PESTA ULANG TAHUN
Suara kaki yang
menghatam tanah sungguh membuat seisi
ruangan begitu bergemuruh, belum lagi ditambah dengan tepukan taman yang
membuat suasana menjadi semakin ramai. Tuan kelinci yang memandu acara tersebut
menghentikan tarian sambil berkata
“Para hadirin sekalian, sekarang mari kita
saksikan acara sulap yang akan ditampilkan oleh Olivia!”
Semuanya
bertepuk tangan sambil menyemangati anak yang kala itu menjadi orang paling
penting di pesta ini, karena ini adalah pesta ulang tahunnya yang ke 10.
Selangkah demi selangkah Olivia maju kehadapan para pengunjung dibantu dengan
tuan tikus yang menyiapkan meja untuk acara sulapnya. Dilihat dari ekspresi
wajahnya, jelas terlihat dia begitu percaya diri dengan sulap yang akan ia
bawakan.
“Nah olivia, sulap apa yang akan kamu
tampilkan pada kami semua?” tanya tuan kelinci
“Aku akan menghilangkan orang!” jawabnya penuh
keyakinan
Para hadirin
pun tertawa sambil kembali bertepuk tangan, seolah tak sabar menunggu akan
penampilan dari gadis berambut pirang ini.
“Siapa yang akan kamu hilangkan malam ini?”
Tanya tuan kelinci lagi
“Evelin adikku!”
“Baiklah, Evelin ayo kemari, kakakmu akan
menghilangkanmu dari dunia ini!”
Dibarengin
dengan suara tawa para pengunjung Evelin pun bergabung dengan kakaknya dan tuan
kelinci, Evelin lalu dibaringkan badannya diatas meja yang ada dihadapan
Olivia. Kemudian Oli membawa kain dan menutupi seluruh tubuh adiknya hingga
kain itu menyentuh lantai. Dan tanpa menunggu aba-aba dari siapapun dia, Oli
mengeluarkan mantranya.
“Simsalabim, Alakazam, Sudah selesai! Kata Oli
Untuk sesaat
ruangan itu terasa hening saking takjubnya dengan apa yang dilihat, yang
kemudian diikuti suara sorak dan tepuk tangan yang membuat suasana menjadi
lebih ramai dari sebelumnya.
“Wah pertunjukan yang bagus sekali, sekarang coba kamu kembalikan adikmu Oli”
pinta tuan kelinci
“Aku tidak bisa tuan kelinci, saat aku melihat
sulap ini di tv, aku hanya melihat sampai sini, karena waktu itu ayah
memindahkan salurannya!”
Semua orang
tertawa, terutama para orang tua karena ucapan yang baru saja diucapkan oleh
Olivia. Karena semua orang pasti berpikir kalau Evelin berada dibawah meja
tersebut.
“hahaha, biar ku tebak, pasti adikmu berada
disinikan!” jawab tuan kelinci sambil menyingkapkan kain yang menutupi kolong meja.
Namun ternyata,
evelin tak ada disana. Tuan kelinci merasa kaget, lalu diapun menyingkirkan
kain itu secara keseluruhan, namun yang terlihat hanyalah meja yang keadaannya
sama seperti saat baru disimpan disitu.
Sontak para
hadirin terutama orang tua Oli kaget dan langsung mencoba mencari Evelin
kesetiap sudut di ruangan itu namun hasilnya tetap nol. Suasana menjadi sedikit
menegangkan, namun demi menghindari kegelisahan diantara para hadiriin, tuan
kelinci melanjutkan acara sampai selesai.
Setelah semua
hadirin pulang, orang tua Oli kembali mencari Evelin ke setiap ruangan sekali
lagi, mereka mencari dikamarnya,ruang makan, dapur, toilet, bahkan sampai ke
lantai dua. Yang pada saat acara sulap berlangsung, ayah Oli berada di tangga,
dan merasa yakin, bahwa tak adu satu orangpun yang naik ke lantai atas.
Akhirnya karena
merasa putus asa, orang tua Oli memanggil polisi untuk membantu mencari Evelin
sampai-sampai anjing pelacakpun diturunkan. Namun dicari kemanapun hasilnya
tetap sama bahwa Evelin menghilang.
***
Sepulang
mengajar di universitas, Oliver menerima telepon, bahwa orang tuanya meninggal
karena kecelakaan. Di dalam taxi dia menangis atas berita tersebut sambil
berkata dalah hati
“Andai saja aku masih punya adik, mungkin saat
ini aku tak akan merasa kesepian”.
Menceritakan kembali cerpen dengan bahasa
sendiri. Diambil dari cerpen berjudul “Pesta Ulang Tahun” Karya Ana Maria Shua
ILYAS
Di daerah Ufa,
hiduplah seorang petani bernama Ilyas. Ayahnya meninggal saat usia
pernikahannya setahun. Ayahnya bukan orang kaya, sehingga meninggalkan warisan
yang seadanya, yaitu enam ekor kuda betina, dua ekor sapi dan sepuluh kambing.
Ilyas dan
istrinya adalah pekerja yang rajin. Ia bekerja dari terbit fajar sampai senja
datang. Dia bangun lebih pagi dan tidur lebih malam dari orang biasanya. Namun
segala upayanya itu tak percuma, setiap berganti tahun kekayaannya semakin
bertambah dan terus bertambah.
Sekarang dia sudah menjadi orang paling kaya di daerah
Ufa, namanya tersebar kemana-mana. Ia sekarang memiliki dua ratus kuda, seratus
lima puluh sapi dan seribu domba. Ia memiliki banyak pekerja, yang laki-laki ia
suruh untuk mengembalakan ternaknya dan yang perempuan disuruh untuk memeras
susu sapi dan kuda.
Hampir setiap
hari ada saja tamu yang datang, dan setiap itu pula ia menyembelih kambing
untuk jamuan, terkadang jika tamunya banyak ia menyembelih seekor sapi.
Tamupun,tak sedikit yang datang dari
jauh hanya untuk sekedar melihat bagaimana kekayaan Ilyas yang terkenal.
Ia memiliki
tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Namun karena kekayaan
ayahnya, anak sulungnya hidup berfoya-foya dengan mabuk-mabukan, dan berakhir
dengan kematian karena terlibat keributan. Anak yang kedua menikah dengan
seorang wanita yang sombong, sehingga harta itu dipakainya untuk pamer. Dan anak
yang ketiga pergi ke luar daerah dibawa oleh suaminya.
Sedikit demi
sedikit keberuntungan yang dimiliki Ilyas berubah jadi kemalangan, selain
dengan masalah anak-anaknya, ia sekarang jatuh sakit dan banyak dari hartanya
yang ia pakai untuk berobat. Belum lagi belakangan hewan-hewan ternaknya banyak
yang mati karena terkena wabah penyakit.
Setiap berganti
hari, kekayaannya sedikit demi sedikit berkurang hingga akhirnya tak ada yang
tersisa dari kekayaannya. Ilyas yang dulu dipandang sebagai orang paling kaya,
kini di usianya yang mengijak kepala tujuh, hanyalah seorang tua yang miskin
dan lemah.
Adalah Muhammadsyah,
seorang tetangga yang merasa iba dan prihatin atas nasib yang tertimpa kepada
Ilyas dan Istrinya. Muhammadsyah bukanlah orang kaya, namun tidak juga melarat.
Karena teringat akan jasa-jasa Ilyas dimasa lalu yang sering membantunya, ia
pun menawarkan kepada Ilyas dan istrinya untuk tinggal dirumahnya dan bekerja
kepadanya.
“Wahai Ilyas,
maukah kau dan istrimu bekerja dengankku, kau bisa membantuku di kebun melon,
dan istrimu memeras susu dari sapi ternakku? Sebagai gantinya kebutuhan sandang
panganmu aku yang menanggung. Dan jika kau ingin sesuatu aku akan membantumu
sebisaku, bagaimana?”
Sambil melirik kearah istrinya, ia pun
menerima tawaran dari tetangganya itu.
Muhammadsyah merasa
beruntung memiliki pekerja seperti Ilyas, karena semua pekerjaannya sungguh
telah memuaskan hatinya. Namun di satu sisi ia pun merasa sedih apabila mengingat
akan kemalangan yang dialamai Ilyas dan istrinya.
Suatu hari saat
Muhammadsyah kedatangan tamu, seperti bagaimana seharusnya Ilyas menyiapkan
jamuan untuk tamu yang merupakan mullah. Ilyas menyembelih kambing
memasaknya dan menghidangkan jamuan itu. Muhammadsyah bercerita kepada tamunya
mengenai Ilyas.
“Apakah kalian tahu siapa orang yang barusan
menyuguhkan makanan?” kata Muhammadsyah
“Memang siapakah dia itu?”
“Apakah kalian pernah mendengar seseorang
bernama Ilyas yang kaya raya?”
“Yah, aku sering mendengarnya, ia adalah
seseorang yang kekayaannya sangat melimpah ruah, tapi aku belum pernah
sekalipun bertemu dengannya”
“Dialah Ilyas yang sering kalian dengar Itu.”
Muhammadsyah menjelaskan
“Mana mungkin, bukankah dia orang yang kaya? Mengapa
sekarang dia malah menjadi pekerja dirumahmu?”
“Dulu dia memang orang kaya, tapi nasib
berkata lain. Seluruh kekayaannya sedikit demi sedikit terkikis, hingga
akhirnya dia menjadi miskin dan seperti sekarang ini.”
“Hidup memang seperti roda, kadang diatas
kadang dibawah. Pasti sekarang dia teramat sedih. Karena kehidupannya berubah
seratus delapan puluh derajat. Apakah aku boleh bertanya kepada Ilyas? aku
sungguh penasaran dengan perasaannya sekarang”
“Silahkan saja”
“ Ilyas... kemarilah, dan bawa istrimu kemari!”
Ilyas pun datang dan duduk di dekat pintu, dan
istrinya ikut duduk disampingnya.
“Ilyas, bolehkah aku bertanya sesuatu
kepadamu?” tanya Mullah
“Silahkan tuan”
“aku telah mendengar tentang kehidupanmu,
apakah kamu merasa bersedih dengan kehidupanmu yang sekarang dan menyesalinya?”
Ilyas tersenyum dan melirik kearah istrinya
“Tuan, mungkin tuan tak akan menyangka dengan
jawaban saya, alangkah baiknya jika istri saya yang menjawabnya, karena
perempuan itu, apa yang di ucapkannya itu pula lah yang ada didalam isi hatinya”
jawab Ilyas
“Baiklah kalau begitu” sambil mengubah
pandangannya ke arah istri Ilyas
“Jika tuan ingin tahu apa yang kami rasakan
sekarang ini, sungguh sekarang kami telah menemukan kebahagiaan yang selama
kami memiliki kekayaan, kebahagiaan ini tak pernah kami temukan.” Jawab istri
Ilyas
“Mana mungkin seperti itu, coba jelaskan kepada
kami secara lebih sederhana?”
“Dulu saat kami kaya, kami hidup penuh dengan
kecemasan. Kami cemas dengan tamu yang datang kerumah, karena kami takut tak
dapat memberikan jamuan yang baik kepada mereka. Kami cemas terhadap para
pekerja, karena takut kami telah berbuat zolim kepada mereka. Tidur kami tak
pernah nyenyak, karena penuh rasa cemas akan hewan ternak kami, takut akan ada
yang mencurinya, takut ada srigala yang memangsanya. Kami terlalu sibuk
mengurus kekayaan kami, sehingga kami jarang mengobrol dari hati ke hati. Dan kamipun
bahkan lupa untuk mengingat Tuhan. Sungguh
tak kami temukan kebahagiaan dalam itu semua. Dan kami bersyukur kepada Tuhan
karena telah membukakan pintu kebahagiaan yang sejati kepada kami. Sekarang kami
bisa tidur nyenyak, dalam bekerja kami hanya tinggal melakukannya sebaik
mungkin agar majikan kami bisa mencintai kami. Setelah pekerjaan selesai kami
memiliki banyak waktu untuk mengobrol dari hati ke hati dan bisa lebih banyak
mengingat Tuhan.” Jawab istri Ilyas dengan nada yang sungguh membuat hati
tenang.
“Hahaha, benar juga yang kamu katakan itu”
kata mullah
“Ini bukan lelucon tuan, tak pantas untuk
ditertawakan, ini adalah ilmu tentang kehidupan.” Jawab Ilyas tegas
Tamu itu pun
berhenti tertawa dan mulai berpikir.
Menceritakan kembali cerpen karya Leo Tolstoy
yang berjudul “Ilyas”
VARKA HANYA INGIN TIDUR
Malam, Valka
seorang gadis berumur tiga belas tahun sedang menggoyang-goyangkan ayunan,
sebagai bentuk usaha agar bayi yang di dalamnya tertidur. Sambil bersenandung.
“Tidurlah tidur bayiku sayang...”
Di ruangan itu
ada lentera dan seutas benang yang memanjang diatas kepala Valka, di benang itu
tersampir baju bayi dan celana panjang hitam. Dari sana terlihat bayangan dari
pakaian itu dilihat oleh Varka seakan bergerak-gerak. Varka sedang mengantuk
sehingga kesadarannya tinggal separuh. Matanya seperti dilem sehingga sulit
untuk dibuka, dan kepalanya serasa berat sekali.
Sambil
bersenandung dan menggoyangkan si bayi, pandangannya mulai samar, ia melihat
lentera yang memancarkan cahaya hijau seolah berubah menjadi gelap, lalu ia
seperti berada di sebuah lapang dan melihat orang-orang yang berada di depannya
berjalan menghapiri sebuah danau sambil memegang dompet, dan mereka menjatuhkan
diri mereka kedanau. Varka bertanya
“Mengapa kalian menjatuhkan diri kedanau?”
“Kami ingin tidur.” Jawab mereka
Lalu tiba-tiba
semua yang dilihat Varka menjadi gelap kembali seperti ada yang mematikan
lampu. Dan seketika saja Varka sudah berada di sebuah pondok. Disana dia mendengar suara ayahnya Yemif yang
berguling-guling dilantai karena kesakitan, saking sakitnya dia tak mampu untuk
berkata apa-apa lagi. Varka merasa bingung harus berbuat apa, tak lama kemudian
terdengar suara kaki menghentak tanah dengan begitu keras dan cepatnya,
ternyata itu adalah suara langkah ibunya dan seorang pria dibelakangnya.
“Dokter, tolong cepatlah periksa suamiku,
kasihan dia, dari tadi terus merengek kesakitan!”
Dokterpun tanpa
berpikir panjang langsung memeriksa, dan dengan raut wajah yang sedikit tegang
dia berkata
“Demamnya tinggi sekali, kita harus secepatnya
membawa ke rumah sakit!”
“Bagaimana mungkin dokter, ini tengah malam. Mereka
pasti sudah tutup” jawab ibuku
“Tenang saja, akan kuberikan surat pengantar,
agar sesegera mungkin ditangani, dan akupun akan meminjam kereta kuda ke
majikan kalian”
“Terima kasih dokter, kalau begitu mari kita
bergegas”
Sambil membopong
ayah Varka, dokter dan ibu berlari lagi menuju rumah majikan, meminjam
keretanya, dan langsung bergegas pergi. Varka tahu dimana rumah sakit itu, jadi ia berlari secepat mungkin menyusul
mereka. Setibanya di rumah sakit, ia melihat ibuku sedang menangis, ia pun
bertanya apa yang terjadi.
“Bagaimana keadaan ayah bu?”
“Ayahmu telah meninggal nak, katanya ia
terlambat dibawa kemari!”
Mendengar itu,
entah mengapa Varka pergi meninggalkan rumah sakit sambil menangis, lalu
tiba-tiba ada sesuatu yang memukulku dari belakang, dan saking kencangnya
pukulan itu, kepalanya membentur pohon. Ia memejamkan mata karena sakit, dan saat dibuka
kembali, dihadapannya terlihat majikannya dengan muka yang sangat marah, dan
saat ia melihat sekeliling, ternyata ia sudah berada di ruangan bayi lagi.
“Apakah kau tidur, dasar pelacur?” teriak sang
majikan
“Maafkan aku tuan” jawab Varka
Lalu si majikan memukulnya lagi, dan berkata
“Kalau sekali lagi kau tidur, dan membiarkan
bayi ini menangis, kugantung kau!”
Varkapun kembali
menggoyang-goyangkan ayunannya dan bersenandung seperti tadi. Namun ia memang
masih mengantuk sehingga pandangannya kembali
samar. Ia melihat bayangan pakaian itu bergerak-gerak kian lama kian
besar, dan ruanganpun kembali gelap. Dan tiba-tiba saja dia sudah ada dilapang
yang tadi, ia pun melihat orang-orang yang menjatuhkan dirinya kesungai,
“Kemarikan bayi itu,hey.. apa kau tidur lagi”
Varka kaget
mendengar suara itu, dan ia langsung tersadar kembali, ternyata itu suara istri
majikannya yang hendak menyusui bayinya. Varka menggeleng-gelengkan kepalanya,
menampar-nampar wajahnya, agar rasa kantuknya hilang. Tapi mau bagaimana lagi,
rasa kantuknya malah semakin mengerikan.
Saat melihat
keluar jendela, dilihatnya fajar sudah mulai terbit, namun Varka masih
mengantuk.
“Varka nyalakan perapian” teriak majikannya
Ia pun bergegas
mengambil kayu bakar, memotongnya, lalu membakarnya. Ia senang karena dengan
bergerak rasa kantuknya terasa hilang untuk sesaat. Baru selesai menyalakan
api, majikannya langsung memerintahnya lagi
“Varka siapkan sarapan”
Belum selesai
ia menyiapkannya, perintah baru sudah ada lagi
“Varka semir sepatuku” teriak majikannya
Varka secepat
mungkin menyelesaikan sarapan, dan langsung bergegas ke tempat sepatu, karena
ia tahu, kalau ia tak cepat-cepat, majikannya akan memukulnya lagi. Sambil menyemir,
ia membayangkan, betapa menyenangkannya jika ia bisa tidur di dalam sepatu ini,
mungkin rasanya hangat, dan samar-samar ia lihat sepatu itu membesar seolah
memudahkannya untuk tidur didalamnya. Sikat yang ia pegang terjatuh, dan
Varkapun tersadar kembali, dan sepatu itupun ternyata tidak membesar.
“Varka, tolong bersihkan halaman, aku malu
dengan para pelanggan bila melihat tokoku ini kotor!” kata majikannya
Varka terus
bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Bergerak dari satu perintah ke
perintah berikutnya tanpa sedetikpun ia bisa istirahat.
Hingga akhirnya
malampun tiba, majikannya pun sudah mau tidur, namun sebelum itu dia memberi
perintah terakhir kepada Varka
“Varka tolong jaga bayinya, jangan sampai dia
menangis!”
Varkapun
menggoyang-goyangkan ayunannya sambil bersenandung, namun kali ini Varka
benar-benar mengantuk setengah mati. Pandangannya pun kembali samar, semuanya
gelap, ia kembali ke lapang itu, ia
kembali melihat orang-oang yang menjatuhkan dirinya ke dalam danau. Tapi Varka
merasa tak tenang, ia merasa ada sesuatu yang mengekang tangan dan kakinya, ada
suara pekikan yang begitu menyakitkan dari telinganya. Dan Varkapun tersadar,
ia melihat sekeliling, apa gerangan yang membuatnya begitu terganggu. Dan akhirnya
ia pun menemukan penyebabnya, tak lain dan tak bukan adalah si Bayi itu. Varka
merasa aneh, dan tertawa sendiri. Ternyata selama ini sumber masalahnya berada
tepat di depan matanya. Tanpa pikir panjang ia pun mengambil bantal dan
membekam bayi itu sampai tak bersuara lagi.
Sesaat setelah itu, Varka merasa lega, karena sekarang dia bisa tidur
dengan pulas. Ia pun lalu tertidur dengan nyenyaknya, sampai-sampai seperti
mayat.
Menceritakan kembali cerpen karya Anton Chekov
yang berjudul “Varka hanya ingin tidur”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar