Pabrik Baja
Selepas lulus SMA (Muallimin tepatnya), dalam pikiranku sudah terpampang beberapa pilihan jika kulanjutkan ke jenjang kuliah, Psikologi, Sosiologi dan Komunikasi. Aku merasa tiga ilmu ini penting dalam hidupku kedepannya, karena aku sadari mengalami kelemahan dalam ketiganya.
Namun kenyataan berkata lain, keadaan tak memungkinkanku untuk mejalankan rencana ini, dan memaksaku untuk langsung terjun ke dunia kerja.
Tadinya aku berencana kerja di pabrik otomotif, dimana saudaraku bekerja, dengan harapan agar mudah masuknya karena ada dia didalamnya. Ia aku mencoba masuk lewat orang dalam X) , tapi lagi-lagi itu tak mudah, panggilan kerja tak kunjung datang, dan aku lelah menunggu. Sampai ada tetanggaku yang mengajakku bekerja di pabrik tempat ia bekerja (orang dalam lagi). Tapi yang ini berbeda, kalua sebelumnya aku berharap masuk kerja sebagai karyawan tetap atau kontrak mungkin. Pekerjaan yang ini sama di pabrik hanya mungkin kelasnya paling bawah, yaitu Borongan. Mudah masuknya karena hanya bermodal ktp, tak diperlukan ijazah, apalagi gelar sarjana. Dalam definisiku, kerja Borongan adalah kerja yang masuk dibayar, gak masuk gak dibayar. Dan tentu saja upah nya pun tak bisa disamakan dengan karyawan tetap atau kontrak, meski jenis pekerjaan yang dilakukan sama. Hanya karena beda jalur masuk dan status masuk, upahnya beda. Amazing
Aku bekerja di pabrik baja, yang katanya pabrik terbesar kedua di Indonesia setelah Krakatau. Pekerjaanku ini berada di bagian pembuatan kawat beton, dan ini bukan pekerjaan yang mudah, tapi tentu saja masih bisa dipelajari. Tugasku terdengar cukup mudah, membuat kawat yang tadinya berdiameter 2mm menjadi 0,9 mm.
Hari pertama bekerja, malamnya tanganku langsung pegal-pegal karena seharian itu aku menarik kawat dengan tang dengan sekuat tenaga. Hari kedua pun demikian, dan pada saat itu aku merasa tidak betah, ingin keluar saja, karena pekerjaan ini benar-benar tidak mudah. Batinku terus berdebat antara meneruskan bekerja atau berhenti, karena memang kerja sebagai Borongan itu easy come easy go. Namun akhirnya aku meneruskan lanjut, karena meskipun pekerjaan ini tidak mengenakkan, meskipun pekerjaan ini membuatku banjir keringat setiap hari, tapi menganggur itu lebih menyiksa.
Untung saja teman-teman kerjaku orangnya asyik-asyik, meski sebagian besar kelakuan mereka urakan, tapi sebagai teman mereka luar biasa. Ada Memet, Hendrik, Sukijat, Sarwono, Abdul, dan masih banyak lagi. Dan aku merasa background kami benar benar berbeda, dari obrolannya mereka anak muda yang masih senang mabuk, ada juga yang bercerita saat dia bercinta dengan pacarnya dan hampir ketahuan ibu pacarna, dan ia bercerita mengenai itu seperti bercerita hal biasa saja. Ada juga teman kerja yang tangannya dipenuhi tato dari pergelangan tangannya habis sampai bahu. Jujur saja pada teman yang satu ini awalnya aku merasa takut karena melihat tatonya, tapi setelah mengenalnya, bercanda bersama, kesimpulanku, tidak ada yang perlu ditakutkan dari orang ini. Si tato ini sudah menikah, karena pacarnya hamil duluan, hmm seperti kejadian ini adalah hal biasa.
Terlepas dari latar belakang dan kebiasaan semuanya, bagiku mereka adalah teman-teman yang cukup perhatian dan sangat peduli pada temannya. Anggaplah saja teman-temanku ini adalah orang-orang yang suka mabuk dan bikin onar yang sering kita lihat diluaran sana, karena selama ini aku melihat dari luar, sehingga tak dapat melihat dan merasakan kedekatan dan kehangatan ini yang kudapatkan dari mereka, ini benar-benar membuka pandanganku sedikit lebih jauh mengenai kehidupan diluar.
Aku bertahan kerja disana bukan untuk selamanya, tapi aku meresa dengan mendapat teman kerja yang sudah pernah kerja di tempat lain, mungkin dari mereka aku dapat pekerjaan yang lebih baik, setidaknya dari segi upah. Karena apalagi yang kita harapkan dari bekerja kalau bukan upah?
Hingga akhirnya enam bulan kemudian aku berhenti disana dan mendapat pekerjaan baru dengan upah dua kali lipat dari sana, dan itu datang bukan dari teman kerjaku, tapi teman kerja ayahku. Yah melenceng sedikit dari rencanaku tak apa lah, ahaha.
Oh iya, jenis pekerjaanku ini bisa dibilang jenis pekerjaan kasar yang pasti berkeringat setiap harinya, namun untuk pengalaman pertama aku bekerja aku merasa bersyukur, karena bagi mentalku bekerja disini benar-benar bekal yang membantuku pada pekerjaan-pekerjaanku kedepannya.
Masyaallah Tabarakallah Semangat!
BalasHapusCerca Trova
BalasHapus