Saling mendoakan bukan saling menuntut,
Kita ini saksi bukan jaksa.
Cek label untuk melihat jenis tulisan yang kamu senangi
Aku terbangun sekitar pukul tiga dini hari. Masih teringat, terakhir kulihat layar ponsel angka yang tertera 01.00. Jadi aku terlelap hingga dua jam, meski yang kurasa hanya beberapa kejapan mata.
Tadinya aku berencana tidur selepas isya, atau mungkin dikisaran pukul delapan malam. Tapi, rencana hanyalah rencana, ajakan sepupu mencari makan malam, padahal aku bertekad untuk tidak makan berat di malam hari, tapi ya sudahlah.
Lalu adik sepupuku ini (masih sepupuku juga), dia baru pulang main sambil membawa teman mainnya menginap, yang kamarnya bersebelahan dengan kamarku biasa tidur.
Dia dan teman-temannya sepertinya tak berencana untuk tidur malam itu, tapi bermain game, yang kuhafal sekali jenis game apa itu, dan aku tahu game itu mampu mempermainkan otakmu untuk terus bekerja hingga matahari tiba.
Dengan semua kebisingan itu, alhamdulillah aku masih bisa tertidur.
Apakah aku marah karena sepupu-sepupuku yang merusak rencana malamku? Tentu tidak, tapi sedikit kesal ada lah.
Namun jika dipir lagi, sudah diberi tempat untuk tidur juga, harusnya sudah syukur, ini rumah paman dan bibiku.
Semua penghuni rumah menerimaku dengan segala kekurangannya.
Jadi akupun insaf dengan rasa kesal tadi. Terkadang rencana menggiring kita lupa akan apa yang nyata, hati hati.
Kebingungan atau kepusingan kadang timbul karena banyaknya hal yang ingin kita lakukan tapi bimbang harus mana yang di dahulukan,
Lalu aku mencoba dari yang paling cepat memakan waktu, susah dan mudah agak fleksibel, yang jelas kadang kita bisa mengira, seberapa banyak waktu yang kita habiskan bila melakukan hal-hal itu.
Dan juga, kerjakanlah dahulu apa yang dinasihatkan. Nasihatnya mungkin bisa datang dari siapa saja, tapi ingat, tak ada yang kebetulan.
Jika nasihat itu kebaikan, dahulukan. Bila pekerjaannya itu satu dari dua pilihan, dimana pilihan keduanya yang menurutmu yang terbaik. Dahulukan yang dinasihatkan.
Pikiran kita kadang keliru, jalan pikiran kita terhadap sesuatu sering kali tak teruji, hanya berdasarkan asumsi pribadi semata, tak jarang dicampuri bisikan setan, hati-hati.
Jadi, perhatikan baik-baik, lihat dan dengar sekitarmu, saat kita bimbang antara dua pilihan atau lebih, pesan itu pasti datang.
Buka mata, buka hati, buka mata hatimu. Memohon bimbinganNya, insyaallah jalan yang lurus akan terhampar jelas. Wallahu alam.
Rencanakan hari esok, agar tidak bingung saat melangkah.
Sebelum menutup mata niatkan apa yang akan pertama kau lakukan saat memulai membuka mata kembali.
Dan sebaik-baik rencana, adalah yang disandarkan kepada sang pemilik diri kita, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Rab semesta alam, Allah Subhanahu Wataa'la.
Selaim bertemu Kakek Kopasus, sebenarnya aku bertemu satu kakek-kakek lagi di puskesmas saat itu.
Kakek misterius. Mengapa? Karena dia datang tanpa identitas.
Perawakan yang tinggi kurus, dibalut baju kaos, celana pendek, sepatu jogging, khas orang yang baru lari pagi itu datang sendiri ke puskesmas.
Tanpa BPJS, tanpa KTP, samar-samar kudengar, saat menyebutkan alamat tinggalnya kepada resepsionis, ia agak kebingungan.
Salut aku kepada para petugas disini, yang begitu sabarnya menghadapi kakek misterius ini.
Atau mungkin bukan misterius, tapi misery lebih cocok bagi kakek ini.
Saat itu aku sedang duduk bersama pasien lainnya menunggu panggilan dokter puskesmas.
Tiba-tiba saja, seorang pria dengan jaket parasit, serta topi, yang mencoba menutupi rambutnya yang putih semua, menyapaku.
"Sakit apa dek?" katanya
"Gini pak, kemarin saya ngelamar kerja, terus gak lolos tes kesehatan, nah sekarang saya cuma mau konsultasi sama dokter perihal penyakitnya."
"Oh, ngelamar kerja dimana emangnya?"
"Di Jakarta pak, jadi sekuriti, kebetulan dulu juga sudah pernah kerja jadi satpam."
"Hmm, bapak juga pernah kerja yang seperti itu, kalau gak salah waktu itu bapak jadi Chipnya."
"Bentar pak, bukannya chip itu sebutan buat pimpinan tertinggi satuan kerjanya?" tanyaku.
"Iya benar, setelah pensiun dari tentara, bapak kerja jadi chip disana beberapa tahun samle akhirnya pensiun juga."
"Oh bapak dari kesatuan, pantas saja, memang biasanya komandan regu apalagi chip diambil dari kesatuan, dari angkatan apa pak?" kataku lagi, penasaran.
"Dari Kopassus dek." jawabnya pendek, tapi cukup berefek.
"Wah Kopassus, oh iya iya, katanya pelatihan Kopassus itu lebih susah dari yang lainnya yah?"
Si bapak hanya mengangguk sambil tersenyum.
Selanjutnya, aku coba beberapa pertanyaan lagi, sampai akhirnya namaku di panggil dokter.
Sungguh, bila dia bukan pembohong, penampilannya sangat tidak mencerminkan kesatuam, apalagi Kopassus.
Saat kami mulai mengobrol, aku masih mengira dia kakek-kakek biasa sampai ia ungkap dirinya, karena penampilannya sungguh menipu.
Tak terlihat kegagahan, dari tubuhnya, yang tampak sering membungkuk itu, ah mungkin aku saja yang tak pandai menilai orang.
Dari sini aku belajar, jangan pernah menyepelekan orang yang terlihat lemah, apalagi kakek-kakek, bisa jadi yang kau temui mantan intel atau master bela diri.