, ia melihat ibuku sedang menangis, ia pun bertanya apa yang terjadi.
“Bagaimana keadaan ayah bu?”
“Ayahmu telah meninggal nak, katanya ia terlambat dibawa kemari!”
Mendengar itu, entah mengapa Varka pergi meninggalkan rumah sakit sambil menangis, lalu tiba-tiba ada sesuatu yang memukulku dari belakang, dan saking kencangnya pukulan itu, kepalanya membentur pohon. Ia  memejamkan mata karena sakit, dan saat dibuka kembali, dihadapannya terlihat majikannya dengan muka yang sangat marah, dan saat ia melihat sekeliling, ternyata ia sudah berada di ruangan bayi lagi.
“Apakah kau tidur, dasar pelacur?” teriak sang majikan
“Maafkan aku tuan” jawab Varka
Lalu si majikan memukulnya lagi, dan berkata
“Kalau sekali lagi kau tidur, dan membiarkan bayi ini menangis, kugantung kau!”
Varkapun kembali menggoyang-goyangkan ayunannya dan bersenandung seperti tadi. Namun ia memang masih mengantuk sehingga pandangannya kembali  samar. Ia melihat bayangan pakaian itu bergerak-gerak kian lama kian besar, dan ruanganpun kembali gelap. Dan tiba-tiba saja dia sudah ada dilapang yang tadi, ia pun melihat orang-orang yang menjatuhkan dirinya kesungai,
“Kemarikan bayi itu,hey.. apa kau tidur lagi”
Varka kaget mendengar suara itu, dan ia langsung tersadar kembali, ternyata itu suara istri majikannya yang hendak menyusui bayinya. Varka menggeleng-gelengkan kepalanya, menampar-nampar wajahnya, agar rasa kantuknya hilang. Tapi mau bagaimana lagi, rasa kantuknya malah semakin mengerikan.
Saat melihat keluar jendela, dilihatnya fajar sudah mulai terbit, namun Varka masih mengantuk.
“Varka nyalakan perapian” teriak majikannya
Ia pun bergegas mengambil kayu bakar, memotongnya, lalu membakarnya. Ia senang karena dengan bergerak rasa kantuknya terasa hilang untuk sesaat. Baru selesai menyalakan api, majikannya langsung memerintahnya lagi
“Varka siapkan sarapan”
Belum selesai ia menyiapkannya, perintah baru sudah ada lagi
“Varka semir sepatuku” teriak majikannya
Varka secepat mungkin menyelesaikan sarapan, dan langsung bergegas ke tempat sepatu, karena ia tahu, kalau ia tak cepat-cepat, majikannya akan memukulnya lagi. Sambil menyemir, ia membayangkan, betapa menyenangkannya jika ia bisa tidur di dalam sepatu ini, mungkin rasanya hangat, dan samar-samar ia lihat sepatu itu membesar seolah memudahkannya untuk tidur didalamnya. Sikat yang ia pegang terjatuh, dan Varkapun tersadar kembali, dan sepatu itupun ternyata tidak membesar.
“Varka, tolong bersihkan halaman, aku malu dengan para pelanggan bila melihat tokoku ini kotor!” kata majikannya
Varka terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Bergerak dari satu perintah ke perintah berikutnya tanpa sedetikpun ia bisa istirahat.
Hingga akhirnya malampun tiba, majikannya pun sudah mau tidur, namun sebelum itu dia memberi perintah terakhir kepada Varka
“Varka tolong jaga bayinya, jangan sampai dia menangis!”
Varkapun menggoyang-goyangkan ayunannya sambil bersenandung, namun kali ini Varka benar-benar mengantuk setengah mati. Pandangannya pun kembali samar, semuanya gelap,  ia kembali ke lapang itu, ia kembali melihat orang-oang yang menjatuhkan dirinya ke dalam danau. Tapi Varka merasa tak tenang, ia merasa ada sesuatu yang mengekang tangan dan kakinya, ada suara pekikan yang begitu menyakitkan dari telinganya. Dan Varkapun tersadar, ia melihat sekeliling, apa gerangan yang membuatnya begitu terganggu. Dan akhirnya ia pun menemukan penyebabnya, tak lain dan tak bukan adalah si Bayi itu. Varka merasa aneh, dan tertawa sendiri. Ternyata selama ini sumber masalahnya berada tepat di depan matanya. Tanpa pikir panjang ia pun mengambil bantal dan membekam bayi itu sampai tak bersuara lagi.
Sesaat setelah itu, Varka merasa lega, karena sekarang dia bisa tidur dengan pulas. Ia pun lalu tertidur dengan nyenyaknya, sampai-sampai seperti mayat.
Menceritakan kembali cerpen karya Anton Chekov yang berjudul “Varka hanya ingin tidur”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi