Diantara kita pasti pernah bertemu atau mendengar cerita tentang orang-orang yang berani meninggalkan syariat ibadah secara sadar dengan dalih telah memahami makna ibadah itu.
Sebagai contoh, dalam ibadah sholat dikatakan bahwa sholat itu "Tanha anil fahsyai wal mungkar" yang artinya mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Lalu ada orang, yang merasa telah melakukan 'mencegah dari perbiatan keji dan mungkar' sehingga syariat sholatnya ia tinggalkan. Apakah benar argumen seperti ini?
Secara sekilas, ini seolah tampak masuk akal, karena telah memetik makna dari sesuatu (sholat) , sehingga sesuatu itu tidak perlu dikerjakan lagi.
Meski tampak logic, pemikiran seperti sebenarnya cacat logika, karena memahami makna sesuatu bukan berarti kita harus meninggalkan sesuatu tersebut.
Mari kita buat contoh yang lain, minum contohnya. Kita semua tahu bahwa minum itu mencegah dari dehidrasi atau haus.
Lalu apakah setelah memahami makna minum lantas kita tak perlu minum lagi? Tentu saja tidak.
Malahan kita harus selalu minum agar terhindar dari dehidrasi. Kita akan tahu manfaat minum setelah kita minum. Mengetahuinya saja tidak akan membuatmu terhindar dari kehausan.
Begitu juga sholat misalnya, cara untuk senantiasa terhindar dari perbuatan keji dan mungkar ialah dengan senantiasa menjalankan sholat bukan meninggalkannya. Malahan meninggalkan sholat itu sendiri merupakan perbuaran keji dan mungkar.
Mengetahui makna syariat bukan berarti kita boleh meninggalkannya, malahan harusnya bisa menjadi pendorong agar lebih semangat dalam menjalankannya.
Bertemu dengan orang-orang seperti itu, terkadang mereka sering bermain di pola pikir, mereka sering memainkan seolah perbuatan mereka itu masuk akal sekali, bila kita lengah bisa-bisa kita termakan juga.
Jadi penting bagi kita untuk belajar cara berpikir yang benar, cara menggunakan pemisalan, dan yang semisalnya.
Agama Islam merupakan agama untuk orang-orang yang berakal, berpikir, karena akal ini milik Allah SWT , sehingga bila kita menggunakannya dengan benar, tentu akan menambah keimanan kita padaNya.
Wallahu alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar